
Gelak tawa mereka yang semula menggelar di udara mendadak menyurut. Mereka kini kembali menyantap makanan masing-masing, sesekali diiringi percakapan ringan. Riuh suara anak-anak menjadi latar pesta barbeque semakin hidup. Anak-anak berlarian kesana kemari hingga orang tua anak-anak dibuat kewalahan mengejar dan menangkap.
Emely tiada hentinya mengembangkan senyum, ia begitu bahagia berada di tengah-tengah mereka. Tidak hanya mendapatkan suami seperti Keil, tetapi ia juga memiliki keluarga baru.
Sedari tadi Emely mengabaikan rasa nyeri pada perut bagian bawahnya. Karena ia merasa jika hanya kram seperti biasanya. Namun sakitnya semakin menjadi, hingga ia mengusap perutnya, tangan lainnya yang bebas mencengkram lengan Keil.
Keil menoleh, dilihatnya kening istrinya yang sudah digenangi banyak keringat. "Ada apa Love? Kau baik-baik saja?"
Namun alih-alih menjawab, Emely semakin kuat mencengkram lengan Keil dan meringis. "Awww.... perutku sa.. sakit se..kali."
Melihat istrinya yang begitu kesakitan, Keil semakin panik, hingga kehebohannya itu mengundang perhatian mereka semua.
"Ada apa dengan Emely, Keil?" tanya Daniel. Tetapi sepasang mata mereka juga menuntut pertanyaan sama seperti Daniel.
"Eme kesakitan," sahut Keil dengan wajah yang panik dan bingung.
"Oh, ya ampun. Mungkin istrimu akan segera melahirkan." Bahkan Elleana menutup mulutnya tidak percaya.
"Melahirkan?" Semua kompak mengulangi perkataan Elleana.
"Astaga, cepat bawa istrimu ke rumah sakit," seru Olivia.
"Benar, jangan sampai terlambat," sambar Millie raut wajahnya seperti yang lain, gelisah dan panik.
"Lihatlah, Emely sudah kesakitan seperti itu. Dia benar-benar akan melahirkan," kata Ashley menimpali.
"Tapi bukankah jadwalnya satu minggu lagi?" tanya Jennifer polos.
"Sudahlah, cepat kau bawa istrimu Keil!" Jack mengguncang bahu Keil yang seketika mematung.
"Oh, God!" Daniel menjambak rambutnya.
Dalam sekejap saja suasana disana nampak heboh, hingga membuat para anak-anak menatap bingung. Austin dan Devano didekap oleh Mommy Marry. Dan Daddy Jhony yang sejak tadi bercanda gurau dengan Darren mendekap balita tersebut yang meronta ingin bersama dengan Daddy Jack.
"Kenapa kau yang pusing heh?! Yang akan melahirkan adalah istriku!!" seru Keil kepada Daniel yang nampak frustasi.
"Hah, kau benar juga." Daniel baru menyadari apa yang ia lakukan.
"Keil, kenapa kau diam saja? Cepat gendong istrimu ke dalam mobil," seru Xavier mengingatkan anak buahnya itu.
"Hah, iya bos." Namun alih-alih menggendong, justru Keil berlari lebih dulu meninggalkan Emely yang mengerang menahan rasa sakit.
"Hei Keil, bawa istrimu! Kenapa kau berlari sendirian?!" teriak Nico gemas. Tidak habis pikir dengan sahabatnya yang tiba-tiba saja menjadi bodoh.
Keil kembali berlari menghampiri istrinya. Sungguh ia sangat panik dan tidak bisa berpikir dengan jernih.
__ADS_1
"Aku akan siapkan mobil." Dan Daniel segera berlalu dari sana menuju pelataran Mansion.
Keil sudah menggendong Emely dan menyusul Daniel yang berlari lebih dulu. Jennifer serta Ashley mengekori, mereka cemas dengan keadaan Emely dan ingin menemani di rumah sakit.
"Kalian tunggu saja disini." Xavier menahan adiknya yang hendak melangkah.
"Tapi kak-"
"My Queen, biar kami para pria yang kesana. Kau dan Ashley tetaplah disini. Kondisi kalian juga sedang hamil, tidak baik jika terlalu lelah." Nico mengusap wajah Jennifer, memberikan pengertian kepada istrinya itu agar tidak tersinggung, mengingat hormon sang istri yang tidak stabil.
Jennifer mengangguk pasrah, ia tidak mungkin membantah perkataan suaminya. "Baiklah..."
"Good." Sebelum berlalu, Nico mengecup kening Jennifer terlebih dahulu.
Nico, Xavier dan Jack segera menyusul ke rumah sakit dengan mobil yang berbeda. Semua menatap nanar melihat kepergian mobil mereka. Berharap Emely melahirkan dengan mudah dan keduanya selamat.
***
Daniel masuk terlebih dahulu ke dalam rumah sakit, ia nampak heboh berteriak di koridor rumah sakit. Beruntung sebelumnya Jack sudah menghubungi pihak rumah sakit agar menyiapkan ruangan sekaligus dokter kandungan yang akan menangani Emely.
Begitu meletakkan Emely di atas brankar, para perawat segera membawa Emely ke ruang persalinan. Para pria mengikuti para perawat, langkah mereka terhenti ketika Emely di masukkan ke dalam ruang bersalin.
Salah satu perawat terlihat keluar dari ruangan. "Pembukaan sudah lengkap, sepertinya Tuan rajin menjenguk baby Tuan." Entah kenapa perawat wanita tersebut menggoda Keil yang masih nampak panik.
Perawat tersebut mengangguk saja. "Istri Tuan mencari anda, sebaiknya Tuan mendampingi istri Tuan." Setelah mengatakan hal itu perawat tersebut kembali melesat masuk, namun Keil hanya bergeming di tempatnya, ia bingung antara masuk atau tidak, karena ia begitu tidak tega melihat sang istri yang sangat kesakitan.
"Keil, kenapa diam saja?! Cepat masuk!" Daniel menepuk bahu Keil, menyadarkan sahabatnya yang mendadak menjadi bodoh.
"Iya..." Dengan cepat Keil membuka pintu ruangan, lalu perlahan tubuhnya menghilang di balik pintu. Pandangan Keil tertuju pada istrinya yang mengejan berulang kali, ia segera menghampiri. "Love, kau pasti kuat, demi anak kita." Keil kemudian menggenggam tangan Emely.
Keringat sudah membasahi kening hingga menjalar ke wajah dan leher wanita itu. "Uuhhh Keil aku...."
"Kau pasti bisa Love."
"Ayo Nyonya, mengejan lebih kuat lagi, kepala baby-nya sudah terlihat," ujar dokter wanita setengah baya memberikan dorongan semangat untuk pasiennya.
Mendengar ucapan dokter jika kepala bayinya sudah terlihat, Emely mengikuti instruksi, ia mengejan lebih kuat lagi.
Keil membiarkan Emely mencengkram lengannya, menarik pakaiannya hingga kini bentuk wajah serta pakaiannya tidak rapih seperti sebelumnya.
"Uughhh.... uuuhhh.... Keil.... aku....." Emely kembali mengejan dan Keil dengan mengecup punggung tangan Emely. Memberikan kekuatan untuk istrinya. Hingga beberapa menit kemudian Emely berhasil melahirkan bayinya mereka.
Keil menoleh ke arah bayinya yang menangis kencang, tubuh mungilnya dipenuhi darah. Salah satu perawat membawa bayi mereka untuk dibersihkan.
"Terima kasih Love, terima kasih banyak kau sudah berjuang untuk baby kita." Keil mengecup seluruh wajah Emely dengan penuh perasaan. Tiada kata yang mampu ia ucapkan kepada wanita yang bersedia mengandung dan menjadi ibu dari anaknya.
__ADS_1
Emely yang masih nampak lemas hanya tersenyum, ia juga sangat bahagia seperti Keil.
"Bayi Nyonya dan Tuan sangat sehat dan berjenis kelamin laki-laki. Sementara bayi dibersihkan, suster akan memindahkan Nyonya ke ruangan perawatan," ujar Dokter setengah baya tersebut dengan ramah.
"Baik Dokter, terima kasih." Keil dan Emely menyahut bersamaan. Sebelum dokter dan beberapa perawat berlalu dari sana, Keil mengecup bibir Emely yang basah, hingga aksinya itu membuat dokter dan beberapa perawat tersenyum malu.
"Keil, kau...." Emely tersenyum canggung ketika dirinya dan juga Keil menjadi pusat perhatian disana. Keil benar-benar tidak tau tempat mencium dirinya.
Keil nampak acuh, ia justru mengulas senyumnya karena tidak sabar untuk melihat baby boy.
***
Keesokan harinya. Ruangan perawatan nampak heboh, karena Jack, Jennifer dan Ashley serta Elleana sudah berada di rumah sakit di temani suami-suami mereka. Mereka sangat antusias ingin melihat dan menggendong baby tampan yang baru saja dilahirkan itu.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Nico kepada Keil, ia memandangi sang istri yang sedang menggendong bayi Keil dan Emely.
"Gavin Ellard Wheeler," ujar Keil tersenyum. Mereka sudah menyimpan nama untuk baby mereka dari beberapa bulan yang lalu.
"Nama yang bagus." Jack menepuk-nepuk bahu Keil.
"Ya, aku ingin dia kuat dan pemberani sepertiku," sahut Keil.
"Ck, kau ini...." Daniel mendecakkan lidah.
"Aku harap setelah ini kau bisa diandalkan lagi, Keil." Sepertinya Xavier masih saja kesal dengan ketiga anak buahnya yang mendadak tidak bisa diandalkan. Ia melayangkan tatapan datar dan dingin.
"Baik bos, kau tenang saja. Saat ini aku sudah terbebas dari rasa mual yang menyiksa itu," jawabnya. "Dan kalian berdua, selamat menikmati hingga tiga bulan ke depan," ujarnya kemudian mengejek Nico dan Daniel.
"Sialan!" Daniel menendang kaki Keil.
"Bajingan!" Dan Nico meninju bahu Keil.
Para wanita yang tidak mengerti apa yang dibicarakan para pria, mereka hanya tersenyum diiringi gelengan kepala. Lalu fokus mereka kembali tertuju pada baby boy yang diberi nama Gavin Ellard Wheeler.
See you next bonus chapter
Baby Gavin
...Yang masih berkenan bisa like, vote dan jangan lupa komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
__ADS_1