Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Nona Jennie, hanya miliknya.


__ADS_3

Dua hari yang lalu


Billy baru saja selesai melakukan pemotretan bersama dengan rekan modelnya yang seorang wanita. Wajahnya nampak berseri-seri lantaran sudah beberapa hari ini ia selalu makan siang dengan Jennifer. Bahkan belakangan ini ia terhindar dari Clarisa, karena wanita itu sibuk dengan pekerjaannya di beberapa kota. Setidaknya Billy dapat bernapas leluasa hingga dua hari kedepan.


Tubuhnya yang lelah itu tidak memudarkan senyumannya, meskipun hari ini ia tidak bertemu dengan kekasihnya tetapi tetap membuatnya semangat karena mereka masih bisa bertukar pesan. Billy memutuskan untuk pergi bersama dengan Jennifer dan mengambil cuti dua hari, menghabiskan waktu untuk merayakan satu tahun hari jadi mereka.


Billy melangkahkan kaki memasuki mobil Van putih bersama managernya, mobil itu melaju meninggalkan gedung perusahaan dan menepi di depan sebuah Coffee Shop. Seperti biasa, minum kopi adalah keseharian Billy jika selesai bekerja. Selama beberapa saat duduk menyesap secangkir kopi panas bersama managernya, ia kemudian memutuskan pergi ke toilet terlebih dahulu.


Begitu selesai dan mencuci tangan di wastafel, Billy menatap penampilan dirinya di depan cermin. Namun betapa terkejutnya ketika melihat seseorang di pantulan cermin.


"Kenapa kau berada disini?" Terlihat ketidaksukaan di raut wajah Billy, bahkan nada bicaranya tidak bersahabat.


"Tentu saja untuk menemuimu." Pria itu menyunggingkan senyum penuh arti. Entah, Billy merasakan sesuatu yang tidak beres, pasti pria itu memiliki rencana untuknya.


"Ck, aku tidak memiliki urusan denganmu!" sahutnya dingin. Lebih baik ia menghindari pria tersebut, dan buru-buru berjalan menuju pintu toilet.


"Seharusnya kau mendengarkan peringatanku saat itu. Aku menunggumu melepaskan Nona Jennie, tetapi yang kulihat kau senang mempermainkannya." Perkataan pria itu seketika menghentikan langkah Billy dan memutar arah pandangannya kepada Nico.


"Tutup mulutmu!" bentak Billy tidak terima. "Aku tidak pernah mempermainkan Jennie, aku mencintainya. Seharusnya kau tidak perlu ikut campur urusan kami! Apa aku perlu mengingatkan posisimu yang hanya seorang bodyguard!" Ya, pria itu ternyata adalah Nico. Ia berdiri dengan punggung yang bersandar pada dinding dengan angkuh. Tatapannya tidak jauh berbeda dengan Billy, penuh permusuhan. Sejak Billy keluar dari gedung perusahaan, Nico selalu mengawasinya hingga ia pun mengikuti Billy yang memasuki Coffee Shop. Sungguh, Billy tidak menyukai pria di hadapannya itu. Jika saja ia memiliki kekuasaan, mungkin ia akan mudah menyingkirkan Nico dari dirinya dan juga Jennie.


Nico hanya menyunggingkan senyum ketika mendengar ucapan Billy, seolah tidak berarti untuknya. Dan hal itu sukses membuat Billy semakin geram. "Menurutmu Nona Jennie akan lebih mempercayaiku yang hanya seorang bodyguard atau kekasihnya yang sudah berkhianat?" Nico memperhatikan lekat wajah Billy yang mendadak pucat ketika mendengar pertanyaannya.


"Apa maksudmu?" Billy kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Nico. Meskipun kini tubuhnya sulit untuk digerakkan, tetapi ia berusaha menuntut penjelasan.


Salah satu sudut bibir Nico tertarik, sehingga terlihat semakin angkuh. "Pukul 10 malam di Flight Club kau bersama teman-temanmu yang juga merupakan rekan kerjamu sesama model. Seorang wanita mendekatimu dan memberikan sebotol minuman beralkohol padamu. Kau tidak menolaknya dan meneguk minuman itu, hingga 15 menit kemudian kalian berdua sudah dalam keadaan setengah sadar, dan kau juga tidak bisa mengendalikan dirimu. Kau merangkulnya selama 10 detik." Nico menjelaskan kepada Billy dengan detail hingga membuat Billy dibuat tercengang, ia memberi jeda ucapannya untuk melihat wajah bodoh Billy saat ini. "Kalian berdua menginap di hotel dan melakukannya, bukan?" Kemudian Nico melangkah mendekati Billy. "Bagaiman reaksi Nona Jennie saat mengetahui kau mengkhianatinya?" bisiknya mengintimidasi.


Tubuh Billy semakin membeku, Nico ternyata mengetahui semuanya. Siapa sebenarnya pria di hadapannya itu? Kenapa mengetahui setiap detail kejadian malam itu?


"Aku mabuk dan kami berdua tidak sengaja melakukannya." Billy masih saja mencari pembenaran. Tetapi itulah faktanya. Ia juga tidak pernah menduga jika akan terjebak dalam situasi seperti ini.


Saat mendengar ucapan Billy, Nico tersenyum meremehkan. "Lalu bagaimana jika Nona Jennie mabuk dan dia juga melakukannya denganku?"


"Kau...." Merasa tidak terima, Billy mencengkram kerah pakaian Nico. "Aku tau kau menyukai Jennie, jadi kau memanfaatkan kesalahanku untuk memisahkan kami. Tetapi aku tidak akan membiarkanmu mengambil Jennie dariku!" Tidak. Sampai kapanpun Jennie hanyalah miliknya.


Dengan santainya, Nico menghempaskan tangan Billy, ia lagi-lagi tersenyum. "Tapi sepertinya Nona Jennie sangat nyaman saat berada di dekatku. Kau tau, bahkan aku sering memeluknya dan dia tidak protes. Kau tau itu apa artinya?" Padahal yang sebenarnya Nico memeluk Nona Jennie karena saat itu Nona Jennie hampir terjatuh, tentu saja ia harus menolongnya. Ah biarlah, ia hanya ingin membuat Billy semakin kesal padanya.


"Kau...." Billy tidak dapat membalas perkataan Nico. Apa benar yang dikatakan pria itu. "Di hati Jennie hanya ada diriku!" Setidaknya ia masih lebih unggul, ia tau jika Jennie begitu mencintai dirinya. Ia sudah memastikan itu, karena belakangan ini kekasihnya itu selalu perhatian padanya.


"Benarkah?" Kedua alis Nico terangkat. Entah kenapa ia tidak mempedulikan siapa yang berada di hati Nona Jennie-nya. "Kalau begitu dengan perlahan aku akan menggeser namamu di hati Nona Jennie."

__ADS_1


"Berengsek! Jangan pernah bermimpi." Tangan Billy membentuk sebuah kepalan dan melayangkan ke wajah Nico namun dengan cepat Nico menahannya lalu mendorongnya.


Bugh


Nico meninju wajah Billy, sejak tadi ia mencoba untuk bersabar tetapi tidak kali ini. "Itu balasan untukmu karena sudah berani menyakiti Nona Jennie," hardiknya.


Tubuh Billy sempat terhempas karena Nico meninju dirinya begitu kuat, bahkan sudut bibirnya berdarah. Lantas Billy menyeka sudut bibirnya itu, ia menatap Nico tajam. Kedua mata mereka memancarkan api kemarahan dan penuh kebencian.


"Tinggalkan Nona Jennie." Sudah pasti perkataan Nico penuh dengan perintah.


"Ck, itu tidak akan terjadi," seru Billy masih tetap mempertahankan miliknya.


"Kalau begitu bersiaplah, karirmu dan perusahaan ayahmu akan hancur!" Nico berdiri dengan angkuh. Tubuhnya yang lebih besar dari Billy bukanlah tandingan pria itu.


Kedua mata Billy membelalak. "Kau mengancamku?!"


"Benar. Karena kau tidak memiliki pilihan lain!"


"Berengsek. Aku tidak akan pernah meninggalkan Jennie."


"Kau pikir Nona Jennie akan tetap bersamamu saat dia sudah mengetahui jika kekasih tidur dengan wanita lain!"


"Kau....." Billy benar-benar di sudutkan akan kebodohannya sendiri.


Kemudian Nico mengeluarkan benda kecil berbentuk hardisk dan menyodorkannya kepada Billy. "Di dalamnya ada bukti saat kau bermalam di hotel bersama dengan wanita itu. Menurutmu bagaimana karirmu jika skandal kalian muncul di publik? Kau dan dia juga akan kehilangan segalanya."


Billy mengambil benda tersebut. "Berengsek. Apa kau sengaja menjebakku?!"


"Ya, aku sudah pernah mengatakannya padamu, jika aku akan menyingkirkan siapapun yang ingin menyakiti Nona Jennie, termasuk kau!" Nico mendorong kedua bahu Billy hingga Billy kehilangan keseimbangan dan terdorong hingga punggungnya terbentur dengan dinding.


"Shiitt!!" Saat ini tidak ada yang bisa dilakukan oleh Billy. Memang semua adalah karena kesalahannya sehingga pria itu memanfaatkan kesempatan ini untuk menyingkirkan dirinya. "Dua hari...." ujarnya dan seketika menghentikan tangan Nico yang sudah memegang handel pintu. "Lusa adalah hari jadi kami berdua. Aku sudah memiliki janji dengannya untuk pergi bersama. Dan setelah itu aku akan melepaskannya." Jujur, itu adalah sesuatu yang terberat untuk Billy. Melepaskan wanita yang ia cintai tidak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya.


Nico terdiam selama beberapa sesaat. Ia tidak menoleh dan seolah tidak tergugah akan ucapan Billy. "Aku akan mengawasimu." Dan Nico berlalu pergi setelah pintu berhasil terbuka. Di depan pintu ternyata dua anak buah menjaga mereka agar tidak ada pengunjung yang masuk ke dalam toilet.


"Arrghh...!!" Billy memukul dinding, kesal, amarah dan kecewa bercampur menjadi satu. Ia kecewa akan dirinya sendiri. Kenapa saat itu ia terbujuk rayuan Clarisa. Billy mencengkram benda kecil itu di telapak tangannya, berharap benda itu akan hancur bersama dengan hatinya saat ini.


***


Nico tidak tinggal diam begitu saja. Ia ternyata mengikuti Billy dan Jennie. Keduanya nampak bahagia, dan hal itu benar-benar membuat Nico muak. Terlebih lagi ketika Billy mencium bibir Nona Jennie-nya, ia hendak memisahkan mereka saat itu juga, tetapi Keil juga Daniel menahan dirinya.

__ADS_1


"Lebih baik kau meletakkan ini di dadamu." Keil memberikan botol minuman dingin kepada Nico.


"Untuk apa?" Nico memperhatikan botol minuman tersebut tanpa ingin mengambilnya.


Keil menarik tangan Nico dan meletakkan botol itu di telapak tangan Nico. "Hatimu sedang panas, jadi kau letakkan botol ini di dadamu!"


"Ck...." Nico berdecak. Jadi itu alasan Keil memberikan botol minuman dingin padanya.


"Hahahaha...." Daniel adalah orang yang tertawa puas melihat wajah kekesalan Nico dan ditambah lagi Keil mengejeknya.


Ketiganya masih setia menguntit pasangan kekasih itu di dalam mobil. Sebentar lagi pertunjukan menarik akan segera dimulai. Mereka menunggu dengan sabar menyaksikan adegan demi adegan yang membuat hati Nico semakin memanas. Namun hanya berselang sebentar saja, karena disana sosok wanita muncul hingga semakin memperkeruh keadaan. Wanita itu adalah Clarisa. Bukan tanpa alasan Clarisa juga berada disana, itu adalah perbuatan Nico yang menggunakan nomor lain dan mengirimkan pesan agar wanita itu datang ke tempat mereka saat ini.


"Kasihan sekali Nona Jennie," tutur Daniel. Mereka memang tidak tega melihat Nona Jennie tersakiti seperti itu, tetapi tidak ada pilihan lain, karena cepat atau lambat Nona Jennie akan mengetahui perbuatan kekasihnya. "Sepertinya Nona Jennie butuh pundakku," selorohnya kemudian hingga mengundang tatap tajam Nico padanya.


"Dia butuh pundakku bukan pundakmu!" seru Nico dan Daniel terkekeh melihat wajah kesal Nico. "Aku akan menemuinya. Kalian berdua ikuti Nona Jennie." Kemudian Nico turun dari mobil, bermaksud menghampiri Billy. Daniel dan juga Keil berlalu dari sana, mobil mereka melaju mengikuti arah tujuan Jennifer.


"Apa kau menyesalinya?" Nico menghentikan langkah begitu tepat berada di belakang Billy.


Billy menyeka sudut matanya yang basah, ia membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara.


"Kau....." Billy nampak geram akan kehadiran pria itu. Pria yang mengancam dirinya untuk melepaskan Jennifer, yang tidak lain ialah Nico. "Apa kau puas, heh?!" teriak Billy kemudian.


"Sangat puas," sahutnya dengan tersenyum yang membuat Billy semakin dipenuhi amarah. Meskipun di dasar hatinya ia teriris melihat Nona Jennie terluka hatinya.


"Berengsek!!" umpat Billy.


"Seperti apa yang dikatakan Nona Jennie, jangan pernah muncul lagi di hadapannya!" Nico menunjuk Billy penuh peringatan. Dan kemudian ia melenggang pergi ketika puas melihat keadaan Billy yang begitu kacau.


Saat ini Nona Jennie-nya membutuhkan dirinya. Ya, setelah ini ia akan menggenggam erat tangan wanita itu dan membawa ke dalam dekapannya. Karena Nona Jennie, hanya miliknya. Siapapun tidak akan pernah ada yang bisa mengambil Nona Jennie darinya. Tunggu, sepertinya ia melupakan sesuatu, tetapi entah apa itu. Nico menghalau pikirannya dan ia segera memasuki mobil miliknya menyusul Keil juga Daniel.


.


.


To be continue


.


.

__ADS_1


Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih


Always be happy 🌷


__ADS_2