Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Kenapa dia terlihat senang seperti itu?


__ADS_3

Saat berhasil memanjat, Emely mulai membuka jendela balkon, ia harus cepat mengganti pakaiannya sebelum seseorang datang ke dalam kamarnya. Namun begitu memasuki kamar, ia terperanjat mendapati seseorang yang berada di dalam kamarnya.


"Siapa kau?" Emely menatap waspada, mengurungkan niatnya menutup pintu balkon, agar ia dapat dengan mudah melarikan diri jika seseorang di hadapannya itu menyerang dirinya.


"Tenang Nona, saya tidak berniat jahat." Melihat Emely yang menjadi waspada terhadap dirinya dengan raut wajah memucat ketakutan, ia berusaha menenangkan Emely. Namun sepertinya Emely tidak mudah percaya begitu saja pada sosok wanita yang hampir menyerupai dirinya berada di dalam kamar tersebut.


"Jika tidak berniat jahat, lalu untuk apa kau berada di dalam kamarku?!" tanyanya kemudian. Emely melangkahkan kaki menuju meja dimana di atasnya terdapat sebuah vas.


Lirikan wanita itu mengikuti pergerakan tangan Emely yang berusaha menjangkau sebuah vas itu, ia tersenyum tipis. Bagaimana mungkin wanita itu bisa mengalahkan dirinya, tetapi bukan itu alasan dirinya berada di kamar Emely. "Maaf Nona jika saya lancang masuk ke dalam kamar Nona, saya hanya di tugaskan oleh bos Keil untuk berdiam diri disini sambil menunggu Nona kembali."


Kebingungan memenuhi wajah Emely, terlihat jelas dari kerutan di keningnya. "Maksudmu Keil yang menyuruhmu masuk ke dalam kamarku?" tanyanya memastikan.


"Benar Nona...." jawabnya disertai anggukan. "Karena tugas saya sudah selesai, jadi saya harus segera pergi." Hendak melangkah pergi namun langkahnya terurungkan lantaran teringat sesuatu. "Maafkan saya, tadi sempat memakai pakaian tidur Nona. Satu pelayan tiba-tiba saja masuk membawakan sarapan, dan dua pria mengetuk pintu untuk memastikan keberadaan Nona di dalam," tuturnya dan Emely menjawabnya dengan mengangguk seolah paham, padahal sebenarnya Emely sangat kebingungan. Wanita tersebut melompat dari sana meninggalkan Emely dalam kebingungannya.


"Di tugaskan oleh Keil? Apa wanita itu temannya atau bawahannya?" gumamnya. Emely benar-benar baru mengetahui sosok Keil yang sebenarnya. Apa ia tidak salah mengambil keputusan? Di satu sisi ia dihadapkan dengan pria yang menjadi suaminya yang seperti psikopat. Dan di sisi lain, ia mencintai pria yang sepertinya tidak kalah menyeramkan.


Emely mengedikkan bahu, entahlah ia tidak ingin mengambil pusing. Selama Keil berada disisinya, itu sudah cukup. Dan kemudian Emely segera mengganti pakaian dan berbaring di atas ranjang. Rasanya ia enggan keluar dari kamar ini karena tidak ada penghuni yang bisa diajak berbicara.


Sementara wanita yang baru saja keluar dari penthouse menghampiri mobil yang ternyata milik Keil sedang terparkir tidak jauh dari penthouse. Sontak Keil membuka kaca pintu mobil ketika anak buahnya itu sudah berada di sisi mobil.


"Bagaimana Joy, apa kau berhasil memasang cctv di dalam kamarnya?" Tugas yang diberikan Keil adalah memasang cctv di dalam kamar dan memastikan apa yang dikatakan Emely jika pria yang disebut suaminya itu tidak pernah berada di penthouse.


"Sudah, seperti yang dikatakan bos Keil, memasang cctv di tempat yang sulit dilihat."


"Kerja bagus. Lalu apa ada tanda-tanda pria itu disana?" Keil bertanya kembali.


"Tidak ada, Nona Emely hanya menggunakan kamar itu sendirian, di dalam lemarinya hanya terdapat pakaian Nona." Selain meminjam pakaian Emely untuk mengelabui pelayan disana, Joy juga hampir memeriksa isi di dalam lemari dan tempat lainnya seperti kamar mandi, ia tidak menemukan tanda-tanda seorang pria menetap disana.


Mendengar keterangan anak buahnya tersebut, Keil mengangguk disertai senyum kepuasan. "Kalau begitu pergilah, aku masih ada urusan."


"Baik bos Keil."


Keil melajukan mobilnya pergi dari sana. Meskipun ia tidak bisa 24 jam berada disisi Emely, setidaknya ia bisa memantau aktivitas wanitanya. Beberapa tempat seperti Cafe Hollander sudah di pasang cctv sebelumnya, Keil juga sudah memasang alat pelacak di ponsel Emely tanpa sepengetahuan wanita itu.


Selama di perjalanan, Keil tersenyum kala teringat Emely. Wanita itu masih saja gengsi tetapi juga tidak bisa menolak akan kehadirannya. Hanya perlu terus mengekori wanitanya itu agar sampai kapanpun Emely menggantungkan hidup kepada dirinya.

__ADS_1


Keil terlihat memperlambat laju mobilnya dan kemudian membunyikan klakson ketika kedua manik matanya menangkap sepasang pria dan wanita berjalan di trotoar, entah apa yang sedang mereka lakukan.


***


Nico hanya melambaikan tangan ketika mendapati mobil Keil membunyikan klakson padanya tanpa berhenti dan mobil Keil kembali melaju lebih cepat setelah melewati dirinya yang sedang berjalan beriringan bersama dengan Jennifer. Sementara Jennifer berkerut bingung dengan menoleh ke arah mobil yang baru saja melintas hingga semakin jauh dari jangkauan matanya.



"Siapa?" tanya Jennifer. Tubuh Nico yang tinggi besar itu membuatnya harus mendongak.


"Keil, temanku," sahut Nico. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana.


"Oh, yang tampan itu?"


Perkataan tampan dari bibir Jennifer membuat Nico tiba-tiba melepaskan kacamata yang bertengger dan menoleh kepada Nona Jennie-nya itu. "Tampan? Apa Nona menyukai wajah seperti itu?" Nico terheran, mudah sekali Nona-nya itu memuji pria lain, padahal dirinya juga tidak kalah tampan dari Keil. Aish, entah kenapa ia mendadak kesal dengan Keil.


Jennifer menjawabnya dengan mengangkat kedua bahu. Pria berwajah seperti itu sudah pasti tampan, bahkan bodyguard dirinya juga memiliki wajah yang tampan dan bertubuh atletis. Tanpa sadar Jennifer meneliti wajah Nico hingga ujung kaki. Ia akui jika Nico memang termasuk dalam pria yang sempurna. Tentu saja sempurna, bahkan Jennifer tidak mengetahui jika Nico juga merupakan seorang Cassanova di berbagai Club.


"Apa Nona baru saja memuji jika aku juga tampan?" Nico bermaksud menggoda Jennifer lantaran Nona-nya itu kedapati tengah memperhatikannya.


Nico terkekeh meihat sikap Jennifer yang menggemaskan menurutnya. Ia melangkah menyusul Nona Jennie-nya.


Seseorang di dalam mobil Van yang baru saja melintas memperhatikan mereka dengan tidak suka. Apa yang dilakukan kekasihnya itu? Kenapa seorang direktur perusahaan berjalan kaki? Pria itu adalah Billy, ia di dampingi managernya baru saja menyelesaikan pekerjaan dan hendak menuju sebuah restauran, dimana ia memiliki janji dengan seseorang yang spesial disana.


Kemudian Van mobil itu terhenti di parkiran restauran tersebut, bersamaan dengan Jennifer serta Nico yang baru saja tiba disana. Buru-buru Billy keluar dari dalam mobil dan berniat menghampiri kekasihnya itu.


"Sayang...." Billy memanggil Jennifer hingga membuat kekasihnya itu menoleh.


"Hai, kau sudah datang?" kata Jennifer tersenyum menyambut. Ia menang memiliki janji bertemu dengan Billy.


"Kenapa kau berjalan kaki?" Billy mengabaikan ucapan Jennifer, pria itu melayangkan pertanyaan perihal kekasihnya yang berjalan kaki.


"Aku hanya ingin berolahraga saja, lagi pula jaraknya tidak begitu jauh."


Billy hanya mengangguk saja. Tatapan lurus ke depan menatap sang kekasih, tanpa mempedulikan keberadaan Nico. Pria itu memang tidak suka akan keberadaan Nico yang selalu mengekori kekasihnya, bahkan lebih dekat dibandingkan dengan dirinya.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita harus cepat masuk." Billy kemudian merangkul pinggang Jennifer, sengaja melakukan hal itu untuk menunjukkan jika Jennifer adalah miliknya.


Nico memasang senyuman tipis. Sungguh konyol, ia tahu apa yang dipikirkan oleh Billy. Tetapi ia tidak semudah itu terusik. Nico mengikuti Jennifer dan Billy yang sudah memasuki restauran, namun langkahnya dihentikan oleh salah satu anak buah yang menghampiri dirinya dan membisikan sesuatu.


"Wanita itu berada di sini juga?"


"Benar..."


"Baiklah, kau hanya perlu memantau dan melaporkannya padaku." Nico mengusir anak buahnya itu ke tempat semula. Dengan menyunggingkan senyum, Nico mengenakan kacamatanya kembali.


Tak lama kemudian, mereka sudah duduk di meja masing-masing. Nico mengamati Jennifer di meja yang hanya beberapa jarak dari mejanya. Billy berulang kali mencoba membuat dirinya cemburu, meskipun caranya berhasil tetapi Nico tetap bersikap tenang. Biarlah untuk kali ini Billy berada di atas angin sebelum kemudian ia akan menghempaskan pria itu.


Nico melirik ke arah wanita yang mengenakan penutup mulut tetapi pandangannya terus memperhatikan ke arah Jennifer serta Billy. Kemudian Nico beranjak berdiri, mungkin menggoda wanita itu akan sedikit menghilangkan kebosanannya.


Nico kemudian menyandarkan punggung pada dinding, dimana wanita itu bersembunyi di balik dinding tersebut. Dan pada saat wanita itu kembali menyembulkan kepalanya, betapa terkejutnya wanita itu mendapati Nico disana. Wanita itu buru-buru pergi tetapi langkahnya dihalangi oleh kaki Nico sehingga wanita itu tersandung dan terjatuh.


"Nona, apa kau baik-baik saja? Apa baru saja terjadi gempa? Kenapa Nona tiba-tiba terjatuh?" Nico berpura-pura terkejut dan mencoba untuk membantu wanita itu, tetapi justru wanita tersebut terlebih dahulu beranjak berdiri.


"Aku baik-baik saja," sahutnya kesal. Jika bukan karena ia harus pergi, mungkin ia sudah memaki pria di hadapannya itu.


Nico terkekeh memperhatikan wanita tersebut pergi dengan kesal. Mengusir lalat kecil bukanlah hal yang sulit. Sementara sejak tadi sorot mata Jennifer mengarah pada Nico berada, mulai dari Nico yang berusaha membantu seorang wanita yang terjatuh dan mencoba membantunya untuk berdiri.


Ck, kenapa dia terlihat senang seperti itu?


.


.


To be continue


.


.


Like, vote, follow dan komentar kalian 💕

__ADS_1


__ADS_2