Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Membuatnya bertekuk lutut


__ADS_3

"Kak Adam?" Tentu saja kehadiran Adam membuat Jennifer terkejut, ia sempat melupakan lamaran Adam pada malam itu dan mungkin kedatangannya kemari karena ingin membicarakan perihal kelanjutan lamarannya. Dan pagi ini saat yang tepat untuk mempertegas hubungan mereka yang tidak akan mungkin terjadi.


"Ternyata kau benar-benar datang." Xavier menyambut kedatangan Adam, lalu berpelukan singkat. Berbeda dengan Jennifer yang hanya diam memperhatikan kedekatan kakaknya dengan Adam.


"Tentu saja aku datang, untuk menyelesaikan permainan kita sebelum aku pergi ke Belgia." Adam menyahuti setelah melepaskan pelukan.


"Kau benar-benar sudah menemukannya?" tanya Xavier kemudian. Karena sebelumnya, Adam dan anak para anak buahnya sempat kehilangan jejak orang itu.


"Sudah. Dan kali ini aku pastikan dia tidak akan bisa melarikan diri lagi! Para anak buahku sudah berjaga di sekitarnya." Adam tersenyum menyeringai, ia memiliki dendam yang teramat kepada orang yang sudah membunuh rekannya. Melihat hal itu Xavier ikut tersenyum tipis. Sosok Adam sebenarnya tidak jauh berbeda dengan dirinya. Pria pendiam itu bisa berubah menjadi menyeramkan sewaktu-waktu.


Xavier hanya mengangguk-angguk, setelah ini mungkin ia tidak akan pernah bertemu dengan Adam, karena setelah kembali dari Belgia, Adam akan kembali ke Jerman.


Adam kemudian berjalan mendekati Elleana, menyapa istri dari temannya itu, lalu pandangannya berpusat pada Jennifer.


"Hai, bagaimana kabarmu?" tanyanya mengulas senyum.


"A-aku baik kak," jawabnya. "Bagaimana dengan Kak Adam?" Jennifer gugup tatkala saat itu ia gagal menemani pria itu ke negara Asia sesuai janjinya, sehingga ia merasa tidak enak hati karena telah mengingkari janjinya.


"Hem, baguslah. Kak Adam juga baik-baik saja Jenn." Adam menyahut.


"Maafkan Jenn karena saat itu tidak menepati janji menemani Kak Adam menemui Aleena." Sorot mata Jennifer digenangi rasa bersalah. Seandainya ia bisa lebih tegas, mungkin tidak akan memberikan harapan untuk pria baik seperti Kak Adam.


"Tidak masalah Jenn, aku sudah menduga jika kau tidak akan pergi denganku. Lagi pula aku bisa segera mengakhiri sandiwara konyol ini," ujarnya terkekeh dan ekor matanya melirik ke arah Xavier.


Untuk sesaat Jennifer terperangah. Mencerna ulang apa yang baru saja diucapkan oleh Adam. "Sandiwara apa Kak? Apa selama ini Kak Adam dan Kak Vie....?" Jennifer menggantungkan kalimat yang tentu saja membuat mereka paham.


Adam mengangguk membenarkan. "Benar, Kak Adam hanya menuruti permintaan konyol kakakmu Jenn. Maafkan Kak Adam, oke?"


"Astaga kalian...." Jennifer menutup wajah dengan telapak tangannya, ia sungguh merasa sangat malu dengan Adam yang mengira jika pria itu sungguh-sungguh menginginkan dirinya. "Kalau begitu aku harus mengembalikan cincin milik Kak Adam." Jennifer beranjak berdiri, ia hendak melepaskan cincin di jari manisnya lalu mengembalikannya kembali kepada Adam.


"Tidak perlu, cincin itu bukan milikku tapi milik Nyonya Elle." Lantas saja penuturan Adam membuat Jennifer menolehkan kepala ke arah kakak iparnya itu. "Dan kau tidak perlu khawatir karena kedua orang tuaku pada saat lamaran bukan orang tua Kak Adam yang sebenarnya, mereka hanya orang-orang suruhanku saja." Belum hilang keterkejutannya yang sebelumnya, penuturan yang baru saja dilontarkan Adam benar benar membuat wanita itu tidak habis pikir. Mereka benar-benar memainkan peran mereka dengan baik


"Oh astaga..." Jennifer menepuk keningnya. Lalu teringat akan kedua orang tuanya yang sebelumnya sangat menyetujui hubungannya dengan Adam. "Jangan katakan jika Daddy dan Mommy juga melakukan drama seperti kalian," selidiknya disertai mata yang memicing tajam.


"Tepatnya seperti itu," sahut Xavier santai. Sejak tadi ia mengabaikan keterkejutan Jennifer berkali-kali.


"Maaf Jennie sayang, kami hanya ingin semuanya berjalan sesuai rencana dan untung saja Daddy dan Mommy menyetujui ide kakakmu, mereka juga ingin melihat bagaimana kesungguhan Nico terhadap putri mereka." Elleana menjelaskan. Ia sedikit merasa bersalah karena sudah bermain drama hingga sejauh ini. Terlebih membuat Nico dan Jennifer merasa menderita.

__ADS_1


Jennifer hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, menghela napas kala teringat bagaimana wajah mereka yang begitu serius menentang hubungannya dengan Nico. Keluarganya itu benar-benar luar biasa hebat, pikirnya.


"Aku pikir Kak Adam benar-benar ingin menikahiku seperti yang Kak Adam katakan malam itu." Sungguh Jennifer benar-benar dibuat bingung, kenapa Adam justru menuruti permainan konyol kakaknya.


Adam melirik ke arah Xavier sebelum menyahuti perkataan Jennifer. "Jika bisa, Kak Adam sudah benar-benar akan bersaing dengan kekasihmu, tapi sayangnya semua itu akan sangat sulit." Lagi, Adam terkekeh. Sejujurnya ia sedikit menaruh hati kepada Jennifer, tapi ia mengubur rasa itu dalam-dalam, sebab perasaannya adalah sesuatu yang tidak mungkin.


Raut wajah Jennifer penuh tanda tanya, wanita itu tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh Adam. "Maksud Kak Adam?" Jennifer mengusap tengkuk lehernya.


"Adam tidak akan menikah dengan wanita yang berbeda dengan keyakinannya." Bukan Adam yang menjawab, melainkan Xavier. Perbedaan agama itulah yang selalu membuat Adam sulit untuk membuka hatinya. "Dan selera Adam adalah wanita Asia bukan wanita Eropa sepertimu Jenn," sambungnya.


Jennifer hanya mengangguk seolah mengerti, ia baru ingat akan perbedaan agama mereka, itu sebabnya Kak Adam mengatakan sangat sulit, pikirnya.


Adam tersenyum tipis melihat kedekatan ketiga keluarga itu, ia teringat akan adiknya Aleena karena belum sempat mengunjunginya. Pada saat mengajak Jennifer berkunjung ke negara Asia itu juga merupakan skenario yang sudah disusun.


"Kalau begitu aku permisi dulu, aku harus segera pergi ke Belgia pagi ini juga." Suara Adam yang berpamitan membuat mereka menoleh.


"Baiklah, hati-hati. Lain kali kau harus berkunjung lagi ke London." Xavier lalu memeluk Adam.


"Tentu saja." Adam membalas pelukan Xavier, sebelum kemudian saling berangsur mengurai pelukan. Setelah berpamitan, Adam segera meninggalkan kediaman temannya.


Sepeninggalnya kepergian Adam, Jennifer menatap tajam kakak serta kakak iparnya. "Kalian benar-benar aktor dan aktris yang hebat." Lalu mengacungkan dua ibu jari sekaligus.


Berbeda dengan Xavier yang nampak acuh. "Untuk masuk ke dalam keluarga Romanov perlu usaha yang lebih keras Jenn. Jangan lupakan itu." Ya, karena sebelumnya Daddy Johny tidak mudah untuk mendapatkan Mommy Marry, begitu pun dengan Kakek Lucein yang akhirnya harus kehilangan cinta pertamanya karena wanita itu tidak bisa menerima Kakek Lucein yang merupakan seorang Mafia.


Jennifer mengangguk, ia pernah mendengar sejarah percintaan keluarga mereka turun-temurun, meskipun ia tidak sepenuhnya mengetahui sejarah keluarganya. Terlebih tentang Sang Kakek yang ternyata menyimpan rahasia besar.


"Ingat Jenn, kau harus membuat Nico berlekuk lutut padamu. Dia keras kepala sama sepertimu tapi dia pria yang baik dan juga bodoh. Aku mempercayai semua anak buahku, mereka bisa di andalkan. Aku hanya marah ketika dia diam-diam mendekatimu, dan lebih bodohnya lagi adikku yang polos ini menerimanya dengan mudah. Seharusnya kau membuat persyaratan saat dia mendekatimu Jenn. Jangan mudah percaya pada pria bodoh sepertinya, dia harus membuktikan cintanya padamu. Jika perlu kau minta padanya untuk membuatkan istana atau Mansion dalam waktu satu malam. Jika kau tidak bisa memintanya, maka biar kakakmu ini yang mengatakan kepadanya. Dan dia harus huummpphh..."


Perkataan Xavier terputus lantaran Elleana menutup mulut sang suami dengan telapak tangannya saat dirasa perkataan suaminya itu tidaklah penting. Kenapa suaminya itu justru mengajari Jennie yang tidak-tidak? Bagaimana jika adik iparnya itu benar melakukan saran yang diucapkan suaminya?


"Hubby, jangan bicara yang tidak perlu. Biarkan mereka bersatu dengan mudah," protesnya kesal. Sudah cukup permainan yang penuh drama itu. Tidak ada lagi drama karena hanya akan memperburuk hubungan Jennifer dengan Nico.


Xavier menyingkirkan tangan sang istri dari bibirnya lalu mengecup singkat. "Biarkan saja Sweety, Nico perlu di uji coba jika ingin menjadi adik iparku."


"Hubbyyyy....." Dengan gemas Elleana memelintir pinggang Xavier hingga pria itu berteriak memohon ampun pada sang istri.


Jennifer sempat terperangah akan ucapan kakaknya namun sesaat tergelak melihat bagaimana kakak iparnya itu berhasil menjinakkan kakaknya yang baru ia ketahui sebagai ketua Mafia. Mungkin ia akan seperti Kak Elle jika hidup bersama dengan Nico, batinnya.

__ADS_1


Kak Vie benar, aku harus membuatnya bertekuk lutut padaku dan menurut seperti Kak Vie.


Jennifer cekikikan seorang diri memperhatikan kakaknya yang mudah ditindas oleh istrinya. Pemandangan ini hanya diketahui oleh keluarga mereka saja. Karena jika sedang diluar, maka sosok sang kakak akan berkali-kali lipat lebih dingin dan lebih menyeramkan.


"Jangan dengarkan kakakmu Jenn, sebaiknya kau segera temui Nico dan jelaskan padanya sebelum kakakmu berubah pikiran dan mengurungmu di menara," ucap Elleana membela adik iparnya.


Alih-alih pergi, Jennifer justru kembali tergelak. Sungguh, ia benar-benar menyayangi kakak iparnya itu.


"Baik kak, tapi aku harus mengembalikan cincin Kak Elle lebih dulu." Jennifer hendak melepaskan cincinnya.


"Tidak perlu." Elleana menggeleng. "Cincin itu milikmu Jenn, Kak Elle yang mengambilnya dari kamarmu." Dan kali ini Elleana yang tertawa cekikikan. Semula Jennifer sempat tercengang tapi tawa kakak iparnya menular padanya, sehingga ia juga tergelak.


"Istriku ini sudah pandai menjadi pencuri rupanya." Xavier mencubit gemas pipi istrinya.


"Daaddyyy......" Suara teriakan yang memekakkan telinga itu adalah milik Austin. Balita berusia tiga tahun lebih itu tengah memprotes sikap Daddy kepada Mommy-nya.


"Daddy hanya bercanda, boy." Xavier tersenyum kepada putra bungsunya ketika tertangkap basah.


"No, As tidak suka Daddy cubit-cubit pipi Mommy, don't do that again, Daddy?!!" Bibir Austin mengerucut, ia memperingatkan Daddy-nya agar tidak mengulanginya lagi.


Xavier, Elleana dan Jennifer terkekeh melihat kelucuan Austin. Xavier kemudian menangkap Austin dan membawanya ke dalam dekapannya.


To be continue


King Adam



Bonus visual Austin kecil, kalau Austin besar lebih keren dan lebih tamvan lagi wkwk 🤭



...Kenapa akhir-akhir ini Yoona crazy up? Karena ceritanya udah mau end, 4 atau 5 bab lagi. Jadi dukung terus karya Yoona ya 🤗...


...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2