Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Siapa kau?


__ADS_3

Setelah melalui malam yang penuh perasaan, Keil dan Emely tidur dalam satu tempat tidur. Tidak ada aktivitas panas yang mereka lakukan, hanya saling berpelukan untuk melewati malam yang dingin semalaman penuh. Dan saat pagi menyambut, Keil terbangun terlebih dulu, wajah wanita cantik yang ia perhatikan pertama kali saat kedua kelopak matanya terpisah, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun Keil dapat melihat wajah polos Emely yang sedang tertidur. Wajah yang sudah lama ia rindukan namun karena kekesalan akan Emely yang meninggalkan dirinya dengan tiba-tiba membuatnya selalu menepis perasaan itu. Namun pada kenyataannya, setelah tiga tahun tidak berjumpa, desiran itu masih ada, sehingga Keil memutuskan untuk tidak melepaskan Emely apapun yang terjadi.



"Mau sampai kapan kau menyembunyikan sesuatu dariku?" gumamnya. Sembari menyusuri wajah Emely dengan lembut agar tidak membangunkan wanitanya itu. Rasanya Keil telah gagal menjadi seorang anggota Mafia, buktinya hingga sampai saat ini ia masih belum dapat mengetahui apa yang disembunyikan oleh kekasihnya itu. Wait, kekasih? Terdengar lucu memiliki kekasih yang sudah memiliki suami. Ah, persetan. Bahkan Keil tidak mengakui suami dari Emely. Jika suatu saat suami Emely muncul di hadapannya, mungkin dengan menghantamkan pisau tajam adalah satu-satunya cara tercepat untuk menyingkirkan pria itu. Lagi pula yang ia dengar dari Emely, bahwa suaminya itu memiliki kekasih.


Merasakan ada sesuatu yang terus bergerak di wajahnya membuat Emely menggeliat tetapi tetap kembali melanjutkan tidurnya. Entah sejak kapan terakhir kali ia dapat tidur nyenyak seperti ini. Emely semakin nyaman dan tidak ingin terbangun dari alam mimpi, membuat Keil tersenyum dan mengusap kepala Emely dengan gemas.


Keil mulai membangunkan Emely dengan menciumi seluruh wajah Emely mulai dari kening, kedua kelopak mata dan bibir merah Cherry wanitanya itu, hingga akhirnya Emely merasa terusik dan perlahan mengerjapkan matanya.


"Ke-Keil??" Emely terkesiap. Apa ia sedang bermimpi, kenapa ia melihat sosok Keil di hadapannya yang sedangkan tersenyum tipis. Untuk memastikannya, Emely mencubit pipi Keil.


"Apa kau pikir sedang bermimpi, hm?" Keil semakin dibuat gemas oleh Emely karena menganggap dirinya tidak nyata.


"Astaga, aku pikir semalam benar-benar bermimpi." Wajah Emely merona, bahkan memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Keil.


Keil tersenyum tipis dan kemudian merapatkan tubuhnya lebih dekat dengan Emely.


"Keil, apa yang ingin kau lakukan?" Emely mendelik waspada.


"Memang apa yang kau pikirkan?" Bahkan kini Keil mendekatkan wajahnya pada Emely hingga merasakan hembusan napas mereka yang menyapu wajah masing-masing.


"Keil, jangan macam-macam!" Namun peringatan Emely tidak diindahkan, Keil langsung saja membenamkan ciuman di bibir Emely. Rasanya masih tetap sama, manis dan selalu membuatnya candu. Emely yang awalnya terkesiap mulai membalas ciuman Keil yang semakin lama semakin liar tidak terkendali, karena lidah Keil terus saja bermain di rongga mulut wanitanya itu, hingga akhirnya Keil melepaskan tautan mereka saat Emely kehabisan napas.


"Kau masih saja tidak berubah!" Emely memukul dada bidang Keil. Sikap Keil yang selalu menyerangnya tiba-tiba tidak pernah berubah, bahkan kini lebih agresif. "Apa kau tidak malu mencium seorang wanita yang sudah menikah?" ejeknya kemudian.


Keil tidak peduli akan ucapan Emely. "Jangan lupa, wanita yang sudah menikah ini adalah wanitaku." Mencubit hidung mancung Emely. "Sampai kapan pun tidak akan ada yang bisa mengambil wanitaku dariku!" Sungguh, ucapan Keil benar-benar membuat Emely merasa dicintai. Tiga tahun ia selalu sendirian sebelum akhirnya ditempatkan dalam posisi yang serba salah. Menerima pernikahan dengan seorang pria yang benar-benar tidak mencintainya.


Emely tersenyum penuh haru, senyuman yang dulu sempat hilang, kini Keil dapat melihat senyuman itu lagi. "Jam berapa sekarang?" Tiba-tiba saja Emely baru teringat jika semalam ia tidak kembali ke penthouse. Ketidakpedulian suaminya terhadap dirinya memberikan sedikit keuntungan, sehingga ia masih bisa bebas pergi kemana pun.


"Baru pukul 7 pagi. Tidurlah, jika kau masih mengantuk."

__ADS_1


Emely berdecak, ia kemudian beranjak duduk. "Jangan bercanda, aku harus segera pulang. Jika tidak, para bodyguard akan menyadari jika aku tidak berada disana." Ia bahkan beralasan ingin tidur cepat, lalu melancarkan aksinya yang nekat ingin bertemu dengan salah satu anggota Black Lion yang terkenal itu, tetapi siapa yang menyangka jika ternyata pria itu tidak lain ialah Keil.


"Lalu bagaimana caranya kau melarikan diri dari bodyguard pria itu?" Jari telunjuk Keil sembari menggulung sulur anak rambut Emely. Keil penasaran bagaimana cara Emely mengelabui para bodyguard yang mengawasinya?


"Aku mengatakan pada mereka jika aku akan tidur cepat. Lalu aku melarikan diri melalui jendela." Emely tidak percaya jika ia bisa melakukan hal itu, beruntung karena kamarnya hanya berada di lantai dua dan tidak terlalu tinggi sehingga ia hanya perlu memanjat dinding yang memiliki beberapa pengait untuk pegangan dirinya. Keil mengangguk. Ternyata saat ini wanitanya sudah berubah menjadi sedikit lebih pintar.


"Tapi sekarang aku harus bagaimana jika mereka tidak menemukanku di kamar?" Emely mendadak gusar. Biasanya salah satu pelayan akan memeriksa keadaan dirinya di dalam kamar.


"Kau tenang saja, aku sudah mengurus hal itu. Sebenarnya mereka sudah melacak keberadaan ponselmu sejak tadi malam, jadi saat kau tertidur aku menyadap alat pelacak yang sama yang terhubung di dalam kamarmu, jadi seolah-olah kau berada di dalam sana."


Hah. Emely tercengang. Bahkan ia harus berpikir lebih dulu untuk mencerna perkataan Keil. "Maksudmu selama ini mereka memasang alat pelacak pada ponselku?"


Keil mengangguk. "Karena itu, kau jangan ceroboh. Bagaimana jika tadi malam kau ketahuan?!"


"Pasti mereka akan membunuhku," lirihnya. Mengingat bagaimana perlakuan suaminya terhadap dirinya. Meskipun di depan banyak orang suaminya tidak pernah bersikap manis padanya.


"Aku tidak akan membiarkannya." Siapapun yang berusaha menyakiti wanitanya, tentu Keil tidak akan tinggal diam.


Keil dan Emely berada di dalam perjalanan, Keil bermaksud mengantarkan Emely ke penthouse wanita itu. Namun tiba-tiba saja Keil menepikan mobilnya, hingga membuat Emely dibuat bingung.


"Kenapa berhenti?"


"Aku tidak ingin kau kembali kesana." Keil menatap lekat Emely.


"Tidak bisa, aku harus kembali. Jika tidak, mereka bisa curiga."


"Hem, baiklah tapi sebelum itu kau harus menemaniku sarapan." Permintaan yang sangat sederhana, tetapi entah kenapa semakin membuat Emely gelisah. Jika ia terlalu lama mengulur waktu, ia tidak bisa menjamin jika tidak akan ketahuan oleh bodyguard suaminya itu.


Keil mengerti kekhawatiran Emely, tetapi sayangnya ia terlalu santai dan memohon dengan memasang wajah penuh harapan.


"Baiklah...." Akhirnya Emely mengiyakan permintaan Keil. Ia benar-benar tidak tega melihat wajah Keil yang sendu itu.

__ADS_1


Ini baru permulaan. Entah apa yang sebenarnya dialami Emely, sehingga pernikahan itu terjadi. Keil harus memastikannya sendiri.


Setelah beberapa saat, Keil terlihat begitu senang menghabiskan waktu bersama dengan Emely. Usai mereka sarapan bersama, Keil kembali masuk ke dalam mobil setelah memastikan Emely masuk terlebih dahulu, sebelum kemudian melajukan mobil begitu meninggalkan cafe. Tidak ada percakapan selama di perjalanan menuju penthouse, Emely terlalu gelisah, ini sudah hampir jam 10 pagi, ia harus cepat-cepat kembali ke dalam kamarnya.


Begitu sudah hampir tiba, Keil menepikan mobilnya jauh dari penthouse tempat tinggal Emely. Ia tidak ingin mengambil resiko jika ketahuan, lebih tepatnya belum saatnya untuk ketahuan karena Keil masih harus menyelidiki sesuatu.


"Terima kasih. Kalau begitu, aku harus cepat-cepat masuk."


"Baiklah...." Keil menjawab disertai anggukan. Buru-buru Emely turun dari mobil, pandangannya menyapu ke kiri dan ke kanan memperhatikan sekitar. Di rasa cukup aman, ia mengambil jalan pintas menuju belakang penthouse dan memanjat sebuah dinding.


Menyaksikan wanitanya sudah sedikit berubah dan cukup cerdik, Keil tersenyum, namun dering ponselnya membuat lamunannya itu membuyar. Keil segera menjawab panggilan tersebut.


"Kau bekerja dengan baik. Sekarang kau bisa pergi dari sana," ujar Keil pada seseorang di sambungan teleponnya, lalu memutuskan secara sepihak.


Sementara Emely berjalan mengendap-ngendap saat memasuki halaman belakang. Ia mengelus dadanya karena merasakan kelegaan, dan kemudian ia mulai memanjat dinding halaman untuk mencapai dinding balkon. Untung saja ia sudah mempelajari cara memanjat satu tahun yang lalu.


Saat berhasil memanjat, Emely mulai membuka jendela balkon, ia harus cepat mengganti pakaiannya sebelum seseorang datang ke dalam kamarnya. Namun begitu memasuki kamar, ia terperanjat mendapati seseorang yang berada di dalam kamarnya.


"Siapa kau?"


.


.


To be continue


.


.


Seperti biasa ya..... like, vote, follow dan komentar kalianđź’•

__ADS_1


__ADS_2