
Beberapa karyawan di hotel tersebut menampakkan wajah pucat, tubuh mereka bergidik ngeri, menundukkan wajah hanya karena tidak ingin bersitatap dengan pria yang melampiaskan amarah karena kelalaian mereka.
"Kami benar-benar minta maaf Tuan, kami tidak tau jika salah satu karyawan kami membantu seseorang untuk menculik kekasih anda." Pria paruh baya yang bekerja sebagai manager hotel tersebut hanya mampu mengucapkan maaf berulang kali karena kelalaian para pekerjanya.
Daniel berdecak lidah, telinganya kian memanas karena pria tua itu hanya bisa meminta maaf. "Tunggu apalagi, aku ingin melihat cctv di hotel kalian. Tunjukkan dimana tempatnya. Jika tidak, hotel ini akan hancur dalam sekejap saja!" Ya, tentu hal itu mudah dilakukan Daniel, ia bisa saja meletakkan bom di dalam hotel dan membumihanguskan tempat mewah itu menjadi serpihan bangunan.
"Ba-baiklah...." Manager tersebut mengangguk pias, ancaman itu tidaklah main-main. Selain menakutkan, Daniel juga memperkenalkan dirinya sebagai orang kepercayaan Xavier Alexander Romanov, tentu mereka mengenal keluarga tersohor di setiap manca negara dan tidak ingin menyinggung keluarga tersebut.
Daniel melangkah panjang mengikuti dua staf hotel wanita dan manager tua itu untuk memeriksa cctv disana. Sementara sejak tau jika Ashley menghilang, ia sudah menyebarkan para anak buah untuk menemukan wanitanya yang mungkin saja masih berada di sekitar hotel.
Ruangan minim itu menyuguhkan beberapa layar dengan penampakan setiap sisi hotel, mulai dari lobby, sudut ruangan dan tempat-tempat tertentu lainnya.
"Tunggu, ulangi sekali lagi." Daniel menghentikan pergerakan tangan salah satu petugas yang ingin memeriksa rekaman cctv yang lain. Ia kembali meneliti layar di depannya, rekaman itu menunjukkan sosok wanita dengan postur tinggi semapai. Daniel sangat mengenal sosok wanita itu, siapa lagi jika bukan wanita yang pernah menjadi mainannya. Akan tetapi yang membuat kening Daniel berkerut bingung wanita itu berlalu begitu saja, tidak ada tindakan apapun setelahnya. Tidak berselang lama, satu wanita lainnya mendekati Ashley, sepertinya wanita itu mengetahui letak cctv karena tidak membiarkan wajahnya terlihat. Terlebih satu pria yang merupakan petugas hotel juga berada disana. Ashley sempat memberontak pada saat kain yang sudah diberikan obat bius membekap mulutnya, hingga perlahan kehilangan kesadarannya. Entah apa yang akan mereka lakukan dengan membawa wanitanya.
"Berengsek kalian!" Umpatan Daniel membuat manager tua dan dua pekerja lainnya menoleh padanya. Entah siapa dua wanita itu yang telah berani bermain-main dengan pria seperti Daniel. "Cari mereka sekarang juga!" perintahnya kemudian kepada dua anak buah yang berdiri di depan ruangan. Keduanya mengangguk paham dan segera pergi dari sana.
"Tuan, maafkan kelalaian kami...."
"Diam kau pria tua bodoh!" hardik Daniel menyela ucapan manager tersebut hingga membuat pria tua itu kembali menelan ucapannya.
Pria tua serta dua staf hotel wanita itu menunduk takut. Mereka memang salah karena telah lalai, tetapi sepenuhnya juga bukan kesalahan mereka, karena tidak mengetahui jika ada orang dalam yang ikut terlibat. Ingin sekali manager itu membela diri, akan tetapi melihat wajah Daniel yang diselimuti amarah membuatnya hanya bisa menerima hardikan dan kekesalan pria itu.
"Arrgghh, sialan!" Daniel mengusap kasar rambutnya. Ia berlalu dari ruangan itu, lalu merogoh ponsel di saku celana. "Bagaimana?" tanyanya pada seseorang di sambungan telepon.
"Maaf Bos Daniel kami belum menemukan keberadaan Nona Ashley," ucap anak buah memberanikan diri berkata yang sebenarnya.
"Bodoh!" Lagi-lagi Daniel mengumpat. "Jika dalam dua jam kalian tidak bisa menemukannya, ku patahkan tulang leher kalian!" ancamnya yang langsung disanggupi oleh anak buah di seberang sana. "Dan satu lagi, bawa Emma hidup-hidup ke hadapan ku, jangan biarkan wanita itu melarikan diri setelah apa yang dia lakukan!" Napas Daniel memburu lantaran emosinya yang memuncak.
"Baik Bos Daniel."
__ADS_1
Usai sambungan telepon terputus, Daniel bergegas keluar dari hotel. Tanpa ia sadari jika manager serta dua staf wanita tidak sengaja mencuri dengar percakapan Daniel dengan seseorang di seberang sana. Sungguh, mereka benar-benar tidak ingin berurusan dengan keluarga kaya raya.
Usaha para anak buah tidak sia-sia. Hanya perlu tiga jam untuk mereka menemukan keberadaan Ashley. Lantas Daniel tidak ingin membuang waktu lagi, ia bergegas melajukan mobilnya menuju lokasi dimana mereka membawa Ashley. Di sisi lain, anak buahnya yang lain juga berhasil mengamankan Emma, Daniel ingin memberikan pelajaran kepada wanita itu karena telah berani mendatangi wanitanya.
"Apa mereka bekerja sama?" gumamnya. "Siall! Jika saja aku tidak meninggalkannya mungkin mereka tidak akan membawa Ashley seperti ini." Daniel memukul stir kemudinya berulang kali. Pikirannya tengah kacau dan gusar bersamaan, karena ia tidak ingin sesuatu terjadi dengan Ashley.
Aku tidak akan membiarkan mereka melukaimu, baby.
***
Wanita cantik tengah berusaha mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya di tempat tersebut. Tubuhnya terasa kaku dan teramat berat hanya sekedar untuk mengangkat kepalanya. Perlahan membuka mata dan mendapati dirinya berada di sebuah bangunan tua.
"Aku dimana?" Ashley menyentuh kepalanya yang masih terasa amat pusing. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi karena sebelumnya ia berada di hotel.
Wanita itu sangat cantik dan tersenyum padanya, tetapi auranya begitu mengerikan. Senyum merendahkan yang ditunjukkan padanya membuatnya tidak habis pikir jika ada wanita seperti itu.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," sahutnya. Jangan salahkan dirinya, salahkan saja wanita itu karena tidak memperkenankan diri.
"Ck, kau bodoh atau pura-pura bodoh Nona." Wanita itu berkacak pinggang, menatap sinis Ashley yang masih tidak bergeming di tempatnya. "Kau telah merebut pria milikku, Tuan Daniel adalah milikku. Tapi kau datang dan merebutnya dariku!"
Ashley menarik napas dalam lalu membuangnya. "Maaf Nona, jika kau ingin marah datangi langsung Tuan Daniel yang kau katakan milikmu itu. Kenapa Nona marah padaku? Nona tanyakan saja padanya siapa diriku dan dari mana aku datang?" Sebenarnya hati Ashley berdenyut nyeri dan seperti diremass ketika ada seorang wanita yang mengaku Daniel adalah miliknya. Akan tetapi ia tidak ingin ditindas oleh seseorang yang tidak dikenal. Sehingga ia memberanikan diri membalas setiap perkataan wanita itu.
Sekuat tenaga wanita itu mengeram emosinya, ia menunjukkan senyum termanisnya. "Aku Emma, wanita kesayangan Tuan Daniel, tapi sayangnya semenjak dia memiliki wanita lain yaitu kau, Tuan Daniel meninggalkanku begitu saja. Kasian sekali bukan?" Mengiba akan nasibnya. "Tapi apa yang dia lakukan kepadaku bisa saja menimpamu, jadi kau jangan berada di atas angin karena sudah mendapatkan hatinya." Emma bermaksud mencibir, namun sialnya Ashley terlihat tenang dan tidak begitu ingin menanggapi.
"Kalau begitu aku menjadi wanita yang beruntung karena sudah mendapatkan hatinya." Jika dulu Ashley mudah ditindas dan dibodohi, tetapi tidak untuk kali ini. Meskipun tangannya gemetar dan terasa dingin, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan wanita yang sepertinya tergila-gila kepada Daniel. Entahlah, sebenarnya ia beruntung atau sial karena terjerat akan pesona seorang Daniel.
Emma menjadi kesal sendiri lantaran Ashley tidak termakan akan perkataannya. Tangannya terkepal sesaat menatap sorot mata Ashley yang begitu berani membalas tatapannya, sehingga ia berlalu begitu saja tanpa sepatah kata.
Percakapan itu masih membekas diingatan Ashley. Sebelumnya mereka memiliki hubungan yang seperti apa, Ashley tidak peduli. Ia sudah menyiapkan hati jika suatu hari nanti Daniel meninggalkan dirinya. Pikirannya terlalu larut sehingga tidak menyadari ada orang lain lagi yang mendekati lalu membekapnya dengan obat bius.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa mereka?" Berupaya beranjak berdiri, Ashley meraba ingatannya akan suara seseorang yang membawa pergi dirinya. Suara itu seperti suara dua pria sedang bertengkar yang terdengar samar-samar, sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.
Langkah kaki membuat Ashley mendelik waspada. Ia merasakan seseorang tengah mendekat ke arahnya.
"Hai, sayang...."
Seketika Ashley terpekur dengan sosok pria di hadapannya. Meskipun sudah lama tidak bertemu, akan tetapi wajah hangat itu selalu ia rindukan selama ini.
To be continue
.
.
Babang Daniel
Ashley
Yoona mau menyelesaikan konflik Daniel dan Ashley terlebih dulu. Jadi mohon bersabar sama alurnya ya 🤗
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
__ADS_1