
Semua yang berada di dalam ruangan keluarga, mendengarkan dengan seksama penuturan Jennifer dan juga Nico. Saat ini Nico sudah tidak merasakan mual yang berlebihan seperti sebelumnya, ia berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak terpacu akan rasa yang bergejolak di dalam perutnya. Dan Jennifer juga menceritakan mengenai Keil dan juga Daniel yang mengalami gejala serupa dengan suaminya. Jennifer menduga jika ketiga pria itu mungkin memiliki penyakit yang sama.
Mereka mengangguk-angguk. Ternyata tidak hanya Nico, bahkan Keil dan Daniel juga mengalami gejala yang sama. Xavier dan Jack sudah mendengar mengenai Keil yang mengalami kehamilan simpatik, tetapi mereka baru mengetahui jika Daniel juga mengalami keluhan yang sama.
Daddy Johny dan Mommy Marry mendengarkan gejala yang dialami Nico, mereka saling memandang dan mengulum senyum. Tidak hanya pasangan paruh baya itu, Edward, Olivia serta Millie juga tersenyum. Mereka menduga-duga jika Jennifer sedang mengandung dan Nico yang harus mengalami fase mengidam. Wajar saja jika Jennifer dan Nico tidak menyadarinya, karena keduanya masih begitu awam.
"Sebaiknya kau istirahat saja Nic," tutur Jack mengulum senyum. Jika dugaan mereka benar, maka tentu saja itu adalah berita yang sangat baik.
Nico mengangguk, ia tidak berani menatap wajah bos yang sejak tadi berusaha mengeram amarahnya. Beruntung nyawanya selamat, karena Nyonya Elleana berhasil menenangkan bosnya.
"Mom... Daddy... Jenn akan mengantar Nico ke kamar."
"Iya sayang...." sahut Mommy Marry mengembangkan senyumnya. Jika benar, maka ia dan juga suaminya akan memiliki cucu dari putri mereka.
Setelah semuanya mengiyakan, Nico beserta Jennifer keluar dari ruang keluarga menuju kamar mereka yang berada di lantai dua.
"Elle, sepertinya Jenn butuh bantuanmu sayang. Dia benar-benar polos dan tidak menyadari kalau sedang hamil." Suara Mommy memecah kesenyapan pada saat pandangan mereka masih tertuju pada punggung Jennifer dan Nico yang semakin menjauh.
"Wajar saja Mom, karena yang mengalaminya adalah Nico." Elleana menyahuti ucapan mertuanya itu. Dengan senang hati ia akan berbicara dengan Jennifer.
"Hem, Nico terlalu mencintai Jennie," timpal Olivia dan diangguki setuju oleh Millie yang duduk bersisian dengannya.
"Benar, Nico yang harus mengalami mual-mual seperti itu. Jennie kita benar-benar sangat dicintai oleh suaminya." Elleana terkekeh. Sorot mata Nico yang dalam membuktikan seberapa besar cinta pria itu untuk adik iparnya.
"Tidak Sweety." Xavier merangkul pundak Elleana. Ia tidak terima jika kehamilan simpatik dikaitkan karena seseorang itu begitu mencintai istrinya. "Tidak mengalami kehamilan simpatik bukan berarti tidak mencintai istri mereka. Itu hanya perubahan hormon dalam tubuh. Meskipun aku tidak mengalaminya, tapi aku sangat mencintaimu. Jangan ragukan itu Sweety!"
Kedua mata Elleana mengerjap, suaminya itu benar-benar tidak ingin kalah dan mengalah. "Iya Hubby, aku sangat tau kalau kau sangat mencintaiku dan aku juga sangat mencintaimu. Aku tidak meragukan itu." Kemudian tangannya memeluk perut suaminya dan Xavier mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh cinta.
"Ehem..." Edward berdehem membuat semuanya hanya tersenyum. "Disini masih ada kami, apa kalian lupa?" imbuhnya.
Elleana terkekeh, lalu melepaskan rangkulan tangannya di perut sang suami. Namun Xavier menahan lengan istrinya agar tetap memeluk perutnya. Mereka semua terkekeh diiringi gelengan kepala. Mereka cukup tau jika Xavier adalah pria yang tidak peduli dan tidak mau tau. Bahkan tidak masalah jika Austin, Darren dan juga Devano dapat melihat kemesraan mereka. Karena Xavier dan Elleana hanya berpelukan bukan melakukan hal yang berlebihan di hadapan anak-anak. Aurelie dan Arthur yang sudah terbiasa melihat kemesraan kedua orang tuanya hanya mengedikkan bahu, pandangannya lurus pada layar ponsel yang menyala di genggaman mereka.
***
Siang menjelang sore. Nico, Xavier dan juga Jack pergi mengunjungi salah satu wilayah perbatasan pusat kota. Mereka sekedar memantau wilayah yang baru saja menjadi milik Black Lion. Dan setelah kepergian Xavier, Jack serta Nico, Elleana mendekati Jennifer yang duduk menghadap ke layar televisi.
__ADS_1
"Kapan terakhir kali kau datang bulan, Jenn?" Elleana langsung mencerca pertanyaan begitu berhasil membenamkan tubuhnya di samping Jennifer.
Kening Jennifer mengernyit. "Maksud Kak Elle?"
"Sudah jawab saja. Apa bulan ini kau sudah datang bulan, hm?" Sorot mata Elleana nampak berbinar, ia sungguh tidak sabar ingin mendengar jawaban adik iparnya itu.
Kerutan di kening Jennifer semakin dalam ketika ia mencoba mengingat siklus datang bulannya. Seingatnya sehari sebelum menikah, ia baru saja selesai datang bulan dan hingga memasuki usia bulan ketiga pernikahan mereka, ia belum mendapatkan siklus haidnya kembali. "Belum kak, terakhir kali aku datang bulan adalah sebelum pesta pernikahan," jawabnya.
Senyum Elleana mengembang begitu mendengar jika adik iparnya belum datang bulan semenjak menikah dan itu sudah terhitung dua bulan lebih.
"Kalau begitu kau cobalah alat ini." Elleana menyerahkan paper bag di pangkuan adik iparnya.
Jennifer semakin dibuat bingung dengan sikap kakak iparnya yang penuh misteri itu, ia kemudian membuka paper bag tersebut. Dan seketika bola matanya melebar, Jennifer sangat tau jelas benda apa yang diberikan oleh kakak iparnya.
"Kak.... ini...."
"Kemungkinan kau sedang hamil, Jenn." Elleana antusias saat mengatakannya.
"Hamil?" Jennifer sama sekali tidak mengarahkan pikirannya ke tahap itu. Karena ia mengerti tanda-tanda seorang wanita yang sedang hamil dan ia tidak mengalami gejala kehamilan yang ia ketahui, seperti kakak iparnya pada saat mengandung, mengalami gejala seperti mual-mual dan bahkan jatuh sakit.
"Setiap wanita hamil berbeda-beda Jennie sayang, tidak semuanya mengalami gejala seperti itu. Bisa saja suami yang mengalaminya seperti yang dialami oleh Nico. Kau hamil dan Nico yang mengalami gejala kehamilanmu." Elleana menjelaskan hingga membuat Jennifer mencerna perkataan kakak iparnya.
Setelah keraguan yang menyergap itu akhirnya Jennifer mengikuti saran dari kakak iparnya untuk mencoba mengecek dengan menggunakan alat test kehamilannya. Saat ini Jennifer berada di dalam kamar mandi, sementara Elleana menunggu harap-harap cemas di balik pintunya kamar mandi.
"Bagaimana Jenn?" Elleana mendekati Jennifer yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu begitu semangat dan tidak sabar mengetahui hasilnya.
"Entahlah kak, aku benar-benar takut dengan hasilnya." Jennifer tertunduk lesu. Sungguh, ia tidak berani melihat hasilnya itu dan harus menelan kecewa akan hasilnya.
"Ck, kau ini. Coba biar kulihat." Elleana melewati adik iparnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Ia terdiam sesaat mengamati beberapa alat test kehamilan yang tergeletak di atas wastafel, hingga kehebohan Elleana di dalam kamar mandi mengguncang telinga Jennifer.
"Ada apa kak?" Jennifer buru-buru menghampiri kakak iparnya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kau hamil Jenn.... Semua alat yang kau pakai menunjukkan garis dua, itu hasilnya kau positif hamil." Sangking bahagianya Elleana memeluk Jennifer yang masih bergeming, ia mencoba mencerna kalimat sang kakak ipar.
"A-aku... hamil?" Ia bahkan tercenung di dalam pelukan Elleana.
__ADS_1
"Benar Jennie sayang... kau hamil." Elleana harus mencubit kedua pipi Jennifer untuk menyadarkan adik iparnya itu.
Seketika senyum Jennifer terbit, ia sungguh-sungguh tidak menduga dirinya akan hamil dalam waktu dekat ini. Ingin rasanya ia melompat-lompat kegirangan jika saja ia tidak memikirkan calon bayi di dalam kandungannya.
"Ada apa sayang?" Mommy Marry yang mendengar kehebohan di dalam kamar putrinya, melesat masuk ke dalam kamar yang pintunya terbuka sebagian.
"Mommy.... Jennie hamil." Jennifer nyaris berteriak, lantas ia memeluk Sang Mommy dengan erat.
Mommy Marry mencoba tetap pada kesadarannya mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh putrinya. "Benarkah putri Mommy hamil?" tanya Mommy Marry memastikan pada saat mengurai pelukan mereka.
Jennifer mengangguk. "Benar Mommy."
"Astaga sayang. Mommy sudah menduganya, tapi saat benar-benar mengetahui hasilnya Mommy sangat senang."
Ketiga wanita cantik itu itu melemparkan senyum mengembang. Mommy Marry mengandeng lengan Jennifer dan Elleana menuruni tangga untuk mengumumkan kabar bahagia tersebut.
"Benarkah?" Semua kompak bersemangat. Ternyata dugaan mereka benar jika Jennifer tengah mengandung.
"Tapi itu baru hasil dari alat test kehamilan, bisa saja salah." Entahlah, Jennifer masih sedikit meragukan alat test kehamilan tersebut.
"Jika semua alat kehamilan menunjukkan garis dua, berarti hasilnya tidak mungkin salah Jennie sayang. Kau benar-benar hamil," sambar Millie tersenyum menyakinkan.
"Untuk memastikannya, kau dan Nico bisa memeriksanya di rumah sakit," timpal Edward menyarankan. Semuanya mengangguk setuju, termasuk Jennifer.
"Kalau begitu aku akan menghubungi Nico untuk segera pulang." Jennifer nampak semangat. Ia sudah tidak sabar ingin segera memberitahukan kabar bahagia mengenai kehamilannya. Jennifer kemudian meninggalkan keluarganya dan melangkah menuju kamarnya. Sepanjang berjalan menuju kamar, Jennifer mengusap perutnya yang masih rata dan hal itu tidak luput dari perhatian mereka semua dan turut bahagia akan kehadiran calon anggota baru di Keluarga Romanov.
See you next bonus chapter
Jennifer
...Yang masih berkenan bisa like, vote dan jangan lupa komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...