Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Aku disini


__ADS_3

Untuk sesaat mereka terlibat baku hantam, sedangkan Nico memijat pelipisnya melihat perkelahian kedua sahabatnya itu. Dengan malas Nico menengahi Keil dan juga Daniel.


"Kalian ingin saling membunuh, heh?!" Nico menghujam tatapan tajam kepada kedua sahabatnya secara bergantian.


Napas Keil dan Daniel saling memburu akibat perkelahian sesaat itu. Dan mendengar perkataan Nico, mereka tersadar dan hanya saling bersitatap.


"Kami mengerti perasaanmu Keil. Aku juga tidak percaya jika Emely mati begitu saja. Aku dan Daniel akan membantumu mencarinya, tapi untuk tidak saat ini. Kau terluka, biarkan kami mengobati lukamu terlebih dahulu, setelah itu kami berdua akan mengantarmu kemanapun." Nico berupaya memberikan pengertian kepada Keil. Dilarang pun percuma karena Keil akan bersikeras mencari keberadaan Emely. Alih-alih menemukan Emely, mereka justru takut akan menemukan Keil yang tewas akibat lukanya itu.


Deru napas Keil mulai teratur rendah, pun dengan Daniel yang sudah tidak lagi terpancing emosi sesaat. Keil mengusap wajahnya, terdapat cairan bening yang keluar tanpa sadar dari sudut matanya. Saat ini ia begitu memikirkan keadaan istrinya serta calon bayi mereka.


Tubuh Keil seketika meringsut ke bawah. Rasanya ia sudah tidak memiliki tenaga kembali untuk menopang tubuhnya. "Aku tidak ingin kehilangan Eme dan calon bayi kami," lirihnya. Kembali mengusap wajahnya dengan sikut yang bertumpu pada pahanya.


Nico dan Daniel membiarkan Keil meluapkan kesedihannya selama beberapa saat, sebelum kemudian keduanya membantu Keil untuk berdiri. Jika mereka berada di posisi Keil, mereka juga akan merasa hancur yang teramat dalam.


***


Sudah terhitung dua hari Nico dan Daniel membantu mencari Emely di lokasi kejadian. Namun tidak menemukan petunjuk apapun. Keil yang sulit menerima jika istrinya itu benar-benar meninggalkan dirinya untuk selamanya dengan membawa bayi mereka tidak ingin menyerah, ia terus menyusuri lebih dalam semak-semak curam itu dengan alat bantu tali. Setidaknya jika memang istrinya itu tewas di tempat, ia harus menemukan jasadnya. Dan jika tidak menemukan jasadnya, ia masih memiliki harapan jika Emely dan bayi mereka masih hidup.


"Keil, kita harus naik ke atas, sebentar lagi akan turun hujan!" Nico berteriak. Mereka tidak ingin mengambil resiko berada di bawah jurang ketika hujan turun.


Keil mengangguk lemah, hari ini cukup sampai disini penelusuran mereka. Ketiganya kembali menaiki gundukan batu yang menjadi jalan pijakan mereka. Sebelum pergi, Keil melihat ke bawah. Memang mustahil seseorang yang jatuh ke dasar jurang akan bertahan.


Aku berharap kau dan bayi kita masih hidup, Love.


Mendengar suara kedua sahabatnya memanggil dirinya, Keil segera menyusul mereka dan berlalu dari sana.


***


Empat hari berlalu. Disinilah Keil berada, di penthouse miliknya yang tidak pernah ia datangi. Membeli penthouse itu bertujuan akan hidup bersama dengan istrinya. Sepulang dari Los Angeles, Keil akan membawa Emely ke penthouse, namun sialnya kejadian penyerangan Jonas lebih dulu membuat rencananya gagal, istrinya itu kini tidak bisa ia temukan. Keil berdiri di depan jendela yang menjulang tinggi tinggi, melihat pemandangan pohon hijau di luar sana. Hatinya kian merasa sesak jika mengingat istrinya. Ia merasa telah gagal melindungi wanita yang sangat ia cintai, dan tidak terasa olehnya jika ia meneteskan air mata, buru-buru Keil menghapus sudut matanya yang basah.


"Arrggh...." Keil melenguh perih ketika luka di punggungnya merasakan denyutan. Seharusnya luka tembakan itu sudah mengering, akan tetapi karena Keil selalu bergerak kesana kemari, melakukan aktivitas menelusuri semak-semak dan bahkan hutan membuat lukanya kembali terbuka.


Meskipun merasakan sakit, Keil mengabaikannya begitu saja. Ia justru lebih tertarik pada kolam renang yang berada di luar halaman. Lantas Keil berjalan ke arah sana, mungkin dengan berenang ia bisa mendinginkan pikirannya.


Keil melepaskan pakaian atas, melemparnya dengan asal lalu mulai berjalan mendekati kolam renang.


Byur


Keil menceburkan diri ke dalam kolam renang. Sensasi sejuk ia rasakan, tubuhnya mulai rileks kembali, akan tatapi berbeda dengan hatinya yang masih merasakan kegelisahan. Ya, jika belum menemukan istrinya atau jasad istrinya Keil masih belum bisa merasakan ketenangan.

__ADS_1


"Arrgghh, siall!" Keil menjambak rambutnya frustasi. Biar bagaimanapun caranya ia menenangkan diri, tetap saja wajah Emely selalu memenuhi hati dan pikirannya.


Keil kemudian menenggelamkan dirinya di dalam dasar kolam. Membiarkan tubuhnya melayang di dalam sana. Mata yang terpejam itu memberikan sedikit ketenangan dimana wajah Emely yang meneduhkan itu tersenyum padanya. Lama Keil berada di dasar kolam, tubuhnya semakin sulit di gerakkan, ia tidak tidak memliki tenaga untuk berenang ke permukaan, bahkan untuk membuka matanya saja terus begitu berat. Sehingga Keil membiarkan saja tubuhnya di dalam air yang semakin menghanyutkan.


Byurr


Nico melompat ke dalam kolam renang begitu menyadari jika Keil tenggelam. Ia kemudian menarik Keil dan membawanya ke permukaan.


"Ck, dasar bodoh! Untuk apa kau berenang di saat lukamu belum mengering?!" gerutunya kesal sembari mengangkat Keil ke tepi kolam dan membaringkannya disana.


"Apa Keil mati apa hanya pingsan?!" tanyanya Daniel berjongkok tepat di samping Keil yang tidak sadarkan diri.


"Kau periksa saja denyut nadinya. Pria bodoh sepertinya senang sekali menyiksa diri!" Nico naik dari kolam renang, lalu mengusap wajahnya ketika lelehan air itu memenuhi wajahnya.


"Kau juga akan seperti Keil jika seandainya kehilangan Nona Jennie," cibirnya menyindir.


"Ck, dan aku pastikan tidak akan kehilangan Nona Jennie." Nico tidak bisa mengelak, ia pun pasti akan merasakan frustasi dan menggila jika berada di posisi Keil.


Daniel hanya terkekeh sembari memeriksa keadaan Keil yang hanya pingsan. "Kita bawa dia ke dalam kamar. Lukanya cukup parah. Sepertinya dia demam." Punggung tangan Daniel sudah mendarat di kening Keil, memang terasa panas meskipun baru saja berendam di dalam kolam renang yang dingin.


"Bagaimana tidak demam, lukanya belum sembuh tapi si bodoh ini malah berenang. Dia ingin mati rupanya!" Nico yang kesal pun berlalu dari sana. Ia ingin segera mengganti pakaiannya yang basah karena menyelamatkan Keil dan membawa sahabatnya itu ke permukaan. Daniel mulai memapah tubuh Keil, pria itu sebenarnya juga merasa kesal dengan Keil. Dan ia paham kenapa Nico kesal seperti itu. Mereka tentunya tidak ingin kehilangan Keil, mereka hidup sudah seperti keluarga yang saling melindungi. Jika satu di antara mereka terluka, tentu mereka merasakan sakit yang sama.


"Jangan bodoh Keil. Kau membuatku dan Nico ketakutan jika kau mati. Emely pasti masih hidup, jadi bertahanlah," bisiknya dengan memapah Keil menuju kamar sahabatnya itu. Daniel kemudian membaringkan Keil di sofa terlebih dahulu bertepatan dengan Nico yang masuk ke dalam kamar Keil setelah mengganti pakaian sebelumnya.


Kedua bastard itu memastikan keadaan Keil yang masih terlelap. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing, duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur. Daniel mengirimkan pesan untuk Ashley. Sudah beberapa hari ini ia tidak menemui wanitanya itu, sementara Howie sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu. Calon mertuanya itu diberikan fasilitas Mansion yang mewah untuk tempat tinggalnya, meskipun di hatinya masih merasakan kesal akan kebodohan sang calon mertuanya yang lebih mempercayai David ketimbang dirinya.


Ponsel Nico berdering, menampilkan sebuah nama 'My Queen' pada layar ponselnya. Lantas Nico segera menjawab panggilan dari Nona kecilnya itu.


"Ada apa My Queen?" Nico menyambut panggilan dari Jennifer dengan senyum yang mengembang, namun perlahan senyumnya memudar berganti dengan rahangnya yang mengeras ketika mendengar perkataan kekasihnya di seberang sana. "Kapan dia akan membawamu?" tanyanya kemudian dengan tenang, meskipun sejak tadi ia berusaha mengeram emosinya.


"Siang ini Nic. Maafkan aku, aku tidak bisa membantah perkataan Kak Vie, kau tau sendiri bagaimana kakak."


Nico mengangguk dan membenarkan perkataan kekasihnya. Calon kakak iparnya itu memang tidak terbantahkan dan sangat menyebalkan.


"Baiklah. Aku akan menemuimu." Nico masih berusaha tetap tenang, meskipun saat ini ia ingin sekali melampiaskan amarahnya.


"Tapi..."


Namun sebelum Jennifer melayangkan protes, Nico lebih dulu memutuskan sambungan telepon. Ia beranjak dari duduknya, mengabaikan tatapan Daniel yang sejak tadi mendengarkan percakapannya dengan Nona Jennifer.

__ADS_1


"Apa kau ingin melancarkan rencanamu Nic?" tanya Daniel mengetahui apa yang sedang di pikiran oleh Nico.


"Menurutmu?" Nico tersenyum masam.


"Haha kau pasti akan melakukannya, bukan?" Daniel tergelak, jelas kentara di mata Nico yang akan melakukan aksi gilanya.


"Berisik!" Nico ingin berlalu dari sana tetapi melihat pergerakan tubuh Keil, ia mengurungkan niatnya sesaat. Kemudian bergerak mendekati ranjang dan melihat Keil sudah membuka mata. "Kau baik-baik saja?"


Keil mengangguk lemah. "Aku tidak selemah itu, bodoh!"


Nico terkekeh, Daniel kemudian mendekati kedua sahabatnya. "Dia tidak akan mati hanya karena demam," sindir Daniel.


Keil hanya tersenyum menanggapi. "Kalian pergilah. Aku baik-baik saja." Tatapan Keil beralih pada Nico. "Lakukan rencanamu Nic, sebelum pria yang bernama Adam itu membawa Nona Jennie ke negara asing."


Nico mengangguk. "Tentu saja dan kau harus menghubungiku atau Daniel jika terjadi sesuatu."


"Jangan melakukan hal yang bodoh. Berenang di saat kau terluka, benar-benar idiot!" sambar Daniel kesal.


"Iya, sana kalian pergi." Mengibaskan tangan menandakan pengusiran kepada kedua sahabatnya.


Nico serta Daniel berdecak lidah. "Iya baiklah, kami pergi," seru Daniel. Kemudian keduanya berlalu pergi dari kamar Keil.


Setelah kepergian kedua sahabatnya, Keil merasakan kantuknya kembali menyergap karena efek obat. Keil perlahan memejamkan matanya, hingga beberapa detik saja sudah menyelam alam mimpi. Karena beberapa hari tidak tidur dengan benar, sehingga hari ini Keil tidur hingga beberapa jam lamanya. Bahkan ia melewatkan makan siang dan makan malamnya.


Langit sudah berubah gelap, ruangan Keil tidak ada pencahayaan karena pria itu tertidur hingga menjelang malam, hanya cahaya dari sinar bulan yang memantulkan cahaya ke dalam kamarnya. Keil masih begitu lemah, untuk membuka matanya sungguh sulit karena ia masih begitu lelah. Decitan suara pintu yang terbuka menyelinap di indera pendengarannya. Keil menyadari kehadiran seseorang yang memasuki kamarnya. Perlahan seseorang itu terduduk di tepi ranjang, meskipun dalam keadaan mata terpejam, Keil dapat merasakan aroma tubuh seseorang yang sangat ia rindukan.


Seseorang itu mengusap lembut wajah Keil, hingga perlahan Keil membuka mata. Meskipun dalam gelap, Keil mencoba meraba wajah sosok di sampingnya. Seseorang itu tersenyum, kembali mengusap wajah Keil yang tengah menatap ke arahnya.


"Aku disini....."



To be continue


.


.


...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2