
Hai, Emely.....
Terdengar suara seorang wanita yang menyapa dirinya. Siapa? Emely tidak mengenali suara wanita itu, pikirnya.
Sayang sekali aku tidak bisa bertemu denganmu secara langsung. Selama ini aku hanya mendengar namamu dari Jonas dan dari seseorang yang aku tugaskan untuk mencari tau informasi tentangmu. Jujur saja aku membencimu dan juga Reese. Wanita tidak tahu diri itu selalu memonopoli Jonas, padahal selama ini akulah wanita yang selalu menemaninya. Ck, baiklah tidak perlu membahas tentangku. Tujuanku membuat rekaman ini karena ingin memberitahumu sesuatu yang sangat penting. Sebenarnya tidak penting untukku, tapi penting untukmu. Ehmm.... mengenai hubunganmu dengan Jonas. Kau pasti bertanya-tanya selama ini, kenapa Jonas tidak pernah membawamu ke altar tetapi dia selalu bicara bahwa kau sudah resmi menjadi istrinya.
Deg
Apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh wanita itu. Seketika Emely mulai gelisah. Apakah ada suatu rahasia yang selama ini tidak diketahui olehnya?
Memang benar kau menandatangi surat untuk melengkapi data pernikahan kalian tapi sebenarnya surat itu palsu, kau sudah dibodohi olehnya. Surat itu adalah pengalihan harta warisan kedua orang tuamu. Ehm, Jonas menginginkan vila peninggalan keluargamu berserta sebidang tanah untuk memperluas wilayahnya. Dia memang membencimu meskipun dia sudah mengetahui bahwa bukan kau dalang dari kematian adiknya. Pelakunya yang tidak lain adalah teman priamu yang sudah dibunuh olehnya. Dengan kata lain kau dan Jonas bukanlah sepasang suami istri, sejak awal dia tidak menikahimu. Jadi saat ini kau bisa pergi darinya, atau aku yang akan membuatmu pergi dengan cara yang lebih kasar. Aku melakukan ini bukan karena aku peduli padamu, melainkan aku hanya ingin menyingkirkan satu wanita yang berada di sisi Jonas. Setelah kau pergi aku juga akan menyingkirkan Reese dan Jonas hanya akan bersamaku saja.
Rekaman itu terhenti. Sudah pasti tidak ada kalimat selanjutnya. Lana memang selalu berbicara to the point.
"Apa yang wanita itu katakan benar, Love? Jadi selama ini dia tidak membawamu ke altar? Apa kalian berdua tidak mengikat janji suci sebelumnya?" Keil mencerca berbagai pertanyaan.
Emely masih tidak bergeming, tubuhnya mematung, otaknya mulai mencerna setiap kalimat yang disampaikan oleh wanita yang entah siapa itu.
"Love...." Keil menangkup wajah Emely. "Ada apa, hm?" tanyanya lembut. Apa Emely tidak senang begitu mengetahui bahwa sebenarnya ia tidak pernah menikah? Jadi hanya dirinya saja yang merasa senang dengan kenyataan tersebut.
"A-aku tidak mengerti Keil, kenapa dia melakukan itu padaku?" Sejujurnya kelegaan melingkupi seluruh rongga dadanya, ternyata dirinya tidak pernah menikah dengan pria bajingan itu.
"Tujuannya sudah pasti untuk menekanmu. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk memiliki harta terakhir yang kau miliki."
Rasanya otak Emely seperti dipaksa bekerja. Selama ini ia tidak pernah mengetahui jika ia masih memiliki harta berharga.
Keil mengerti, semua ini memang sangat sulit jika dipikir oleh nalar. Keil kembali menangkup wajah Emely. "Hei dengarkan aku. Aku tidak akan tinggal diam. Jika memang pria itu mengambil hak milikmu, aku akan merebutnya kembali. Kau tidak perlu cemas. Yang penting saat ini aku sangat senang karena kau tidak benar-benar menikah dengannya. Aku tidak perlu bersusah payah untuk mengurus surat perceraian kalian yang sudah berjalan."
Emely tertegun. Apa selama ini Keil mengurus surat perceraian dirinya? Kenapa ia tidak mengetahuinya?
"Aku tidak pernah mengikat janji suci dengannya di depan altar. Dia hanya meminta tanda tanganku, sehari kemudian dia datang padaku dan mengatakan kalau kita sudah menjadi suami istri," cicitnya menjelaskan.
"Apa dia tidak menunjukkan surat pernikahan kalian?!" Keil kembali bertanya dan Emely menggeleng yakin. Memang itulah keadaan yang sebenarnya. Meskipun sejak awal ia mengetahui bahwa Jonas membohongi mengenai pernikahan mereka, tetap tidak ada yang bisa ia lakukan karena saat itu Mommy-nya berada di tangan pria itu.
"Sudahlah, jangan banyak berpikir. Jangan merusak kebahagiaanku sayang...." Keil tidak pedulikan raut wajah kebingungan wanitanya itu. Ia menciumi setiap inci wajah Emely. Mata, hidung, kedua pipi dan bibir menjadi sasaran empuk bibir Keil mendarat disana berulang kali, hingga membuat Emely terkekeh geli dibuatnya.
"Keil hentikan, kau membuatku geli." Namun Keil tidak mengindahkan perkataan Emely. Justru bibirnya berpindah, meraup bibir ranum sang kekasihnya, menyesap hingga Emely terbuai akan permainan bibirnya.
Keduanya tidak menyadari jika empat pasang mata sedari tadi berada di sana. Mendengarkan setiap percakapan, melihat kemesraan yang penuh cinta dan napsu itu.
"My Queen, jangan melihat dua orang dewasa yang sedang berciuman." Ya, sejak tadi telapak tangan Nico berusaha menutupi kedua mata Jennifer yang menikmati pemandangan di hadapan mereka.
"Astaga sayangku Nico, kau pikir aku anak kecil? padahal kau juga selalu menciumku!" cebiknya polos. Menjauhkan telapak tangan Nico dari kedua matanya. Apakah pria itu tidak sadar diri, bahwa mereka sama saja suka sekali menyerang secara tiba-tiba.
Nico terkekeh, memang benar dirinya selalu menemukan kesempatan untuk mencium kekasih kecilnya. "Kalau begitu apa kita harus melakukannya juga?" Senyuman menyeringai yang khas itu tersemat di wajah tampannya.
__ADS_1
"Jangan gila Nico!" Jennifer sontak menepuk lengan kekar bodyguard yang telah merangkap menjadi kekasihnya itu.
Melihat wajah Jennifer yang merah merona, membuat Nico tidak bisa menahan gelak tawanya. Sementara tidak jauh dari posisi Nico dan Jennifer, Daniel nampak menikmati pemandangan indah itu sembari memeluk Ashely dari belakang.
"Tiba-tiba saja aku menginginkanmu...." Sepertinya kemesraan Keil juga Emely membangkitkan jiwa keperkasaan pria itu.
"Astaga....." Ashely terpekik kaget. Ia baru sadar jika kedua tangan Daniel melingkar di lehernya.
"Ta-tapi.... huumpphhh" Seperti inilah jika Daniel selalu berada di dekatnya. Menyerang dan memangsa hingga ia sulit berjalan sepanjang hari.
Belum sempat menjawab, Daniel sudah menyambar bibir manis wanitanya itu. Menyesap hingga tidak memberikan celah untuk Ashley menolak ciumannya. Ashley terbuai, ia membalas pagutan bibir Daniel yang menyesap hingga sapuan lidah itu semakin membuat keduanya bergairah.
Selama beberapa menit berciuman, Daniel segera melepaskan pagutan bibir mereka. Sebelum kemudian menggendong wanitanya itu. "Aku tidak menyukai penolakan. Kau tau itu bukan?" Ya, memang bukan Daniel namanya jika tidak suka seenaknya. Lebih tepatnya semua anggota Black Lion selalu bertindak seenaknya, tanpa terkecuali si bos.
"Iya, tapi....." Bagaimana Ashley bisa menolak jika ia saja sebenarnya menikmati cumbuan dan sentuhan Daniel padanya. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah terdapat Jennifer dan Nico, bahkan Keil juga Emely, meskipun sudah dapat ditebak jika Keil mungkin sudah berpindah ke dalam kamar mereka. Melakukan sesuatu yang lebih intim lagi di tempat yang tidak terlihat orang lain.
"Astaga, aku berada dimana saat ini?" gumamnya. Jennifer hanya bisa menatap nanar Ashley yang digendong oleh Daniel menuju lantai atas.
"Bukankah kau ingin pulang?" Suara Nico menyadarkan Jeniffer dari lamunannya.
"Iya, lebih baik aku pulang saja. Disini sangat berbahaya." Bagaimana tidak berbahaya jika mereka berada di antara pasangan yang tengah bercinta.
Nico terkekeh, ia mengerti kemana arah pembicaraan kekasih kecilnya itu. "Tenang saja, aku akan melindungi Nona Queen dari bahaya." Nampaknya Nico senang sekali menggoda Jennifer. Terkadang ia gemas sendiri akan sikap Nona Jennie yang sudah terperangkap akan pesonanya.
"Iya tapi Nona-ku juga menikmatinya, bukan?" goda Nico tersenyum.
Blush
Wajah Jennifer menyembulkan semburat kemerahan. Senyum pria itu selalu mampu menggoda pertahanan dirinya. Bisa mati jika kakaknya mengetahui bibirnya telah dinikmati oleh seorang pria. Terlebih lagi pria itu adalah anak buah sang kakak sendiri.
Tidak tahan, Nico segera memeluk kekasih kecilnya. Semakin hari perasaannya membuncah dan sudah pasti tidak main-main. "Aku akan melakukan apapun untukmu, termasuk mendapatkan seluruh cintamu, meskipun harus mati ditangan kakakmu."
Jennifer mendorong tubuh Nico, ia benar-benar tidak menyukai perkataan pria itu. "Kau tidak mungkin mati hanya karena kita bersama, kakakku tidak sejahat itu Nico. Saat ini aku memang belum berani memberitahukan hubungan kita. Tapi saat aku sudah siap, kita akan bersama-sama memberitahunya." Penuh ketulusan, penuh rasa sayang. Itulah yang dapat Nico lihat dari manik mata bening polos Nona kecilnya.
Nico tersenyum. Bisa bersama dengan Nona Jennie-nya saja sudah seperti sebuah keberuntungan, terlebih jika bos merestui hubungan mereka. Nico bersumpah akan mendapatkan restu dan izin dari bosnya, sekalipun bosnya itu akan menolak dirinya.
"Aku benar-benar mencintai Nona." Salah satu tangan Nico menarik pinggul Jennifer, sementara tangan yang lain menarik tengkuk leher wanitanya itu. Sebelum kemudian mendaratkan ciuman penuh cinta yang disambut hangat oleh Jennifer. Nona kecilnya itu membalas pagutan bibir Nico, perlahan menjelajahi setiap rongga mulutnya. Jennifer masih belum mahir beciuman tetapi sedikit demi sedikit bisa membalas ciuman Nico yang selalu liar.
Nico yang notabennya adalah pemain wanita, tidak tahan untuk tidak menyentuh anggota tubuh wanitanya yang nampak menggiurkan. Biasanya ia selalu bisa menahan tetapi entah kenapa kali ini hasratnya itu lebih menggebu-gebu dari sebelumnya.
Perlahan tangan nakal Nico mulai menyusup memasuki pakaian Jennifer, gundukan yang menggoda itu terlihat pas di telapak tangannya. Nico meremass salah satu buah dada Jennifer yang tergapai itu, seketika membuat Jennifer terpekik hingga ciuman mereka terlepas.
"Kau sudah berjanji untuk tidak menyentuhku," cebik Jennifer sedikit kesal. Memang sebelumnya hal itu sudah mereka bicarakan. Dan Nico menyanggupinya meskipun..... sulit.
"Hehe aku kelepasan. Maafkan aku...." Sungguh Nico memasang senyum tanpa dosa. Ingin rasanya Jennifer memukul kepala kekasihnya itu.
__ADS_1
"Kau selalu berkata seperti itu Nico. Bagaimana kalau kakakku tau? Pasti jari-jarimu hanya akan tersisa satu!" Setiap kali mencuri ciuman, tidak jarang tangan Nico bergerilya di punggungnya.
"Yang penting wajahku masih tetap utuh," selorohnya terkekeh.
"Astaga Nico, aku serius." Jennifer menghentakkan kaki seperti anak kecil yang merengek.
"Hahaha iya baiklah, aku hanya bercanda. Tapi...." Nico sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Mencicipinya sedikit tidak apa-apa kan My Queen?"
Nico tidak tau jika Jennifer membulatkan matanya maka akan sangat menyeramkan, seperti saat ini kedua bola mata bening itu seketika memelototi dirinya. Namun alih-alih menyeramkan Nico justru tergelak karena gemas.
"Aku hanya bercanda, kemarilah." Nico kemudian merentangkan tangan.
Jennifer menghembuskan napas kesal. Nico selalu saja senang menggoda dirinya. Ia kemudian menghambur ke pelukan Nico, membenamkan wajahnya di dada bidang kekasih raksasanya itu.
Ternyata aku kuat.
Meskipun rasanya tersiksa, tetapi itu tidaklah masalah. Ia seakan selalu bodoh jika menyangkut tentang Nona Jennie-nya. Memang perlu perjuangan untuk menaklukkan hati serta tubuh kekasih kecilnya itu.
.
.
To be continue
.
.
Senyum babang Nico kalau lagi godain Jennie 😍
Jennie kalau lagi ngambek 🤭
Jangan lupa follow akun Instagram kedua Yoona ya man-teman @_rantyyoona_
...Tetap like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1