Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Seseorang yang berada di balik layar


__ADS_3

Satu hari sudah cukup untuk Nico menculik Jennifer, karena ia harus melakukan sesuatu agar masalah percintaannya terhindar dari hambatan, meskipun sepertinya percintaannya dengan wanita dari adik bos akan ada banyak hambatan, mengingat ia harus menghadapi kakak dari wanita itu yang juga merupakan big bos yang tidak terbantahkan. Dan pagi ini Nico mengendarai mobil untuk kembali ke London, pandangannya lurus ke depan, tetapi tidak dengan tangannya terus menggenggam erat telapak tangan kekasih kecilnya. Dan sesekali mengecup punggung tangan wanita itu hingga membuat wanita mungil nan cantik itu tersipu malu. Karena Nico semakin terang-terangan bersikap manja kepada Jennifer dan sangat posesif tentunya.


Tiga jam lamanya perjalanan, mobil Nico menepi di pelataran Mansion utama. Lalu membantu membukakan pintu mobil untuk kekasih kecilnya.


"Terima kasih," ucap Jennifer. Menghabiskan satu hari bersama Nico membuatnya merasa senang dan semakin yakin dengan perasaannya. Ia tidak akan goyah dengan keadaan apapun.


"Hem, masuklah. Aku harus mengurus sesuatu." Jennifer mengangguki perkataan Nico.


Setelah kekasihnya mengucapkan kalimat hati-hati, Nico berlalu dari sana dengan hati berbunga-bunga, tetapi juga perasaan gelisah yang teramat. Melihat mobil Nico yang sudah lenyap dari penglihatannya, Jeniffer masuk ke dalam Mansion, ia segera menapaki anak tangga. Mansion nampak sepi karena Mommy Marry dan Daddy Jhony masih berada di Los Angeles dan baru akan kembali lusa.


Usai membersihkan diri dan sudah lebih segar dengan lilitan handuk di atas kepalanya, Jennifer mencoba mengaktifkan kembali ponsel yang sejak kemarin sengaja dimatikan. Matanya membeliak ketika layar pada body ponselnya yang dilapisi emas 24 karat itu tertera beberapa panggilan dan beberapa pesan masuk dari sang kakak. Belum hilang keterkejutannya, ketukan suara pintu menyentakkan telinganya.


Jennifer lantas mempersilahkan siapapun itu untuk masuk, ia terlalu malas membukakan pintu kamarnya karena baru saja mendaratkan bokong seksinya di sisi tempat tidur.


Mendengar sahutan dari dalam, perlahan pintu terbuka dan wanita paruh baya menyembulkan kepalanya di balik pintu.


"Maaf Nona saya mengganggu. Nona di tunggu Tuan Vier di bawah."


Deg


Baru menetralkan napas yang memburu usai membaca pesan satu persatu yang masuk ke dalam ponselnya, kehadiran sang kakak lebih memberikan shock terapi untuknya.


"Nona.... Nona...." Bibi Ana memanggil Nona Mudanya yang justru hanya diam saja.


Jennifer tersentak kaget lalu berkata, "Aku akan menemui kakak setelah menyisir rambutku Bi."


Bibi Ana mengangguk. "Baiklah Nona, Bibi permisi dulu." Dan kemudian Bibi Ana menghilang di balik pintu yang tertutup.


Jennifer menarik handuk kecil yang melilit di kepalanya, lalu membuangnya asal. Kemudian mulai menata penampilannya. Ia tahu jika kakaknya akan menemuinya tetapi tidak menduga jika akan menemui secepat ini, bahkan rasa lelahnya belum hilang akibat perjalanan yang memakan waktu tiga jam lebih itu.


"Sebaiknya aku menyisir rambutku dengan tangan saja." Tidak masuk akal, tetapi itulah cara untuk mengulur waktu menemui kakaknya. Tapi sepertinya tidak semudah itu karena pintu kembali di ketuk dan suara Bi Ana terdengar kembali. Jennifer menghela napas, ia tidak akan bisa menang melawan kakaknya yang keras kepala dan tidak terbantahkan itu. Dengan menyeret langkahnya, Jennifer keluar dari kamar dan menuruni beberapa anak tangga.


Mata elang Xavier menangkap keberadaan sang adik yang baru saja menuruni anak tangga terakhir. Jennifer menahan rasa takut ketika sorot mata sang kakak yang tajam itu seolah mampu menguliti dirinya.


"Kak Vie...." panggilnya dengan suara nyaris bergetar. Lalu mendekati sang kakak yang duduk dengan tenang di sofa ruang tamu. Justru karena terlihat tenang itu yang membuat kakaknya lebih mengerikan.


"Kak Vie sudah memperingatimu Jenn untuk tidak menyembunyikan apapun lagi dariku, termasuk kedekatanmu dengan seorang pria. Kau masih ingat itu, bukan?!"


"I-iya kak..." sahut Jennifer tergagap takut. Ia tau arah pembicaraan kakak laki-laki tampannya itu. Tampan memang, tapi sangat menyeramkan.


"Lalu kau masih ingat apa yang akan kulakukan kepada pria yang dekat denganmu itu?!"


Jennie mengangguk pelan. "Kak Vie akan menyingkirkannya jauh."


"Bagus. Lusa tetaplah berada di Mansion. Adam akan datang untuk melamarmu!"


Hah


Mulut Jennifer terbuka, wanita itu hanya bisa terperangah apa yang baru saja disampaikan oleh Xavier. Tetapi sesaat kemudian wanita itu mampu mengendalikan ekspresi ketidakpercayaan itu.


Apa kakak sudah membicarakan hal ini kepada Daddy dan Mommy? karena itu mereka mendadak akan kembali lusa, batinnya.


"Ta-tapi kak, aku hanya menganggap Kak Adam seperti kakakku, seperti Kak Vie."

__ADS_1


"Kak Vie tidak peduli Jenn. Renungi kesalahanmu karena telah berani membohongiku!" Kemudian Xavier beranjak dari tempat duduknya. Ia memindai penampilan sang adik yang baru saja selesai mandi dengan rambut yang masih basah. Entah apa yang ia pikirkan, Xavier segera berlalu dari sana, mengabaikan Jennifer yang masih mematung akan keputusannya yang mutlak.


***


Sementara Nico baru saja sampai di Markas, ia menuju ruangan kerja, dimana Daniel berada di dalam sana. Ia mendudukkan dirinya tepat di samping Daniel yang tengah meneguk minuman, nampak sedikit frustasi dan Nico mengetahui penyebab Daniel seperti itu, karena dirinya pun merasakan hal yang sama.


Lama mereka berbincang bersama Keil di sambungan video call, bertukar pikiran dan tentunya menerka-nerka keadaan yang akan terjadi ke depannya dengan mereka. Nico serta Daniel hanya menghabiskan waktu di ruangan kerja hingga langit berganti malam. Nico menarik napas dalam lalu menghembuskannya sedikit kasar, seharian penuh ia sudah menyiapkan diri, malam ini saatnya untuk menghadapi Xavier Alexander Romanov, pria yang dengan mudahnya bisa menggenggam dunia.


Nico melajukan mobil meninggalkan Markas menuju kediaman Mansion keluarga kecil bos. Jarak tempuh yang memakan waktu satu jam lebih itu mengantarkan Nico pada tujuannya, yaitu sebuah Mansion mewah dengan pagar yang menjulang tinggi, hingga pagar itu terbuka lebar dengan sendirinya, seolah-olah kedatangannya telah di nantikan.


Dan kemudian Nico turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya. Ia berjalan menuju anak buah. "Dimana bos?" tanyanya kepada tiga anak buah yang berjaga.


"Big Bos berada di halaman belakang."


Nico mengangguk dan langsung meluncur ke halaman belakangan. Halaman luas dengan berbagai perlengkapan pelatihan lengkap. Disana Arthur dan Aurelie selalu dilatih ilmu bela diri oleh Xavier.


Cahaya lampu temaram menemani langkah Nico menuju bos berada, entah kenapa derap langkahnya begitu berat seolah sedang menunggu eksekusi mati. Dan perlahan langkahnya melambat mendapati bos tengah duduk di salah satu sofa dan kemudian pandangan Nico beralih ke sofa yang lain, ternyata sosok Jack juga berada di sana.


"Bos... Jack..." Menghampiri dan menyapa bos serta asisten bos yang tidak menatap ke arahnya.


"Hem." Xavier menyahut dengan deheman, masih tidak menatapnya, sedangkan Jack sudah lebih dulu menatap dirinya dan mengangguk. "Ada apa?" tanyanya Xavier tanpa basa-basi seperti biasa.


Sejujurnya Nico dilanda kegugupan, karena memang tidak mudah menghadapi pria di hadapannya itu. Tetapi tekadnya sudah bulat untuk mengatakan yang sebenarnya. "Sorry bos sebelumnya, aku tidak bisa mencegah perasaanku. Aku tidak bermaksud menyembunyikan hubunganku dengannya. Aku akui jika aku memang pengecut karena tidak berani menghadapimu secara langsung." Seketika bongkahan batu besar yang menimpa dirinya perlahan terkikis, sedikit lega rasanya bisa mengungkap apa yang menjadi kegundahannya selama ini.


"Kenapa?" Xavier menatap lurus ke depan, berbeda dengan Nico yang sejak tadi menatap Xavier yang enggan menoleh ke arahnya.


"Karena aku takut bos, kau akan memisahkanku darinya."


"Bos...." Kini Nico menatap penuh harap. Bosnya benar-benar tidak bisa dihadapi dengan mudah.


Xavier beranjak berdiri, ia bergerak maju menghampiri Nico hingga kemudian,


Bugh


Nico limbung ke belakang karena tidak siap dengan bogem mentah yang dilayangkan bos padanya.


"Kau tau Nic, apa yang paling tidak kusukai?!" seru Xavier masih mengepalkan tangannya.


Nico memposisikan tubuhnya dengan benar akibat sedikit terhempas. "Kebohongan bos."


Bugh


Lagi, untuk yang kedua kalinya Xavier memberikan bogem untuk Nico.


"Lalu apalagi?" tanyanya kembali.


"Pengkhianatan bos."


Bugh


"Dan tidak setia kawan bos."


Setiap Nico menjawab, maka Xavier akan memberikan bogemnya pada Nico.

__ADS_1


"Salah! Aku tidak suka kau mendekati adikku! Apalagi kau menjadikannya sebagai kekasihmu. Dan kau tau apa hukumannya jika mendekati adikku, hah!!"


Bugh


Bugh


Bugh


Xavier meluapkan amarahnya yang tertahan selama ini. Dan Nico tidak menghindar, justru membiarkan tubuhnya dihantam beberapa pukulan.


"Dan selama ini kau mengencani adikku di belakangku. Apa kau pikir aku bodoh, hah?!"


Bugh


Bugh


Pukulan itu kembali melayang di wajah Nico, Xavier benar-benar meledakan amarahnya, tidak peduli jika pria yang ia hajar adalah anak buahnya sendiri yang sudah dianggap sebagai keluarga. Sudut bibir Nico mengeluarkan darah segar, sesekali menyeka darah yang mengalir tanpa menghindari serangan. Akan tetapi justru semakin membuat Xavier kehilangan kendali dan kini berhasil menghantam perut Nico dengan tendangannya. Xavier kemudian meraih tangan Nico, mencengkramnya dengan kuat, hingga membuat Nico sedikit meringis. Sungguh tenaga bos benar-benar luar biasa.


"Tangan ini sudah lancang menyentuh adikku! Apa aku perlu memotongnya!" sarkas Xavier.


"Bos...." Jack yang sejak tadi diam memperhatikan kini bersuara lantaran tidak ingin bos mereka bertindak lebih dari ini. Cukup dirinya yang hampir mati saat itu karena telah menutupi dan membiarkan Nico mendekati Jennifer. Ya, sejak saat itulah Xavier mengetahui semuanya yang terjadi. Bahkan ia tidak bisa mengelak, karena bos memiliki bukti-bukti dari anak buah bayangan mereka. "Jangan menghukumnya lebih dari ini bos!" Jack sudah berdiri di antara Xavier dan juga Nico.


Xavier mendengkus kesal, ia menatap Jack nyalang. "Apa kau ingin menggantikannya, Jack?! Apa belum cukup kau hampir mati di tanganku karena melindungi keparat ini!" Tangan Xavier menunjuk tepat di wajah Nico.


Jack terbungkam tanpa kata, tentu ia tidak ingin menggantikan Nico karena ia sudah pernah berada di posisi sahabatnya itu. Sementara Nico terkejut bukan main, jadi sudah selama itu bos telah mengetahui semuanya dan hanya diam saja. Pantas saja ia merasakan ada yang aneh. Kini ia mulai bisa merangkum rentetan kejadian beberapa hari lalu yang dialami oleh Keil juga Daniel. Dan Jack, pria kaku itu menerima hukuman karena telah berani membantu dirinya.


Derap langkah kaki lebih dari satu menjeda pertikaian mereka. Tanpa menoleh, ketiganya bisa menebak siapa yang datang dengan tergopoh-gopoh itu.


"Bos...." Ya, Keil dan Daniel datang di saat yang tepat.


"Hah, bagus. Kalian sudah berada di sini." Xavier menyambut kedatangan kedua anak buahnya lagi dengan sinis. "Aku sudah-"


"Kenapa kau menyembunyikan Eme dariku bos?!" Suara Keil yang terdengar lemah namun tegas itu mampu menghentikan kalimat Xavier. Ya, ketiga bastard itu sudah mengetahui seseorang yang berada di balik layar.


To be continue


.


.


Babang Nico



Baba Xavier



...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...

__ADS_1


__ADS_2