Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Lebih baik menjadi Casper


__ADS_3

Mobil mereka berhenti tidak jauh dari penthouse yang disinggahi oleh Emely. Keadaan disana nampak biasa saja. Pagar dan dinding yang menjulang tinggi mengelilingi bangun mewah tersebut, sehingga cukup sulit untuk mereka memantau ke dalam sana.


Eme, apa yang terjadi denganmu?


Nico dan Daniel paham akan kegelisahan yang dirasakan Keil. Terlebih lagi mereka berulang kali mengecek cctv dan tidak mendapati Emely di dalam kamar yang sebelumnya sudah di pasang cctv oleh Joy.


"Aku harus memastikannya sendiri." Keil sungguh tidak sabar. Ia gelisah setengah mati jika hanya berdiam diri saja di dalam mobil.


"Apa kau bodoh!" Nico menahan tubuh Keil yang baru saja membuka pintu mobil. "Jangan gegabah. Yang kau hadapi bisa saja bukan pria sembarangan, ibu dari kekasihmu itu masih menjadi sandera pria itu. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan ibunya, dia bisa saja semakin tersiksa!" Sebagai sahabat yang baik, tentunya mereka akan selalu memberikan masukan atau bantuan. Tetapi untuk saat ini mereka tidak memiliki strategi untuk membantu Emely lebih jauh, mengingat tidak ada informasi yang mereka dapatkan mengenai Jonas Fortes.


Wajah Keil yang semula mengeras kini berangsur melunak, bahkan menutup kembali pintu mobil yang sudah terlanjur dibuka olehnya. "Kau benar Nic, aku tidak boleh gegabah." Keil menyandarkan punggung pada sandaran kursi mobil, napasnya ia hembusan sekasar mungkin, berharap kegelisahan dapat terbuang bersamaan dengan hembusan napasnya tersebut.


Daniel lebih memilih diam, ia memandang Nico beberapa saat. Merasa di pandang, Nico mengedikkan bahu, sebagai jawaban 'lihat situasi terlebih dahulu'. Daniel kemudian mengangguk, mereka paham saat ini Keil dalam keadaan kacau, tidak mungkin dapat berpikir dengan baik. Hingga mereka akhirnya menunggu dalam diam selama hampir 30 menit lamanya.


"Sepertinya ada seseorang yang akan keluar dari sana," seru Daniel ketika seseorang membuka pagar yang menjulang tinggi itu. Keil menoleh ke arah bangunan tersebut, karena tidak begitu jelas pemandangan di dalam sana, ketiganya saling pandang, otak mereka bekerja dengan cepat.


Daniel kembali melajukan mobil dengan lambat untuk lebih dekat dengan bangunan mewah itu. Detik kemudian, mobil mereka berhenti mendadak. "Sialll! Ada yang tidak beres dengan mobilnya!" pekik Daniel memukul stir kemudi lantaran kesal.


"Biar aku yang mengeceknya." Nico melepaskan jas yang dikenakannya, meletakkan dengan asal di atas kursi, lalu menggulung lengan kemeja hingga sikut, sebelum kemudian turun dari mobil dan membuka kap mobil depan untuk mengecek mobil tersebut.


Keil terlihat menyusul Nico turun dari mobil. "Apa mesinnya baik-baik saja?" Meski mengajukan pertanyaan kepada Nico namun ekor mata Keil melirik ke arah penthouse Emely. Kini posisi mobil mereka tepat bersebrangan dengan bangunan tersebut.


"Aku akan periksa ban mobilnya, mungkin bocor karena sudah terlalu lama kau gunakan!" ujar Daniel sesaat turun dari mobil, ia membuka bagasi mobil untuk mengambil ban pengganti yang lain.


Nampak di dalam sana seorang pria keluar dari penthouse dengan tangan yang merangkul seorang wanita cantik dan seksi di pelataran. Keil serta Nico berpura-pura fokus mengecek kondisi mesin mobil yang sebenarnya mereka mencuri pandang ke arah penthouse.


"Arggh, kenapa sulit sekali! Apa kita tidak bisa minta bantuan saja kepada orang lain di sekitar sini?" Daniel sengaja memperkeras volume suaranya hingga membuat salah satu penjaga disana menoleh ke arah mobil mereka.


"Kau minta saja bantuan kepada seseorang di seberang sana." Keil menunjuk dua penjaga yang berdiri tegak memperhatikan mereka.


"Ah, kau benar. Aku akan minta bantuan kepada mereka." Kemudian Daniel menyebarangi jalan, berjalan menuju dua penjaga. "Excuse me...." Suara Daniel menolehkan dua penjaga ke arahnya.


"Ada apa?" jawab salah satu dari mereka.


"Kira-kira berapa berapa jarak Knightsbridge untuk sampai ke Newham?" tanya Daniel kepada mereka namun tetap memperhatikan situasi di dalam sana. Newham adalah nama jalan dimana Hotel Hampton London berdiri kokoh di sekitar sana.


"11 km dari pusat kota."


"Ah, begitu ya." Daniel mengangguk seolah mengerti. "Mobil kami sedang bermasalah, apa kami boleh minta air, sepertinya mobil kami kehausan." Kedua penjaga tersebut mengerutkan kening. "Haha maksudku untuk radiator." Daniel meralat ucapannya yang sempat tidak masuk akal itu. Ah, biarlah yang penting rencana mereka berhasil.


"Baik, tunggu disini."


Daniel mengangguk. Sorot matanya memperhatikan pasangan itu tengah berciuman. "Ck, menggelikan!" cibir Daniel di dalam hati. "Tunggu sebentar, aku akan kembali." Daniel meninggalkan salah satu penjaga disana, ia kembali berjalan menuju mobil.


Sementara Jonas dengan sengaja mencium bibir kekasihnya dengan buas untuk memperlihatkan kepada Emely yang ia sadari sejak tadi memperhatikan mereka. Emely nampak biasa saja dan tidak peduli, bahkan jika Jonas bercinta di depannya ia tidak akan merasa terbakar, persetan dengan pria gila itu.

__ADS_1


Usai berciuman, Jonas sempat menanyakan siapa pria di depan gerbang dan anak buahnya itu menjawab jika mobil mereka sedang bermasalah. Jonas hanya mengangguk, tidak menaruh curiga sedikitpun. Ia kemudian masuk ke dalam mobil di susul oleh kekasihnya. Mobil Jonas meninggalkan penthouse.


***


Keil, Nico dan Daniel memalingkan wajah mereka untuk menghindari kontak mata dengan Jonas begitu mobil pria itu melintasi ketiganya. Mereka bertiga sibuk kepada mobil yang bermasalah itu hingga mobil Jonas semakin melaju meninggalkan mereka.


"Pria itu sudah pergi, sebaiknya aku kembali kesana," bisik Daniel kepada kedua sahabatnya. Keil serta Nico mengangguk.


Daniel kembali melangkahkan kaki menghampiri kedua penjaga itu. "Ini airnya." Salah satu penjaga menyodorkan sebotol air mineral kepada Daniel begitu Daniel menghentikan langkah di depan mereka.


"Ah terima kasih." Daniel mengambilnya. Ia nyaris saja terpekik karena melihat Emely baru saja keluar dari bangunan mewah itu, bersamaan dengan kedua penjaga tersebut yang melihat ke arah Emely.


"Apa kali ini kita harus mengantarkan Nona Emely?" Meskipun berbisik, Daniel masih dapat mendengarnya.


"Tidak perlu. Bos mengatakan jika dia harus menggunakan taksi atau berjalan kaki saja." Lagi-lagi Daniel memasang telinga. Ia mengumpat kesal di dalam hati lantaran mereka tidak memperlakukan Emely dengan baik.


"Hei kalian, terima kasih." Daniel menyela percakapan mereka. "Kalau begitu aku pergi dulu." Keduanya hanya mengangguki perkataan Daniel, hingga Daniel berlalu dari sana menuju mobilnya kembali.


Setiap kali pergi keluar, Emely akan diperiksa terlebih dahulu, mulai dari tas yang dibawanya. Kedua anak buah Jonas tidak ingin kecolongan, bisa saja Emely membawa sesuatu dari dalam penthouse untuk melancarkan aksi wanita itu melarikan diri.


Dari kejauhan Keil memperhatikan Emely, ada perasaan penuh kelegaan karena wanitanya itu baik-baik saja. Berbeda dengan Emely yang terlihat menggerutu kesal, ia selalu saja diperlakukan seenaknya disana. Bahkan ia harus berjalan kaki atau menghentikan taksi yang melintas. Namun ia tidak bisa protes karena Jonas tidak memberikan uang sepeser pun, bahkan penghasilan dari cafe yang dijalaninya di rampas oleh wanita penyihir itu.


Melihat Emely yang menghentikan taksi dan berlalu dari sana. Buru-buru ketiganya masuk ke dalam mobil dan mengejar taksi yang ditumpangi oleh Emely. Sebenarnya mobil milik Keil tidak bermasalah, itu hanya rencana mereka saja untuk melihat situasi di penthouse tersebut. Tanpa disadari oleh wanita itu, jika mobil yang dikemudikan oleh Daniel mengikuti dari belakang dan menambah kecepatan penuh untuk menyalip. Tubuh Emely terguncang hebat kala taksi yang ditumpanginya berhenti secara mendadak.


"Apa yang terjadi?" tanya Emely membenahi cara duduknya ke posisi semula.


Emely mengikuti arah pandang sang supir, memang terlihat mobil mewah berwarna hitam menghalangi jalan mereka. "Apa Paman mengenal pemilik mobil itu?"


"Saya juga tidak mengenalnya, Nona."


Emely menjadi cemas dan panik. Apa mobil itu adalah milik Jonas? Tetapi tidak mungkin karena Jonas baru saja pergi dengan wanita penyihir itu. Seketika kedua mata Emely membeliak lantaran ketiga pria turun dari mobil tersebut. Salah satunya adalah Keil, kekasihnya. Buru-buru Emely turun dari mobil.


"Keil....?" Baru saja Emely berhasil menapaki kakinya ke aspal setelah turun dari mobil, tiba-tiba Keil menarik wanitanya itu ke dalam pelukannya.


"Keil, ada apa?" Emely bertanya setelah Keil melepaskan pelukannya.


"Kau baik-baik saja?" Dengan meneliti wajah serta tubuh Emely. Wanita itu mengangguki ucapan Keil. Udara segar seperti baru saja melingkupi paru-parunya yang dua hari ini terasa sangat menyesakkan dada. Saking senangnya, Keil membenamkan ciuman di bibir Emely, hingga membuat Emely terkesiap sekaligus malu karena disaksikan oleh kedua pria yang merupakan teman-teman Keil. Ciuman itu hanya berlangsung selama beberapa saat, hingga akhirnya Keil menyudahi ciuman mereka.


"Ck, ayolah Keil. Kau tidak menganggap kami disini?" cetus Daniel sedikit iri. Keil benar-benar tidak melihat situasi.


Berbeda dengan Nico yang tersenyum tipis. Wanita itu baik-baik saja dan sekarang urusan bersama temannya sudah selesai. "Apa sekarang aku sudah boleh pergi?" ujar Nico. Ia baru saja mengirimkan pesan saat diperjalanan tadi kepada anak buahnya untuk membawakan mobil miliknya yang ditinggalkan di pinggir jalan.


"Ya, kau boleh pergi," sahut Keil bertepatan dengan sebuah mobil berwarna merah berhenti disana diikuti mobil lain di belakangnya.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Begitu anak buahnya turun dari mobil, Nico memasuki mobil miliknya. Ia langsung menancapkan gas ke lokasi Nona Jennie berada.

__ADS_1


"Nico sudah pergi, lalu aku bagaimana?" Tidak mungkin Daniel berada di satu mobil dengan Keil dan Emely.


"Tentu saja kau yang mengemudi." Keil kemudian membayar taksi yang ditumpangi oleh Emely dengan memberikan beberapa lembar uang. Paman supir yang nampak dipenuhi guratan kasar di wajahnya itu nampak begitu senang karena diberikan uang dan tips yang cukup banyak. Paman supir tersebut meninggalkan mereka setelah memberikan tas Emely yang sebelumnya berada di dalam mobil.


"Yang benar saja!" seru Daniel merasa sangat enggan. Jika berada di satu mobil ia hanya akan menjadi penonton. Lebih baik ia satu mobil dengan anak buah mereka.


Keil tersenyum penuh kelicikan. "Daniel, apa kau ingin aku memberitahukan sesuatu kepada Ashley?" bisiknya mendekati Daniel.


"Haha dasar bajingan. Jika kau berani menemui wanitaku, ku habisi kau!" Tatapan Daniel penuh ancaman hingga membuat Keil terkekeh.


Daniel menyuruh anak buah mereka pergi terlebih dahulu. Dengan malas masuk ke dalam mobil, menjadi supir pasangan itu. Keil membukakan pintu mobil untuk Emely. Mereka duduk di kursi belakang dan segera berlalu dari sana. Emely mulai menceritakan kejadian di penthouse dimana dirinya tidak diperbolehkan tidur di kamar miliknya, ponselnya pun di sita oleh wanita itu. Selama dua hari, kekasih Jonas telah menyiksa dirinya dengan menyuruhnya tidur di dalam kamar tamu, bahkan ia bertingkah seolah nyonya rumah disana. Sementara Jonas menikmati permainan kekasihnya yang terus memberikan tekanan kepada Emely.


"Apa mereka yang melakukan ini padamu?" Keil mengusap pipi Emely, sejak tadi ia mengeram amarahnya lantaran melihat bekas tamparan di wajah Emely, bahkan terdapat bekas cengkraman di leher wanitanya itu.


Emely mengangguk. "Tetapi aku baik-baik saja." Namun Keil tidak puas dengan jawaban kekasihnya, pria itu masih diliputi amarah, terlihat dari otot-otot di wajahnya yang menegang.


"Aku akan membunuh mereka!" serunya yang diam-diam mengepalkan salah satu tangannya.


"Tidak untuk saat ini, Keil. Aku mohon....." Sorot mata Emely penuh permohonan. Jika Keil melakukan sesuatu kepada Jonas. Entah apa yang akan terjadi dengan Mommy-nya.


"Baiklah, aku akan bersabar." Keil membawa Emely ke dalam pelukannya. Ia tidak ingin Emely menjadi cemas memikirkan ibunya, sehingga untuk saat ini ia tidak akan bertindak.


"Ekhem... apa aku seperti Casper yang tidak terlihat?" Sungguh Daniel tidak kuat menyaksikan kemesraan mereka, sehingga akhirnya ia bersuara setelah beberapa saat hanya terdiam.


"Daniel, shut up!" hardik Keil merasa terganggu.


Daniel menghela napas berat. "Baiklah....." Dan kemudian fokus mengemudi. Ekor matanya melirik pada kaca spion, terlihat Keil tengah mencium bibir Emely.


Lebih baik aku menjadi Casper saja.


.


.


To be continue


.


.


Babang Keil



Like, vote, follow dan komentar 💕 Belum bisa doble up jadi kasih bab yang panjang dulu aja ya hehe 🤗

__ADS_1


Always be happy 🌷


__ADS_2