
Dua hari kemudian
Sore ini sebagian karyawan Perusahaan Romanov Ent nampak begitu ricuh dan berseru senang di ruangan studio pemotretan. Karena sepulang kerja nanti mereka akan merayakan keberhasilan empat model yang berhasil mendapatkan kontrak eksklusif menjadi brand ambassador salah satu produk mewah dan terkenal di kalangan dunia fashion yang berpusat di Kota Paris.
Hal itu tidak luput dari persetujuan Jennifer, ketika Jane memberikan usulan untuk mengapresiasi keberhasilan beberapa model serta karyawan yang sudah bekerja keras, maka Jennifer sebagai Direktur menyediakan tempat di salah satu restauran mewah dan tentunya semua biaya di tanggung oleh perusahaan. Memanjakan para karyawan dan para model serta artis di perusahaannya selalu dilakukan oleh Jennifer demi menjalin hubungan yang baik antara direktur dengan para bawahannya.
Sore ini pukul 6 sore, restauran mewah nampak di penuhi oleh beberapa pengunjung dari Perusahaan Romanov Ent. Hiruk pikuk memenuhi ruangan dengan berbagai menu yang tersaji, tidak lupa beberapa merek minuman beralkohol menjadi pendamping makan malam mereka.
Semua orang nampak menikmati perayaan dadakan itu, mengabiskan waktu dengan makan makanan mewah seperti nutrisi yang baik setelah seharian penuh tenaga mereka terkuras habis, tak terkecuali Jennifer. Direktur cantik itu menyematkan senyuman mendapati semua para karyawan dan model-modelnya terlihat bahagia seperti itu, seolah mampu memudarkan beban yang mungkin memikul mereka. Pandangan Jennifer kini berpusat pada Billy, kekasihnya itu termasuk salah satu model yang berhasil mendapatkan kontrak eksklusif, bukan campur tangan dirinya, melainkan karena kerja keras pria itu.
Jennifer selalu mengesampingkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Serupa dengan sang kakak, ia tidak memandang bulu terhadap orang terdekatnya sekalipun, semua diperlukan sama di perusahaannya. Senyuman Jennifer perlahan menyurut saat pandangannya teralihkan pada sosok wanita cantik dan dewasa yang tidak lain ialah Clarisa. Wanita itu duduk saling bersisian bersama dengan Billy. Keduanya memang kerap kali digadang-gadangkan sebagai pasangan yang serasi. Tidak jarang beberapa penggemar mereka menjodohkan mereka.
Jennifer tidak sadar jika dirinya mengambil satu gelas yang berisi minuman beralkohol, sehingga begitu menyesap minuman itu, ia terpekik. "Kenapa rasanya pahit?" Itulah alasan Jennifer tidak menyukai minuman beralkohol yang menurutnya aneh. Di antara teman-temannya memang hanya dirinyalah yang tidak kuat minum minuman beralkohol.
Sepasang mata elang memperhatikan Jennifer dari posisinya yang hanya berjarak satu meja saja dari meja Jennifer. Pria itu adalah Nico, sejak tadi banyak karyawan dan model yang mencoba berbaur dengan dirinya, berusaha mencari perhatian Nico. Profesi Nico yang hanya sebagai bodyguard itu tidak dipedulikan, karena wajah tampan serta tubuh atletis Nico mampu menghipnotis siapa saja mata yang memandangnya. Namun Nico tidak berminat menyambut kehangatan dan keramahan mereka. Tujuannya berada disana hanya karena Nona Jennie. Jika Nona Jennie tidak turut serta, Nico lebih memilih membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Nico beranjak berdiri, kemudian menghampiri Jennifer saat Nona-nya itu kembali ingin meneguk minuman itu. "Nona, minuman beralkohol tidak cocok untuk Nona." Nico ingat bagaimana pertemuan pertama mereka di The Cavern Club. Dari pengamatannya, Jennifer tidak bisa minum. Lalu apa ini? Nona Jennie-nya itu mencoba minuman itu.
Jennifer terkesiap, bahkan minuman yang masuk ke dalam mulutnya gagal meluncur di tenggorokan sehingga membuat dirinya tersedak. Jane yang duduk disisinya, mengambilkan napkin untuk menyeka sudut bibir Jennifer.
"Kenapa kau mengejutkanku, Nico?" Setelah menyeka mulutnya dengan bersih, Jennifer memprotes Nico yang menghampirinya tiba-tiba itu.
"Maafkan aku Nona, aku hanya ingin mengingatkan Nona untuk tidak minum." Meskipun berkata lembut, akan tetapi tatapan Nico seperti mengintimidasi Jennifer.
"Iya, aku ingat." Jennifer memutar bola matanya dengan malas. "Aku hanya minum sedikit."
"Bahkan setetes saja bos bisa mencium bau alkohol di tubuh Nona."
"Astaga, aku lupa." Jennifer tercekat, ia bahkan melupakan sang kakak dan kedua orang tuanya yang sudah kembali ke London satu hari yang lalu dan kini sang kakak berserta keluarga kecilnya tengah menginap di Mansion utama.
"Aku harus mencuci mulutku," gumamnya. Jennifer tergesa-gesa berdiri dari tempat duduknya. Jika ia ketahuan minum sedikit saja, maka sepanjang hari ia hanya akan mendengar celotehan sang kakak yang super protektif itu.
Nico terkekeh menatap punggung Jennifer yang sudah lenyap di balik dinding. Nyari saja ia membiarkan Nona Jennie minum minuman beralkohol. Jika ia tidak mencegahnya, ia yang akan dicincang habis oleh bos, karena sebelumnya big bos-nya itu sudah mengultimatum dirinya agar menjauhkan Jennifer dari minuman beralkohol.
Seusai membersihkan mulutnya di wastafel, Jennifer menatap pantulan dirinya di cermin. Penampilannya kini sudah nampak dewasa dari beberapa tahun terakhir, tetapi entah kenapa di mata kakak dan kedua orang tuanya, ia tetaplah seorang gadis kecil. Cukup lama berada di dalam kamar mandi sehingga Jennifer memutuskan keluar dari sana, namun alangkah terkejutnya dirinya ketika seseorang menarik tangannya ke sudut ruangan. Kedua mata Jennifer membeliak mendapati seseorang itu ialah Billy.
"Billy, apa yang kau lakukan?" Jennifer mengamati sekitar dan dirasa tidak ada yang akan datang.
__ADS_1
"Rasanya aku kesal setengah mati, kenapa sulit sekali berbicara denganmu seperti ini?" Billy mengusap rambut Jennifer yang membingkai wajah cantik kekasihnya itu.
"Bukankah tadi kita sudah berbicara?"
"Itu berbeda sayang. Tadi kau berbicara denganku sebagai direktur tempatku bekerja. Tetapi saat ini yang dihadapanku ini adalah kekasihku."
Jennifer tersenyum, kenapa Billy selalu semanis ini?.... "Sebaiknya kau kembali. Bagaimana jika ada yang mencarimu?"
"Berikan aku satu pelukan?" pinta Billy. Entah kenapa ia memiliki firasat tidak baik yang akan berpengaruh terhadap hubungan mereka.
Tanpa ragu Jennifer memeluk Billy, ia menjadi merasa bersalah karena selama ini selalu mengabaikan Billy dan keduanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, sehingga jarang memiliki waktu untuk bersama.
Jennifer mengurai pelukan mereka sebelum ada seseorang yang melihat mereka berpelukan. "Aku akan kembali ke mejaku. Sebaiknya kau juga kembali."
Billy mengangguk. "Aku akan ke toilet lebih dulu."
"Baiklah...." Sembari menyematkan senyuman, Jennifer terlebih dahulu kembali, meninggalkan Billy yang sudah memasuki toilet.
***
Perayaan makan malam sudah berjalan hampir tiga jam namun di antara mereka belum ada yang memutuskan untuk pulang. Mereka masih betah berlama-lama disana, menikmati waktu luang untuk menjernihkan pikiran dari penatnya pekerjaan. Jennifer terlihat berbicara dengan Jane dan beberapa karyawan, meskipun sebenarnya mereka sedikit merasa canggung berbaur dengan direktur mereka. Tetapi Jennifer termasuk atasan yang humble sehingga setiap karyawan menyukai wanita itu.
Langkah kaki menyelinap di pendengarannya, ekor matanya melirik ke arah langkah kaki itu berasal. Seseorang yang baru saja keluar dari restauran itu tidak lain adalah Billy. Nico mengabaikan keberadaan Billy seolah mereka tidak terlihat satu sama lain.
"Hubunganmu dengan Jennie terlihat sangat dekat." Billy membuka suara terlebih dulu begitu berhasil mendudukkan tubuhnya di atas pembatas dinding yang lebih rendah dari dinding lainnya.
"Hem, begitu." Nico menyahut malas.
"Kau tau bukan, jika kami sudah lama bersama," ujar Billy kembali. "Meskipun aku tidak menyukai kedekatan kalian tapi aku berterima kasih karena kau sudah menjaganya selama ini. Semenjak semua orang tahu kebenaran tentang dirinya yang sebenarnya, tidak jarang ada seseorang yang berusaha mengambil kesempatan untuk mendekatinya." Billy mendongak, yang terlihat adalah wajah datar Nico yang memang tidak bersahabat dengannya.
"Apa termasuk dirimu?!" seru Nico dengan sindiran.
"Apa maksudmu?" Billy mulai terpancing akan perkataan Nico. "Kau mencurigaiku?!" Tentu saja Billy tidak terima.
"Santai saja, aku hanya bertanya." Nico membuang batang rokok ke sembarang arah.
__ADS_1
"Pertanyaanmu itu seperti menyindirku?!" cetus Billy kesal.
"Aku menjaga Nona dari orang-orang yang ingin memanfaatkan dan menyakitinya." Penuturan Nico membuat Billy terkekeh.
"Kau tidak perlu memberitahuku, karena aku bisa melindungi Jennie. Jadi sebaiknya kau jangan melupakan posisimu yang hanya seorang bodyguard. Tugasmu hanya untuk menjaga Jennie jadi jangan melewati batasanmu!" seru Billy. Ia harus menegaskan posisi dirinya yang memiliki arti penting di dalam hati Jennifer.
Nico menyelipkan senyuman penuh ejekan. Perkataan Billy baru saja hanya seperti angin lalu yang cukup menggelitik perutnya. Seseorang yang bukan apa-apa berani berkata seperti itu padanya? Sepertinya sedikit memberi pelajaran kepada Billy tidak ada salahnya. "Sepertinya aku harus mengingatkanmu untuk tidak macam-macam di belakang Nona Jennie!"
Wajah Billy menegang seketika, bahkan ia beranjak berdiri dengan rahang yang mengeras. "Apa maksudmu?"
"Kau pasti tidak hilang ingatan, kau yang lebih tau apa saja yang kau lakukan tanpa sepengetahuan wanita yang kau sebut kekasihmu." Rasanya Nico ingin sekali melayangkan tinjunya pada wajah Billy yang terlihat sangat menyebalkan itu. Nico maju satu langkah mendekat kepada Billy dan kemudian membisikan sesuatu. "Aku memiliki banyak mata, siapapun yang berada di sisi Nona Jennie, tidak lepas dari pengawasanku." Kemudian Nico menepuk bahu Billy. "Jadi berhati-hatilah....." imbuhnya penuh peringatan hingga membuat wajah Billy memucat seketika. Entah kenapa kalimat itu mampu memberikan guncangan untuk Billy.
Nico memutar tubuhnya hendak berlalu dari sana dengan seringai di wajahnya. Ingin bermain-main dengannya? Harus berpikir ribuan kali. Langkah Nico mendadak terhenti kala Jennifer menghampiri dirinya. "Kenapa Nona keluar?"
"Aku mencarimu." Jennifer tidak menyadari keberadaan Billy yang masih mematung di tempatnya karena terhalangi oleh dinding. "Sepertinya aku harus pulang, ini sudah hampir larut. Kak Vie akan membunuhku jika aku terlambat." Lebih baik ia mencari aman karena kakaknya itu akan memprotes dirinya jika terlambat pulang.
"Baiklah Nona...."
"Hem, apa aku tercium bau alkohol?" Jennifer mengendus aroma tubuhnya.
Nico terkekeh. "Sepertinya tidak Nona."
"Baiklah, ayo kita pulang," seru Jennifer. Hingga tanpa sadar membuat Billy yang tidak sengaja mendengarkan mereka memanas, hatinya seperti dipenuhi kobaran api cemburu.
Nico mengangguk, ia mengikuti langkah Jennifer masuk ke dalam untuk berpamitan kepada sebagian orang di dalam, karena sisanya sudah pulang terlebih dulu.
Sedekat itukah mereka?
Billy hanya mampu melihat punggung kekasihnya tanpa mampu menjangkau. Sepertinya malam ini terlihat jarak yang membentang luas di antara dirinya dengan Jennifer.
.
.
To be continue
.
__ADS_1
.
Like, vote, follow dan komentar kalian 💕