Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Permintaan kencan


__ADS_3

Sebelum kembali ke perusahaan, Jennifer juga Nico mengantar Alice terlebih dahulu ke dalam apartemen wanita itu. Kemudian Alice menceritakan semua yang menimpa dirinya karena desakan Jennifer. Apartemen tersebut merupakan harta peninggalan satu-satunya yang dimiliki oleh Alice, karena perusahaan keluarganya mengalami kebangkrutan. Alice memang jarang pulang ke Mansion semenjak ayahnya menikah dengan wanita lain. Ia menceritakan kejadian yang dialami olehnya, bekas luka di bahunya karena sempat di siksa oleh ibu tirinya itu. Dan dua pria yang ingin membawanya adalah suruhan seseorang, karena Alice dijual sebagai jaminan oleh ibu tirinya. Jennifer yang mendengarnya mengeram kesal. Ia berjanji akan membantu sahabatnya itu serta memberikan pelajaran kepada ibu tiri dari Alice dan juga seseorang yang telah membeli Alice.


Di sepanjang perjalanan, Jennifer terdiam, ia selalu terbayang-bayang akan wajah sahabatnya yang menangis pilu. Masalah dirinya tidak sebanding dengan apa yang menimpa Alice. Jennifer bertekad akan membantu sahabatnya itu hingga mendapatkan keadilan. Ya, sejak dulu Jennifer selalu menjadi pahlawan untuk teman-temannya.


"Nico....?" Akhirnya setelah beberapa saat hening, Jennifer mengeluarkan suaranya. Nico sejak tadi ingin menegur Nona Jennie-nya itu tetapi ia urungkan karena melihat wajah Nona Jennie yang tengah serius memikirkan sesuatu.


"Ada apa Nona?" Nico menyahut, tetap fokus pada kemudinya namun melirik Nona Jennie melalui kaca spion.


"Aku ingin membantu Alice. Menurutmu bagaimana?" tanya Jennifer.


Jadi masalah itu yang sejak tadi Nona Jennie pikirkan?


"Bos tidak akan setuju jika Nona melibatkan diri dengan permasalahan orang lain," jawab Nico apa adanya.


"Tapi Alice bukan orang lain, dia teman baikku," seru Jennifer tidak terima. Alice merupakan teman baiknya. Baik dulu maupun saat ini.


"Benar, tapi itu menurut Nona dan tidak dengan bos. Bos hanya tidak ingin Nona terluka karena ikut campur masalah orang lain."


"Kalau begitu kita tidak perlu memberitahu Kak Vie." Kedua mata Jennifer membulat, membentuk puppy eyes sebagai bentuk permohonan dan tentunya berusaha mempengaruhi Nico.


"Apa maksud Nona dengan 'kita'?" tanya Nico gagal paham.


"Iya kita. Kau dan aku," sahut Jennifer menjelaskan.


"Apa Nona sangat senang jika aku mendapatkan hukuman dari bos?"


Jennifer menggeleng. "Tentu saja tidak."


"Dengar Nona, aku sudah menutupi hubungan Nona dengan pria yang bernama Billy itu. Bisa bayangkan bagaimana ketika bos mengetahuinya?" Nico memperlambat laju mobilnya agar fokusnya tidak terpecah.


Perkataan Nico semakin menyudutkan Jennifer. Wanita itu diam-diam menghembuskan napas kesal. Kenapa Nico susah sekali dibujuk olehnya?


"Aku berjanji tidak akan terluka." Jennifer tetap bersikeras ingin membantu permasalahan Alice.


"Apa Nona bisa menjaminnya? Tadi saja mereka hampir menyerang Nona." Nico mengingatkan peristiwa dua jam yang lalu. Meskipun ia sempat terkesan dengan keberanian Nona Jennie, tetap saja Nona kecilnya itu ceroboh.


Meski berat mengakuinya, Jennifer mengangguk lemah. "Kau benar. Aku memang tidak bisa diandalkan, Kak Vie bisa melakukan segalanya, Kak Elle juga pandai bela diri, sedangkan diriku tidak bisa melakukan apapun selain membohongi mereka." Jennifer tertunduk lirih.


Ciitt


Mendengar perkataan Nona Jennie-nya, Nico menginjak pedal rem secara mendadak, kemudian menoleh ke belakang. Sial, apa aku salah bicara? batinnya.


"Nona bicara apa? Bukankah Nona juga hebat bisa memimpin perusahaan sampai sejauh ini." Nico berusaha memperbaiki mood Nona kecilnya itu.

__ADS_1


"Tetap saja aku tidak bisa dibandingkan dengan Kak Elle. Kak Vie yang perfeksionis saja begitu mempercayai Kak Elle. Sedangkan denganku, kakak selalu mengawasiku. Di matanya, aku selalu menjadi anak kecil yang tidak akan pernah tumbuh dewasa." Jennifer memasang wajah sesedih mungkin, berharap Nico akan terpengaruh. Disisi lain, Xavier bersin-bersin. Ia yakin jika ada seseorang yang membicarakan dirinya. Bagaimana reaksinya jika mengetahui sang adik yang menjelek-jelekkan dirinya di belakangnya?


Maaf Kak Vie, aku tidak bermaksud menjelekkan kakak, batinnya. Belum apa-apa, Jennifer sudah bergidik ngeri terlebih dulu jika mengingat sang kakak.


Nico menghela napas panjang. Inilah yang paling sulit untuknya, antara memilih kewarasannya atau hatinya yang tengah berjuang untuk mendapatkan Nona Jennie secara perlahan.


"Baiklah, aku akan membantu Nona." Setelah berpikir sejenak, Nico memutuskan untuk membantu Nona Jennie-nya. Ternyata ia benar-benar tidak bisa mengabaikan apapun permintaan wanita itu.


Yes, berhasil.


Jennifer mengembangkan senyum ketika mendengar perkataan Nico. Akhirnya pria raksasa itu mau membantu dirinya. "Kau benar-benar yang terbaik," serunya.


Melihat reaksi Jennifer yang begitu menggemaskan membuat sudut bibir Nico terangkat. Wajah inilah yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap harinya.


Aku yang terbaik? Tidak buruk juga.


Kedua sudut bibir Nico membentuk sebuah lengkungan tipis. Saat ini ia dipuji yang terbaik, maka selanjutnya Nona Jennie akan menganggapnya sebagai milik wanita itu.


"Tapi Nona, aku akan membantu Nona jika Nona memenuhi permintaanku." Nico menyematkan senyumnya. Entah apa yang direncanakan Nico, hanya pria itu yang mengetahuinya.


"Permintaan apa?" Kedua alis Jennifer berkerut saling menyatu, tidak biasanya Nico mengajukan permintaan padanya.


"Berkencan denganku," tutur Nico masih dengan senyum tipisnya.


"Tunggu. Apa yang kau katakan?" Jennifer mendadak panik. Ia bahkan menjauhkan tubuhnya, bersandar pada sandaran kursi.


Kedua mata Jennifer memicing. "Heh, jadi kau memintaku untuk berkencan denganmu hanya karena kau ingin membalas wanita yang mengajakmu berkencan itu, begitu?"


Nico mengedikkan bahunya. Biarlah Nona Jennie dengan asumsinya sendiri. Namun dari kaca spion Nico memperhatikan perubahan raut wajah wanita itu. Jennifer mencebikkan bibirnya lantaran kesal. Apa ia hanya dianggap sebagai pengganti untuk membuat wanita lain cemburu?


"Bagaimana Nona?" Nico bertanya kembali ketika Nona Jennie belum memberikan jawaban.


Jennifer menarik napas dalam. "Iya, baiklah."


"Iya baiklah apa Nona?" Nico tersenyum jahil, ia ingin memastikannya sekali lagi.


"Iya, aku akan berkencan denganmu." Sungguh, wajah Jennifer saat ini dipenuhi rona merah, persis seperti kepiting rebus. Jika saja ia tidak memalingkan wajah menatap keluar jendela, mungkin Nico dapat melihatnya.


Nico terlihat senyum puas di dalam hati. Sungguh Nona kecilnya itu sangat menggemaskan. "Karena sudah terlambat, sebaiknya kita segera kembali ke perusahaan."


"Hem...." Jennifer menjawab dengan deheman. "Ck, kenapa kata 'kita' yang diucapkannya terdengar berbeda," lanjutnya dalam hati.


***

__ADS_1


Begitu tiba di perusahaan. Jennifer berjalan beriringan dengan Nico. Seperti biasa, keduanya selalu menjadi pusat perhatian. Jika Nona Direktur mereka berjalan bersisian dengan bodyguardnya itu seperti mereka benar-benar merupakan sepasang kekasih. Dari berbagai pakaian yang dikenakan Nico bukan merek sembarangan, sehingga mereka selalu menyimpulkan jika Nico adalah bodyguard yang sempurna.


Di arah yang berlawanan Jennifer mengabaikan dua sosok yang tidak ingin di lihatnya. Ia terus melangkah panjang menuju lift. Nico melirik ke arah dua sosok yang tidak lain ialah Billy serta Clarisa. Billy dapat melihat Nico yang tersenyum penuh kemenangan padanya. Kedua tangan Billy mengepal kuat, sorot matanya tertuju pada sosok cantik, imut dan menggemaskan.... yang pernah menjadi kekasihnya selama satu tahun.


Tidak ada gunanya menyesal. Karena ia sudah pasti kalah sebelum berperang jika lawannya adalah seorang Nico yang entah siapa, kenapa pria itu memiliki kekuasaan dan kekuatan yang tidak terlihat. Entahlah, mungkin siapapun yang berhubungan dengan keluarga Romanov atau bahkan Tuan Xavier bukanlah orang-orang yang dapat disentuh, pikirnya.


Billy berlalu dari sana dengan perasaan kesal dan juga rasa sesak yang bergemuruh. Ia bahkan mengabaikan Clarisa yang terus saja menempel padanya.


***


"Nona, apa Nona ingin aku membereskan mereka berdua?" tanya Nico sesaat setelah Jennifer berhasil membenamkan tubuhnya di kursi kebesarannya itu.


Jennifer paham siapa mereka berdua yang dimaksud oleh Nico. "Tidak perlu. Mereka akan tetap bekerja dibawah naungan perusahaan ini. Lagi pula mereka akan berada di Paris selama dua tahun, sehingga aku tidak perlu melihat wajah mereka lagi." Ya, Jennifer sudah menata hatinya kembali. Bahkan dengan mantap mengatakan hal demikian. Ia memang tidak suka terlalu berlarut-larut dalam kesedihan.


Nico mengangguk. Wanitanya ini memang sangat dewasa, tidak heran ia mengagumi dan memiliki perasaan terhadap wanita itu.


Jennifer mulai melakukan pekerjaan kembali. Seperti biasa pekerjaan Nico hanya memandangi wajah Jennifer yang sedang bekerja. Memang itu menjadi keseharian dirinya jika berada di ruangan yang sama. Nico tidak pernah berbaur dengan siapapun di perusahaan itu selain dengan Jennifer dan Jane. Baginya itu hanya hanya membuang-buang waktu.


"Nona, aku akan keluar mengambil minum." Nico beranjak dari duduknya.


"Hem...." Jennifer tetap fokus pada dokumennya dan mengabaikan Nico yang keluar dari ruangan. Tubuhnya menjadi rileks kembali disertai hembusan napas lega. Sejak tadi ia menyadari jika Nico terus memperhatikan dirinya tanpa berpaling sedetik pun, tetapi Jennifer berusaha bersikap biasa saja.


Dasar, pria raksasa yang aneh.


Entah dimulai sejak kapan, Nico berhasil membuatnya selalu menjadi salah tingkah. Mungkin sejak mereka beciuman, Jennifer selalu merasakan aneh dengan tatapan Nico yang mampu menusuk ke dalam hatinya. Dan Jennifer tidak berani menanyakan perihal Nico yang mencium dirinya. Sungguh, sikap Nico padanya membuatnya selalu bertanya-tanya.


.


.


To be continue


.


.


Di sisi lain, Xavier bersin-bersin karena digibahin adik yang gak ada akhlak itu 😂 kenapa gue di bawa-bawa sih, Jenn?"


Nona Jennie



Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih

__ADS_1


Always be happy 🌷


Btw hari senin, jangan lupa vote sebanyak-banyaknya ya..... wkwk 🤭


__ADS_2