Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Kau memilikiku


__ADS_3

Lenguhan nikmat terdengar menggema di dalam kamar mandi. Kedua sepasang kekasih tengah bercinta mesra di bawah guyuran shower. Hentakan demi hentakan mengiringi keduanya pada sensasi geli bercampur nikmat luar biasa. Kabut gairah menambah embun hangat di dalam kotak besar kaca itu. Emely mengerang di sela-sela ciuman mereka kala tangan Keil menyusup di area kedua pahanya, dua jemarinya kemudian menerobos masuk dan menari-nari di bawah sana.


Permainan semakin panas, Keil semakin menekan tubuh Emely pada dinding, tangan lainnya mengobrak-abrik bagian yang tentu saja selalu membuat wanitanya itu berhasrat disertai lenguhan-lenguhan yang membuat Keil semakin bersemangat. Emely masih mengenakan kemeja putih Keil, dengan kasar Keil melepaskan kemeja yang menjadi penghalang untuknya menyentuh dua buah dada yang menantang itu.



Keil menyudahi ciuman mereka, lalu melahap salah satu buah dada yang pas di tangannya secara bergantian. Mengecup lalu mengulum bagian puncuk sensitif itu, hingga tubuh Emely dibuat semakin menggelinjang. Tangan yang lain masih menjelajah di bawah sana. Mendapatkan serangan atas dan bawahnya secara bersamaan, membuat Emely meraung, mendesahh dengan mata yang terpejam, pinggulnya menghentak mengikuti irama jemari Keil yang keluar masuk itu. Temponya semakin di percepat, hingga membuat Emely meremass rambut Keil, kepalanya menengadah, sungguh jemari Keil membentur bagian paling nikmat di dalam sana.


Melihat Emely yang semakin mengerang, Kiel kembali menyambar bibir Emely, membelit satu sama lain dan saling menyesap lidah.


"Aahhh Keil....." Ya, Emely sudah mencapai pelepasannya. Rasa lega dan nikmat bercampur satu.


Kiel tersenyum, mengeluarkan jemarinya dari dalam sana. "Giliranku Love." Kemudian mengangkat salah satu kaki Emely, Keil memposisikan miliknya yang sudah berdiri dengan pongahnya. Ia memberikan sengatan terlebih dahulu, sebelum kemudian menancapkannya.


"Aahhhh......" Keduanya meloloskan desahaan kala milik Keil sudah terbenam sepenuhnya di dalam sana. Menggerakkan pinggul maju mundur menyesuaikan ritme gelora panas yang menyelimuti keduanya.


Kedua tangan Emely melingkar di leher Keil, meskipun sudah mendapatkan pelepasannya, tetapi Keil mampu membangkitkan kembali gairahnya, hingga Emely menyambar bibir Keil yang langsung mendapatkan balasannya. Keduanya kembali membelitkan lidah, menyesap dan bahkan saling bertukar saliva. Bersamaan dengan itu, Keil semakin cepat menghentakkan pinggulnya dan pelepasan akan mereka rasakan bersama.


"Keil ahhh.... lebih cepat lagi, aku akan ke-keluar....." Emely mengerang di saat ciuman mereka terlepas.


"As you wish, Love." Pinggul Keil kian dipercepat, peluh keringat sudah menyelimuti mereka yang bercampur air hangat dari guyuran shower.


"Aku sampai....." racau Emely dengan kaya yang terpejam nikmat.


"Bersama Love...." Wajah Keil yang diselimuti gairah kian menambah ketampanan pria itu, hingga seperkian detik mereka sudah mencapai klimaksnya bersama.


Napas mereka saling memburu, meraup sisa-sisa oksigen di dalam sana. Pandangan mereka kembali bertemu dan Keil mengecup kening Emely dengan penuh cinta. Setelah kegiatan panas, mereka memutuskan mandi bersama dan kali ini benar-benar mandi, tidak ada adegan panas yang terulang.


"Love, sebaiknya kau keringkan rambutmu." Keil keluar dari kamar mandi setelah Emely. Keduanya masih menggenakan bathrobe.


"Iya, nanti saja." Emely berjalan menuju lemari.


Karena Emely selalu malas mengeringkan rambutnya, Keil meraih handuk kecil yang berada di atas nakas lalu menarik lengan kekasihnya itu dan menuntunnya duduk di sisi ranjang.


Emely tersenyum, Keil memang selalu perhatian dengannya. Dan ia sangat menyukai jika Keil mengusap rambut dan bahkan membantunya mengeringkan rambutnya.


"Aku akan ke Los Angeles selama beberapa hari Love, jadi kau tidak boleh sakit ketika aku tidak bersamamu." Tangannya lihat bergerak mengusap rambut Emely, perlahan pergerakan tangannya melemah karena kekasihnya itu tidak menyahuti ucapannya. "Kenapa tersenyum?" tanyanya heran mendapati Emely hanya mengulum senyum.


"Tidak apa-apa, aku hanya senang," jawabnya dengan sebuah senyuman.


"Kau senang aku pergi?" Wajah Keil berubah dingin.

__ADS_1


"Ck..." Emely mendecakan lidah. "Bukan seperti itu, aku senang saat kau mengusap rambutku, membuatku nyaman sehingga mengantuk."


Mendengar perkataan Emely, senyum Keil terbit. "Kalau begitu biarkan aku yang mengeringkan rambutmu setiap hari.


"Hem, baiklah." Emely mengangguk saja. Menikmati usapan Keil yang kembali mengusap rambutnya yang basah. Ia selalu nyaman jika berdekatan dengan Keil dan entah kenapa sudah beberapa hari ini ia selalu ingin bermanja dengan kekasihnya itu.


"Selesai...." Keil meletakkan handuk itu dengan asal di atas meja. Kemudian baru mengingat jika ia memiliki sesuatu yang harus ditunjukkan kepada Emely.


Emely terdiam, mengamati Keil yang berjalan menuju lemari, entah apa yang diraihnya karena ia hanya melihat Keil mengambil sebuah map.


"Apa itu Keil?" Emely tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Keil kembali melangkah mendekati ranjang ketika sudah menutup pintu lemari. "Buka dan bacalah." Sembari menyodorkan map tersebut kepada Emely.


Meskipun bingung, Emely tetap mengambilnya. Ia mengambil isi dari map itu dan mulai membacanya. Kedua matanya membola sempurna, ia membaca sekali kali untuk memastikan apa yang ia baca. Setelah memastikan dirinya tidak salah membaca dan mencerna, wajahnya mendongak menatap Keil meminta penjelasan kepada kekasihnya itu.


"Kenapa, hm?" Keil tersenyum dengan reaksi Emely.


"Apa ini sungguhan?"


"Hem, kau pikir aku main-main, hm?" Keil mencubit gemas wajah Emely yang belum mempercayainya.


"Tapi ini akta pernikahan, bukan? Sejak kapan kau....?" Kalimat Emely menggantung.


Dengan cepat Emely menggeleng, ia tidak ingin Keil salah paham. "Justru aku sangat senang Keil. Kau benar-benar membuktikan ucapanmu untuk selalu berada di sisiku. Dan aku menangis karena aku bahagia."


Tentu saja mendengar perkataan Emely, Keil langsung memeluk kekasihnya dengan erat. "Terima kasih Love."


Emely kembali menggeleng. "Tidak. Seharusnya aku yang berterima kasih, selama ini kau selalu berada di sampingku dan melindungiku. Aku tidak memiliki siapapun setelah kepergian Mommy." Emely kembali menangis, ia bahagia, sungguh.


"Dan sekarang kau memilikiku Love. Aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu padamu." Keil mengusap punggung Emely yang sedikit bergetar. "Setelah aku kembali dari Los Angeles kita akan melakukan pemberkatan dan mengucapkan janji suci. Aku ingin mengikatmu menjadi istriku. Aku benar-benar mencintaimu Love."


"Huwwaaa Keil, aku juga mencintaimu. Benar-benar mencintaimu." Tangan Emely melingkar di pinggang Keil yang berdiri di hadapannya itu. Wanita itu kembali terisak, membenamkan wajahnya di perut sang kekasih yang sudah menjadi suaminya itu.


Keil terkekeh. "Kau mengucapkan kata cinta tapi sambil menangis."


"Ini tangisan bahagia Keil." Emely memprotes sembari menyeka air matanya.


"Iya.... Iya...."


Keduanya saling memeluk erat selama beberapa saat, hingga Emely merasakan sesuatu pada perutnya yang tidak nyaman. Ia merasakan ada sesuatu yang memporak-porandakan isi perutnya. Dan kemudian ia seperti ingin memuntahkan sesuatu.

__ADS_1


"Ada apa?" Keil menyentuh kedua pundak Emely.


"Keil, aku...." Namun karena tidak tahan, Emely mendorong tubuh Keil dan berlari menuju kamar mandi. Ia memuntahkan isi perutnya di wastafel. Keil yang cemas segera menghampiri Emely.


Dilihatnya berulang kali wanitanya memuntahkan isi perutnya, Keil mengusap punggung Emely, berharap bisa memberikan rasa nyaman pada perut Emely. "Apa sudah lebih baik?"


Emely mencuci mulutnya dan kemudian mengangguk. "Hem, setelah mengeluarkan isi perutku sekarang sudah lebih baik."


Namun Keil tetap saja cemas, terlebih memperhatikan wajah Emely yang pucat. "Aku akan mengantarmu ke rumah sakit sebelum aku pergi."


"Tidak perlu, mungkin aku hanya perlu istirahat. Lebih baik antarkan aku ke tempat tidur." Keil mengangguk dan memapah Emely menuju tempat tidur, tetapi sebelum membaringkan Emely, Keil membantu wanitanya untuk mengenakan pakaian terlebih dahulu.


"Aku akan meminta Joy untuk menemanimu di apartemen," ucap Keil. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Emely dalam keadaan seperti ini akan tetapi pekerjaannya tidak bisa ditunda lagi. "Maaf, aku harus meninggalkanmu."


"Tidak apa-apa. Setelah beristirahat aku akan sehat seperti biasanya. Pekerjaanmu juga penting Keil, jangan hanya karena aku, kau mengabaikan tugasmu."


Keil tersenyum yang nyaris dipaksakan, ia mengecup kening Emely. Sebelum kemudian menyelimuti tubuh Emely. Mungkin karena benar-benar kelelahan, baru saja memejamkan mata wanita itu sudah terlelap.


Mendengar dengkuran halus yang teratur, Keil beranjak dari sisi ranjang, dan segera menghubungi Tom juga Joy. Tidak perlu membutuhkan waktu lama, kedua anak buahnya itu sudah berada di unit apartemennya. "Jaga Eme dengan baik selama aku pergi dan hubungi aku segera jika terjadi sesuatu," katanya kemudian yang langsung di angguki oleh Joy serta Tom.


.


.


To be continue


.


.


Keil



Emely



Pokoknya ceritanya ganti-gantian ya, gak cuma Nico Jennie, Keil Emely atau Daniel Ashely. Udah ada porsinya masing-masing sesuai alur 🤗


...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2