
Seorang wanita berlari sedikit tergesa-tegas keluar dari toko pakaian. Ia baru saja mendapatkan kabar dari salah satu maid bahwa Tuannya mencari dirinya. Wajah pucat pasinya membuktikan seberapa takut dirinya kepada pria tersebut.
Kenapa dia pulang secepat ini?
Tidak seperti perkiraannya, ia pikir bahwa pria itu tidak akan kembali hingga minggu depan karena terlalu senang bersama kekasihnya itu. Ya, wanita yang tengah berlari tergesa-gesa adalah Emely. Ia baru saja akan berbelanja pakaian namun niatnya diurungkan kala sosok yang tidak ingin ditemuinya justru sudah berada di penthouse. Karena berlari begitu cepat, bahu Emely bertabrakan dengan seorang wanita cantik.
"Maafkan aku...." seru Emely menambah kepucatan di raut wajahnya.
Wanita tersebut tersenyum. "Tidak apa-apa. Apa Nona baik-baik saja?" Karena melihat wajah wanita di hadapannya terlihat pucat, terselip kepanikan untuk wanita yang menabraknya itu.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih." Emely mengulas senyum, sebelum kemudian berlalu meninggalkan wanita yang tidak sengaja tertabrak olehnya. Wanita itu memasang wajah heran, berbeda dengan penjaga wanita itu, nampak tidak asing dengan Emely.
Bukankah Nona yang tadi adalah kekasih bos Keil? batinnya. Ya, karena penjaga itu adalah salah satu anak buah Black Lion yang ditugaskan oleh Daniel untuk menemani Ashley kemanapun wanita itu pergi. Wanita yang sempat bertabrakan dengan Emely tidak lain adalah Ashley.
"Nona, sebaiknya kita segera kembali." Ashley terkesiap kala penjaga wanitanya itu menyentakkan telinganya.
"Ah, iya." Ashley mengangguk. Daniel memang hanya memberikan waktu terbatas untuknya membeli semua kebutuhan dirinya.
***
Emely terlihat menuruni taksi usai membayar taksi tersebut. Tubuhnya menjadi sangat sulit digerakkan hingga ia berusaha menyeret langkahnya memasuki penthouse. Pandangannya mengedar ke segala sudut di dalam sana, berharap saat masuk tidak melihat pria yang tidak lain adalah suaminya sendiri, Jonas Fortes.
"Sepertinya selama ini aku sudah terlalu baik denganmu!" Berusaha berjalan tanpa suara pun percuma saja karena faktanya pria itu sudah menunggu dirinya di ruang tamu.
"Aku...." Emely menjadi gelagapan melihat aura pria itu yang begitu dingin dan menyeramkan. Terlebih lagi pemandangan di depannya itu membuatnya sakit mata, kenapa pria itu harus membawa kekasihnya. Seorang wanita cantik memang bergelayut manja di lengan suaminya.
"Katakan, kau darimana saja?!" tanyanya dengan membentak. "Aku membiarkanmu mengurus cafe jelekmu hanya karena kekasihku yang memintanya. Jika tidak, aku sudah menghancurkan cafe itu sejak lama!" Melihat pria-nya memperlakukan istrinya dengan begitu buruk, wanita itu tersenyum puas.
"Sayang, sudahlah jangan marah-marah. Biarkan saja wanita jelek itu pergi ke kamarnya. Dia hanya mengganggu kita saja disini." Dengan tangan yang membelai rahang tegas Jonas, wanita tersebut menyindir Emely.
Kau bahkan lebih jelek dariku. Hei Nona, lisptikmu itu terlalu tebal, apa kau ingin bermain sirkus?
Emely memandang sinis wanita yang menjadi kekasih suaminya. Kehadiran Jonas sudah cukup membuatnya kesal setengah mati, ditambah pria itu membawa kekasihnya, benar-benar membuatnya semakin sulit menghirup oksigen.
__ADS_1
"Sebaiknya kau pergi ke kamarmu, kau hanya merusak mataku!" hardik Jonas menatap Emely penuh dengan kebencian.
"Ck, kalau begitu kau bisa melepaskanku dan kau bisa menikah dengan kekasihmu!" seru Emely meninggikan suaranya.
"Lancang!!" Jonas beranjak berdiri hingga tangan kekasihnya terhempas begitu saja. Pria itu dipenuhi amarah akan perkataan Emely. Kemudian berjalan mendekati wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Emely hingga meninggalkan jejak kemerahan di pipi wanita itu. "Kau sudah mulai berani denganku. Apa kau lupa jika ibumu masih berada di tanganku. Apa kau ingin aku membunuh ibumu saat ini juga, seperti kau membunuh adikku?!"
Meskipun saat ini Emely tengah ketakutan tetapi ia tidak terima dengan tuduhan Jonas. "Aku tidak membunuh adikmu. Apa kau lupa Tuan Jonas yang terhormat, adikmu tewas karena bunuh diri!" Berdecak sinis sembari memegangi pipinya yang sedikit perih. Jonas memang menampar dirinya dengan sekuat tenaga.
Emely dapat melihat Jonas yang mengeram penuh amarah, pria itu hendak kembali melayangkan tangan kepadanya. "Apa?! Kau ingin menamparku lagi? Lebih baik kau membunuhku sekarang juga!" Dengan suara yang sedikit bergetar Emely menantang Jonas. Ia hanya pasrah, tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri dari sana. Terlebih lagi anak buah Keil tidak sedang menjaga dirinya dari kejauhan.
Jonas tertawa sumbang. Tawa yang sedikit mengerikan hingga membuat kekasihnya yang berdiri menyaksikan berdebatan mereka sedikit merinding. "Aku akan melakukannya!" serunya sesaat setelah tawanya menyurut. Sebelum kemudian Jonas menarik kedua bahu Emely. "Dengar, aku akan membunuhmu dan ibumu secara perlahan sampai kau tidak bisa menghirup udara bebas dan kau tidak akan pernah bisa bertemu kembali dengan kekasih masa lalumu!"
Ternyata perkataan Jonas cukup mengiris hati Emely, hingga tidak terasa air mata yang menggenangi kedua matanya menetes deras. Emely tidak dapat berkata-kata lagi. Bagaimana jika Jonas mengetahui jika ia sudah bertemu dengan Keil? Apa yang akan dilakukan pria gila itu kepada Keil?
"Pergi dari hadapanku sekarang juga!!" perintah Jonas hingga membuat Emely berlalu dari sana menuju kamarnya dengan perasaan sedih bercampur kecewa. Kecewa karena dirinya tidak bisa melawan Jonas.
"Aku tidak berselera lagi." Menghempaskan kedua tangan kekasihnya. "Kau tunggu disini. Aku akan pergi sebentar." Jonas berlalu pergi begitu saja meninggalkan wanita itu yang terperangah tidak percaya.
Sial. Karena wanita jelek itu, Jonas mengabaikan diriku.
***
Jika sedang dalam keadaan diliputi amarah, Jonas lebih memilih berada di Station cars, bengkel mobil yang sudah berdiri selama 10 tahun lamanya. Tempat itu menjadi sumber mata pencahariannya yang sebenarnya hanya penyamarannya saja, menghindari komplotan petugas yang setiap kali mencurigai sindikat kelompoknya.
"Ada apa bos?" tanya salah satu anak buahnya yang berkerja disana, melihat wajah bos mereka yang terlihat sangat kesal, memicu beragam pertanyaan di benak mereka.
"Jangan banyak bertanya!" Jonas membenamkan tubuhnya di salah satu kursi besi di dalam sana. "Katakan padaku, apa kalian berhasil membawa barang-barang itu?"
"Berhasil bos. Ternyata benar apa yang dikatakan Jerome, jalur dermaga utara memang jalur yang selalu di hindari oleh pihak berwajib, sehingga kita dengan mudah menyelundupkan obat-obatan itu."
__ADS_1
"Aaarrgghh!!!!" Suara seseorang yang begitu menderita membuat kebisingan disana hingga Jonas mengerutkan keningnya lantaran sangat terganggu akan suara tersebut.
"Apa yang terjadi dengan pria itu?" tanyanya.
"Dia seorang mata-mata bos. Kami menangkapnya dan memotong jari-jarinya saja."
"Habisi malam ini, jangan membuat keributan di sekitar sini," perintahnya kepada beberapa anak buah. Jonas kembali beranjak berdiri, ia mengambil sebotol minuman dan meneguknya.
Kematian sang adik benar-benar tidak bisa diterima olehnya. Betapa hancur adik perempuannya itu ketika mengandung dan kekasihnya tidak ingin bertanggung jawab, justru secara terang-terangan memilih wanita lain, wanita itu tidak lain adalah Emely.
Wanita sialan.
.
.
To be continue
.
.
Emely
Jonas Fortes
Yoona inget kata kalian, musuhnya jangan tampan2.. jadi visual suaminya Emely ini aja ya wkwk 😂😂
Tinggalkan like, vote, follow dan komentar 💕
__ADS_1
Always be happy 🌷