Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Apa seperti itu caramu berterima kasih?


__ADS_3

Ketika matahari sudah terbit sangat tinggi, seorang pria gagah dengan tubuh yang tegap baru saja turun dari mobil setelah berhasil memarkirkan mobilnya dengan sempurna di pelataran Penthouse. Ia dan juga Nico semalaman penuh mengamati cctv dan bekerja ekstra mencari data-data seseorang yang mereka curigai. Karena bekerja hingga larut membuat waktu istirahatnya berkurang. Ia juga melacak keberadaan Jonas, serta mencari tau apa saja yang tengah pria itu rencanakan.


"Keil, kau harus berterima kasih padaku." Ya, setidaknya Daniel memiliki informasi tentang pergerakan Jonas belakangan ini. Ia membantu sahabatnya hingga jam tidurnya harus berkurang tetapi yang dibantu justru malah bercinta semalaman dengan Emely. Daniel mengetahui hal itu dari Tom juga Joy yang sebenarnya kemarin malam ingin memberikan informasi tentang Jonas tetapi keduanya justru menjadi canggung mendengar suara erangan nikmat seseorang yang tengah bercinta di dalam sana, sehingga Tom dan Joy mengurungkan niat mereka untuk memberikan informasi tersebut.


Daniel menaiki tangga setelah memasuki penthouse menuju kamar yang disinggahi oleh Ashley. Langkahnya terhenti saat sudah berada di depan kamar Ashley, ia membuka pintu kamar dan menutup kembali pintunya begitu ia masuk ke dalam sana. Pandangannya menyapu ke segala arah mencari keberadaan Ashley karena kamar yang luas itu kosong, wanitanya itu tidak berada di dalam. Hingga pendengarannya menangkap jelas gemericik air shower di dalam kamar mandi, ternyata wanitanya itu sedang mandi. Kemudian Daniel tersenyum nakal, terbersit pikiran liarnya untuk ikut bergabung dengan wanita itu, padahal ia sudah mandi tadi pagi saat di Markas. Tetapi suara di dalam sana sungguh mengundang hasratnya yang tiba-tiba saja menggebu-gebu.


Lantas Daniel segera menanggalkan seluruh pakaiannya dan melemparkannya dengan asal, hingga kini menampilkan otot-otot perutnya yang kotak-kotak itu. Dengan santainya Daniel berjalan menuju kamar mandi, kemudian membuka pintu itu secara perlahan, senyum tipisnya tersemat karena Ashley tidak mengunci pintu kamar mandi. Daniel mengendap-ngendap masuk setelah berhasil menutup pintu kembali.


Di balik pintu kaca yang sedikit mengembun terdapat Ashley di dalamnya, wanita itu baru saja meratakan semua sabun ke seluruh tubuhnya. Siluet tubuh semampai wanita itu terpampang nyata dan jelas. Buah dada dan bokong yang kencang, sungguh menggugah libidonya. Daniel meneguk salivanya dengan kasar, ia sudah tidak tahan ingin segera meraba tubuh wanita itu. Buru-buru Daniel mendekati Ashley yang tidak menyadari kehadiran dirinya. Wanita itu membilas tubuhnya di bawah guyuran shower dengan membelakangi dirinya.


Tangan Daniel melingkar di perut Ashley, membuat wanita itu tersentak kaget karena tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk ke dalam kamar mandi. Ia menoleh dan mendapati wajah pria yang tengah memeluknya adalah Daniel. Pria itu terus menciumi tengkuk lehernya hingga desiran geli dan aneh menyebar ke sekujur tubuhnya.


"Ka-kapan kau datang?" Ashley masih saja dibuat gugup. Ia memang belum begitu dekat dengan Daniel karena pria itu selalu datang padanya ketika menginginkan tubuhnya saja.


"Baru saja. Apa kau merindukanku, hm?" Daniel semakin gencar menciumi leher, lalu perlahan turun ke pundak wanita itu.


"Aku.... euughh...." Karena tangan Daniel meremass kedua buah dadanya, sehingga membuat wanita itu tidak mampu menjawab ucapan Daniel.


"Katakan kau merindukanku, babe," bisiknya dengan sensual. Tangannya merayap ke bagian bawah Ashley, tubuhnya semakin di rapatkan hingga senjata pamungkasnya bergesekan dengan bokong wanita itu.


"A-aku merindukan...mu...." Tubuh Ashley bergetar hebat, Daniel berhasil membuatnya terangsangg hanya karena sentuhannya. Tangan Daniel meremmas buah dada sementara tangan yang lain bermain di bagian bawah, satu jemarinya bermain di sana, memporak-porandakan bagian inti Ashley.


Ashley melenguh merasakan kembali gelombang kenikmatan. Daniel memang selalu mendominasi permainan, lebih tepatnya selalu senang akan fantasi liarnya. Cukup puas bermain-main di bagian bawah sana, Daniel memutar tubuh Ashley menghadap ke arahnya. Karena sudah terbakar gairah sehingga Daniel menyambar bibir wanita itu dan menyesapnya hingga ke rongga yang paling dalam. Ashley tidak tinggal diam, wanita itu melingkarkan kedua tangan di leher Daniel dan membalas ciuman yang semakin panas. Daniel membalas dengan meremass bokong Ashley dan kemudian meraba paha wanita itu.



"Da-Daniel..." Tubuh Ashley menggelinjang, Daniel terus saja memberikan rangsangan padanya. Shower yang dibiarkan tetap menyala menghujani tubuh keduanya yang panas akan gelora hasrat.


"Hem...." Daniel bergumam. Kini bibirnya menyusuri rahang Ashley, turun ke leher hingga kini mencapai dua benda bulat kenyal yang menantangnya. Lantas Daniel langsung melummatnya dengan rakus, menyesap hingga lidahnya bermain di puncak sensitif wanita itu.


Ashley kembali meloloskan lenguhannya, gelenyar nikmat bercampur rasa geli menyelimuti tubuh polosnya. Daniel semakin rakus melahap dua buah dada indah itu dan memberikan tanda merah disana. Perlahan Daniel mendorong Ashley hingga punggung wanita itu menempel pada dinding. Dan tanpa menunggu lama mengangkat salah satu kaki Ashley, memposisikan miliknya ke dalam inti wanita itu.


"Ahhh.... eugghh....." Ashley meloloskan lenguhannya suara ketika benda tumpul yang besar itu menghantam bagian dalamnya. Daniel kembali menyesap bibir Ashley dengan hentakan pinggulnya yang maju mundur memberikan sensasi yang begitu nikmat.


Daniel kian memacu pinggulnya semakin cepat karena erangan Ashley membuatnya sangat bergairah. Ashley terpekik, kedua matanya terpejam kala milik Daniel memenuhi bagian dalam intinya bersamaan hentakan yang menghasilkan gelombang kenikmatan. Udara yang mengembun di dalam kaca itu menandakan betapa panasnya mereka, air shower hangat ditambah dengan sengatan panas pada tubuh keduanya mengantarkan mereka menuju puncak pelepasan.


Napas keduanya terengah-engah ketika keduanya sudah mencapai pelepasan yang melegakan. Namun permainan tidak berhenti begitu saja, Daniel mengulangi kegiatan mereka dengan kembali melahap bibir manis Ashley. Sesekali Ashley medesahh dan mengerang, Daniel selalu mampu membangkitkan gairahnya meskipun tubuhnya terasa remuk dan lelah.


Daniel tidak pedulikan hal itu, baginya menuntaskan hasratnya bersama Ashley adalah hal yang candu baginya. Ia sudah lama tidak bermain dengan wanita lain setelah dirinya merasakan nikmatnya tubuh wanita polos seperti Ashley. Bahkan pengalaman mendebarkan ia rasakan karena harus mengajarkan wanita itu untuk memimpin permainan. Daniel yang tidak pernah puas kembali memasuki Ashley dari posisi belakang. Hentakan demi hentakan semakin kasar diiringi erangan dan umpatan nikmat, menjabarkan seberapa nikmatnya permainan panas dibawah guyuran shower yang menyala.


***


Permainan panas telah usai. Kini Daniel mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Pria itu duduk di tepi tempat tidur dengan bertelanjang dada, hanya bagian bawahnya yang terbungkus celana panjang. Tidak hentinya Daniel memandangi Ashley yang berias diri di depan cermin. Wajah tampan Daniel terpantul di cermin sehingga membuat wanita itu menjadi salah tingkah dengan rona merah di wajahnya akan tatapan Daniel.

__ADS_1


"Kemarilah....." Daniel menepuk sisi sebelahnya, meminta wanita itu untuk duduk bersamanya. Entah kemana handuk yang sejak tadi di pegang oleh pria itu, karena handuk itu terlihat berada di kursi di bersisian dengan jendela, mungkin Daniel melemparnya.


Ashley dibuat terkesiap, entah kini apa maunya pria itu yang tiba-tiba ingin ia duduk bersamanya. Dengan ragu-ragu ia mendekat ke arah Daniel, belum sempat mendudukkan tubuhnya, Daniel lebih dulu menarik pergelangan tangannya hingga tubuhnya terbenam di atas pangkuan Daniel. Ashley hendak berdiri tetapi Daniel menahannya, membiarkan wanita itu duduk di atas pangkuannya.


Sungguh Ashley dibuat gugup, tidak pernah ia berada dalam posisi seperti ini, bahkan dengan kekasihnya sekalipun. "A-ada apa?" tanyanya tergugup.


"Kenapa kau masih saja takut padaku? Apa aku sangat mengerikan?" Daniel dapat melihat gelagat Ashley yang terlihat masih takut saat berdua dengannya. Padahal ia sama sekali tidak berniat menyakiti wanita itu.


Ashley menggeleng. "Lalu kenapa wajahmu seperti ini?" Daniel menunjuk pipi Ashley yang tidak terdapat senyuman disana.


"A-aku hanya belum terbiasa," cicitnya tertunduk malu.


Daniel terkekeh. "Karena itu terbiasalah. Aku hanya ingin kau merasa nyaman saat dekat denganku. Kau adalah milikku, wanita Daniel."


Mendengar perkataan Daniel, kedua mata Ashley berkedip berulang kali karena gagal mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Daniel. Daniel tergelak, tingkah Ashley sungguh sangat menggemaskan. "Kau perlu sering-sering merabaku seperti ini supaya terbiasa." Daniel menuntun tangan Ashley menyentuh dada bidangnya.


"Astaga...." Ashley reflek menjauhkan tangannya yang sempat menyentuh dada Daniel.


Daniel memang sering tersenyum untuk menggoda para wanita. Tetapi ia akui, jika hanya Ashley yang diperlakukan dengan lembut. "Jika kau dalam kesulitan jangan ragu untuk meminta bantuanku."


"Tapi aku terlalu sering menyusahkanmu, bahkan aku tidak memiliki uang untuk menggantikan uangmu saat menebusku," katanya dengan suara yang parau sedikit bergetar.


Lagi-lagi Daniel tersenyum, senyum yang selama ini menjadi bagian favorit Ashley. Wanita itu diam-diam mengagumi senyum Daniel karena pria itu terlihat semakin tampan jika tersenyum. "Tidak perlu, jika kau ingin membalasku cukup dengan berada disisiku dan menjadi wanitaku yang patuh."


Ashley hanya mengangguk patuh, ia pun sebenarnya bingung apa arti dirinya bagi pria di hadapannya itu, karena Daniel selalu memperlakukan dirinya dengan baik. Akan tetapi di dasar hatinya ia selalu menganggap dirinya adalah pemuas napsu pria itu, Daniel baik dengannya karena tubuhnya, tidak lebih. Setiap kali memikirkan hal itu membuat rongga dadanya menjadi sesak. Ia tidak ada bedanya dengan jalangg di luar sana.


Ashley menggeleng. "Tidak apa-apa."


"Boleh aku bertanya?" Pandangannya tak berpindah, tetap dalam menatap Ashley.


"A-apa?"


"Siapa mereka?" Meskipun Daniel bertanya dengan suara lembut, tetapi tidak dengan tatapannya yang menuntut penjelasan.


"Mereka?" Kening Ashley berkerut, tidak paham akan pertanyaan Daniel padanya.


"Iya, mereka yang ingin membawamu."


Deg


Ya, memang tidak mungkin Daniel tidak mengetahuinya, sudah pasti pria yang menolongnya kemarin sudah memberitahukan kepada Daniel.


"Aku tidak tau pasti, tapi mungkin saja mereka suruhan Da....David." Akhirnya Ashley memberanikan diri memberitahukan Daniel tentang masa lalunya.

__ADS_1


"David?" Daniel berpura-pura tidak mengetahui pria itu. "Siapa dia?"


"Mantan kekasihku. Dia telah mengambil perusahaan keluargaku. Pria itu juga yang menjebak Daddy sehingga Daddy harus masuk penjara."


"Apa kau membencinya?" Daniel ingin mengetahui lebih dari bibir wanitanya itu.


"Sangat... karena dia, aku bisa berada di tempat pelelangan menjijikan itu."


Daniel tersenyum tipis, kilatan kebencian terpancar di manik mata wanita itu. "Kalau begitu, apa tidak masalah jika aku memberinya pelajaran?"


Ashley sedikit tersentak. "Ma-maksudmu?"


"Membalas perbuatannya kepada keluargamu." Jemari Daniel bermain-main dengan rambut Ashley yang tergerai.


"A-apa kau bisa?" Ashley sedikit ragu. Apa mungkin ada seseorang yang bisa mengalahkan kekasihnya. Ia tau benar siapa mantan kekasihnya itu, karena di belakangnya memiliki backing seorang Mafia. Ia baru mengetahui satu hari sebelumnya Daddy-nya di jebloskan ke dalam penjara.


"Tentu saja aku bisa. Apa kau tidak tau siapa diriku?" Daniel berucap bangga.


Dan Ashley menjawab dengan menggelengkan kepala. Yang ia ketahui jika pria yang ia duduki kini adalah seorang yang memiliki banyak uang.


"Cepat atau lambat kau akan mengetahui siapa aku sebenarnya. Dan aku harap kau bisa mengerti akan pekerjaanku." Entah kenapa Daniel terus ingin bersama dengan Ashley hingga kapanpun. Meksipun suatu hari nanti Ashley menolak dirinya, ia akan tetap bersama wanita itu meski harus dengan sebuah paksaan.


Ashley mengangguki ucapan Daniel. "Terima kasih," katanya kemudian.


"Apa seperti itu caramu berterima kasih?" Daniel merasa gemas melihat Ashley yang gagal mencerna maksudnya. "Cium aku," tuturnya menjabarkan.


Kedua mata Ashley membola sempurna. "A-aku..."


"Ck, terlalu lama." Daniel berdecak. Begitu tidak sabarnya sehingga ia yang membenamkan ciuman di bibir Ashley, sehingga wanita itu hanya dapat pasrah namun tetap membalas ciuman Daniel yang benar-benar liar.


.


.


To be continue


.


.


Ashley


__ADS_1


Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih


Always be happy 🌷


__ADS_2