
Nico melepaskan pagutan bibirnya, ia mendesah berat lalu menjatuhkan kepalanya di pundak Jennifer yang lagi-lagi membuat wanita itu tercengang.
"Maaf Nona, aku benar-benar tidak bisa menahan perasaanku lagi. Aku benar-benar hampir gila setiap hari karena sudah lancang jatuh cinta kepada Nona." Suara Nico terdengar seperti gumaman semata, tetapi terdengar jelas di pendengaran Jennifer hingga kian membuat tubuh wanita itu semakin membeku mendapatkan sebuah pengakuan dari bodyguard-nya tersebut.
Jennifer mendadak membisu, suaranya tercekat akan keterkejutannya. Apakah bodyguard itu benar-benar jatuh cinta padanya? Atau ada yang salah dengan pendengarannya?
"Nico, jangan bercanda..... itu tidak lucu." Kalimat pertama kali yang meluncur dari bibir Jennifer. Wanita itu mengira jika Nico sedang membual dan mengerjainya. Karena seperti itulah Nico jika sedang bersamanya, senang menggoda dirinya.
Nico mengangkat wajahnya dari pundak Jennifer. Ia menghembuskan napas berat ke udara. Wajahnya nampak putus asa tetapi tidak dengan manik matanya yang penuh keseriusan disana. "Apa Nona pernah mendengar semua ucapanku yang seperti sebuah candaan?"
Jennifer menggeleng. Ia perlu mencerna apa yang baru saja disampaikan oleh Nico. "Aku tidak tau, karena kau selalu saja menggodaku atau bahkan asal berbicara."
"Dengar Nona, aku bukan pria yang mudah bercanda dengan seorang wanita selain dengan kedua teman baikku. Aku seperti ini memang hanya di depan Nona saja. Bahkan aku tidak pernah memperlakukan seorang wanita dengan baik sebelumnya."
Mendengar kalimat Nico yang gamblang, Jennifer mengernyitkan keningnya. "Apa maksudmu?"
Nico menghela napas. Tidak mungkin ia mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya. Karena selama ini Nona Jennie tidak mengetahui jati diri sang kakak yang seorang Mafia, lalu mana mungkin ia berani membongkar indentitas mereka.
"Lupakan!" ujarnya. "Aku hanya ingin Nona mengetahui yang sebenarnya tentang perasaanku. Aku bukan pria yang penyabar, selama ini aku berusaha mendekati Nona pelan-pelan dan itu adalah sebuah keajaiban karena aku bisa bertahan. Jika Nona adalah wanita lain mungkin aku sudah memaksa Nona menjadi milikmu, lebih tepatnya menjadikan Nona wanitaku." Nico termasuk pria yang berbicara apa adanya, seolah tidak peduli orang lain akan menilainya seperti apa. Tetapi beda cerita jika berhadap dengan Nona Jennie-nya, tentu ia harus sedikit demi sedikit terbuka akan perasaannya untuk meluluhkan hati wanita itu. Karena Jennifer bukan seperti wanita kebanyakan yang akan luluh dengan barang-barang mewah. Tidak. Nona Jennie-nya tidak membutuhkan itu karena wanita itu telah memiliki segalanya.
"Nico, ini terlalu mendadak. Aku benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Kau tau kalau aku baru saja putus dengan Billy dua minggu yang lalu dan tiba-tiba mendengar pengakuan darimu, ini benar-benar membuatku bingung. Jadi aku perlu waktu untuk memikirkannya."
Memang yang terlihat adalah raut kebingungan di wajah Jennifer. Seharusnya Nico bisa lebih bersabar lagi, tetapi hatinya menolak untuk bersabar. Otak serta hati memang sulit untuk disinkronkan sehingga Nico memberanikan diri mengungkapkan perasaannya secara mendadak, tanpa persiapan.
Sejenak keduanya saling terbungkam, bahkan Jennifer seperti merasa bersalah telah membuat pria di hadapannya itu kecewa. Tetapi ia tidak sepenuhnya salah, karena bodyguardnya itu tiba-tiba membuat pengakuan padanya.
Nico perlahan melangkah satu langkah, hingga berdiri tepat di depan Nona Jennie. Sebelum kemudian merengkuh pinggul ramping wanita itu untuk mengikis jarak di antara mereka. "Aku tidak bilang Nona harus menjawabnya sekarang. Setidaknya aku senang Nona masih mau memikirkannya, itu artinya Nona mempertimbangkanku." Nico mengulas senyum tipis, pesona yang mampu meluluhkan siapa saja, termasuk Jennifer. Tetapi wanita itu terlalu sulit untuk menyadari perasaannya.
"Aku....."
"Ssshtt.... sudah ku katakan Nona tidak perlu menjawabnya sekarang." Nico menyela sebelum Jennifer menyelesaikan kalimatnya. "Aku akan menunggu Nona." Dan jemarinya menelusuri wajah Jennifer yang putih mulus itu. Hingga membuat wanita itu mengikuti arah pergerakan jemari Nico yang bermain-main di wajahnya. Tindakan yang kurang ajar antara bodyguard dengan Nona majikannya, tetapi entah kenapa Jennifer tidak bisa memaki pria itu.
"Aku akan mengantarkan Nona pulang," sambungnya kemudian dengan menarik kembali tangannya yang sedang merengkuh pinggul Jennifer.
Dengan santainya ia menuntun Jennifer menuju mobilnya, mengabaikan Jennifer yang masih terpaku dalam keterkejutannya. Sungguh wanita itu benar-benar dibuat terkejut akan sikap Nico yang berubah menjadi lebih agresif, ia membutuhkan waktu untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
***
Langit mulai berubah warna menjadi gelap. Di sepanjang perjalanan, keheningan mengisi perjalanan mereka. Jennifer terdiam dengan pandangan yang terus menatap keluar jendela. Sebuah pengakuan yang mendadak itu kini memenuhi isi kepalanya. Tidak pernah menduga jika bodyguardnya itu memiliki perasaan terhadap dirinya.
__ADS_1
Nico fokus akan kemudinya, tetapi sesekali melirik ke kaca spion, dimana Nilona Jennie-nya tengah tercenung. Ia hanya tersenyum tipis, karena menerka jika saat ini dirinya memenuhi pikiran wanita itu. Tentu ia tidak akan mengganggu Nona-nya itu dan kembali fokus lurus ke depan hingga akhirnya sorot mata Nico tertuju pada sebuah mobil tidak asing, lalu bergantian memperhatikan mobil lainnya, yang seperti menghadang mobil tersebut. Nico kemudian memperlambat kecepatan laju mobilnya, dan mendekati mobil yang berhenti itu. Terlihat tiga pria bersiteru dengan dua orang wanita.
"Oh, shitt!" Mendadak Nico menghentikan mobilnya, hingga membuat tubuh Jennifer terguncang sekaligus terkejut.
"Ada apa?" Jennifer bertanya heran karena Nico tiba-tiba saja berhenti.
Nico menoleh. "Nona tunggu saja di dalam mobil. Jangan keluar apapun yang terjadi." Tanpa menjawab pertanyaan Jennifer, Nico justru berbicara yang semakin membuat wanita itu kebingungan.
Namun Jennifer mengangguk pelan sebagai jawabannya, meskipun ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan Nico. Begitu Nona Jennie paham akan ucapannya, Nico kemudian turun dari mobil dan menghampiri mereka.
Salah satu dari wanita itu berkelahi dengan dua pria disana untuk melindungi Nona yang berusaha melepaskan cekalan dari tangan pria tersebut.
"Aku sudah tidak memiliki hubungan lagi dengannya." Dapat terdengar jelas suara wanita itu yang menolak di bawa pergi oleh salah satu pria tersebut.
"Tuan hanya ingin bertemu dengan Nona sebentar saja." Semakin mengeratkan cengkramannya.
"Jangan gila!" pekiknya. "Aku bahkan tidak ingin melihat wajahnya lagi!" Wanita itu berusaha meloloskan pergelangan tangannya dari pria tersebut.
"Ikuti kami saja." Pria itu seolah tidak peduli akan penolakan wanita itu.
"Hei teman, lepaskan wanita ini. Dia bilang tidak ingin ikut denganmu!" Nico menepuk bahu pria tersebut.
Keduanya sama-sama menoleh ke arah seseorang yang baru saja datang. Pria itu adalah Nico, ia mencoba mambantu wanita itu.
"Haha, tentu saja aku harus ikut campur. Kau ingin membawa wanita temanku, aku tidak bisa tinggal diam begitu saja." Nico menghempaskan tangan pria itu hingga cengkramannya pada wanita tersebut terlepas.
"Kau ingin cari mati?!" Pria tersebut melayangkan tinjunya ke arah Nico tetapi dengan cepat Nico menahannya dan menendang perut pria itu hingga jatuh tersungkur ke aspal.
"Siall!" Pria itu meludah. Ia berusaha beranjak. "Aku hanya meminjamnya sebentar, Tuanku ingin bertemu dengannya."
"Ck, aku tidak peduli. Kau pergi dari sini atau ku bunuh kalian sekarang juga!" Nico menunjuk wajah pria itu. Ia tidak ingin membuang waktu karena saat ini Nona Jennie tengah memperhatikan dirinya dari dalam mobil.
"Baiklah.... baiklah.... kami akan pergi. Tapi urusan Tuanku dengannya belum selesai. Kami pasti kembali lagi." Dengan sombongnya berkata demikian. Pria itu tidak tau siapa pria yang ia hadapi saat ini. Dengan berteriak kepada dua temannya untuk mundur, ketiga pria itu bergegas berlalu dari sana.
Seorang wanita yang terlibat baku hantam mendekati Nico dengan napas terengah-engah. "Maaf Bos Nico, mereka tiba-tiba saja menghadang mobil," jelasnya.
"Apa Daniel hanya menugaskanmu menjaganya seorang diri?" Nico tidak melihat mobil para anak buah yang lain di sekitar.
"Benar."
__ADS_1
"Ehm." Nico mengangguk. "Lina, sebaiknya kau pergi dari sini. Sepertinya mereka sedang mengincar wanita Daniel," lanjutnya.
"Aku harus melaporkannya kepada Bos Daniel." Ya, wanita itu adalah Lina, salah satu anak buah wanita yang ditugaskan untuk menjaga kemanapun wanita Daniel pergi.
"Tidak perlu. Biar aku yang bicara padanya nanti."
"Baik."
Nico kemudian berjalan menghampiri wanitanya Daniel yang sejak tadi memperhatikan dirinya penuh rasa terima kasih. "Kau tidak apa-apa?" tanya Nico menilik dalam.
"Aku baik-baik saja Tuan. Terima kasih. Jika tidak ada Tuan mungkin aku sudah dibawa pergi oleh mereka."
"Tidak perlu berterima kasih. Jika kau terluka, Daniel pasti akan mengamuk." Ya, Nico menolongnya karena wanita itu adalah Ashley, wanita milik Daniel. Ashley mengangguk, ia pernah bertemu dengan Nico saat di acara pelelangan. "Tapi siapa mereka? Apa kau mengenalnya?" tanyanya kemudian.
"A-aku... aku tidak tau." Ashley memalingkan wajahnya. Berharap Nico tidak bertanya lebih.
Nico paham. Memang itu bukan urusannya. Biarkan menjadi urusan Daniel. Tanpa disadari olehnya, sorot mata seorang wanita menghunus tajam ke arahnya serta Ashley. Yang terlihat dari pandangannya, Nico begitu akrab dengan wanita yang baru saja diselamatkannya.
"Siapa wanita itu?" gumamnya. Entah kenapa ia menjadi penasaran dan mendadak tidak suka melihat Nico begitu peduli dengan wanita lain. "Dia baru saja menyatakan perasaanya padaku. Dan lihatlah, dia bersama dengan wanita lain." Jennifer membuang pandangannya ke arah lain. Sangat menyebalkan melihat pemandangan itu.
"Maaf, membuat Nona menunggu terlalu lama." Nico baru saja kembali dan memasuki mobilnya begitu berhasil menutup pintu mobil.
"Aku tidak peduli!" Jennifer menjawab dengan ketus, masih mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela dengan kedua yang menyilang di depan dada. "Sudah hampir malam, sebaiknya kau mengantarku pulang."
Nico yang baru saja selesai memasang seat belt, mengernyitkan kedua alisnya lantaran bingung.
"Ada apa dengan Nona Jennie?" batinnya.
.
.
To be continue
.
.
Maaf ya baru up, author Yoona lagi drop.... 🤧 smoga kalian sehat selalu ya 🤗
__ADS_1
Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih
Always be happy 🌷