
Di dalam salah satu ruangan di markas, kini tercium aroma amis darah dari beberapa korban yang sudah disembelih. Ketiga pria yang tidak lain adalah Nico, Keil dan Daniel harus di hadapkan dengan situasi menjijikan. Bagaimana tidak, semenjak mereka mengalami sindrom couvade atau kehamilan simpatik, jangankan membunuh, mereka sudah mual dan muntah-muntah terlebih dahulu sebelum memulai aksi mereka.
"Bos, kau yakin ingin kita melakukannya?" Daniel nampak ragu, tangannya yang sudah biasa memegang benda tajam dan menguliti manusia hidup-hidup kini bergidik ngeri dengan hewan liar yang baru saja mereka buru. Pasalnya bos menginginkan mereka menyembelih hewan buruan mereka dan mengambil organnya.
Xavier masih menghunuskan tatapan tajam, kedua tangannya menyilang di depan dada. Saat ini ia sedang melatih insting ketiga anak buah kesayangannya seperti sedia kala. Sudah 6 bulan lamanya ia membebastugaskan ketiganya dalam misi.
"Hooeekkk..... Bos, aku tidak sanggup." Kedua mata Nico terpejam, menahan napas lantaran tidak ingin mengendus aroma darah yang begitu menyengat. Begitu menjijikan hingga sesuatu mengaduk-mengaduk di dalam perutnya.
"Bos, aku menyerah. Tunggulah sampai Eme melahirkan satu minggu lagi dan aku siap harus berhadapan dengan hal seperti ini lagi." Wajah Keil sudah pucat pasi, ia bahkan mengalami sindrom couvade hingga usia Emely sudah memasuki bulan ke-9.
Mendengar keluhan dari ketiga anak buahnya, Xavier menghela napas panjang. Ia memijat pangkal hidungnya. "Sudah 6 bulan aku membiarkan kalian tidak ikut misi dan jawaban kalian masih seperti ini, heh?!" Tentu saja Xavier kembali tersulut emosi, ketiga anak buah yang selalu bisa diandalkan nampak tidak berdaya di hadapkan dengan darah. Kemana jiwa membunuh mereka yang tidak takut apapun? Rasanya ia ingin sekali memenggal kepala mereka satu persatu.
"Sorry bos..." Ketiganya tertunduk lesu.
Xavier benar-benar dibuat gemas oleh ketiganya. Bagaimana bisa, ketiga anak buahnya tidak ada yang bisa diandalkan. "Aku tidak mau tau, kali ini kalian harus bisa mengeluarkan jantung dari dalam tubuh rusa yang sudah kalian buru. Jika tidak, maka mulai dari sekarang aku akan memecat kalian!" Entah sudah yang keberapa kali ia mencoba melatih ketiganya agar tidak lupa siapa jati diri mereka. Tetapi lihatlah, justru ia dibuat pusing oleh ketiganya.
"Bos, tidak ada istilah pecat memecat di dunia mafia," sahut Daniel sedikit mengejek.
Satu alis Xavier terangkat, lalu menyunggingkan senyum. "Aku bisa melakukan apa saja terhadap kalian, atau kalian lebih suka jika aku mengirim kalian ke Afrika menjadi peternak disana, heh?!"
"TIDAK BOS!" Ketiganya kompak menggeleng. "Aku tidak ingin berjauhan dengan istriku bos," seru Keil menolak tegas.
"Benar, Jennie akan melahirkan tiga bulan lagi. Apa kau tega memisahkanku dari istri dan anakku bos?" Wajah Nico memelas. Entah kenapa meskipun hubungan mereka sudah menjadi kakak dan adik ipar, perlakuannya tidak berubah. Bos tidak membeda-bedakan status dirinya.
"Ayolah bos, jangan memisahkanku dari istriku. Aku tidak bisa hidup tanpa mereka," sambar Daniel memohon.
Lagi, Xavier menghela napas berat, waktunya terbuang cukup banyak hanya untuk mengurusi ketiga anak buahnya yang saat ini benar-benar tidak bisa diandalkan. Ia teringat akan misi mereka yang gagal beberapa bulan lalu. Hanya karena melihat darah, konsentrasi ketiga anak buahnya terpecah sehingga kelompok mereka nyaris meledak bersama dengan kapal.
Langkah Jack terhenti saat sudah memasuki ruangan. Alisnya mengernyit melihat wajah memohon dan wajah pias Nico, Keil serta Daniel. Jack terkekeh, kali ini lagi-lagi mereka gagal. Itu sebabnya bos nampak marah dan kesal, sementara ketiganya nampak memohon-mohon cemas.
Ekor mata Xavier melirik ke arah Jack yang baru saja datang. Anak buahnya yang satu itu sedang disibukkan dengan bayi keduanya karena Millie baru saja melahirkan satu minggu yang lalu.
"Jack, kau awasi mereka. Aku pusing lama-lama berada disini." Xavier beranjak dari duduknya kemudian berlalu dari sana dengan perasaan kesal.
Setelah kepergian bos, Jack kembali terkekeh. Sungguh tidak habis pikir, mereka bertiga begitu jijik dengan darah.
"Jangan dirasakan, kalian harus tahan napas. Bagaimana bisa kita melakukan misi jika kalian saja selalu mual dan muntah sehabis menembak," ujar Jack mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Disaat mereka membabi buta menembaki musuh, justru ia dan bos harus bingung karena mereka bertiga lemas seketika dan muntah-muntah.
Nico menghela napas, ia benar-benar tidak berselera melihat darah. "Kau lihat Jack, ini menjijikan sekali."
"Aku benar-benar mual." Daniel yang tidak tahan lagi menghirup aroma darah, bangkit dari duduknya dan meluncur ke dalam kamar mandi. Ia benar-benar memuntahkan seluruh isi perutnya setelah ia mencoba menahan selama satu jam saat di depan bos.
"Oh, God. Kapan penderitaan kita akan berakhir." Keil menggerutu, ia kembali mengarahkan pisau ke dalam potongan tubuh hewan tersebut.
Jack tidak bisa untuk menahan tawanya, wajah Nico dan Keil benar-benar tersiksa dengan menahan napas dan juga menahan rasa mual.
"Hoeekkk.... aku tidak tahan lagi." Sama seperti Daniel, Nico berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya yang sejak tadi mengoyak.
Jack menggeleng. Kehamilan istri ketiga teman-temannya benar-benar luar bisa. Beruntung saat itu bos serta dirinya tidak harus sampai seperti itu.
Daniel keluar dari dalam kamar mandi nampak lemas, ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Pun dengan Nico, ia nyaris tidak memiliki tenaga lagi karena sejak pagi memuntahkan isi perutnya. Sementara Keil nampaknya masih belum menyerah, sedikit lagi ia akan berhasil mengeluarkan jantung itu dari dalam tubuh hewan tersebut. Jantung berhasil di genggam, namun melihat darah yang semakin tercecer membuat Keil melemparkan jantung hewan tersebut lalu berlari ke dalam kamar mandi.
"Hahahahaha....." Tawa Jack menggelegar. Sungguh nasib mereka malang sekali.
__ADS_1
Bos, sepertinya kau harus lebih bersabar lagi.
Selama 6 bulan ini, Jack dan bos turun tangan ke lokasi penyerangan dan meliburkan ketiga anggota yang tengah mabuk di masa kehamilan istri-istri mereka. Bos serta dirinya memaklumi hal itu, meskipun kerap kali bos terpancing emosi dan berakhir kekesalan karena tetap saja ketiganya masih harus merasakan mual-mual jika berhadapan dengan darah.
***
Setelah perjuangan yang cukup panjang, Nico dan Daniel berhasil mengeluarkan jantung hewan seperti Keil dan hal itu merupakan kemajuan yang baik. Setidaknya mereka tidak jatuh pingsan saat harus dihadapkan dengan aroma darah yang menjijikan. Kini mereka kembali dari Markas menuju Mansion Utama. Malam ini mereka akan mengadakan pesta barbeque dan mengundang Keil juga Daniel beserta istri-istri mereka. Emely dan Ashley sudah lebih dulu berada di Mansion Utama di antar oleh beberapa anak buah.
Kehamilan Emely sudah memasuki usia 9 bulan tetapi terlihat sangat bersemangat meskipun harus membawa perut besarnya itu.
"Kak Emely, kapan jadwalmu akan melahirkan?" Jennifer mengusap perut besar Emely. Ia nampak semangat karena bayi di dalam kandungan Emely bergerak begitu aktif.
Emely tersenyum. Bayinya menendang kesana kemari ketika Jennifer berulang kali mengusapnya. "Perkiraannya satu Minggu lagi," jawabnya. "Perutmu dan juga Ashley sudah sangat besar. Apa jenis kelaminnya benar-benar laki-laki?"
Jennifer dan Ashley yang duduk di antara Emely mengangguk serentak. "Iya, jenis kelamin bayiku laki-laki. Dia juga aktif sekali menendang," sahut Jennifer.
"Setelah kemarin dia bersembunyi akhirnya saat beberapa hari yang lalu aku sudah bisa melihat jenis kelamin bayiku, dia sama seperti bayi kalian laki-laki," seru Ashley. Dua bulan yang lalu bayinya masih malu-malu untuk menunjukkan jenis kelaminnya, namun beberapa hari yang lalu baik dirinya dan juga Daniel baru mengetahui jika jenis kelamin bayi mereka adalah laki-laki. Suaminya itu benar-benar sangat senang karena Daniel memang menginginkan bayi pertama mereka laki-laki.
"Waahh..." Emely dan Jennifer menyahut serentak. "Jika sudah besar mereka pasti bermain bersama," sambung Emely.
"Sudah pasti, dan kita akan dibuat pusing dengan kenakalan mereka." Ashley memutar bola matanya malas. Jika mengingat sikap Daniel yang menyebalkan dan selalu tebar pesona, ia tidak ingin sifat itu menurut kepada putranya.
"Kau benar. Aku tidak bisa membayangkan jika putraku akan menyebalkan seperti-"
"Siapa yang menyebalkan My Queen?" Perkataan Jennifer terputus karena Nico menyelanya. Entah sejak kapan, Nico sudah berjalan ke arah istrinya.
"Kau sudah datang?" Jennifer menyambut dengan senyuman dan mengalihkan pembicaraan. Tidak mungkin memberitahu jika yang menyebalkan adalah suaminya.
Sama seperti Nico, Keil dan Daniel mengecup kening istri-istri mereka, lalu segera mendudukkan tubuhnya di sofa. Sementara Xavier dan Jack juga sudah menghampiri istri masing-masing.
"Tidak ada, hanya berbicara tentang jenis kelamin bayi kami."
Nico mengangguk saja, ia mengambil beberapa biskuit lagi, sebelum kemudian membantu menata makanan serta yang lainnya di atas meja. Tentu Keil dan Daniel juga turut bergerak kesana kemari. Meletakkan piring dan gelas kosong di meja. Hingga pukul 6 semuanya sudah tertata rapi, mereka mendudukkan diri di masing-masing kursi dengan meja persegi panjang.
Semenjak hamil napsu makan Jennifer begitu besar, ia tidak akan segan untuk makan apapun. Tetapi tubuhnya tetap langsing, hanya perutnya saja yang membesar. Kadang kala Jennifer mengalami masa mengidam, Nico menjadi suami siaga dengan menurutinya dan malam ini ia menginginkan sesuatu ketika melihat sang kakak sedang menyuapi kakak iparnya dengan mesra.
"Kak Vie..."
"Hem..." Xavier hanya menyahuti panggilan adiknya tanpa menolehkan kepala. Ia terlalu sibuk menyuapi istri tercinta.
Jennifer tepat berada di hadapan kakak dan kakak iparnya sehingga ia bisa begitu jelas melihat mereka saling suap-menyuap dengan mesra.
"Apa kakak akan memenuhi keinginanku yang sedang mengidam?"
"Katakan kau ingin apa? Aku akan membelikannya," sahut Xavier menoleh singkat ke arah adiknya itu. Ia sudah terbiasa menuruti keinginan adiknya saat mengidam ketika mereka menginap di Mansion Utama. Dan Elleana tidak pernah merasa keberatan jika suaminya begitu memanjakan adik iparnya.
"Tapi kakak berjanji harus menurutinya?!" Jennifer menekankan perkataannya. Karena ia tidak yakin kakaknya itu benar-benar akan menyanggupinya.
Xavier menghela napas lalu menoleh kepada adiknya. "Iya, baiklah. Katakan saja."
"Hemm, aku...." Jennifer bahkan mengigit bibir bawahnya karena ragu akan keinginannya itu. "A-aku ingin kakak menyuapi Nico dan Nico menyuapi kakak, seperti yang baru saja kak Vie dan kak Elle lakukan." Jennifer tersenyum mengatakannya tetapi tetap berhati-hati dalam tutur katanya.
Prang
__ADS_1
Garpu yang di genggam oleh Xavier jatuh begitu saja di atas piring ketika mendengar keinginan adik tersayangnya. Dan Nico harus terbatuk-batuk lantaran kunyahan daging yang masuk ke dalam tenggorokannya gagal meluncur.
"Astaga My Queen, kenapa kau menginginkan hal seperti itu?" Nico gemas sendiri dengan istrinya. Sedangkan yang lain dibuat tidak percaya dengan mulut yang menganga.
Xavier memberikan tatapan datar kepada adiknya itu. Sorot matanya sudah menunjukan penolakan tegas. "Tidak!" Benar saja, Xavier menolak dengan setegas-tegasnya.
"Kak, please...." Namun sorot mata Jennifer begitu penuh permohonan. "Demi bayiku dan keponakan kakak."
"Hubby, tidak apa-apa. Ini keinginan keponakan kita." Elleana berbisik di telinga Xavier.
"Tapi Sweety. Dia ingin aku menyuapi Nico. Apa kau tidak merasa diduakan olehku?" Xavier beralasan demikian. Tentu saja harga dirinya akan terjatuh jika melakukan hal itu.
"Oh, astaga...." Elleana terkekeh, ia tidak menyangka akan ucapan suaminya. "Tenang saja, aku percaya denganmu. Hubby dan Nico tidak mungkin memiliki hubungan."
"Sweety...." Xavier yang gemas karena justru istrinya menggoda dirinya mencubit kedua pipi Elleana.
"Kak...." Lagi-lagi Jennifer memohon.
"My Queen, biar aku disuapi olehmu dan aku menyuapimu. Oke?" Nico membujuk istrinya agar melupakan keinginannya itu. Tidak mungkin bosnya akan melakukan seperti itu, ia sangat mengenal bosnya.
"Tapi...."
"Ya, baiklah," sela Xavier memotong hingga membuat Nico dan Jennifer menoleh bersamaan. "Aku akan melakukan keinginanmu Jenn. Apa kau puas hm?"
"Benarkah kak?" Senyum Jennifer mengembang.
"Dan kau Nico, kemarilah. Kau harus menyuapiku dengan benar." Xavier beranjak berdiri, ia kemudian duduk di kursi yang masih kosong.
Nico menurut, walaupun sebenarnya ia enggan melakukannya karena melihat tatapan membunuh bosnya. "Bos, kau yakin?" bisiknya setelah berhasil mendudukkan dirinya bersisian dengan bos.
"Diam dan lakukan dengan cepat!" sahut Xavier.
Semuanya nampak tersenyum, baru kali ini mereka disuguhkan pemandangan seperti ini. Dan bahkan Daniel ingin menertawakan bos serta Nico jika saja ia tidak memikirkan nasibnya.
Xavier mengambil potongan daging pertama, lalu menyodorkan ke hadapan Nico. "Cepat buka mulutmu!"
"Iya bos." Mau tidak mau Nico membuka mulutnya dan potongan daging itu tiba-tiba terasa hambar. Nico mengunyah dengan sangat terpaksa, akan tetapi menyelipkan senyuman ketika Jennifer bersorak senang. "Giliranku bos." Dan Nico menancapkan potong daging pada garpunya, lalu menyodorkan tepat di mulut bos.
Xavier membuka mulutnya dan seketika daging itu meluncur ke dalam mulut. Dengan malas ia menguyah hingga menjadi potongan-potongan kecil lalu menelan dengan susah payah. Jika pada saat Elleana yang menyuapi dagingnya begitu terasa gurih dan lezat, tetapi saat di suapi oleh Nico justru terasa sangat pahit.
"Waahh, kalian benar-benar pasangan yang serasi." Jennifer bertepuk tangan. Entah kenapa ia sangat puas melihat wajah kakak dan suaminya yang terguncang. Xavier mengabaikan ucapan Jennifer yang menggoda dirinya, ia kembali pada tempat duduknya semula.
"Nic, apa kau juga ingin disuapi olehku?!" seru Jack antuasias.
"Shittt! Diam kau Jack!" Tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Nico.
"Hahahahaha......" Semua tergelak geli.
See you next bonus chapter
...Yang masih berkenan bisa like, vote dan jangan lupa komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...