Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Pemeran utama dan pemeran figuran


__ADS_3

Matahari menyembul dari peredarannya dan mengintip melalui celah tirai yang dibiarkan terbuka. Daniel mengerjapkan kedua matanya dan perlahan kelopak matanya terpisah. Baru kali ini ia merasakan tubuhnya benar-benar segar, apa karena melakukan penyatuan tubuh sehingga tubuhnya menjadi lebih rileks dan ringan. Daniel mencoba beranjak untuk duduk, dilihatnya Ashley yang masih tertidur pulas, salahnya karena tidak membiarkan wanita itu untuk beristirahat semalaman.


Sudut bibir Daniel membentuk sebuah lengkungan, ternyata miliknya yang bersarang masuk ke dalam lubang wanita tidak begitu menjijikan, terlebih lagi wanita itu belum terjamah oleh pria bajingan seperti dirinya. Dan kemudian sorot mata Daniel menatap datar kepada bercak darah yang membekas di seprei tempat tidurnya. Entah ia harus berbangga diri atau tidak karena berhasil merenggut kesucian seorang wanita, mengingat wanita-wanita yang selama ini ia kencani sudah tidak perawan lagi. Sebab itu ia tidak ingin miliknya yang berharga masuk ke sarang yang sudah dimasuki oleh beberapa hewan buas. No, ia dan juga kedua teman-temannya itu tidak membiarkan senjata pamungkas mereka terkontaminasi oleh sarang beracun. Tidak semudah itu ferguso, hohoho.


Puas memandangi wajah Ashley, Daniel beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Inginnya ia mengulangi lagi kegiatan panas itu tetapi ia memiliki janji dengan kedua teman-temannya. Suara shower dari dalam kamar mandi menyelinap di telinga Ashley, hingga kedua mata wanita itu terbuka sempurna. Ashley terkesiap, ia yang terkejut tiba-tiba beranjak duduk dan memekik kesakitan karena bagian intinya terasa sangat sakit. Ternyata tadi malam bukanlah mimpi, kini ia sama saja seperti wanita kotor yang menjajakan tubuhnya demi bertahan untuk hidup.


Pintu kamar mandi yang terbuka itu membuat Ashley menoleh ke arah sana. Kedua manik matanya tidak bisa menutupi dirinya yang terperangah melihat tubuh kekar dan perut Daniel yang membentuk kotak-kotak. Ahh, benar-benar pemandangan yang sangat indah.


"Apa yang kau lihat?" Suara Daniel mengejutkan Ashley yang masih terpana memandangi tubuh Daniel yang indah itu.


"Ti-tidak ada...." Ashley memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Benar-benar memalukan, runtuknya dalam hati.


Daniel tidak mengambil pusing, tangan kirinya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Ia melangkah menuju walk ini closet dan membiarkan pintunya terbuka sehingga dari posisi tempat tidur, Ashley dapat melihat Daniel melepaskan handuk yang melilit di pinggang hingga menampilkan tubuh polos pria itu, sontak saja membuat Ashley menundukkan pandangannya.


Benar-benar tidak tau malu.


Namun Ashley kembali mengintip Daniel di dalam sana, ia bernapas lega karena pria itu sudah mengenakan pakaian lengkap. Daniel keluar dari walk on closet dan mengambil dompet yang tergeletak di atas nakas, lalu mengeluarkan black card dan meletakkannya di atas tempat tidur.


"Gunakan kartu ini untuk membeli semua keperluanmu," ucapnya menatap Ashley yang masih berdiam diri menutupi seluruh tubuhnya dengan selembar selimut. Padahal tanpa di tutupi, Daniel sudah melihat seluruh tubuhnya bahkan menyentuh dan menikmatinya.


"Terima kasih tuan....." tutur Ashley lembut.


"Daniel, panggil aku Daniel." Daniel memprotes, ia lebih suka jika wanita itu memanggil namanya saja ketimbang memanggil dirinya tuan, terkesan lebih tua untuknya.


"I-iya, terima kasih Da... Daniel." Ashley belum terbiasa berbicara normal dengan pria yang menurutnya masih asing itu.


"Hem...." Daniel mengangguk. "Seseorang akan menemanimu. Kau harus sudah kembali sebelum aku datang, jadi jangan pernah berpikir untuk lari dariku. Mengerti?" imbuhnya memperingati wanita itu. Ashley mengangguki semua perkataan Daniel, lagi pula ia akan lari kemana? Ia tidak mengenal seluk beluk Kota London.


Begitu Ashley mengiyakannya dan tidak ada hal lainnya yang perlu dibicarakan lagi, Daniel berlalu dari kamar setelah berhasil meyambar kunci mobilnya. Ashley menatap punggung Daniel yang perlahan lenyap dari pandangannya. Wanita itu tidak bergegas ke kamar mandi, ia memandangi black card yang diberikan oleh Daniel tanpa berniat untuk menyentuhnya.


Ashley kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia menutup seluruh tubuhnya hingga menutupi kepalanya dengan selimut. Sekarang sudah tidak ada lagi yang harus ia jaga, semua miliknya sudah hilang dan keperawanan sudah dirampas oleh pria asing itu. Tidak memiliki tujuan pergi, sehingga ia harus membalas kebaikan Daniel meski menggunakan tubuhnya.



***


Mobil Daniel terparkir tepat di depan Markas. Ia mendapatkan laporan dari Keil jika data-data mengenai Ashley sudah mereka dapatkan. Dengan tergesa-gesa Daniel memasuki ruangan kerja dimana terdapat Keil serta Nico di dalamnya.


"Kau benar-benar keterlaluan, menyuruh kami mencari tau informasi wanita itu, sementara kau asik bercinta dengannya!" Nico yang melihat Daniel baru saja memasuki ruangan memaki temannya itu.


"Sorry, aku benar-benar tidak bisa menahannya." Daniel terkekeh, benar-benar tidak memiliki perasaan bersalah di wajahnya.


"Bajingan!" Tangan Nico mengapit leher Daniel hingga membuat Daniel hanya pasrah, membiarkan Nico melampiaskan kekesalannya padanya. "Apa kau tau-"

__ADS_1


"Aku tidak tau...." sela Daniel sebelum Nico menyelesaikan kalimatnya.


"Aku belum selesai bicara, bodoh!" Nico memukul kepala Daniel. Benar-benar kesal setengah mati kepada temannya yang satu itu. Lagi-lagi Daniel hanya pasrah sembari terkekeh. "Karena kau, aku tidak bisa bertemu dengan Nona Jennie tadi malam." Benar, niatnya tadi malam adalah menemui Nona Jennie di perusahaan dan memberikan suprise jika ia sudah kembali.


"Aku sudah minta maaf, kenapa kau masih memarahiku?" gerutu Daniel merasa lengan Nico terlalu kuat mengapit lehernya. Pandangannya kemudian beralih pada Kiel yang sibuk memainkan ponsel, sudah pasti sibuk bertukar pesan dengan Emely.


"Kau pantas mendapatkannya. Karena kau juga, aku gagal berkencan dengan Eme-ku." Keil mengerti akan tatapan Daniel. Tidak mungkin ia membela Daniel karena dirinya juga kesal lantaran Daniel menggagalkan rencananya dengan Emely.


"Heh, jadi kalian kompak ingin membalas dendam padaku?!" Begitu tidak percaya dengan kedua sahabatnya, padahal ia baru kali ini tidak ikut andil dalam mencari informasi mengenai seseorang. "Lepaskan bodoh! Kau ingin membunuhku ya?!" hardiknya kepada Nico saat lengan Nico membuatnya semakin kesulitan bernapas.


"Kalau bisa kulakukan, aku sudah membunuhmu!" Nico melepaskan Daniel, seketika itu pula Daniel dapat bernapas dengan lega kembali. Ia merenggangkan otot-otot lehernya yang nyaris tercekik oleh Nico.


"Ck, coba saja." Daniel justru malah menantang sahabatnya itu. Namun Nico terlalu malas menanggapi tantangan Daniel. "Kalau kau iri denganku, kau bisa melakukannya dengan Nona Jennie." Entah itu sebenarnya sebuah saran atau ejekan, yang jelas Nico benar-benar kesal dengan Daniel.


"Kau ingin melihatku di penggal oleh bos, heh?!" Nico menendang kaki Daniel, merasa tidak terima dengan ucapan Daniel yang asal bicara itu.


"Kau hanya akan kehilangan kepala saja, tidak kehilangan nyawamu." Sungguh begitu tidak ada beban saat mengatakannya. Daniel benar-benar sahabat terlucknut.


Nico menatap tajam Daniel. "Jika aku memotong tubuhmu menjadi dua bagian, kau hanya tidak bisa berjalan atau hanya tidak bernapas saja?!"


Daniel terkekeh, ia dapat melihat kekesalan di raut wajah Nico. "Tidak bernapas sudah pasti mati, bodoh!" sambar Keil mendengarkan berdebatan tidak penting antara Daniel dengan Nico.


"Kalian berdua kenapa semarah ini padaku. Jika kalian ingin bercinta, lakukan saja. Aku tidak akan mengganggu kalian!" ujar Daniel sesaat setelah berhasil mendudukkan tubuhnya di sofa panjang diikuti oleh Nico yang duduk bersisian dengan Daniel. "Dan kau Keil, kau bisa mengulanginya lagi dengan Emely," sarannya.


Paham dengan ucapan Daniel, Keil mendecakan lidah. "Aku bahkan tidak begitu ingat saat melakukannya."


"Bicara memang mudah tapi lihatlah, aku belum bisa menemukan dimana pria itu menyembunyikan ibunya." Keil nyaris frustasi karena gagal membantu Emely.


"Ck, pria itu bukan pria biasa seperti yang kita ketahui." Keil membenarkan ucapan Daniel.


"Dan kau Nic, apa kau tidak bisa memiliki cara lain untuk lebih dekat dengan Nona Jennie? Kau terlihat sangat lamban, dia bisa saja menjadi milik pria itu seutuhnya."


"Jaga bicaramu, berengsek. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat, Nona Jennie akan meninggalkan kekasihnya."


"Wow... kau benar-benar memiliki kartu AS pria itu," puji Daniel heboh seorang diri.


"Hem...." Nico mengangguk saja. Ia sudah memiliki strategi untuk memisahkan Nona Jennie dengan Billy, hanya menunggu waktu saja.


Keil tiba-tiba terkekeh hingga mengundang tatapan Nico serta Daniel. "Kenapa kau tertawa? Apa kau sudah tidak waras?" seru Daniel menggelengkan kepala.


"Kau benar-benar lucu, Daniel. Apa kau sadar, kau baru saja berhasil bercinta, tetapi dalam semalam saja kau seperti sudah ahli dalam pakar cinta."


Daniel serta Nico terdiam, mencoba mencerna ucapan Keil. Sesaat kemudian Daniel serta Nico tergelak. "Benar juga. Kenapa aku berubah hanya dalam semalam saja. Mungkin kekuatan berhubungan sekss."

__ADS_1


Keil dan Nico saling pandang dan menatap jijik pada Daniel. "Lalu kami harus mengatakan jika kau luar biasa?!"


"Tidak perlu memujiku, aku memang hebat dalam urusan ranjang."


"Terserah!!!!!" ujar Keil dan Nico bersamaan. Mereka benar-benar malas menanggapi Daniel yang besar kepala itu.


"Ini data-data tentang wanitamu." Keil melemparkan beberapa lembar kertas yang berisikan informasi mengenai Ashley.


Daniel menyambar satu persatu secarik kertas tersebut, ia mulai membaca dengan seksama. "Ashley Hartel," gumamnya. "Jadi dia berasal dari keluarga Hartel, pemilik perusahaan besar minuman bersoda. Tapi kenapa perusahaannya bisa failed?"


"Tidak failed, hanya pindah kepemilikan saja. Pemilik yang baru adalah David Carter, mantan kekasih dari wanita itu." Nico menjelaskan apa yang ia ketahui.


"Hem...." Daniel mengangguk. "Jadi pengkhianatan cinta? haha menarik."


"Dimana hal menariknya?" seru Keil serta Nico bersamaan sembari melihat ke arah Daniel dengan tatapan penuh keheranan.


"Kalian tidak akan mengerti, hanya aku pemeran utamanya disini." Daniel berbangga diri.


"Terserah kau saja Daniel, terserah! hanya kau pemeran utamanya, sedangkan kami berdua hanya pemeran figuran, PUAS!!!" Nico dengan wajah merah padamnya. Tidak jauh berbeda dengan wajah Keil yang juga serupa dengan Nico, hanya saja ia malas menanggapi Daniel, sahabat lucknut-nya itu.


Sangat puas hingga membuat Daniel tergelak nyaris terjungkal-jungkal. Rasakan pembalasannya karena sudah berani-beraninya membuat dirinya mengeluarkan uang yang begitu banyak.


.


.


To be continue


.


.


Babang Keil



Babang Nico



Babang Daniel


__ADS_1


Like, vote, follow dan komentar 💕


Always be happy 🌷


__ADS_2