
Dark room merupakan salah satu ruangan pertemuan yang dilapisi kedap suara. Tidak jarang Black Lion menyiksa beberapa orang disana jika negosiasi tidak berjalan dengan lancar. Dan malam ini, mereka berhadapan dengan dua pria yang merupakan utusan dari seseorang yang ingin membawa pergi Alice pada saat itu. Seperti apa yang pernah dijanjikan oleh Nico kepada Jennifer, ia dan juga Keil serta Daniel sudah menyiapkan uang untuk membayar semua hutang keluarga Cooper.
"Kami akan membebaskan Nona Alice dan menerima uang ini, tetapi kami minta untuk bertukar."
"Apa maksud kalian?" tanya Nico. Baik dirinya, Keil juga Daniel memandangi ketiga pria di hadapan mereka. Ketiganya tidak pernah menduga jika dua pria itu akan mengajukan syarat.
"Ya, Tuan kami menginginkan Nona yang saat itu membantu Nona Alice."
Nico, Keil dan Daniel mengerutkan kening mereka. Teman dari Nona Alice pada saat itu? Ingatan Nico membawa pada kejadian silam, pada saat Alice akan dibawa oleh mereka dan sempat dihalangi oleh Nona Jennie.
Keparat!
Nico paham, mereka ternyata menginginkan Nona Jennie-nya, kekasihnya.
Brrakk
Tentu saja Nico menjadi murka, ia menggebrak meja dengan keras lantaran tidak terima dengan ucapan mereka.
"APA KALIAN INGIN MATI, HAH?!" Darah Nico tiba-tiba mendidih. Ingin rasanya ia menghabisi kedua pria di depannya itu.
"Kedatangan kami bukan untuk menerima kematian, tetapi menyampaikan pesan Tuan kami yang ingin bertukar dengan teman Nona Alice."
"Jangan pernah bermimpi untuk menginginkan Nona Jennie!" Rahang Nico mengeras, nampak urat-urat tangan karena Nico mengepal kedua tangannya cukup erat, bahkan urat di sekitar wajahnya nampak menonjol disana.
Bug
"BAJINGAN!!!"
Satu pukulan mendarat di wajah salah satu dari mereka oleh Daniel. Tidak hanya Nico, bahkan Keil serta Daniel juga tersulut emosi karena berani-beraninya mereka menginginkan Nona Jennie.
"BANGUN BAJINGAN!" Keil berteriak, ia kemudian menarik kerah pakaian salah satu dari mereka. Wajah keduanya nampak biasa saja, tidak terdapat guratan ketakutan disana. Mungkin kedua pria itu sudah mengetahui bahwa nyawa mereka akan melayang pada detik itu juga. "Katakan pada Tuan kalian bahwa dia menginginkan wanita yang salah!" serunya.
Bug
Bug
Kali ini Keil meninju wajah pria yang di cengkram kuat olehnya.
Bug
Bug
Hal yang sama dilakukan oleh Nico, berani-beraninya pria keparat itu menginginkan wanitanya.
Kedua pria yang baru saja mendapatkan bogeman mentah di seluruh wajahnya tersungkur di lantai yang dingin. Mereka berdua mendongak menatap ketiga pria berdiri di hadapan mereka dengan wajah mengerikan serta aura membunuh.
"Ini gawat. Habislah kita," batin kedua pria itu.
"Seharusnya kalian pergi dari sini dan terima uangnya, tetapi sepertinya kalian lebih memilih mati dari pada hidup dengan uang yang kami berikan!" seru Daniel. Siapapun yang sudah berani-beraninya mengajukan syarat yang tidak masuk akal jangan harap dapat keluar dari tempat ini.
Nico berteriak memanggil dua anak buah mereka yang berjaga di depan pintu.
"Ada apa Bos Nico?"
"Pastikan tidak ada yang orang lain yang berada di sekitar dark room!" perintahnya.
__ADS_1
"Baik." Dua anak buah sudah paham. Jika salah satu dari bos mereka mengatakan hal demikian, sudah pasti ada permainan menarik di dalam dark room. Kemudian mereka berdua kembali berjaga di depan pintu, memblokir lantai tiga itu untuk tidak disambangi oleh siapapun.
Kiel, Nico serta Daniel saling bersitatap, di kepala mereka dipenuhi akan rencana licik. Benar saja saat ini Nico sudah mengeluarkan sesuatu, tiga buah pisau di dalam kain hitam itu. Kemudian memberikan masing-masing pisau kesayangan kepada Kiel juga Daniel.
Nico dan Keil mendekati kedua pria yang kini menjadi sandera, kemudian berjongkok di hadapan dua pria itu.
"Apa yang ingin kalian lakukan?" Keringat bercucuran memenuhi kening mereka. Bagaimana tidak, pisau runcing mengarah pada mereka, mereka bisa melihat kilatan ketajaman pisau tersebut jika mengenai kulit.
Nico juga Keil hanya tersenyum devil, tidak berniat menjawab pertanyaan mereka.
Srrett
"Aaarrghhh....." Keduanya berteriak lantaran pisau mahal milik Kiel juga Nico menggores kulit wajah mereka.
"Ini baru pemanasan." Keil terkekeh, membuat kedua sandera itu ingin mengumpat lantaran kesal sekaligus menahan rasa sakit pada kulitnya yang kini sudah mengeluarkan darah segar.
Srrett
Lagi, Nico merobek kulit tangan salah satu dari mereka.
Srrett
Keil juga kembali merobek lebih dalam kulit salah satu sandera di hadapannya. Bisa dilihat mereka cukup kuat, bertahan dari rasa sakit dengan menggigit bibir mereka.
"Hahaha...." Puas rasanya. Dan Daniel yang sejak tadi hanya menonton ingin juga mencoba bermain-main. "Giliranku." Kemudian ia mendekat, Keil menyingkir dari sana.
Daniel mengasah pisau miliknya, lalu berjongkok. "Berikan tanganmu," ucapnya dengan seringai senyum.
Tentu saja pria itu menolak. Mana mungkin dengan suka rela menyerahkan tangannya.
"Ck, kau membuatku semakin kesal!" Tidak peduli, Daniel menarik tangan itu dengan paksa, meskipun pemilik tangan itu berulang kali berupaya menarik tangannya.
"Aargghh....." Kali ini suara teriakan itu lebih keras dari sebelumnya karena Daniel telah memotong jari telunjuk pria itu.
"Uupsss sorry, tidak sengaja." Dengan tanpa beban Daniel menunjukkan jari yang sudah terpotong dipenuhi darah, lalu membuangnya dengan asal.
Melihat tangan temannya yang terputus ia hanya bisa meringsut ketakutan. Benar-benar tinggal menunggu ajal mereka.
"Biarkan aku mencobanya." Keil memposisikan diri di samping Daniel, lebih tepatnya di hadapan pria yang meringsut ketakutan itu. Nico sedikit menyingkirkan, membiarkan Kiel mengambil alih.
"Giliranku yang akan mati..." Pria itu hanya mampu membantin. Tidak ada jalan untuk melarikan diri. Terlebih lagi dengan paksa, Keil juga menarik tangan pria tersebut.
Sreek
Sreek
"Aargghhhh....." Tidak hanya satu, Keil memotong jari tangan pria itu dua sekaligus, lalu membuangnya tepat di depannya.
Nico tersenyum puas, tetapi ia tentunya tidak lega jika tidak menghabisi mereka dengan tangannya sendiri. "Menyingkirlah, biarkan aku yang menghabisi mereka berdua."
Kiel dan Daniel mengangguk, kemudian saling beranjak bersamaan. Membiarkan Nico yang menghabiskan kedua pria itu untuk melampiaskan amarah karena telah lancang mengajukan syarat menukar Nona Jennie.
"Jangan salahkan kami. Salahkan kalian karena telah mengantarkan nyawa kemari." Nico tersenyum menyeringai, terlihat sangat menyeramkan di mata kedua pria itu.
"Kami hanya menjalankan tugas, jadi mohon lepaskan kami." Tapi percuma saja memohon karena Black Lion tidak akan melepaskan lawannya begitu saja.
Nico tidak pedulikan racauan mereka. Ia mengasah pisau kesayangannya itu pada telapak tangannya. Sebelum kemudian mencodongkan tubuhnya ke arah mereka.
__ADS_1
Jleb
Pisau itu tembus menghantam perut salah satu dari mereka. Pria itu memekik, matanya membeliak, terlebih lagi Nico menarik pisaunya dan kembali menghantam di bagian perut yang lain.
Melihat tidak ada pergerakan lagi, Nico menyimpulkan jika pria yang baru saja dihantam dengan pisau miliknya sudah tidak bernyawa.
"Tidak, aku mohon lepaskan aku!" Pria itu tahu jika kini giliran dirinya.
Nico tidak peduli. Ia mendekat dan melakukan hal yang sama. Menghantamkan pisau miliknya namun kali ini tepat di jantung pria itu hingga dalam sekali hantam saja sudah membuat sanderanya itu kehilangan nyawa.
Nico, Keil dan Daniel tersenyum penuh kepuasan melihat dua pria yang tergeletak dengan berlumuran darah. Nico mengurungkan niatnya beranjak berdiri begitu mendengar suara ponsel berdering. Nico merogoh kantung celana salah satu dari mereka. Terdapat nama Tuan di layar ponselnya, lantas Nico mencoba untuk menjawab panggilan itu dan hanya diam mendengarkan.
"Kemana saja kalian?! Cepat kembali ke Croydon. Pastikan membawa uangnya! Jangan lupa dengan syarat yang ku katakan!" Tut. Seseorang di seberang sana memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.
Entah sebuah keberuntungan atau bukan, Nico mendapatkan sebuah petunjuk. Kota Croydon hanya berjarak satu jam 10 menit jika ditempuh dari Kota London. Tetapi sesaat kemudian ia menjadi kesal diingatkan akan syarat untuk menukar seseorang yang bernama Alice dengan Nona Jennie.
"Siapa?" Daniel bertanya begitu Nico sudah berdiri dengan menggenggam ponsel itu.
"Apa kalian percaya jika aku mengatakan yang baru saja menelepon adalah Jerome?"
"Apa kau yakin?" Keil memastikan, bisa saja Nico salah mengenali suara.
"Tidak, aku masih mengenali suara Jerome."
"Bagus, sebuah petunjuk. Simpan ponsel itu aku akan membajak ponsel itu." Daniel begitu antusias. Mereka mendapatkan angin segar tanpa harus bersusah payah mencari jejak Jerome.
Nico dan Keil mengangguk. Kemudian Keil berteriak memanggil dua anak buah, dengan sigap mereka sudah berada di hadapan ketiga bos.
"Bersihkan tempat ini dan sterilkan!" perintah Keil
"Baik, bos Keil." Salah satu dari memanggil beberapa anak buah lainnya untuk membawa jenazah dan membuangnya ke hutan area Markas.
Sebelum meninggalkan dark room, baik Nico, Keil serta Daniel membersihkan tangan mereka terlebih dahulu di wastafel yang berada di dalam sana.
***
Puas bermain-main dengan darah. Ketiganya kini berjalan memasuki ruangan mereka di lantai dua, dinding kaca besar itu menampakkan pemandangan di lantai dansa, dimana wanita-wanita seksi melenggokkan tubuhnya di bawah sana, menempel dengan pria-pria yang juga menari dengan sensual.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Daniel yang menyesap rokok miliknya dengan malas berdiri untuk membukakan pintu itu.
Saat pintu terbuka tampaklah tiga wanita cantik dengan pakaian seksi dan menggoda hasratnya. Salah satu wanita itu mendorong Daniel memasuki ruangan dengan sensual, dua wanita lainnya segera mengunci pintu ruangan itu.
"Shiitt!!"
Tentu saja itu adalah godaan untuknya. Apa malam ini ia akan bersenang-senang dengan wanita kesayangannya ataukah menahan hasratnya? Nico dan Keil menatap tajam meskipun mereka mengakui jika ketiga wanita itu benar-benar membangkitkan sesuatu di balik celana mereka yang kian sesak.
.
.
To be continue
.
.
Jangan lupa like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih.
__ADS_1
Biar lebih akrab follow me on Instagram @rantyyoona
Always be happy 🌷