
Ruangan minim pencahayaan itu menampakkan beberapa peralatan otomotif dan berbagai jenis lainnya. Terdapat pula benda-benda tajam di dalam ruangan tersebut. Wajah dua pria yang nampak kesal dan menahan amarah itu lebih kontras menjadi pusat perhatian beberapa anak buah disana. Berulang kali Jerome mengumpat kepada beberapa anak buahnya yang tidak berhasil menangkap siapa seseorang yang meletakkan tas berisi uang tersebut, padahal selisih kedatangan mereka hanya beberapa detik saja, akan tetapi seseorang yang meletakkan tas itu memiliki kemampuan berlari yang cukup baik.
"Sudahlah, bukankah kita sudah tau jika yang meletakkan uang ini adalah salah satu anggota Black Lion." Jonas tidak ingin mengambil pusing. Baginya hanya buang-buang waktu saja.
"Tapi sialan. Aku tidak bisa terima mereka menolak pertukaran yang ku buat." Jerome mendengkus kesal. Sebelumnya ia sudah membayangkan Nona cantik itu berada di bawah kendalinya.
"Lagi pula kau benar-benar tidak waras kakak, kau menginginkan wanita yang merupakan adik dari ketua Black Lion."
Jerome berdecih. "Kau mengatakan apa? Aku tidak waras? Justru kau yang tidak waras! Untuk apa mencari tau tentang mantan kekasih yang sudah kau tipu habis-habisan itu." Sembari menusuk berulang kali dada adik sepupunya itu dengan kasar menggunakan jari telunjuknya.
David berdecak, ternyata tidak ada yang bisa ia sembunyikan dari Jerome. "Wanita itu menjadi semakin cantik. Lagi pula pria yang menebusnya benar-benar membuatku kesal."
"Kau ingin mengambilnya kembali, begitu?" Tepat. Jonas dapat menelusup jalan pikiran David.
"Ya, dengan begitu pria sombong itu akan menyesal karena sudah meremehkanku." David nampaknya memiliki dendam kepada pria yang sudah menebus mantan kekasihnya itu. Terlebih lagi perkataan pria itu menurunkan harga dirinya di hadapan Ashley.
"Ah, sudahlah terserah kau saja. Jangan pernah membuat kebodohan. Ingat, perusahaan yang sudah kau ambil alih kini mengalami penurunan saham sebanyak 2%. Apa kau tidak bisa sekali saja berguna, heh!" Sarkastik. Seperti itulah perkataan Jerome yang angkuh. Tidak memandang dengan siapa ia berhadapan, walaupun dengan adik sepupunya sendiri.
"Sial. Selama aku sudah berguna. Aku berhasil mengambil alih perusahaan Ashmore Group. Kau justru yang bodoh selalu tergesa-gesa, menginginkan wilayah Black Lion hingga akhirnya mereka mengetahui rencana busukmu!" David menyunggingkan senyum meremehkan. Jika Jerome dengan gamblangnya meremehkan dirinya, ia pun juga bisa melakukan hal yang serupa.
Wajah Jerome nampak merah padam. "Kau mengajariku, heh?! Kau pikir kau siapa berani berbicara seperti itu padaku!"
"Apa kau pikir aku takut denganmu. Kau selalu meremehkanku!" seru David menantang.
Kilatan amarah pada kedua mata Jerome semakin menguar. Ia mengambil mesin bor tangan listrik yang tepat berada di atas meja sisi kirinya. "Aku bisa saja membunuhmu saat ini juga!" ancamnya kemudian.
David hanya dapat melayangkan tatapan tajam. Ia kesal setengah mati dengan Jerome, tetapi ia bisa apa? Jerome lebih di atas dirinya. "Ya, baiklah. Sorry." David mengangkat kedua tangannya. Namun Jerome masih menatap adik sepupunya itu dengan sinis.
Melihat berdebatan itu berlangsung, Jonas memijat keningnya. "Sudahlah, aku tidak memiliki banyak waktu. Kalian semakin membuatku pusing. Aku belum bisa menemukan wanita itu dan kalian justru bertengkar disini."
"Salahkan saja dia kenapa berani-beraninya denganku!" Jerome mengalah, jika Jonas dalam keadaan pusing seperti ini tidak mungkin ia berani menambah masalah baru. Kemudian Jerome meletakan kembali mesin bor listrik itu ketempat semula.
"Gil, keluarkan uangnya." Gil sejak tadi diam mengamati, mengangguk begitu Jonas memerintahkan dirinya.
Satu tas terisi penuh dengan uang yang diberikan oleh Black Lion. "Ya, setidaknya uang ini bisa menggantikan anak buahku yang sudah tewas di tangan mereka." Sudah pasti sindiran itu ditujukan kepada Jerome yang bertindak ceroboh sehingga ia harus kehilangan dua anak buah.
"Ya, aku memang ceroboh. Apa kau puas, heh?" Jerome berdecak. Sementara David tersenyum tipis, Jerome tidak akan mungkin berani dengan Jonas.
Tanpa mereka sadari sejak tadi apa yang dilakukan mereka di dalam sana, di saksikan oleh Black Lion. Hanya saja Nico, Keil serta Daniel tidak bisa mendengar percakapan mereka, karena alat itu hanya seperti cctv yang merekam sekitarnya.
***
Keesokannya harinya. Jonas tanpa yang lain masih datang kembali, ia mendapatkan laporan dari anak buahnya ketika baru akan mengunjungi sang kekasih, sehingga buru-buru Jonas datang ke tempat usaha otomotif yang seperti markas kecil untuk mereka.
Brak
__ADS_1
Jonas menendang pintu dengan kasar. Amarahnya begitu memuncak karena ingin mengetahui pria bajingan yang berani-beraninya membawa pergi istrinya itu. "Siapa dia?" tanyanya tidak sabar.
"Ini foto pria itu bos. Kami berhasil mencari tau pria yang diam-diam selalu berada di sisinya, bos." Salah satu anak buah menyodorkan beberapa lembar foto. Seketika rahang Jonas mengeras, ia meremat foto tersebut hingga tidak berbentuk lagi.
"Bajingan. Cari tau siapa pria itu?! Bunuh dia dan bawa wanita itu kembali padaku!"
"Ta-tapi bos..." Anak buahnya tergagap.
"Tapi apa, hah?!!!" Jonas semakin diliputi oleh amarah.
"Pria itu salah satu anggota Black Lion," jelasnya tertunduk takut.
Duaarr
Bagaikan ledakan bom yang mengguncang tubuh serta pendengarannya, Jonas terbungkam seperkian detik. "Keparat! Bajingan! Akan ku habisi kau!" Sungguh Jonas seperti seseorang yang sudah kehilangan akal sehat.
"Ada apa ini, heh?!" Jonas mengabaikan suara seseorang yang baru saja memasuki ruangan. Berjalan mendekat dan menepuk bahu Jonas. "Hei, ada apa denganmu?" tanyanya.
"Kau lihat saja sendiri." Kemudian Jonas memberikan salah satu foto kepada Jerome.
"Heh, Keil?" Tentu saja Jerome bingung untuk apa Jonas memiliki foto salah satu anggota Black Lion.
"Dia, pria keparat itu yang sudah membawa Emely. Pria yang di cintai oleh wanita itu adalah salah satu anggota Black Lion. Benar-benar lucu bukan?!" Jonas tersenyum masam, namun tidak menutupi amarah di sekitar wajahnya. "Seharusnya aku tidak membuang-buang waktu untuk menghabisi mereka!"
"Jangan bertindak gegabah. Mereka bukan lawan yang mudah seperti musuh kita yang lain. Selama aku mendekati mereka, mereka penuh dengan strategi licik."
"Tidak." Jerome menjadi bingung sendiri. Ia sulit menghadapi Jonas jika pria itu sudah diliputi amarah. "Aku akan membantumu membawa kembali wanita itu. Menyiksanya secara perlahan, dengan begitu kematian adikmu terbalaskan."
"Seharusnya saat itu aku langsung melenyapkan wanita jalaang itu!" Jonas sedikit menyesali kebodohannya. Untuk apa ia justru membiarkan wanita itu bebas berkeliaran, seharusnya ia mematahkan salah satu kaki wanita itu agar tidak bisa melarikan diri kemana pun.
"Ya, kau bisa melakukannya jika sudah menemukan wanita itu." Jerome berusaha menenangkan Jonas yang kian memanas.
"Kalian!!" tunjuk Jonas pada beberapa anak buah yang berada di ruangan. Mereka terkesiap dan siap menjalankan perintah. "Pergilah ke Desa Portmeirion. Singkirkan wanita tua itu. Wanita itu akan menyesal karena telah berani melarikan diri dariku!!" perintahnya dan segera di angguki oleh beberapa anak buah tersebut. Tanpa lama, mereka berlalu dari ruangan dan bergegas menuju Desa Portmeirion, dimana ibu Emely terbaring lemah di rumah sakit yang terletak di desa tersebut.
"Kita lihat saja nanti, kau akan berlutut dan menangis darah di bawah kakiku, Emely." Jonas menyunggingkan senyum Devil. Ia sungguh tidak sabar ingin menyiksa, menguliti wanita pembangkang itu.
Lamunan Jonas harus berakhir, lantaran suara dering ponselnya terdengar sangat mengganggu. Tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya, ia menjawab panggilan itu.
"Sayang, kau dimana?" Jonas mengenal pemilik suara manja itu. Siapa lagi jika bukan Reese, kekasihnya.
"Ada apa?" Jonas menyahut dengan malas.
"Apa kau tidak merindukanku sayang? Kemarilah, aku akan memuaskanmu." Dari nada bicaranya Jonas, Reese sudah dapat menebak jika kekasihnya itu tengah kesal, karena itu ia menggoda Jonas dengan suara manja dan sensual.
"Sial. Kau benar-benar membuat milikku menegak, sayang."
__ADS_1
"Hehehe....." Reese terkekeh di seberang sana.
"Baiklah, aku akan datang kesana." Baikan api yang tersiram air, kemarahan Jonas menyurut perlahan. Ia kemudian memutuskan sambungan telepon.
"Jerome, aku ada urusan. Kau tetaplah disini."
"Ya, baiklah." Sembari mengangkat kedua bahunya, Jerome paham urusan apa itu, karena ia mendengarnya cukup jelas.
Jonas buru-buru meninggalkan tempat tersebut. Mobilnya melaju membelah keramaian Kota London menuju apartemen sang kekasih. Ia sudah tidak mampu menahan gejolak yang memanas, terlebih Reese mengirimkan beberapa fotonya yang sangat seksi dengan menggunakan pakaian dalam saja.
Selang mengemudi beberapa menit. Mobil Jonas tiba di salah satu gedung tinggi. Ia turun dari mobil dan naik lift menyusuri lorong untuk mencapai kamar apartemen Reese. Begitu tiba di depan pintu, Jonas langsung masuk begitu saja karena ia sudah memiliki kode akses kamar kekasihnya.
Reese menyambut Jonas dengan senyum menggodanya, tidak lupa ia menggigit jari telunjuknya sehingga membuat Jonas semakin tidak sabar ingin melahap wanita di hadapannya itu.
Grep
Dengan tidak sabar, Jonas melahap bibir kenyal dan tebal di penuhi lisptik. Memagut dengan rakus hingga tangannya berjelajah di buah dada Reese. Reese mengerang, membiarkan Jonas bermain dengan tubuhnya yang sintal dan seksi.
Dengan bibir mereka yang masih saling bertautan, Jonas menggendong Reese dan menjatuhkannya di atas tempat tidur, sehingga tautan itu terlepas. Jonas melucuti seluruh pakaiannya, ia kemudian menarik penutup yang menutupi buah dada serta bagian bawah Reese.
Tanpa aba-aba, Jonas menggempur Reese habis-habisan, menyalurkan amarahnya melalui percintaan panasnya dengan Reese.
.
.
To be continue
.
.
Jonas dan Jerome
David
Jonas dan Reese
Yuhuuu, yuk kasih Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih banyak. Love sekebon ❤️
__ADS_1
Always be happy 🌷