Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Sahabat macam apa?


__ADS_3

Sepasang mata Nico menatap tajam pada dua sosok yang tidak diundang. Mengganggu serangan panasnya yang baru saja akan dimulai. Dengan terpaksa Nico menemui kedua sahabat laknatnya itu, membiarkan Nona Jennie berada di dalam kamar lantaran malu karena kedapati berciuman. Tapi lihatlah, justru keduanya acuh seperti tidak melihat kejadian apapun di dalam sana, duduk bersisian di sofa panjang dan tidak menghiraukan sorot mata Nico yang tajam.


"Untuk apa kalian datang kemari?" Nico membuka suara yang terkesan tidak suka.


Daniel berdecih mendengar pertanyaan Nico yang kurang ajar itu. Padahal mereka datang jauh-jauh dari Markas untuk memastikan keadaan sahabatnya serta Nona Jennie.


"Saat mendengar kau di serang kita berdua bergegas datang kemari. Apalagi Nona Jennie ada bersamamu. Kita khawatir jika Nona Jennie terluka, bos tidak akan melepaskan kita." Berbeda dengan reaksi Daniel yang kesal karena Nico tidak menyambut mereka, Kiel justru menyahut apa adanya dengan santai.


Nico paham, mereka memang memiliki rasa kepedulian dan kecemasan yang tinggi satu sama lain. "Aku dan Nona Jennie baik-baik saja," terangnya. "Tapi kalian benar-benar sialan, kenapa harus datang secepat ini, kenapa tidak satu jam lagi, heh?! Kalian tau aku sulit menemukan waktu berdua dengan kekasihku tapi karena kalian aku gagal, dasar bajingan!" sungutnya kesal. Menggebu-gebu menyuarakan isi hatinya.


"Hahahaha...." Bukan jawaban, melainkan gelak tawa Daniel juga Keil. "Memangnya waktu satu jam cukup digunakan untuk bercinta? Aku saja bisa seharian menggempur Ashley!" seloroh Daniel kemudian.


Bugh


Bantal sofa mendarat tepat sasaran mengenai wajah Daniel yang tampan itu. Pelakunya tidak lain ialah Nico yang kesal karena memanas-manasi dirinya.


"Sialan!" desisnya. Daniel melemparkan bantal sofa itu dengan asal.


"Lalu apa Nona Jennie akan berada disni sepanjang malam?" tanya Keil.


"Menurutmu? Apa kepalaku tidak akan dipenggal jika menghabiskan malam bersama dengan adik bos?" Nico mendekus kesal akan pertanyaan Keil. Memang tidak ada yang salah dengan pertanyaannya itu, akan tetapi akhir-akhir ini Nico menjadi sedikit lebih sensitif. Mungkin karena ia tidak bisa menyalurkan apa yang seharusnya disalurkan seperti biasanya.


Keil terkekeh. "Aku akan membantumu. Tidak akan memberitahu bos, aku diam," selorohnya.


"Ya, aku juga akan diam," sambar Daniel. Selama ini mereka memang menutup rapat mulutnya.


"Ck, mata dan mulut bos bukan hanya kalian," sahutnya. "Dan kalian bisa pergi dari sini! Kalian berdua sudah melihat dengan mata kepala sendiri, aku dan juga Nona Jennie baik-baik saja!"


"Kau masih ingin mengusir kami, Astaga kau ini sahabat macam apa?!" Daniel gemas sendiri dengan Nico. Hanya karena ingin berdua saja dengan Nona Jennie, ia juga Keil kembali diusir.


"Memangnya kau pikir aku sahabat yang bagaimana hah, keparat!!" seru Nico tidak terima.


"Kau sahabat menyebalkan, kau selalu marah-marah denganku!" Sepertinya Daniel mengeluarkan isi hatinya.


"Huh, terima kasih atas pujiannya."


"Itu bukan pujian, bodoh! Apa karena sedang jatuh cinta otakmu sedikit bermasalah, Nic!"


Lagi-lagi seperti biasa, Nico dan Daniel memperdebatkan sesuatu yang tidak penting. Sementara Keil hanya memijat pelipisnya, jengah setiap kali berkumpul selalu terselip perdebatan yang tidak penting.


"Nico?!!"


"Apa?!" sahut Nico kesal menoleh ke arah Keil.


"Bukan aku yang memanggilmu, bodoh!" jawab Keil mengetahui arti tatapan Nico padanya.


Salah satu alis Nico berangkat. "Oh astaga, ratuku memanggilku."


"Ck ratuku," cibir Daniel merasa geli akan panggilan Nico kepada Nona Jennie.

__ADS_1


Nico beranjak dan melesat dari ruang tamu menuju lantai atas, tidak pedulikan cibiran Daniel padanya.


"Kau dengar bukan, Keil. Ratuku katanya, kenapa tidak sekalian saja permaisuriku atau selirku. Oh gosh, aku seperti berada di kerajaan kuno." Daniel berceloteh seorang diri. Sepertinya bukan Nico yang sedikit kehilangan akal sehatnya, melainkan Daniel.


"Apa obatmu habis?" tanya Keil tiba-tiba. Sejak tadi ia hanya mendengarkan celotehan sahabatnya yang satu itu.


"Obat apa?" Daniel tidak paham apa yang ditanyakan oleh Keil. Obat apa? Dia sama sekali tidak sakit.


"Ya, kau sejak tadi bicara seorang diri. Ku pikir kau kehabisan obat."


Daniel mulai mencerna, kini otaknya kembali bekerja. "Sialan kau. Bajingan! Kau mengataiku gila, hah?!"


"Aku tidak mengataimu, kau sendiri yang mengatakan kau gila, Daniel!" Keil tergelak puas di tempat duduknya. Sementara wajah Daniel sudah merah padam menahan rasa kesal.


"Berhenti tertawa bodoh!" Sembari melemparkan bantal sofa dan mengenai perut Keil.


Entah apa yang dilakukan Nico serta Nona Jennie di dalam sana. Keil dan Daniel hanya acuh, karena Nico tidak mungkin melakukan lebih dari sekedar ciuman panas, mungkin hanya di bumbui dengan tangan yang menjalar kemana-mana.


Ponsel Daniel serta Keil berdering secara bersamaan. Mereka saling bersitatap ketika melihat nama yang menghubungi mereka adalah anak buah mereka. Kemudian Keil juga Daniel serentak menjawab panggilan tersebut.


"Ada apa?" tanya Keil serta Daniel serentak pada seseorang di seberang sana.


"Shiittt! Jangan biarkan Eme tertangkap oleh mereka! Hubungi Tom sekarang juga!" Keil mendadak panik, bahkan tidak sadar bangkit dari tempat duduknya.


"Hah, pria itu sudah gila!" Kali ini suara Daniel lebih meninggi mendengar laporan dari anak buahnya mengenai Ashely.


Sambungan telepon diputuskan secara sepihak oleh Keil dan Daniel.


"Aku juga!" sambung Daniel beranjak berdiri.


Keduanya berlari kecil mencapai pintu, bertepatan dengan Nico juga Jennifer yang baru saja menuruni anak tangga terakhir.


"Hei, kalian ingin pergi kemana?!" Nico menghentikan langkah mereka. Keil serta Daniel menoleh.


"Eme dan Joy sedang di pusat perbelanjaan. Anak buah Jonas melihatnya dan saat ini mengejar Eme."


"Shiitt, laporan yang buruk!" pekik Nico.


"Dan aku juga harus pergi menyusul Ashely. David sialan itu berusaha menahan wanitaku di Cafe."


Kening Nico berkerut dalam. "Kenapa bisa bersamaan?"


"Aku tidak tau, yang pasti aku harus segera pergi!" sahut Keil.


"Ya, kalian berhati-hatilah," ujar Nico. Berbeda dengan Jennifer yang memasang raut wajah bingung karena tidak mengetahui permasalahan yang sedang terjadi.


"Hem...." Baik Keil juga Daniel mengangguk. Sebelum kemudian berlalu menuju mobil yang terparkir di pelataran.


Namun langkah keduanya terhenti sejenak, baru mengingat jika mereka pergi bersama menggunakan satu mobil. "Daniel, kau harus mengantarkanku lebih dulu." Keil tidak mau tau, Emely sedang dalam bahaya. Jika terlambat sedikit saja, kekasihnya itu sudah pasti akan dibawa pergi oleh beberapa anak buah Jonas.

__ADS_1


"Tidak Keil. Aku juga harus segera menghentikan si bajingan itu!" Daniel juga tidak ingin mengalah, Ashely bersama dengan David. Ia cemas setengah mati jika wanitanya itu akan kembali luluh kepada pria bajingan itu.


Keil mendesahkan napasnya ke udara. "Kalau begitu hubungi anak buah, katakan pada mereka kita bertemu di jalan." Jalan tengahnya, Keil atau Daniel akan pergi menggunakan mobil anak buah. Tidak mungkin menggunakan mobil Nico yang sudah tidak berbentuk sempurna itu.


"Baiklah, ide yang bagus." Daniel kemudian masuk ke dalam mobil, di susul oleh Keil setelahnya. Seperti biasanya Daniel selalu mengemudikan mobil meskipun saat ini yang digunakan adalah mobil Keil.


Nico serta Jennifer berdiri di ambang pintu, sejak tadi menyaksikan berdebatan Keil dan Daniel karena perihal mobil. Jennifer mendongak, Nico yang lebih tinggi darinya mengharuskan wanita itu mendongak setiap kali mereka berbicara.


"Nico, ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi dengan Kak Emely dan Ashley?" tanyanya penasaran. Pendengarannya menangkap jelas bahwa Emely dan juga Ashely sedang dalam bahaya.


Nico merangkul Jennifer. "Aku akan menjelaskannya di dalam. Tapi sebelum itu Nona-ku ini harus melanjutkan kegiatan kita yang tadi sempat tertunda."


Jennifer reflek menghempaskan tangan Nico. "Astaga, Nico. Kau benar-benar mesum." Jennifer kemudian berlari ke dalam meninggalkan Nico yang siap menerkam kembali.


Nico terkekeh geli, dalam keadaan waspada Jennifer berkali-kali lipat lebih menggemaskan.


***


Selama 10 menit berkendara melewati jalur yang di tumbuhi pohon-pohon menjulang tinggi, beberapa anak buah Black Lion sudah menunggu disana. Daniel segera menghentikan mobilnya, menoleh pada Keil yang tidak berpindah, tetap diam di dalam mobil.


"Cepat turun!" ujar Daniel kesal.


"Kenapa harus aku? Kau yang harus turun dari mobilku!" Keil menyahut dingin. Karena mobil yang mereka gunakan adalah mobil miliknya, kenapa ia yang harus turun, pikirnya.


"Huh, sialan!" Daniel menghela napasnya kasar. Meskipun kesal, tetapi memang benar ia menggunakan mobil Keil. "Aku turun, oke! Kau puas, bajingan!"


"Ya....." Keil menyahut santai, tidak mengindahkan Daniel yang kesal padanya.


Kemudian Daniel turun dari mobil, pun dengan Keil yang kini sudah berpindah duduk di kursi kemudi. Dengan kecepatan penuh Keil melajukan mobil tanpa pedulikan keadaan sekitarnya.


"Hah, dasar bajingan!" Daniel melihat kepergian Keil dengan kesal. "Kalian pergilah, ikuti Keil!" perintahnya kepada beberapa anak buah mereka.


"Baik..." sahut mereka bersamaan.


Daniel segera masuk ke dalam mobil, melaju dengan kecepatan tinggi. Diikuti oleh satu mobil anak buah dan sisanya mengikuti mobil Keil.


.


.


To be continue


.


.


...Akun instagram Yoona yang lama @rantyyoona Alhamdulillah akunnya udh pulih lagi ya man-teman setelah hampir satu bulan kena hack...


...Tetap like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


__ADS_2