
Akhirnya resepsi pernikahan Nico dan Jennifer telah sampai di penghujung acara. Semua tamu dapat menikmati kembang api yang menggelegar memecah di langit. Dan Nico mengurungkan niatnya untuk melarikan diri dari acara setelah mendengar betapa murkanya bos meneriaki namanya. Terlebih Jack justru mendapatkan perintah menjaga Nico agar pria itu tidak melarikan diri dari sana.
Daniel dan juga Keil menepuk-nepuk bahu sahabat mereka, tetapi sudut bibir mereka melengkung tipis. Sungguh ingin rasanya menertawakan wajah Nico yang pias dan pasrah. Sebab itulah sejak awal Keil dan Daniel tidak ingin mengadakan pesta yang mewah, cukup melakukan pemberkatan dan acara resepsi hanya sampai waktu menjelang sore hari, setelah itu mereka menyusul ke hotel.
"Persiapkan dirimu untuk nanti malam Nic," bisik Daniel yang dapat di dengar oleh Keil.
"Sejak tadi aku sudah mempersiapkan diri, bodoh! Bahkan aku sudah tidak tahan." Menahan hasrat tidaklah mudah, karena itu Nico berusaha menekan gairahnya meskipun berulang kali kedua sahabat lucknuuut-nya menggoda dirinya.
"Hahahaha..." Dan jawaban Nico membuat Keil dan Daniel kembali tergelak. Mereka puas melihat Nico yang semakin tersiksa, mengingat acara akan berakhir satu jam lagi tetapi sahabatnya itu harus menahannya selama itu.
"Shut the fuckk up!!!" umpat Nico. Kekesalannya sudah nyaris mencapai puncak dan ia masih harus mendengarkan ejekan kedua sahabat lucknuuut-nya.
Keil dan Nico sontak menutup mulut mereka hingga satu jam lamanya menemani Nico dalam diam. Terlebih Jennifer sudah lebih dulu pergi entah kemana beberapa menit yang lalu usai berbincang dengan seluruh anggota keluarga. Tapi setidaknya Nico dapat bernapas penuh kelegaan karena acara yang melelahkan itu telah berakhir. Sepertinya Nico harus mulai membiasakan diri karena kedepannya ia akan selalu berada di situasi seperti ini untuk mendampingi sang istri yang merupakan pemilik dan juga direktur perusahaan. Sudah pasti ia harus mewakili sebagai anggota dari keluarga Romanov, dan sekelebat perkataan bos melintas di otaknya.
"Jika kau sudah memikul beban itu, kau sudah tidak akan bisa mundur lagi."
Memang inilah pilihannya, ia sudah tidak bisa mundur lagi, bahkan jika dirinya harus mengurus salah satu perusahaan milik keluarga Romanov, tentu ia harus siap menerima segala sesuatunya.
"Ehem....." Xavier berdehem sangat keras, membuyarkan lamunan anak buah yang sudah merangkap menjadi adik iparnya itu.
"Astaga bos, kau selalu datang tiba-tiba kapanpun dan di manapun." Nico mengeluhkan bos sekaligus kakak iparnya itu karena selalu datang dengan mengejutkan dirinya.
"Memangnya kenapa?" Xavier menyilangkan tangan di depan dada. "Sejak tadi kau hanya berdiri disini saja dan tidak menyadari kedatanganku!"
Nico mengitari matanya ke sekeliling, benar saja ballroom sudah nampak sedikit sepi dan bahkan Keil dan Daniel sudah pergi entah kemana. "Sorry bos, mungkin aku sedikit lelah."
"Ck, kalau begitu kau bisa menunda malam pertama kalian." Terselip seulas senyuman menggoda di wajah Xavier.
"No! Itu urusan yang berbeda bos." Semangat Nico membara, malam pertama yang ia impikan tentu tidak bisa ia lewatkan begitu saja. "Kalau begitu aku permisi dulu bos."
"Memangnya kau tau dimana kamar kalian heh?!" Xavier meninggikan suaranya ketika Nico melangkah menjauh.
"Aku tau bos....!!" Nico melambaikan tangan pada bos tanpa berpaling dan terus melangkah penuh semangat.
"Ck, rupanya dia sudah tidak sabar untuk menyentuh adikku!" Xavier melihat punggung Nico yang perlahan menjauh, ia kemudian melangkah mendekati sang istri. Sepertinya malam ini bukan hanya malam pertama bagi Nico, tetapi juga malam pertama untuk kesekian kalinya bagi mereka.
***
Langkah Nico diiringi dengan senyum lebarnya berjalan menyusuri lorong yang hanya terdapat tiga ruangan saja karena dirinya berada di lorong menuju Presidential Suit. Nico menempelkan kartu akses begitu berhenti di depan pintu, hingga begitu pintu terbuka Nico langsung masuk tanpa berpikir panjang.
Pertama kali yang ditujunya adalah kamar mereka, untuk sesaat Nico tertegun sejenak mendapati kamarnya benar-benar dihias sesuai yang diinginkan, dengan taburan kelopak bunga mawar serta lilin aroma terapi.
Pandangan Nico mengedar, ia tidak menemukan sosok istrinya yang cantik itu. Mendekati ranjang lalu melangkah menuju kamar mandi. Senyumnya terbit ketika mendengar suara gemericik di dalam kamar mandi, bertepatan dengan seorang wanita cantik yang membuka pintu kamar mandi, sontak wanita itu terkejut mendapati Nico berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Astaga Nico, kenapa kau berdiri di depan pintu?!" Jennifer mengusap dadanya yang sedikit menyembul di balik bathrobe yang dikenakannya.
Mata Nico terarah kesana dengan senyum yang tertahan, bahkan ia tidak menjawab pertanyaan yang dilayangkan sang istri, matanya terfokus pada dua gundukan di balik bathrobe itu.
__ADS_1
Sadar akan tatapan Nico yang tidak biasa, Jennifer menyilangkan tangan di depan dada, menutupi bagian yang sempat menyembul dan dilihat oleh suaminya. "Dasar mesum. Sebaiknya kau mandi!"
Nico tersenyum, ia melihat rona merah di sekitar wajah istrinya. Lalu bergerak maju satu langkah, hingga membuat Jennifer melangkah mundur penuh kewaspadaan. "Kenapa hm? Apa Nona-ku ini sudah tidak sabar ingin bercinta," bisiknya tepat di telinga Jennifer lalu meniupnya.
Oh My God
Untuk sekian kalinya Jennifer merasakan desiran yang aneh pada tubuhnya. "Nic, sebaiknya kau mandi dulu." Berbeda dengan bibirnya yang ranum itu, tubuhnya merespon lain ketika tangan Nico sudah menahan pinggulnya serta bibirnya bermain di leher wanita itu dan menghirup aroma sabun yang menguar di indera penciumannya. Tentu saja itu mampu membangkitkan gairah Nico yang lama terpendam.
"Nic, hentikan...." Sekuat tenaga Jennifer mendorong dada sang suami, tapi memang dasarnya Nico memiliki tenaga yang seratus kali lebih kuat dari dirinya, ia sulit memindahkan tubuh kokoh suaminya itu.
"Kau sangat harum My Queen...." Mengabaikan keinginan Jennifer, Nico justru lama bermain-main di leher, menciumi leher hingga bagian dada wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Tubuh Jennifer menggeliat, menahan sensasi geli yang diciptakan oleh suaminya.
"Baiklah, kalau begitu aku mandi lebih dulu." Lantas Nico segera melepaskan rangkulan tangannya dari pinggul sang istri. Tubuhnya sudah sangat lengket dan ia butuh menyegarkan tubuhnya, lalu bisa sepuasnya menyerang istri kecilnya itu.
Jennifer hanya menatap punggung Nico yang melesat masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu benar-benar mempermainkan dirinya, mencium sesuka hati lalu meninggalkannya begitu saja.
"Ck, dasar suami raksasa," gerutunya kesal. Ia kemudian melangkah menuju lemari, tapi sialnya tidak ada apapun di dalam sana. Sepertinya Nico sengaja tidak menyiapkan pakaian untuknya.
Nico yang sejak tadi menahan hasratnya yang membuncah itu mengguyur tubuh polosnya di bawah guyuran air shower yang hangat. Jika saja ia tidak lari ke dalam kamar mandi, ia sudah menyerang istri kecilnya itu.
Tidak perlu membutuhkan waktu lama di dalam kamar mandi, Nico keluar dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, lalu berjalan mendekati Jennifer yang berdiri di depan jendela memandangi langit malam yang menghiasi Kota London.
Tangan Nico terulur melingkar di perut Jennifer, ia kembali mendaratkan bibirnya di ceruk leher istrinya. Jennifer menggeliat merasa kegelian tatkala bibir Nico yang dingin itu mengecup berulang kali ceruk lehernya.
"Geli sayang...." Jennifer terkekeh.
Lantas Nico memutar arah tubuh Jennifer menghadap ke arahnya. "Kau memanggilku apa My Queen?" tanyanya menangkup wajah sang istri.
Jennifer mengulum senyum. "Aku tidak memanggilmu," kilahnya.
"Ck, baru saja kau memanggilku sayang." Nico berdecak, karena tidak mungkin ia salah mendengar.
"Aku tidak mengatakan apapun...." Jennifer memalingkan wajahnya karena tidak ingin Nico mendapati wajahnya yang merona malu.
"Ck, ayolah My Queen, kau baru saja memanggilku sayang." Lalu menarik dagu istrinya, hingga tatapan mereka saling bertemu.
"Benarkah?" Masih saja Jennifer menggoda suami raksasanya itu.
"My Queen....." Nico gemas bukan main, ia ingin menyambar bibir mungil istrinya, akan tetapi telapak tangan Jennifer lebih dulu mendarat di bibirnya.
"Sayaangg...." Dan suara Jennifer yang dengan sengaja mendayu-dayu itu kian membangkitkan hasrat Nico yang benar-benar tidak mampu dibendung lagi. Sontak saja Nico menyingkirkan tangan Jennifer yang berada di bibirnya, lalu menyambar bibir istrinya dengan sangat rakus.
Jennifer tidak menolak, ia justru membalas ciuman suaminya yang penuh hasrat. Ia mengimbangi permainan bibir Nico yang benar-benar ahli membelit, menyesap dengan sangat sensual.
"Aku mencintaimu My Queen....." Napas Nico memburu setelah mengakhiri ciuman, menatap lekat wajah istrinya yang sangat cantik meskipun tanpa polesan make up.
"Aku juga mencintaimu sayang...."
__ADS_1
Dan Nico kembali membenamkan ciuman, ciuman yang sedikit lebih kasar dan liar tetapi entah kenapa Jennifer menyukainya. Tangannya meremass satu buah dada istrinya itu, sementara tangan yang satu menahan pinggul istrinya agar tetap berdiri pada posisinya.
"Uughh..."
Remasan tangan besar Nico menciptakan lenguhan pelan tetapi mampu menambah hasrat pria itu, hingga membuat Nico memperdalam ciuman mereka. Perlahan ciuman keduanya menuntut lebih, Nico menarik pergelangan tangan sang istri lalu menuntunnya ke bawah, dimana di balik handuk yang melilit itu terdapat sesuatu yang bersembunyi tetapi sudah berdiri dengan tegak.
Jennifer sedikit tersentak ketika tangannya mencapai sesuatu yang asing, untuk pertama kalinya ia menyentuh milik seorang pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu. Ukurannya sangat besar di dalam genggaman tangan Jennifer, sehingga di sela-sela ciuman mereka, wanita itu meremass milik suaminya yang besar.
"Uughhh...." Nico berhasil melenguh karena remasan yang tidak biasa itu. Sebelum kemudian melepaskan pagutan bibir mereka. "Kau nakal sayang...." ucapnya dengan suara serak berkabut gairah.
Jennifer tersenyum tipis, sebenarnya ia sangat malu, akan tetapi ia ingin sekali menyentuh lebih dalam bagian yang besar itu. Nico tidak masalah, ia justru harus selalu mengajari istrinya agar menjadi liar dan nakal hanya di hadapannya saja.
Tangan Nico menarik tali bathrobe istri kecilnya, lalu menyingkap bagian pundak, menyuguhkan pemandangan yang sungguh memanjakan mata Nico, hingga perlahan bathrobe itu tergelincir ke lantai.
"Jangan melihatku seperti itu." Jennifer menutup bagian dadanya, merasa sangat malu karena suaminya menatap lekat tubuhnya dari atas hingga ke bawah.
"Jangan di tutupi sayang." Nico menarik tangan Jennifer dan membawa ke dalam dekapannya. "Aku menyukainya, putih mulus seperti bayanganku selama ini," imbuhnya kemudian. Ya, selama ini Nico selalu membayangkan tubuh Jennifer yang polos dan kini ia bisa melihatnya secara langsung, bahkan bisa meraba dan merasakannya.
"Aahh Nic...." Jennifer mendesahh ketika Nico sudah melahap satu dadanya hingga basah sempurna karena Nico terlalu rakus menghisapnya. Sensasi yang baru pertama kali dirasakan oleh Jennifer membuat mata wanita itu terpejam berulang kali, menikmati desiran nikmat yang baru ia rasakan. Mendengar desahann sang istri membuat Nico kian menggila dan menggilir buah dada istrinya yang lain. Jennifer kembali melenguh pelan, lenguhan itu tidak dapat tertahan lagi hingga membiarkannya lolos melingkupi ruangan temaram tersebut.
Tok
Tok
Suara ketukan pintu tidak mereka indahkan, namun suara ketukan pintu itu semakin keras dan tanpa jeda. Hingga kegiatan panas itu terjeda sejenak, lalu Nico menjauhkan bibirnya dari dua gundukan miliki istrinya.
"Damn it!! Siapa yang mengganggu!!" umpatnya kesal. Nico mengambil bathrobe yang teronggok di lantai, lalu kembali membalutnya di tubuh sang istri. "Tunggu sebentar sayang, aku akan melihat siapa yang mengetuk pintu." Jennifer mengangguk kecil, menatap Nico yang berjalan menuju pintu.
Pintu itu dibuka kasar oleh Nico. Ia ingin mengumpat siapapun itu yang berani-beraninya mengganggu kenikmatannya.
"Sialan! Apa kau tidak tau...." Umpatan Nico menggantung, kekesalannya itu berubah menjadi keterkejutan. "Bos, ada apa?" Ya, yang mengganggu adalah Xavier. Tanpa rasa bersalah bosnya itu hanya menatap datar, meneliti penampilan Nico yang berantakan, membungkus tubuhnya dengan handuk yang melilit di pinggang.
"Kau meninggalkan ponselmu!" Lalu Xavier melemparkan ponsel tepat ke arah Nico hingga Nico berhasil menangkapnya.
"Apa tidak ada hari esok, bos? Kau benar-benar mengganggu malam pertamaku dengan istriku!" protesnya kesal.
"Ck, aku tidak suka menyimpan sesuatu yang bukan milikku!" Lalu Xavier melenggang pergi begitu saja.
"What the Fuckk!" Namun umpatan Nico hanya tertahan, sehingga hanya ia sendiri yang mampu mendengarnya, menatap kesal kepergian bosnya itu, sebelum kemudian menutup pintu dengan kasar. Ingin memaki, tetapi sialnya pria itu adalah bosnya yang juga sudah merangkap menjadi kakak iparnya. Bisa-bisa ia dipecat menjadi adik ipar jika berani-beraninya mengumpat di hadapan bos.
Jennie menatap suaminya yang kesal disertai bibir yang mengulum senyum, kakaknya itu pasti sengaja ingin mengganggu dan mengerjai Nico.
SEE YOU NEXT BONUS CHAPTER
Babang Nico
__ADS_1
...Yang masih berkenan bisa like, vote dan jangan lupa komentar kalian 💕...