Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Bonus chapter (Elden & Liam)


__ADS_3

Cafe ice cream menjadi tempat pertemuan Jennifer dengan Ashley. Keduanya sudah duduk saling berhadapan dengan suguhan ice cream beraneka rasa dan bentuk. Kedua wanita hamil itu nampak antusias melahap dan mengabiskan satu persatu ice cream yang sangat menggoda. Baik Nico dan Daniel hanya tersenyum melihat istri-istri mereka yang begitu senang hanya menikmati berbagai macam ice cream.


Perhatian Nico terpecah ketika ponselnya berdering. Daniel menatap Nico, sorot matanya bertanya siapa kiranya yang menghubungi. Namun tanpa menjawab pertanyaan sorot mata Daniel, Nico segera menjawab panggilan tersebut.


"Ada apa?" tanya Nico pada seseorang di seberang sana yang tidak lain adalah salah satu anak buah.


"Bos Nico, wilayah perbatasan di Colchester diserang. Ada beberapa bom yang terpasang disini. Apa perlu kami memberitahu big bos?" Wajah Nico nampak mengeras begitu mendengar laporan dari anak buah. Baru beberapa bulan Black Lion merasakan ketenangan, kini sudah ada musuh yang mengusik kelompoknya.


"Jangan beritahu bos! Seharusnya kalian sudah tau apa yang harus kalian lakukan! Sebentar lagi aku dan Daniel akan datang kesana!" Nico menekankan suaranya meskipun berbisik. Ia hanya tidak ingin sang istri memergoki dirinya sedang marah.


"Baik Bos Nico." Dan panggilan pun terputus.


"Ada apa?" tanya Daniel kepada Nico, ia melirik ke arah dua wanita hamil yang masih asik menyantap ice cream mereka.


"Perbatasan Colchester diserang dan terdapat beberapa perangkap bom disana."


"Shittt!!" Daniel mengumpat setelah mendengar penuturan Nico hingga membuat Ashley serta Jennifer menoleh ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Ashley kepada suaminya yang baru saja mengumpat kesal.


"Tidak apa-apa baby." Daniel tersenyum lembut, menandakan bahwa tidak ada yang terjadi.


Ashley dan Jennifer mengangguk serentak, kedua wanita hamil itu kembali melanjutkan percakapan mereka.


"Aku akan menghubungi Keil." Nico kemudian memegang ponselnya kembali. Ia mencoba menghubungi Keil, akan tetapi sahabatnya itu tidak menjawab panggilannya.


Daniel bisa menebak jika Keil tidak menjawab panggilan Nico. Mereka kemudian saling bersitatap, sepertinya mereka harus ke Colchester untuk sekedar memantau.


"My Queen, sepertinya aku dan Daniel ada urusan sebentar. Kalian berdua bisa menunggu disini," ucap Nico lembut.


"Benar Baby, aku dan Nico tidak akan lama. Jarak dari sini ke Colchester sangat dekat."


Jennifer dan Ashley saling pandang, sebelum kemudian keduanya mengangguk-angguk.


"Tidak apa-apa, pergilah. Aku dan Ashley menunggu disini. Lagi pula kami masih harus menghabiskan banyak ice cream." Jennifer kembali memasukkan sendok ice cream ke dalam mulutnya.


"Benar apa yang dikatakan Jennie, sayang. Aku masih ingin disini menghabiskan ice cream," sambar Ashley menimpali.


"Baiklah, jika butuh sesuatu panggil saja Lina," ujar Daniel beranjak lalu mengecup kening Ashley dan beralih mencium perut sang istri.


"Panggil Elma juga, mereka akan selalu menjaga kalian," sambung Nico, ia juga memberikan kecupan di kening Jennifer dan juga memberikan kecupan di perut besar istrinya.


Lantas keduanya segera meninggalkan cafe ice cream begitu Jennifer serta Ashley mengiyakan. Mereka berbicara kepada Lina dan Elma untuk selalu berjaga dan mengabari jika terjadi sesuatu. Lina serta Elma mengangguk paham hingga kemudian Nico beserta Daniel berlalu meninggalkan cafe ice cream menggunakan satu mobil.


Sudah 10 menit berlalu sejak suami-suami mereka meninggalkan cafe ice cream. Ice cream yang disantap oleh Jennifer serta Ashley nampak kandas tidak tersisa.


"Perutku penuh sekali..." Jennifer mengusap perutnya yang besar itu. Ia puas makan ice cream yang begitu nikmat dan segar. Rasanya ia tidak sanggup untuk berjalan karena perutnya benar-benar terasa berat.


"Ice cream-nya benar-benar lezat, aku tidak menyangka akan menghabiskan beberapa mangkuk." Ashley terkekeh, ia sangat puas sekali menikmati ice cream yang sudah lama sekali tidak ia cicipi.


"Aku juga...." Dan keduanya terkekeh karena seperti anak kecil yang sudah lama tidak memakan ice cream hingga harus memesan begitu banyak.


Tawa keduanya menyurut ketika Ashley ingin ke kamar mandi. "Sepertinya aku ingin ke toilet, kau tunggu saja disini." Kemudian Ashley beranjak secara berhati-hati dari tempat duduknya.


"Hem..." Jennifer mengangguk. Sembari menunggu Ashley yang berada di toilet, ia mengusap perutnya dan mengajak berbicara baby-nya. "Kau sudah merindukan Daddy ya sayang, ini baru 15 menit Daddy pergi." Entahlah sepertinya tidak hanya sang putra yang merindukan Nico, dirinya pun merasa merindukan sosok suami raksasanya itu.


"Maaf menunggu lama." Ashley kembali dengan wajah yang pucat, sontak saja membuat Jennifer tertegun.


"Kau baik-baik saja Ash?" tanyanya.


Ashley mengangguk lemah. "A-aku baik-baik saja, tapi perutku sedikit kram."


"Oh astaga, cepat duduklah. Kau pasti kelelahan."


Ashley menuruti perkataan Jennifer, ia mendudukkan kembali tubuhnya namun rasa sakitnya tidak kunjung menyurut.


"Ash, kau benar baik-baik saja? Apa sebaiknya kita ke rumah sakit?" Wajah Jennifer mendadak panik. Hingga mengundang rasa penasaran Lina dan Elma yang berjaga di luar Cafe. Kedua penjaga itu berlari tergesa-gesa.


"Ada apa Nona?" tanya Elma kepada Jennifer.


"Ashley... dia kesakitan..." sahut Jennifer tergugu. Entah kenapa Jennifer merasakan hal yang sama seperti Ashley, ia merasakan perut bagian bawahnya begitu kencang, sehingga Jennifer mencengkram ujung meja.


"Nona Jennie baik-baik saja?" Lina mendadak cemas. Ia bingung kenapa kedua Nona-nya merasa kesakitan.


Jennifer menggeleng. "Perutku sa...kit se...kali."


"Sepertinya Nona Jennie dan Nona Ashley akan melahirkan. Aku akan menghubungi Bos Nico terlebih dulu," ucap Elma pada rekannya Lina.


Lina mengangguk, ia mengusap punggung Nona Ashley. Seketika suasana di cafe nampak heboh karena beberapa karyawan cafe datang menghampiri, mereka menawarkan diri untuk membawa Jennifer dan Ashley ke rumah sakit terdekat, akan tetapi kedua wanita hamil itu menolak tegas. Mereka menginginkan suami-suami mereka.


***


"APA??!!"

__ADS_1


Ckiitttt


Nico mengerem mendadak begitu menerima laporan dari Elma di sambungan telepon. "Aku dan Daniel akan kesana lima belas menit lagi!" Lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Kau gila Nic, kau ingin kita mati heh!!" Daniel memaki Nico lantaran mengerem secara mendadak. Jika saja ia tidak menahan tubuhnya, mungkin kepalanya sudah berhantaman dengan dashboard.


"Shiittt! Diam kau Niel!" bentaknya. "Kita harus kembali ke cafe karena istriku dan istrimu sepertinya akan melahirkan!"


"APAA?!!" Bola mata Daniel nyaris melompat dari wadahnya. Ia benar-benar terkejut mendengar laporan jika istri mereka akan segera melahirkan. "Shittt!! Putar arah Nic. Aku tidak ingin istriku melahirkan disana!" teriaknya kepada Nico, bahkan ia nyaris saja mengambil alih kemudi.


"Diam bodoh! Kau pikir aku sedang apa?! Mobil kita sudah memutar arah!" Nico mendorong tubuh Daniel yang berusaha memegang stir kemudinya.


"Lebih cepat lagi bodoh!" pekik Daniel kesal karena ia merasa Nico terlalu lamban mengemudikan mobilnya.


"Aku sudah lebih cepat bodoh. Lihatlah kecepatannya di atas rata-rata. Kau pikir mobilku ini bisa terbang heh!" Nico tidak kalah kesal.


Daniel meraup wajahnya kasar. "Oh God, aku bisa mati karena terlalu cemas."


"Kau sendiri saja yang mati. Aku masih ingin mendampingi istriku melahirkan!" seru Nico sembari fokus menatap jalan.


"Sialan! Aku juga tidak ingin mati!"


"Sudahlah Niel, tutup mulutmu! Kau membuatku sakit kepala!" tegur Nico kesal.


"Ck, karena itu kau harus mengemudi lebih cepat lagi!" Padahal tanpa Daniel sadari, mobil yang dikendarai Nico seperti hembusan angin yang melesat cepat, melewati mobil-mobil yang berlalu lalang.


"Belok kiri Nic!" Daniel berseru ketika melihat sebuah jalan pertigaan di depan sana.


"Kanan bodoh. Sebelumnya kita lewat jalan itu!" Namun Nico menyahut berbeda.


Daniel menerawang, mencoba berpikir. "Tidak! Yang benar itu belok kiri!"


"Kanan, bodoh!" teriak Nico.


"Kiri!"


"Kanan!"


Namun alih-alih berbelok kanan ataupun kiri, justru mobilnya melesat lurus. Nico dan Daniel terperangah seketika. "Shittt! Karena kau, kita salah jalan!" seru Nico meninju bahu Daniel.


"Kau.... kau yang bodoh Nic!" Daniel tidak mau kalah.


Dan tanpa mereka sadari tepat di ujung sana, cafe ice cream terpampang cukup jelas, bahkan mereka bisa melihat jelas bahwa cafe tersebut terlihat beberapa mobil anak buah serta bos, Jack dan juga Keil.


Nico mengabaikan celotehan Daniel, ia menghentikan laju mobil tepat di belakang mobil bos.


"Bos...." Nico dan Daniel tergopoh-gopoh menghampiri bos dan yang lainnya.


"Dari mana saja kalian hah!!!" Belum mengatur napasnya dengan baik sudah di sembur oleh bos. "Dan kau Nic, kau ingin membuat adikku melahirkan di tempat seperti ini?!!"


"Tidak bos..." sahut Nico merasa bersalah.


"Tunggu apalagi, cepat bawa istri kalian ke rumah sakit!!" Xavier berteriak kesal.


Jack dan Keil terkekeh melihat bagaimana raut wajah Nico serta Daniel. Beruntung di sekitar cafe nampak sepi karena sebelumnya Keil dan juga Jack sudah menutup jalan di sekitar sana.


Nico dan Daniel melesat masuk ke dalam cafe, di dalam sana sudah ada Lina dan Elma yang sedang menenangkan istri mereka. Tanpa membuang waktu lagi, Nico dan Daniel langsung menggendong istri mereka lalu bergegas keluar. Keil dan Jack tercengang melihat kedua sahabat mereka, terlebih Xavier menggeleng gemas.


Kenapa mereka menjadi bodoh seperti ini? batin Xavier memijat keningnya.


Daniel dan Nico tidak peduli dengan tatapan mereka yang menatap aneh. Mereka hanya ingin membawa segera istri mereka ke rumah sakit.


"NICO.... DANIEL!!!!" Teriakan bos menghentikan langkah Nico juga Daniel. "Bodoh! Apa kalian sudah melupakan wajah istri kalian hah?!"


Nico dan Daniel nampak bingung, mereka saling pandang, lalu memandang istri mereka yang berada di gendongan mereka. Keduanya membeliak karena salah menggendong istri.


"Doble shittt!" seru Nico dan Daniel bersamaan. Bagaimana tidak, saat ini istri mereka tertukar. Tetapi mereka tetap membawa masuk Jennifer dan Ashley ke dalam mobil yang berbeda.


Jack dan Keil tidak bisa menahan tawa mereka. Sungguh benar-benar bodoh.


"Sebaiknya biar kita saja yang mengemudi, Keil." Keil mengangguki perkataan Jack. Ia mendorong Nico pada saat sahabatnya itu ingin masuk ke kursi kemudi.


"Temani saja istrimu," ujar Keil. Nico mengangguk lalu masuk ke dalam kursi penumpang.


Jack melakukan hal yang sama, masuk ke dalam mobil begitu Daniel sudah masuk terlebih dulu untuk menenangkan Ashley.


Di mobil yang berbeda kedua mobil itu melesat cepat meninggalkan cafe. Dan Xavier menatap nanar kepergian mobil mereka. Kepalanya menggeleng, tidak habis pikir dengan kedua anak buahnya yang mendadak menjadi bodoh.


Jika saja anak buahnya tidak menghubungi dirinya, ia tidak akan tau apa yang terjadi dengan Jennifer. Sehingga ia bergegas menghampiri sang adik dan mengajak Jack serta Keil untuk ikut bersamanya menuju cafe.


***


Begitu tiba di rumah sakit, Nico dan Daniel berlari menuju koridor. Keduanya berteriak memanggil perawat, namun justru yang terlihat nampak sepi.

__ADS_1


"Astaga, tempat ini rumah sakit atau makam, hah?!" Mendengar teriakan Daniel yang menggelegar, sontak saja membuat para perawat tergopoh-gopoh menghampiri. Mereka sudah dikabarkan sebelumnya dan saat ini rumah sakit telah disewa oleh Keluarga Romanov.


Nico tidak menggila seperti Daniel, Nico nampak lebih tenang. Ia membaringkan Jennifer di atas brankar, pun dengan Ashley yang sudah dibaringkan disana. Para pria mengekori para perawat menuju ruang bersalin dan menghentikan langkah begitu Jennifer dan juga Ashley sudah masuk ke dalam ruangan.


Nico dan Daniel tanpa tau malu melesat masuk sebelum dipersilahkan. Meninggalkan Jack, Keil dan juga bos di depan ruangan. Para suster dan dua dokter yang bertugas, membiarkan saja kedua pria itu heboh di dalam ruangan bersalin.


"Awww.... sa... kiit...." pekik Ashley merintih.


"Nic, pe...ruutku sakit sekali.... aaahh....." Jennifer mencengkram kuat tangan Nico.


"My Queen, bertahanlah. Kau pasti kuat demi putra kita!" Nico menenangkan sang istri. Hatinya teriris pilu melihat istrinya merintih kesakitan.


"Sayang.... baby.... kau pasti bisa sayang. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan putra kita." Daniel mengusap rambut Ashley yang lembab karena keringat.


Baik Jennifer dan Ashley tidak mampu menjawab, mereka begitu kesakitan.


"Istriku kesakitan! Kenapa kalian diam saja?!" seru Nico penuh amarah.


"Istriku juga kesakitan. Kalian bisa bekerja tidak, heh?!" bentak Daniel tidak kalah penuh amarah.


Dokter dan para perawat nyaris dibuat sakit kepala. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apapun. "Sabar Tuan-tuan, kami akan memeriksa kembali pembukaannya." Dan kemudian sang perawat kembali memeriksa Jennifer dan juga Ashley.


"Sudah lengkap dokter!" ujar kedua perawat bersamaan.


"Baiklah, Nyonya-nyonya harus mengejan kuat-kuat. Ini akan mudah karena kedua baby sering di jenguk oleh Daddy-nya," ujar dokter wanita setengah baya menggoda. Dokter tersebut yang sebelumnya menangani persalinan Emely.


"Kami Daddy-nya, jadi wajar saja jika menjenguk bayi kami. Kecuali jika aku menjenguk bayi yang ada di dalam perut salah satu suster disini, itu harus dipertanyakan!" seloroh Daniel tidak tau malu, membuat dokter dan para suster merona malu.


"Daniel!!!!" Ashley mencengkram kuat lengan Daniel karena mendengar ucapan suaminya yang asal itu.


"Maaf sayang...." Daniel tersenyum kecut karena mendapatkan mata sang istri yang memelototi dirinya.


"Nico... aku.... uuhhhh.... uuhhh...."


"Iya sayang, kau pasti bisa sayang.... uuhh... uuhh..." Berbeda dengan Daniel, Nico lebih serius menemani persalinan istrinya.


"Dokter, kepala bayinya mulai terlihat," seru salah satu perawat.


"Ayo Nyonya, kalian bisa... sebentar lagi bayi kalian akan lahir." Lagi, dokter tersebut memberikan semangat. Baik Jennifer dan Ashley mengejan dan menarik napas berulang kali, hingga beberapa menit kemudian terdengar suara tangis bayi Jennifer dan Nico terlebih dahulu, disusul oleh bayi Daniel dan juga Ashley.


"Selamat, Nyonya Jennie dan Nyonya Ashley, bayi kalian berjenis kelamin laki-laki," ujar sang dokter tersenyum. "Bayi Nyonya-nyonya sedang dibersihkan dan kami sudah menyiapkan ruangan untuk Nyonya-nyonya," lanjutnya sebelum kemudian berlalu.


Nico dan Daniel mengangguk. Mereka tidak bisa menahan rasa bahagia yang membuncah. Baik Daniel dan Nico mengecup seluruh wajah istri mereka tanpa terlewat hingga membuat perawat yang membersihkan Jennifer dan Ashley tersenyum malu.


Dengan perasaan bahagia dan ukiran senyum di wajah mereka, keduanya keluar dari ruangan bersalin.


"Bos, aku sudah menjadi seorang Daddy. Kau memiliki keponakan yang tampan," ujar Nico heboh lalu memeluk Xavier kakak iparnya.


"Selamat untukmu," ujar Xavier menepuk bahu Nico.


"Aku menjadi seorang Daddy." Daniel tidak kalah heboh, ia memeluk Jack dan Keil bergantian.


"Selamat Niel... Nic... kalian benar-benar menjadi seorang Daddy," ujar Keil dan Jack.


"Selamat untukmu." Xavier memeluk Daniel.


"Kalian sudah menyiapkan nama?" tanya Jack.


Nico dan Daniel saling pandang, sebelum kemudian menatap Keil, Xavier dan Jack.


"Elden Jefferson Romanov," ujar Nico lantang.


"Liam Ryder Peterson," seru Daniel bangga.


Keduanya berharap jika putra mereka akan selalu diberkati dan menjadi pelindung bagi keluarga mereka.


See you next bonus chapter


Baby Elden




Baby Liam



...Yang masih berkenan bisa like, vote dan jangan lupa komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...

__ADS_1


__ADS_2