
"What the fuckk, ini gila!" seru Daniel tidak percaya.
"Berarti Jonas adalah...." Nico menggantungkan kalimatnya.
"Apa kalian berpikiran yang sama denganku?" Keil menimpali. Rasanya sulit dipercaya, tetapi mereka berseru senang, setidaknya mereka bisa mengetahui keberadaan Jerome dan mendapatkan fakta yang lebih mengejutkan, yaitu tentang Jonas dan Jerome yang saling mengenal.
Mereka kemudian saling melirik satu sama lain. Kini teka-teki mulai terpecahkan, Keil baru mengingat simbol dari kalung tersebut ketika Jerome menggunakan kalung serupa dengan yang dimiliki oleh Jonas.
"Hahaha kenapa musuh kita saling berkaitan. Ini sangat menarik." Sungguh Daniel tidak menyangka jika musuh mereka satu kelompok. Ia belum dapat menyingkirkan David, Keil juga belum dapat menyingkirkan Jonas, siapa yang menduga jika jati diri Jonas adalah berkaitan dengan dunia bawah.
"Golden Dawn," gumam Keil. "Aku tidak pernah menduga jika suami dari Emely memiliki hubungan dengan Golden Dawn." Sama seperti Daniel, Keil pun demikian.
"Ya, aku juga tidak pernah menduganya." Nico menimpali dengan menyunggingkan senyum.
"Daniel, selidik Golden Dawn. Bisa saja Jonas adalah ketuanya." Keil penuh dengan ketidaksabaran, ia sudah merasa begitu penasaran. Karena feelingny mengatakan jika Ketua Golden Dawn yang selama ini tidak menampakan dirinya adalah Jonas.
"Tentu, malam ini kita akan bekerja lembur untuk menyelidikinya."
Keil dan Nico menganggukkan kepala. Tentu mereka tidak akan membuang waktu lagi. Ketiganya sudah sangat geram ingin menyingkirkan Golden Dawn. Daniel kemudian melajukan mobil meninggalkan bengkel yang mereka yakini tempat tersebut adalah milik Jonas.
***
Keil baru saja memutuskan panggilan video dengan Emely, memastikan dengan mata kepalanya sendiri jika kekasihnya itu dalam keadaan baik-baik saja di dalam apartemen, padahal Emely di jaga oleh Joy yang juga tidur di dalam ruangan yang lain. Pun dengan Nico, panggilan pria itu masih tersambung dengan Nona Jennie, wajah polos tanpa make up Nona kecilnya benar-benar membuat Nico nyaris gila, ingin ia melahap bibir manis kekasihnya lagi.
"Matamu seperti pria yang sedang kelaparan." Keil menatap jengah sahabat yang tengah di mabuk cinta itu. Sejak tadi yang dikatakan oleh Nico hanya 'aku merindukanmu'. Ck, menjijikan.
"Stupid. Shut up Keil!" Tentu saja Nico mengumpat kesal, sudah pasti ucapan Keil dapat di dengar oleh Nona Jennie-nya. Sementara wanita yang terpampang jelas di layar ponselnya itu hanya mengulum senyum.
"Yang aku katakan benar bukan?" Keil acuh, tidak pedulikan raut wajah Nico yang nampak kesal. Kemudian ia beranjak berdiri dan sedikit membungkuk di belakang punggung Nico. "Nona Jennie berhati-hatilah, dia sangat mesum."
"Keparat kau Keil!" Nico melayangkan tangannya nyaris mengenai wajah Keil jika saja Keil tidak berhasil menghindar sehingga bogeman itu hanya melesat saja.
Jennifer hanya terkekeh, menikmati perdebatan yang menurutnya mengasyikan itu. Ia sudah sering kali melihat berdebatan kecil sang kakak dengan Jack dan ini pertama kalinya ia melihat berdebatan kecil kekasihnya dengan temannya.
Sungguh Nico dibuat heran dengan Keil, sejak kapan temannya yang satu itu pandai menggoda dan mengejek. Biasanya yang selalu melakukan hal itu adalah Daniel. Tetapi lihatlah Daniel malam ini nampak tenang, fokus dengan pekerjaannya, meretas dan mencari informasi terkaitnya Jonas dengan Golden Dawn. Sepertinya jiwa mereka telah tertukar, pikirnya.
"Aku sedikit mengantuk, Nico." Suara Jennifer seketika menghentikan perdebatan antara Nico dengan Keil.
__ADS_1
Nico kembali memposisikan dirinya di hadapan layar ponselnya itu. "Baiklah, selamat beristirahat Nona kecil. Besok aku akan menjemputmu."
"Iya...." Kemudian Jennifer memutuskan sambungan teleponnya seusai mengiyakan perkataan Nico.
Ah, rasanya mereka sudah seperti terbiasa berbicara layaknya kekasih pada umumnya. Hanya saja tadi lidah Nico sempet terbelit memanggil kekasihnya dengan sebutan Nona lagi.
"Sialan kau Keil, kau menggangguku!" Nico kembali menggerutu lantaran masih kesal.
Sedangkan tersangkanya itu hanya terkekeh-kekeh tidak jelas. Entah kenapa tadi ia hanya ingin menggoda Nico dengan Nona Jennie.
"Kalian kemarilah. Kenapa hanya asik menelpon wanita kalian saja, heh." Suara Daniel menyambar, terselip nada kesal karena kedua sahabatnya itu seenaknya bersantai ria. Kedua manik matanya menatap lekat layar monitor berbentuk segiempat itu, tanpa menoleh ke belakang.
"Ck, apa kau iri?" Nico berdecak. "Kau bisa menghubungi Ashley kalau kau mau," lanjutnya.
Kening Daniel berkerut dengan napas yang sedikit terbuang kasar. "Huh? Tidak ada alasan untukku menelponnya. Dia pasti baik-baik saja dan tidak akan bisa melarikan diri dari penthouse." Ya, di antara mereka hanya Daniel yang hampir tidak pernah menghubungi Ashley sejak wanita itu menjadi miliknya. Menurut Daniel tidak penting, dan ia akan datang kepada Ashley untuk kebutuhan biologisnya saja. Bukankah untuk itu ia membeli wanita itu dengan harga yang sangat mahal.
Nico dan Keil hanya mengangguk bersamaan. Memang Daniel menjaga wanita itu sebagai miliknya dan tidak membiarkan seorang pun merebut miliknya. Namun perasaan Daniel hanya sebatas itu, untuk menjalin hubungan yang serius dengan seorang wanita sepertinya akan sulit, mengingat prioritas Daniel adalah pekerjaannya di dunia bawah. Bahkan Daniel rela beberapa hari tidak tidur dan tidak bercinta jika jemarinya sudah berada di atas keyboard. Dan alasannya tidak cemas ia memuntahkan cairan miliknya ke dalam rahim Ashley lantaran pria itu sudah di suntik dengan obat semacam mencegah kesuburannya, jadi besar kemungkinannya untuk saat ini Ashley tidak akan hamil, setidaknya jika ia sudah memastikan perasannya terhadap wanita itu. Menyebalkan bukan? Tetapi itulah Daniel. Berbeda dengan Keil yang akan senang hati menerima jika Emely dinyatakan hamil, ia juga tidak menggunakan obat seperti yang digunakan oleh Daniel.
"Kau benar-benar akan menyesal jika Ashley direbut oleh pria lain," cibir Nico sedikit dengan ejekan.
"Ck, siapa yang berani mengambil wanita milikku?" Daniel berucap penuh percaya diri. "Kau atau kau, Keil?" Sembari menunjuk pada Nico serta Keil dan kemudian terkekeh.
"Aku juga hanya menginginkan Nona Jennie," timpal Nico yang juga mendudukkan tubuhnya di kursi miliknya sesaat setelah Keil.
Kekehan Daniel semakin keras mendengar sahutan kedua sahabatnya yang dengan tegas. Ia hanya bercanda saja tetapi di tanggapi serius oleh mereka.
Kini ketiganya fokus pada komputer mereka masing-masing. Daniel nampak menggenggam sebuah kalung milik Jonas itu, kemudian memastikan dan mengamati jika lambang kelompok Golden Dawn memiliki bentuk dan ukuran yang serupa, yaitu burung gagak dengan sebuah tulang kecil yg menyilang.
"See? bentuknya sangat mirip dengan kalung ini." Mendengar seruan Daniel, Nico juga Keil mendorong kursi mereka mendekati kursi Daniel.
Tidak ada reaksi keterkejutan yang mereka tampakkan, sepertinya sesuai dengan dugaan mereka. Mereka hanya saling menyunggingkan senyum.
"Kena kau. Kali ini kau tidak akan bisa menyembunyikan dirimu lagi Jerome."
"Jonas, kita akan berhadapan secepatnya."
__ADS_1
Nico dan Keil saling bergumam dengan pikiran mereka yang melalang buana. Rasanya mereka sudah tidak sabar untuk saling berhadapan di medan perang secara jantan dan tidak seperti ini menyembunyikan diri, sehingga mereka kesulitan mencari informasi tentang kelompok itu.
"David...." Kemudian Daniel mengusap dagunya yang dipenuhi oleh bulu-bulu tipis. "Aku penasaran sehebat apa pria yang pernah dicintai oleh wanitaku." Entahlah, rasanya Daniel tidak menyukai miliknya di sakiti oleh pria lain, hanya dirinya yang boleh dan melakukan sesuka hatinya kepada wanita itu.
Daniel semakin semangat, jemarinya lihai bergerak kesana-kemari di atas keyboard. Sejak tadi ada yang mengusik dirinya yaitu seperti alamat situs yang hanya bisa dimasuki dengan kode rahasia milik Golden Dawn. Namun bukan Daniel namanya jika menyerah begitu saja, ia kemudian memasukkan kode PM.
Kode PM adalah salah satu ciptaan Black Lion untuk meretas sistem yang sulit diretas. Mereka merancang kode tersebut agar orang lain tidak akan pernah bisa melihat atau mencari informasi apapun dan tidak akan meninggalkan jejak apapun, sehingga dengan menggunakan kode tersebut maka tidak akan teridentifikasi. Agar lawan mereka tidak curiga maka Daniel akan mengecoh dengan sebuah virus, seolah yang menyerang hanyalah virus tersebut.
Dan benar saja, dalam hitungan detik semua informasi itu ia dapatkan. Termasuk mengenai Jonas yang selama ini merupakan ketua Mafia Golden Dawn dan Jerome termasuk di dalamnya.
"Jadi selama ini Jerome menjadi mata-mata dan mendekati kita!" Keil berdecak tidak percaya. Bahkan mereka mengklaim Jerome sebagai pengkhianat, bukti nyatanya Jerome adalah bagian dari Golden Dawn.
"Keparat!" Di susul umpatan Daniel. "Ternyata kita dibodohi!"
"Ck, aku akui jika Jerome pandai bersilat lidah. Dia lebih licik dari yang kita duga," ujar Nico mendadak geram.
"Kita harus menyusun rencana untuk menyerang mereka," ujar Kiel kemudian.
"Ya, kali ini tidak boleh lengah. Jerome memiliki koneksi di berbagai dunia bawah." Dan disambut setuju oleh Nico.
"Benar. Dan jangan lupakan David. Pria itu cukup pintar." Rasanya Daniel malas mengakui kehebatan David.
Percakapan mereka harus terjeda karena sinyal di komputer Daniel berbunyi. Itu adalah sinyal pertanda jika kamera perekam yang terhubung dengan milik Jerome tengah aktif. Daniel memang menyeting benda itu secara otomatis ketika suatu benda bergerak terekam. Buru-buru Daniel membuka folder tersembunyi itu, nampak beberapa pria di dalam ruangan. Baik Nico, Keil juga Daniel sudah menduga akan mendapatkan mereka berkumpul dalam suatu waktu dan benar saja Jonas serta Jerome berada di ruangan yang sama, terlebih lagi ada David juga disana.
.
.
To be continue
.
.
Mohon maaf ya beberapa hari ini gak up, soalnya Yoona lagi menenangkan pikiran sama hati wkwk 🤧🤧
__ADS_1
Jangan lupa untuk Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih.
Always be happy 🌷