
Sudah terhitung lima hari sejak Nico, Keil dan Daniel tiba di Markas Black Lion yang berlokasi di Oakland, California. Hari ini Black Lion akan bertemu dengan kelompok gengster yang memiliki kekuasaan di wilayah Pegunungan San Gabriel di California. Berbagai senjata dan granat biasa hingga granat berbahaya sudah mereka siapkan untuk berjaga-jaga jika Black Lion akan diserang. Kelompok gengster itu terkenal sangat licik dan brutal, mereka sudah biasa membodohi para lawan dengan berbagai trik-trik licik.
Bloods, salah satu gengster yang selalu menimbulkan ketakutan dengan aksi mematikan mereka. Bloods memang hanya beroperasi di Los Angeles dan juga California sehingga tidak pernah berurusan dengan Black Lion yang memiliki berbagai wilayah kekuasaan juga beroperasi di berbagai negara, dua di antaranya Inggris dan Amerika Serikat.
Kini mereka sudah berada di sebuah lokasi Pegunungan San Gabriel. Tempat yang sudah pasti akan menjadi milik Black Lion. Jika mereka masih saja menolak memberikan wilayah tersebut kepada Black Lion, tentu saja Black Lion tidak akan segan-segan untuk melakukan penyerangan.
"Shitt!" Nico mengumpat, pria itu terlihat bersandar pada kap mobil depan. Kedua matanya tertuju pada sebuah pesan yang baru saja ia baca di ponsel miliknya.
"Ada apa?" tanya Keil. Mendengar Nico mengumpat kesal, baik Keil dan Daniel menoleh ke arah sahabatnya itu.
Nico terdiam. Raut wajahnya menampakkan kekesalan bercampur gelisah bersamaan, membuat Keil dan Daniel dibuat heran.
"Elma baru saja mengabariku tentang Nona Jennie," sahut Nico kemudian. Elma adalah anak buah seorang wanita yang ia tugasnya untuk selalu berada di sisi Nona Jennie. Wanita itu melakukan tugasnya dengan baik dan selalu melaporkan apa saja yang dilakukan Nona Jennie.
"Lalu kenapa kau terlihat sangat kesal, kawan?" Daniel menyahuti, merangkul pundak Nico tanpa permisi. "Bukankah bagus kau bisa mengawasi Nona Jennie dari Elma?"
"Apanya yang bagus." Secepatnya Nico mendorong tubuh Daniel. "Kau lihat saja sendiri, apa yang dilakukan Nona Jennie saat ini." Dan kemudian menyodorkan ponsel pada Daniel.
Daniel meraih ponsel Nico, keningnya berkerut begitu melihat sosok Nona Jennie sedang bersama kekasihnya. "Lalu kenapa kau marah?" Kemudian memberikan ponsel Nico kepada Keil. Reaksi Keil terlihat datar dan biasa saja begitu melihat foto tersebut. "Mereka sepasang kekasih, jadi wajar saja mereka bertemu," lanjut Daniel.
"Dia cemburu, bodoh!" seru Keil. Apa Daniel masih saja tidak mengerti kenapa Nico begitu marah melihat foto tersebut.
"Ah, kau benar." Daniel memamerkan deretan giginya karena melupakan hal itu.
"Sepertinya aku sendiri yang harus turun tangan memisahkan mereka." Nico mengambil ponselnya kembali dari tangan Keil dan memasukkan ponsel ke dalam saku celana setelah membalas pesan dari Elma untuk selalu mengawasi dari jarak dekat
"Aku akan mendukungmu." Keil menaik-turunkan kedua alisnya, apapun yang akan dilakukan Nico untuk mendapatkan hati Nona Jennie, mereka pasti akan mendukung, dan perihal urusan bos akan mereka urus belakangan, meskipun bos akan murka dengan mereka.
"Kalian berdua...." Daniel menunjuk Keil dan Nico bersamaan. "Berusahalah mengambil wanita dari kedua pria itu." Menepuk kedua pundak Keil dan Nico, memberikan semangat kepada kedua sahabatnya.
Nico dan Keil terkekeh. Sungguh jika orang lain melihatnya, mungkin akan merasa heran karena mereka menginginkan wanita yang sudah menjadi milik pria lain, ketimbang mencari wanita diluar sana yang lebih cantik.
Tawa mereka perlahan menyurut, samar-samar mendengar langkah sesuatu yang lebih dari satu. Nico, Keil dan Daniel menatap satu sama lain. Posisi Keil yang lebih dekat dengan jendela mobil yang terbuka lebar memudahkannya untuk mengambil botol air mineral di atas dashboard dan detik kemudian melemparkan ke arah sumber suara yang semakin mendekat ke arah mereka.
Duk
Botol yang melayang itu tepat sekali mengenai kepala seseorang. "Oh, shitt!!" pekik seseorang yang baru saja memasuki area Pegunungan San Gabriel hingga membuat Nico, Keil dan Daniel menoleh. "Siapa yang berani-beraninya melemparkan botol minuman kepadaku?!" teriaknya. Puluhan pria yang berdiri di belakangnya sudah nampak geram.
Namun Nico, Keil dan Daniel nampak santai. Tidak gentar berhadapan dengan sekelompok Bloods yang terkenal sangat kejam tersebut. "Aku yang melempar botol itu, apa ada masalah?!" sahut Keil.
Pria yang berdiri paling depan di antara yang lain mendecakan lidah. "Sialan! Apa kau sengaja, heh?!"
"Kami hanya mengira jika ada sekumpulan harimau jelek di sekitar sini, karena itu teman kami melempar botol untuk memastikan." Memang pada kenyataannya mereka mengira jika ada beberapa hewan buas yang mendekat, meskipun sudah dijelaskan tetapi entah kenapa perkataan Daniel seperti sebuah ejekan.
"Apa kau baru menyebut kami harimau jelek, heh?" Lagi-lagi pria itu tersulut emosi.
"Apa kau merasa jika kau dan teman-temanmu itu sekumpulan harimau dan bukan manusia?" Nico ikut menyahuti. Entah bodoh atau apa, kenapa justru pria itu serius menanggapi ucapan Daniel yang memang sangat konyol.
Pria itu tidak bisa membantah. Jika semakin tersulut emosi maka mereka akan semakin membuktikan jika dirinya dan kelompoknya adalah harimau jelek.
"Baiklah, aku akan menganggap kau tidak sengaja melakukannya," ujarnya tertuju untuk Keil. Namun Keil hanya memasang wajah datar seperti biasa.
__ADS_1
***
Kini kedua kelompok berbeda itu saling berhadapan di hamparan tanah yang gersang dan lebih luas ditumbuhi pohon-pohon yang mulai tandus. Black Lion dan Bloods memiliki perbedaaan di setiap pakaian mereka. Bloods selalu mengenakan pakaian berwarna merah seperti nama kelompok mereka, merah darah. Sementara Black Lion mengenakan pakaian serba hitam dengan masing-masing memiliki tatto Lion di lengan mereka.
"Untuk pertama kalinya kita bertemu seperti ini. Tapi bukankah yang ku dengar Black Lion beranggota lebih dari tiga?" ujarnya memperhatikan Keil, Nico dan Daniel bergantian. Tatapannya yang meremehkan itu membuat Black Lion mengeram kesal di dalam hati.
"Benar...... Dan cukup kami bertiga saja yang datang menemui kalian," sahut Nico.
"Karena itu kita tidak perlu membuang waktu lagi," timpal Keil kemudian.
Pria tersebut terkekeh. "Kalian benar-benar tidak sabar rupanya. Tapi sepertinya kalian tidak akan mudah mendapatkan wilayah ini, karena kami sudah menerima tawaran yang lebih besar, haha?!" Sungguh puas rasanya jika mempermainkan Black Lion yang dikenal tangguh dan hebat itu.
"What the fuckk!" Daniel nampak geram. Bahkan ia nyaris mencengkram pakaian pria itu.
"Tenang, kita jangan gegabah," bisik Keil menahan tangan Daniel.
"Jadi sejak awal kalian memang tidak berniat menyerahkan wilayah ini kepada kami?" seru Nico dingin.
"Tidak juga, karena sebenarnya kami juga ada sedikit penawaran untuk kalian!"
"Katakan!" sahut Keil.
"Aku menginginkan wilayah Black Lion di perbatasan San Fransisco, dan kalian bisa mendapatkan wilayah ini."
"Omong kosong!" seru Daniel. Habis sudah kesabaran dirinya. "Kalian pikir akan dengan mudah mendapatkan wilayah kekuasaan Black Lion, hah?" sentaknya kemudian. Tidak hanya Daniel yang kesal, Nico dan juga Keil sejak tadi mengeram amarah mereka.
"Kalau begitu tidak perlu melakukan transaksi lagi. Kami sudah sepakat akan memberikan wilayah ini kepada Golden Dawn."
Baik Nico, Keil dan Daniel mendecakan lidah bersamaan. Mereka sudah menduga jika Golden Dawn menginginkan wilayah yang sama. Namun tidak ada reaksi terkejut dari Black Lion sehingga kini menjadi pusat perhatian pria tersebut karena ketiga pria itu tetap terlihat santai.
"Apa?!" Mendengar pernyataan Nico, dirinya menjadi tidak tenang. Apa sebenarnya yang sudah direncanakan oleh Black Lion, kenapa mereka biasa saja dan masih bersikap tenang?
"Kau... Jared Leto, beberapa tahun ini kau dan teman-temanmu menjadi buronan. Dan kalian masih bisa bebas setelah melakukan pembunuhan pada seorang Nenteri Meksiko," papar Keil. Informasi tersebut sangatlah mudah didapatkan oleh Black Lion.
Deg
Jared tersentak. Selama ini ia berusaha menutupi kejadian beberapa tahun lalu itu. Sebelumnya ia dan rekan-rekannya pernah berada di Meksiko selama satu tahun dan berpura-pura bekerja sebagai pengawal seorang menteri di negara sana. Tetapi akhirnya mereka membunuh menteri paruh baya tersebut karena mengetahui motif dirinya bersama teman-temannya. Motif yang sebenarnya adalah agar mempermudahkan mereka melakukan penyelundupan barang-barang berharga dan menukarkannya dengan barang palsu. Tetapi naas, menteri itu harus mati di tangan mereka saat ingin melaporkan ke pihak kepolisian. Dan peristiwa itu hanya diketahui oleh dirinya dan juga kedua temannya yang ikut terlibat dalam pembunuhan itu.
"Dari mana kalian mengetahuinya?!" Jared menelisik penuh selidik ke arah ketiga anggota Black Lion.
"Tidak penting dari mana kami mengetahuinya. Yang jelas kami memegang kartu AS kalian!" seru Nico dengan senyum menyeringai.
Raut wajah Jared berubah menjadi gelisah, akan tetapi hanya beberapa saat saja, sebelum kemudian pria itu tertawa terbahak-bahak. "Apa kalian pikir kami takut dengan ancaman kalian? Lakukan saja karena pembunuhan itu kami lakukan dengan sangat rapih, bahkan tersangka palsunya sudah tertangkap," serunya masih tergelak geli. Sungguh licik, melimpahkan kesalahan kepada orang lain.
Nico dan Keil saling mengerutkan kening. Ternyata pria di hadapan mereka lebih tidak waras dibandingkan dengan Zayn, pikir mereka.
"Aku akui kalian benar-benar hebat seperti yang aku dengar." Meskipun yang diucapkan oleh Jared adalah sebuah pujian tetapi terdengar seperti sebuah ejekan di indera pendengaran Nico, Keil dan juga Daniel. "Tapi apa kalian masih bisa melawan kami, sementara kalian berada di wilayah Bloods?" Jared dengan angkuhnya meremehkan Black Lion. "Aku akan perlihatkan Bloods yang sesungguhnya." Dak kemudian Jared menepuk kedua telapak tangannya hingga menghasilkan bunyi yang menggema di udara yang dipenuhi pohon-pohon tandus.
Drap
Drap
__ADS_1
Samar-samar terdengar langkah yang ikut tersapu oleh hembusan angin, semakin lama semakin dekat. Dua sosok pria gagah diikuti oleh beberapa anak buah Bloods turut mengekori kedua pria itu.
Salah satu dari mereka menepuk bahu Jared. "Sudah aku katakan kau akan gagal bernegosiasi dengan Black Lion. Mereka tidak akan mudah memberikan wilayah mereka." Sembari menyunggingkan senyum angkuh.
"Seth benar, mereka lebih menyukai cara yang kasar," sambung pria lainnya yang selama ini dikenal dengan nama Tobi. Pria itu berdiri di sisi Jared, tangan kanannya sibuk memasang sarung tangan hitam pada tangan kirinya yang belum terbungkus sempurna oleh sarung tangan tersebut.
"Karena itu kita tidak perlu memberikan wilayah kita kepada Black Lion," sahut Seth. Pria keberbangsaan Meksiko itu sudah lebih dari lima tahun bergabung dengan Bloods.
Meskipun mereka saling berbisik, tetap saja terdengar oleh ketiga anggota Black Lion. Namun mereka hanya memasang wajah datar seperti biasa, mereka bahkan tidak peduli jika Bloods tidak menyerahkan Wilayah San Gabriel tersebut, karena Black Lion akan merebut wilayah itu secara paksa.
Pria yang bernama Seth maju satu langkah. "Apa kalian pernah mendengar jika Bloods tidak akan pernah mudah melepaskan lawannya?" Menatap satu persatu anggota Black Lion yang begitu angkuh. Nico berdiri dengan memasukkan kedua tangan di saku celana, sementara Kiel dan Nico melipatkan kedua tangan di depan dada.
"Kami tidak pernah mempedulikan organisasi lain!" ujar Nico.
"Karena tidak penting!" sambung Keil.
"Dan tidak menguntungkan untuk kami!" sambar Daniel kemudian.
Sungguh, jika berhadapan dengan Black Lion, Bloods seperti tidak memiliki harga diri. Tidak hanya Bloods, beberapa organisasi lain selalu merasakan perasaan kesal seperti organisasi Bloods saat ini.
"Ck...." Tobi berdecak. "Luar biasa. Ternyata kalian benar-benar menyebalkan. Karena itu, kami tidak akan mudah membiarkan kalian keluar dari tempat ini!"
"Silahkan saja!" seru Keil, Nico dan Daniel serentak.
"Heh, menantang kami?" Jared sudah mulai diliput amarah. "Kalau begitu kita buktikan siapa yang lebih hebat!" Entah sejak kapan, Jared sudah memegang senjatanya dan menodongkan ke arah Daniel.
Daniel berdecak. "Rupanya kau kesal denganku ya?!" Memang sejak awal sikap Daniel yang konyol membuat Jared begitu geram.
Dor
Entah siapa yang memulai, suara tembakan tersebut menggema di sana dan akhirnya pertikaian yang saling baku tembak itu tidak terhindari. Kedua organisasi yang seimbang, entah kali ini Black Lion akan mudah dikalahkan atau justru Bloods yang akan terinjak-injak seperti musuh-musuh Black Lion yang sudah berhasil mereka lumpuhkan?
.
.
To be continue
.
.
Penampilan Babang Nico
Babang Keil
Babang Daniel
__ADS_1
Like, vote, follow dan komentar kalian 💕💕