Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Berani menyentuhnya?!


__ADS_3

Keesokan harinya.


Berita tentang salah satu sahabat mereka yaitu Keil yang berhasil membawa pergi Emely dari kediaman Jonas sampai ke telinga Nico serta Daniel. Tentu keduanya selalu mendukung apapun yang dilakukan oleh Keil. Dan saat ini mereka tengah melakukan panggilan video call. Di layar ponsel Keil dan Daniel terpampang jelas jika Nico sedang berada di sebuah cafe, berbeda dengan Keil yang berada di apartemen dengan Emely, sementara Daniel berada di Markas.


Keil baru saja menunjukkan kalung yang ia bawa dari kamar Emely sebelumnya. Dan sepertinya kekasihnya itu tidak menyadari sebuah kalung tergeletak di lantai, yang kemungkinan besarnya kalung tersebut adalah milik Jonas. Nico serta Daniel sulit membaca lambang kalung tersebut. Tetapi keduanya sangat yakin jika mereka merasa tidak asing dengan kalung itu.


"Sebaiknya kita selidiki kalung itu di Markas malam ini," tutur Nico. Rasa penasarannya akan kalung tersebut mengusik dirinya sejak tadi.


"Nico benar. Aku juga penasaran, siapa Jonas sebenarnya. Kenapa kita sulit sekali mendapatkan informasi tentangnya?" sahut Daniel menimpali. Sejujurnya mereka sudah berusaha menggali informasi tentang Jonas tetapi hasilnya nihil. Dan keterangannya masih sama jika Jonas hanya pria biasa yang memiliki sebuah cafe dan usaha di bidang otomotif, seperti bengkel dan cuci kendaraan.


"Ya, aku akan menghubungi kalian lagi nanti." Tujuan Keil menghubungi kedua sahabatnya itu hanya untuk menanyakan perihal kalung tersebut.


"Hem, baiklah. Aku juga masih menjaga Nona Jennie." Untuk membuktikan ucapannya, Nico kemudian mengedarkan kamera ponselnya ke arah lain sehingga menampakkan Nona Jennie duduk di kursi lain yang tidak berada jauh dari tempat duduknya. Wanita itu sedang bersama klien seorang wanita dan ditemani oleh Jane.


"Ck, apa kau ingin pamer?!" Daniel berdecak malas. "Lihatlah Keil wajah teman kita ini, masih halus dan tidak ada bekas tamparan di wajahnya." Daniel masih saja membahas perihal Nico yang mencium Nona Jennie, ia seperti kecewa lantaran Nico tidak dihadiahkan sebuah tamparan, atau minimal Nona Jennie akan menendang senjata pamungkas temannya itu.


"Bajingan!" Nico mengumpat Daniel dan mendengkus kesal. Entah kenapa teman lucknut yang satu itu selalu senang jika dirinya terkena masalah. "Kenapa kau ingin sekali melihat wajahku tidak tampan lagi?!"


"Kau dan aku lebih tampan diriku, bodoh!" seru Daniel tidak terima, karena menurutnya di antara mereka dirinyalah yang paling tampan dan digilai para wanita.


Keil yang malas mendengar serta melihat perdebatan itu, sepertinya meletakkan ponselnya begitu saja, sehingga hanya memperlihatkan langit-langit sebuah ruangan.


"Terserah!" Nico malas menanggapi, membiarkan Daniel semakin besar kepala. "Keil berengsek! Dimana wajahmu? Kenapa meletakkan ponselmu begitu saja?"


"Keil pasti malas melihat wajahmu, Nic!" cibir Daniel menyunggingkan senyum menyebalkan.


"Wajahmu bahkan lebih bodoh dari yang terlihat." Nico tidak ingin kalah dan mengalah. Beruntung saja di dalam cafe sepi pengunjung, sehingga tidak ada yang terganggu dengan suaranya. Hanya Nona Jennie yang sesekali melirik ke arah bodyguardnya itu.


"Heh, sialan....."


"Berisik!" Suara Keil yang berteriak itu menghentikan ucapan Daniel yang ingin memprotes Nico.


"Sudah dulu, aku sibuk!" Tut. Telepon terputus karena Nico memutuskan secara sepihak. Bukan tanpa alasan ia menutup teleponnya, karena klien Nona Jennie sudah pamit undur diri dan kini sorot mata Nona kecilnya itu tertuju padanya.


Lantas Nico memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Ia menghampiri Nona kecilnya itu. "Apa kita akan kembali ke perusahaan atau Nona ingin pergi ke suatu tempat terlebih dulu?" tanyanya dengan pandangan yang lekat menatap Jennifer.


Jennifer mendongak. "Aku ingin ke suatu tempat," jawabnya dan kemudian pandangannya beralih pada Jane. "Jane, kau bisa kembali ke perusahaan lebih dulu."


"Baik Nona." Jane mengangguk paham. Ia tidak ingin menanyakan kemana kiranya Nona Direkturnya itu akan pergi. Baginya, itu bukan ranahnya untuk ikut campur. Jane segera membereskan beberapa dokumen di atas meja, kemudian pamit undur diri.


Tidak lama setelahnya, Nico serta Jennifer keluar dari cafe tersebut dan berjalan menuju parkiran mobil. Jennifer tidak menyadari jika ada empat pasang mata mengintai mereka. Berbeda dengan Nico, insting pria itu cukup tajam sehingga ekor matanya melirik tetapi bersikap seolah dirinya tidak menyadari keberadaan mereka.


Nico membukakan pintu mobil untuk Jennifer, dengan cepat wanita itu masuk ke dalam mobil dan duduk sempurna usai Nico kembali menutup pintu mobil. Pandangan Nico tertuju ke arah dua pria mengintai dirinya juga Nona Jennie, namun sepertinya mereka sudah lenyap entah kemana.


"Shiit!!" Sebenarnya Nico merasa tidak asing dengan dua sosok itu. Tetapi tidak mungkin dugaannya itu benar. Nico menghembuskan napas dengan kasar, bisa-bisanya ada yang mengintai dirinya.


***


Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, disinilah Nico serta Jennifer berada. Di sebuah taman tepat di depan gedung apartemen. Nico berdiri, menyandarkan bahu pada sebuah tiang besi sembari mengawasi Nona Jennie-nya yang ternyata bertemu dengan seorang teman wanita. Keduanya saling duduk bersisian di kursi besi yang terdapat di taman tersebut.


"Maaf Jenn, kau harus meluangkan waktu untuk bertemu denganku." Wanita yang kini bersama dengan Jennifer adalah salah satu teman terdekat saat di universitas. Sehingga Jennifer tidak bisa mengabaikan temannya yang sedang kesulitan itu.


"Tidak masalah, Alice. Aku senang kau baik-baik saja. Belakangan ini kau sulit di hubungi."

__ADS_1


"Benar, kau tau bagaimana keadaan keluargaku saat ini. Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, kecuali apartemen ini. Jadi aku ingin menyendiri untuk beberapa saat." Alice mengulas senyumnya. Biarpun berpura-pura tegar, sorot mata Alice yang sendu itu tidak dapat membohongi Jennifer.


Jennifer mengangguk paham, ia memaksakan senyumnya. Tetapi sebenarnya oa lebih senang jika sahabatnya itu menangis alih-alih tersenyum seperti itu. "Kau kapan saja bisa meneleponku kalau butuh bantuan." Kemudian Jennifer memeluk Alice dengan erat. Sungguh apa yang menimpa Alice membuat hatinya teriris. Mereka yang selalu senang-senang bersama, pergi ke ke pesta dan bahkan ke Club malam diam-diam. Kini Alice yang ceria berubah pendiam seperti ini.


Alice membalas pelukan Jennifer. Ia tidak boleh menangis, ini sudah menjadi jalan hidupnya. Selama berpelukan beberapa saat, keduanya saling melepaskan pelukan. "Datang ke perusahaan jika kau butuh pekerjaan," tuturnya kembali.


"Terima kasih atas tawaranmu Jenn, tapi aku baik-baik saja. Aku hanya ingin menikmati hidupku seperti ini." Lagi-lagi Alice tersenyum, menunjukkan kepada sahabatnya itu jika dirinya baik-baik saja.


"Baiklah, terserah kau saja. Tapi kau tidak perlu sungkan padaku jika membutuhkan pekerjaan."


"Baiklah Nona bos. Kau benar-benar sudah berubah saat ini. Apa kau ingat, dulu kita sering nakal bersama dan kau harus berbohong kepada kakakmu karena ingin pergi ke Club malam," seru Alice mengenang masa lalu mereka. Di antara mereka, Jennifer yang paling sulit jika ingin berpergian. Ya, karena kakaknya Xavier selalu mengawasi adiknya itu hampir 24 jam.


Jennifer terkekeh karena diingatkan akan masa muda mereka. "Dan karena aku berbohong, sampai saat ini Kak Vie selalu mencurigaiku." Jennifer mendekatkan wajahnya pada wajah Alice dan kemudian berbisik. "Kak Vie bahkan lebih percaya kepadanya ketimbang denganku." Alice mengikuti kemana arah ekor mata Jennifer. Sosok Nico menjadi pusat perhatian Alice, wanita itu tersenyum.


"Dia sangat tampan, Jenn. Aku tidak percaya kau tidak tertarik padanya." Sungguh itu adalah senyuman menyebalkan Alice jika selalu menggoda dirinya.


"Jangan katakan apapun. Aku baru saja putus dengan Billy." Sudah pasti Alice mengetahui hubungan mereka, karena Alice juga mengenal Billy dengan baik.


"Billy memang tampan, tapi dia seribu kali lebih tampan, Jenn." Jennifer menepuk bahu Alice ketika sahabatnya itu secara terang-terangan melihat ke arah Nico. Sungguh, Alice sangat kesal sekaligus kecewa terhadap Billy setelah apa yang diceritakan oleh Jennifer beberapa hari yang lalu, sehingga ia akan mendukung jika Jennifer bisa bersama dengan pria yang menjadi bodyguard sahabatnya itu.


"Jangan melihatnya seperti itu." Kedua mata Jennifer membeliak tajam.


"Kenapa? Apa kau cemburu Nona?" Alice mencolek dagu Jennifer, lagi-lagi ia menggoda Jennifer.


"Jangan menggodaku," gerutu Jennifer kesal lantaran Alice selalu menggoda dirinya.


Alice berdecih. "Lagi pula, kau seperti wanita yang tidak habis putus cinta. Kau tidak sedih, apalagi menangis." Alice menopang dagu dengan tangannya, ia mendelik tajam. Jeniffer hanya menangis ketika menceritakan alasan mereka putus dan setelah hari-hari berlalu, sahabatnya itu terlihat baik-baik saja.


Jennifer terdiam. Yang dikatakan Alice ada benarnya, ia mengira bahwa akan sulit melupakan Billy tetapi lihatlah, ia bahkan dengan cepat dapat melupakan mantan kekasihnya itu.


"Iya, karena kau selalu ditemani bodyguard tampan sepertinya." Alice terkekeh-kekeh sehingga membuat Jennifer semakin kesal, ia lantas menepuk bahu Alice hingga membuat wanita itu memekik.


"Ada apa? Apa aku memukulmu terlalu keras?" Jennifer menjadi merasa bersalah. Ia mengusap bahu Alice dengan lembut.


"Tidak, aku baik-baik saja." Alice menepis tangan Jennifer.


Kedua mata Jennifer menelisik penuh selidik. Padahal ia tidak terlalu keras menepuk bahu Alice. "Ada apa dengan bahumu? Apa kau terluka?" Jennifer ingin menyentuh bahu Alice, tetapi lagi-lagi Alice menghindar.


"Aku baik-baik saja. Hanya terjatuh dan bahuku terbentur dinding," tutur Alice menjelaskan. Namun entah kenapa Jennifer tidak percaya begitu saja. "Bukankah kau sudah harus kembali lagi ke perusahaan?" Alice mengalihkan topik pembicaraan. "Sebaiknya Nona Direktur kembali saja. Aku juga masih memiliki urusan lain."


"Hem, baiklah. Kabari aku jika kau butuh bantuanku." Jennifer kemudian memeluk Alice. Sebenarnya ia merasa aneh dengan sahabatnya itu tetapi ia tidak ingin mendesak.


"Iya tentu saja." Alice melepaskan pelukan mereka. Wanita itu kemudian berlalu dari sana. Ia berjalan hendak memasuki apartemen, tetapi seseorang menghalangi jalan sahabatnya itu.


Kedua mata Jennifer dibuat membola penuh ketika dua pria menarik paksa Alice untuk mengikuti mereka. Dengan berlari Jennifer menghampiri Alice yang sepertinya dalam masalah. "Hei, kenapa kalian ingin membawa temanku?"


Perhatian kedua pria bertubuh besar itu teralihkan pada sosok Jennifer. Dari kejauhan Nico sudah menatap waspada, jika mereka berani macam-macam terhadap Nona Jennie-nya, ia bersumpah akan mematahkan tangan mereka.


"Jangan ikut campur urusan kami, Nona!" seru salah satu dari dua pria tersebut.


"Jenn, sebaiknya kau pergi saja." Tatapan Alice memohon penuh kepada Jennifer untuk pergi dari sana. Ia tidak ingin Jennifer ikut terlibat.


"Tidak Alice." Namun Jennifer menolaknya. "Bagaimana bisa aku meninggalkanmu disini bersama mereka."

__ADS_1


"Tapi....."


"Hahaha..... Nona kau jangan menjadi pahlawan. Ini bukan urusanmu, urusan kami hanya dengannya." Pria yang memiliki rambut sedikit lebih panjang menunjuk pada Jennifer, sebagai tanda mengusir.


"Dia temanku. Itu artinya menjadi urusanku juga. Jadi kalian harus berhadapan denganku lebih dulu." Jennifer dapat percaya diri seperti itu karena saat ini ia sedikit paham ilmu bela diri atau ilmu menghindari serangan. Lagi pula ia sangat yakin jika Nico tidak akan membiarkan dirinya terluka.


"Hahahaha, Nona kau sangat percaya diri sekali." Pria itu tertawa, ia merasa tertantang. Sementara temannya itu mencekal pergelangan tangan Alice. "Baiklah, aku tidak akan segan dengan Nona cantik sepertimu." Sungguh menjijikan pria itu menyunggingkan senyum meremehkan, sebelum kemudian melayangkan tinjunya ke arah Jennifer.


Namun sebelum sempat menghantam wajah Jennifer, seseorang lebih dulu menahan tangan pria bertubuh besar tersebut. Jennifer menoleh, ia tersenyum tipis.


"Jika tanganmu yang kotor ini berani menyentuhnya, maka detik ini juga aku akan mematahkan tangan ini!"


Melihat aura seorang pria yang menahan pergelangan tangannya, pria itu bergidik ngeri. "Nona sialan itu yang salah karena telah berani ikut campur urusan kami."


Kening Nico berkerut bersamaan dengan rahangnya yang mengeras. "Kau mengatakan apa? Nona sialan, heh?!" Karena tidak terima, Nico memelintir tangan pria itu hingga membuat pria bertubuh besar tersebut memekik kesakitan.


"Arrgghh Tuan, kau benar-benar ingin mematahkan tanganku?" Namun Nico tidak menggubrisnya, ia tetap memelintir pergelangan tangan pria tersebut, hingga terdengar suara tulang yang remuk atau lebih tepatnya suara tulang yang patah.


"Sialan!" Melihat temannya kesakitan seperti itu, pria yang memiliki luka goresan di wajahnya lantas melepaskan cengkraman tangan Alice dan berniat untuk membantu Nico.


Bugh


Sebelum berhasil menghantam bagian tubuh Nico, Nico lebih dulu menendang perut pria itu hingga membuatnya jatuh tersungkur ke tanah.


"Aku tidak tau siapa kalian dan bos kalian. Tapi jika sedikit saja tangan kalian berani menyentuh Nona dan temannya, maka ku pastikan kalian tidak akan pernah bisa melihat matahari lagi!" Perkataan Nico penuh dengan ancaman, sorot matanya juga tajam dan mengerikan.


Sepertinya pria yang berhasil di patahkan tangannya oleh Nico sudah tidak dapat melakukan perlawanan lagi sehingga Nico melepaskan pria itu.


"Pergi dari sini sekarang juga!" Dan suara Nico yang berteriak itu menyentakkan kedua pria itu. Nico benar-benar mampu membuat mereka tidak dapat berkutik.


Tap


Tap


Tap


Kedua pria itu berlalu pergi tergesa-gesa dengan penuh amarah. Mereka memang gagal tetapi tidak akan tinggal diam, tentu harus membalas dendam.


.


.


To be continue


.


.


Babang Nico lagi marah juga tetap aja ganteng ya 😅



Kalian pasti nyariin Yoona ya kenapa gak up tiga hari 😅😅 Yoona lg jadi zombie karena ngurus bocil2 yg sakit... jadi baru bisa up hari ini 🤗🤗

__ADS_1


Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih


Always be happy 🌷


__ADS_2