Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Kau dalam masalah, temanku


__ADS_3

Semburat jingga memantulkan sinarnya ke segala tempat, termasuk taman yang kini dipijak oleh Jennifer. Wanita itu terlihat lebih segar dengan wajahnya yang polos tanpa make up, hanya memberi sentuhan lipstik di bibirnya. Dengan kacamata hitamnya, Nico hanya mengamati dari jarak yang masih dapat di jangkau, ia membiarkan wanita itu menghirup udara disana dan menenangkan pikiran, namun tetap tidak melepaskan pandangannya dari Nona majikannya tersebut.


Wajahnya yang polos dan cantik itu memberikan keteduhan untuk Nico. Diluar sana banyak wanita sexy dan cantik tetapi baginya mereka sama saja, hanya menjajakkan tubuhnya untuk dirinya. Tetapi begitu pertama kali melihat Jennifer di The Cavern Club, ada magnet yang tersembunyi hingga Nico tidak menampik ingin memiliki wanita itu, namun lagi-lagi kenyataan menampar dirinya, selain wanita itu adalah adik dari bos, Jennifer juga sudah mengisi hatinya untuk pria lain. Itu tandanya dirinya harus bisa menggantikan posisi Billy di hati Jennifer. Perlahan tapi pasti, Nico teramat yakin jika wanita itu bisa ia dapatkan meskipun dengan cara terburuk atau yang terparahnya adalah bos tidak akan pernah mengizinkannya.




"Nico, kemarilah. Jangan memandangiku seperti itu! Jika tidak, matamu akan ku buat buta selamanya." Sejak tadi Jennifer menyadari jika Nico memandangi dirinya di balik kacamata hitam itu. Seperti biasanya, dalam dan seperti penuh makna yang tersirat.


Nico tersenyum, tentu ia tidak akan tersinggung dengan kalimat yang meluncur dari bibir mungil Jennifer. Justru membuat wanita itu menggemaskan dengan kata-kata yang tajam. Dan ini adalah pertama kalinya Nico bisa bersabar dengan seorang wanita yang semena-mena padanya. Dengan senyum yang masih tersemat di sudut bibirnya, Nico berjalan mendekati Jennifer dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana.


Di balik kacamata yang bertengger, kedua mata Nico terisi penuh akan wajah cantik Jennifer yang kini berada di hadapannya. Ingin rasanya Nico merengkuh tubuh mungil yang selalu membuatnya gundah, tetapi ia harus bisa menahan diri untuk bisa mengambil hati wanita itu terlebih dahulu tanpa paksaan tentunya.


"Nona, sebaiknya kita kembali saja ke penginapan, udara semakin dingin." Karena mereka pergi terburu-buru, sehingga Nico lupa membawa jaket untuk melindungi tubuh Jennifer dari udara yang menusuk tulang.


Jennifer menolak disertai gelengan kepala. "Tidak, aku masih ingin berada disini. Kapan lagi aku bisa seperti ini, karena besok kita sudah harus kembali." Hitung-hitung hari ini ia bisa terbebas dari pekerjaan kantor yang menumpuk, mengingat semenjak sang kakak melimpahkan Perusahaan Romanov Ent kepadanya, sudah banyak menyita waktunya dan tidak memiliki waktu sekedar berkumpul bersama teman-teman.


Dan kemudian Jennifer mendudukkan tubuhnya di atas rumput-rumput, menekuk kedua kakinya dan menatap langit dengan semburat jingga yang memecah diatas sana. Rasanya ia seperti Jennifer yang dulu, yang bebas pergi kemanapun tanpa pengawalan. Tetapi semenjak kakaknya mengumumkan tentang jati dirinya, ia benar-benar harus di kawal dan dijaga ketat kemanapun ia pergi.


"Duduklah, apa kau tidak pegal berdiri terus seperti itu?" Jennifer menepuk sisi sebelahnya, menawarkan Nico untuk duduk ketimbang berdiri yang bisa membuat kedua kaki panjang Nico pegal.


"Iya, baiklah." Nico pun mendaratkan tubuhnya, merentangkan salah satu kakinya, sedangkan satu kaki yang lain di tekuk dengan kedua telapak tangan bertumpu pada rumput-rumput disana.


Nico mengulum senyum sembari menyelinap memperhatikan wajah Jennifer yang nampak berseri hanya karena memandang langit luas dan menghirup udara segar di sore hari yang sebentar lagi akan menjelang malam.


"Nona?" Nico baru teringat akan sesuatu.


"Hem....." Jennifer masih menikmati sapuan udara yang mengenai wajah dan menyibakkan helaian rambutnya.

__ADS_1


"Apa hubungan Nona dengan wanita yang bersama Nona di hotel?" Ini adalah waktu yang tepat menanyakan perihal Emely, mengoreksi informasi kenapa wanita itu menghilang dan meninggalkan Keil.


"Dulu kami sangat dekat. Dia kakak seniorku di kampus," jawabnya. Kali ini suara Jennifer terdengar ramah, tidak seperti biasanya selalu jutek.


"Lalu?" Suara Nico tentu saja membuat Jennifer menolehkan kepalanya ke arah pria itu dan menatap penuh selidik.


"Ada apa? Kenapa kau bertanya tentangnya, apa kau menyukainya?" tanyanya memicing tajam.


Nico terkekeh. "Apa Nona cemburu jika aku menanyakan wanita lain?"


"Iishh...." Jennifer memukul bahu Nico hingga tubuh pria itu sedikit terguncang. "Jangan bicara sembarangan. Mana mungkin aku cemburu, apa kau lupa kalau aku sudah memiliki kekasih!" serunya kemudian.


"Kekasih bisa putus kapan saja Nona."


"Kau menyumpahiku putus dengan kekasihku?!" Kedua mata Jennifer membeliak, tidak terima akan ucapan Nico yang asal berbicara itu.


Nico mengedikkan bahu. "Siapa yang tau Nona."


"Itu memang kenyataannya. Nona tidak marah melihat kekasih Nona bersama dengan wanita lain. Itu membuktikan jika sebenarnya Nona tidak memiliki perasaan terhadap pria itu." Nico menoleh ke arah Jennifer yang tiba-tiba saja terdiam.


Terbungkam selama beberapa saat dan kemudian menggeleng. "Tidak, jangan bicara omong kosong. Dia kekasihku tentu saja aku sayang padanya." Kemudian Jennifer menoleh ke arah Nico tanpa menyadari jika sebenarnya Nico juga tengah menoleh ke arahnya. Hingga membuat tatapan mereka saling bertemu dan saling mengunci, keduanya tanpa sadar menatap penuh damba.


"Apa Nona mengerti, jika kita mencintai seseorang maka mata kita akan selalu terisi penuh dengannya tetapi tidak dengan Nona, kedua mata Nona terasa hambar dan..... tidak ada cinta disana untuknya."


Glek. Jennifer tercekat akan penuturan Nico, entah dari mana pria itu dapat menyimpulkan hal seperti itu. Jennifer tertunduk dan kemudian membuang pandangannya ke arah lain.


"Kau tau apa soal cinta, apa selama ini kau sudah benar-benar mencintai seseorang? Bukankah pria sepertimu tidak pernah serius dengan satu wanita?"


Nico berdecak. Memang benar dirinya tidak tau soal cinta, tetapi dengan melihat kedua mata bos yang menatap Nona bos sudah membuatnya cukup paham apa itu cinta. "Nona bisa mengambil contoh dari bos, maksudku kakak Nona, hanya dengan melihat kedua mata bos yang sedang menatap istrinya, kita akan tau jika di mata bos penuh dengan cinta untuk istrinya."

__ADS_1


"Ah, kau benar. Bahkan aku saja terkadang iri dengan rasa cinta kakakku untuk Kak Elle." Dari penuturan Nico, kini Jennifer menjadi paham kenapa selama ini sang kakak selalu menatap dalam kakak iparnya tanpa ia mengerti makna yang tersirat. Yang ia ketahui hal itu adalah hal yang biasa jika sedang menatap orang lain.


Nico tersenyum, tanpa sadar tangannya terulur membelai kepala Jennifer hingga membuat wanita itu tersentak kaget. Nico tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, dan kembali menarik tangannya. Kecanggungan melingkupi keduanya setelahnya, hingga Jennifer dan Nico menggaruk tengkuk leher mereka bersamaan.


"Ehem, kalau begitu Nona bisa melanjutkan cerita Nona tentang senior Nona itu." Suara Nico membelah kecanggungan yang terjadi selama beberapa saat.


"Ah, iya." Jennifer menyahut disertai anggukan. "Dia pernah memberitahuku jika memiliki kekasih saat itu, tetapi dia bilang kekasihnya sangat digilai banyak wanita, dan bukan pria sembarangan." Nico memasang tajam telinganya dengan baik. "Tapi hubungan mereka berakhir diusia 6 bulan. Entahlah aku juga tidak tau persisnya. Kak Emely hanya mengatakan dia harus pergi karena ibunya sakit. Saat itu aku hanya bisa membantunya dengan memberikannya uang, dia sangat senang dan merasa terbantu, tapi malam harinya dia sempat menelpon sambil menangis, dia bilang kekasihnya memaksanya untuk......" Jennifer tidak lagi melanjutkan perkataannya. "Lupakan saja, dia sekarang sudah bahagia dengan suaminya." Dan Jennifer memaksakan senyumnya, nyaris saja dirinya kelepasan berbicara.


Nico mendesahkan napasnya ke udara. Sedikit lagi ia bisa mengorek informasi dan merangkum sesuatu dari yang diceritakan oleh Jennifer.


"Apa dia tidak mengundang Nona di acara pernikahannya?" Akan sangat membuat Jennifer curiga jika ia memaksakan diri untuk mengetahui lebih jauh.


"Tidak, setelah menelpon malam itu, Kak Emely menghilang, dan dia baru saja mengabariku satu hari sebelum pesta di hotel Shangri-La. Kami belum bertemu lagi semenjak di hotel."


Nico hanya mengangguk seolah mengerti. Sudut bibirnya membentuk senyuman menyeringai. "Mungkin saja kekasihnya dulu melakukan hal yang gila padanya."


Jennifer mengangkat kedua bahunya. "Mungkin saja." Dirinya tidak bisa menyimpulkan apapun tentang Emely. Mengingat Emely tidak menceritakan semuanya kepada dirinya.


Kau dalam masalah, temanku. Sepertinya kau sendiri yang membuat Emely pergi meninggalkanmu!


Nico tertawa jahat di dalam hatinya. Sungguh ia tidak sabar ingin memberitahukan tentang hal ini kepada Keil, dan mentertawakan sahabatnya itu sekeras-kerasnya.


.


.


To be continue


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan votenya ya.... yang belum follow bisa follow juga dan komentar jangan lupa... makasih 🤗💕


__ADS_2