Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Aku akan menghabisimu!


__ADS_3

Matahari menampakkan sinarnya, mengintip dari celah tirai jendela yang sedikit terbuka. Kedua kelopak mata perlahan terbuka, menampakkan manik mata cokelat tua yang cantik. Ya, Jennifer baru saja terbangun dari tidurnya setelah semalaman air hujan mengguyur seluruh tubuh wanita itu. Pandangannya menyapu sekitar, ia mencari sosok yang bersamanya tadi malam. Bodyguardnya itu mengantarkan dirinya ke hotel, tidak mungkin ia kembali ke Mansion karena sebelumnya ia berpamitan jika akan pergi ke luar kota selama dua hari dengan alasan pekerjaan.


"Nona, sudah bangun?" Seseorang baru saja membuka pintu dengan lebar.


"Astaga, kau mengejutkanku...." Mengusap dadanya lantaran terkejut mendapati Nico sudah berdiri di ambang pintu. Memang terdapat dua kamar di dalam hotel tersebut, dan Nico berada di kamar yang lain.


"Aku sudah mengetuk pintu berulang kali, aku pikir terjadi sesuatu dengan Nona." Nico memasuki kamar dengan membawakan paper bag berisi pakaian. Semalaman penuh ia memang terjaga, menjaga Nona Jennie di ruang tamu. Biar bagaimanapun wanita itu baru saja patah hati, meskipun mustahil Nona-nya itu berbuat macam-macam, tetapi tidak ada salahnya jika ia berjaga-jaga. Terbukti ia mendengar Nona-nya menangis, meskipun kesal ia tidak mungkin melarang wanita itu untuk menangis. Menumpahkan tangisnya adalah satu-satunya cara agar hati Nona-nya menjadi lebih baik.


"Tidak, aku baik-baik saja. Aku baru saja bangun tidur, jadi tidak mendengarmu mengetuk pintu."


Nico mengangguk, kemudian meletakkan paper bag tersebut di atas meja. "Sebaiknya Nona sarapan terlebih dulu. Aku sudah memesan sarapan untuk Nona."


"Hem, baiklah terima kasih, aku akan mandi lebih dulu," jawabnya.


"Kalau begitu, aku akan menunggu Nona di ruang tamu." Setelah mengatakan hal tersebut, Nico keluar dari kamar setelah berhasil menutup pintu.


Jennifer menatap pintu itu dengan gamblang. "Kenapa dia bersikap biasa saja? Seperti tidak terjadi sesuatu yang terjadi semalam," gumamnya. Padahal Jennifer dibuat bingung akan sikap Nico yang tiba-tiba mencium dirinya. Apa pria itu hanya ingin menghibur atau ada sesuatu di balik ciumannya itu. Entahlah, Jennifer mengedikkan bahunya, ia tidak ingin ambil pusing mengingat Nico saja bersikap biasa-biasa saja. "Ya, lupakan saja. Anggap saja tidak terjadi sesuatu." Jennifer kemudian beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Sementara di ruang tamu Nico tengah berpikir. "Bagus, kau harus bersikap biasa saja di depan Nona Jennie," gumamnya. Yang sebenarnya dirasakan oleh Nico tidak berbeda jauh dengan Jennifer, pria itu juga awalnya kebingungan harus bersikap seperti apa di depan Nona-nya itu. Canggung dan malu? Tentu saja ia merasakannya tetapi ia tidak mungkin menunjukkan sikapnya. Ingat, ia adalah salah satu Cassanova, menaklukkan wanita adalah hal yang mudah. Hanya kepada Nona Jennie-nya saja, ia merasa khawatir akan hal-hal yang belum tentu terjadi. Ia tidak ingin wanita itu mengindari dirinya karena telah lancang menciumnya.


"Arrgghh.... aku bisa gila." Nico yang tengah gelisah harus dihadapkan situasi tersulit, ia menutup telinga karena suara gemericik air shower di dalam kamar mandi sungguh mengusik adrenalinnya. Nico kemudian beranjak dari duduknya, ia memilih untuk menunggu diluar alih-alih di dalam yang bisa saja membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.


Kalau saja wanita yang di dalam kamar mandi itu bukan Nona Jennie, mungkin aku sudah menerkamnya sejak tadi.


Itulah yang tengah dirasakan oleh Nico ketika berada di dalam ruangan yang sama dengan wanita yang dicintainya. Ingin menyerang tetapi tidak mungkin, ia akan digantung sebelum merasakan kenikmatan tersebut. Entah sebuah keberuntungan atau kesialan untuknya karena jatuh cinta dengan adik bos sendiri.


***


Langkah dua pria yang baru saja turun dari mobil menggugah perhatian para anak buah disekitar yang segera menghentikan kegiatan mereka. Terlihat dua bos menaiki anak tangga untuk memasuki markas Black Lion. Keil dan Daniel, wajah keduanya terlihat sumringah seperti mendapatkan lotre. Terlebih Daniel yang selalu mendapatkan service dari Ashley, sungguh ia tidak berhenti menyerang Ashley meskipun wanita itu sudah kelelahan akibat ulahnya.


"Hentikan senyumanmu itu, Daniel. Kau tau wajahmu saat ini seperti apa?!" seru Keil ketika keduanya sudah memasuki ruangan kerja mereka. Sungguh, Keil dibuat kesal lantaran Daniel tersenyum tidak jelas seperti itu sejak mereka bertemu di pelataran Markas.

__ADS_1


"Sorry, wajahku memang penuh dengan senyuman." Masih dengan senyum sumringah. Memang siapapun yang melihatnya akan mengira jika Daniel sudah tidak waras. "Katakan saja kalau kau iri denganku?!" lanjutnya kemudian dengan nada suara penuh ejekan. Daniel sangat tau temannya itu, ia pasti sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menyerang Emely meskipun mereka berada di ranjang yang sama.


"Apa wajahku terlihat iri denganmu?" sahut Keil sesaat setelah berhasil membenamkan tubuhnya di kursi yang menghadap ke sebuah komputer.


"Ya, sangat jelas." Daniel melakukan hal yang sama, duduk bersisian dengan Keil, menghadap komputer kesayangannya itu. "Di keningmu terdapat tulisan I want to eat you, baby.... hahaha." Sungguh Daniel sangat menyebalkan, bisa-bisanya ia menggoda Keil yang sejak tadi mengeram rasa kesalnya.


"Bedebah sialan!!!" Tangan Keil berhasil melayangkan pukulan di kepala Daniel. Sungguh Daniel semakin hari semakin berulah karena memang ia lebih unggul darinya juga Nico.


"Hahahaha...." Daniel masih saja tergelak akan kekesalan Keil. Kebiasaan yang baru untuknya karena kini ia bukan satu-satunya yang selalu menjadi bahan bully-an kedua temannya itu.


Keil mendengkus kesal, tangannya mulai menyentuh keyboard. Ia tidak pedulikan tawa Daniel yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Ia menekan salah satu aplikasi, dimana terhubung dengan kamera yang tersembunyi di dalam kamar Emely.


Melihat Keil yang sudah serius, Daniel tidak lagi menggoda temannya itu. Ia juga fokus pada pekerjaannya, terdapat beberapa notifikasi pesan yang masuk ke dalam email Black Lion untuk meretas berbagai sistem. Bukan hal yang sulit untuk Daniel, karena ia adalah salah satu hacker terbaik di dunia Mafia.


Keil mulanya tersenyum menonton di layar monitor wajah wanitanya. Namun senyumnya mendadak menyurut karena Emely tiba-tiba keluar dari kamar setelah kedatangan seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Jari telunjuk Keil mengetuk-ngetuk meja selama menunggu Emely kembali masuk ke dalam kamar dan hal itu menyita perhatian Daniel.


"Ada apa?" tanyanya sembari melihat layar monitor yang terpampang jelas.


"Mungkin dia sedang sarapan atau....." Kalimat Daniel mendadak terputus karena tatapan mereka teralihkan pada layar monitor.


"Jonas?!!" seru mereka secara serentak.


Tidak disangka, jika Jonas berada disana, bukankah pria itu baru akan kembali beberapa hari lagi. Tetapi kini pria itu tepat berada di dalam kamar Emely.


"Jonas Fortes! Kau benar-benar mencari mati!!" Kedua mata Keil memanas, rahangnya mengeras. Ia sungguh tidak pernah membayangkan akan menyaksikan adegan tersebut, dimana Jonas menampar wajah Emely berulang kali.


"Kau tenang dulu...." Daniel berusaha menenangkan Keil. Jika ia berada di posisi Keil, ia juga tidak akan terima ketika wanitanya diperlakukan seperti itu.


Keil tidak menyahuti perkataan Daniel, ia mengambil ponsel yang sebelumnya ia letakkan di atas meja dan mulai menghubungi seseorang. "Joy, kau dan Tom bergegas ke Knightsbridge, karena aku tidak bisa datang tepat waktu kesana!" perintahnya saat seseorang sudah menjawab panggilannya di seberang sana.


"Baik bos Keil, kami mengerti." Joy sudah paham apa yang diperintahkan oleh Keil, sudah pasti ada sesuatu yang terjadi di Knightsbridge, lebih tepatnya terjadi sesuatu dengan wanita bos mereka. Keil memutuskan sambungan telepon begitu Joy paham dan mengiyakan perintahnya.

__ADS_1


Sama halnya seperti Keil, Daniel pun panik bukan main. Tetapi ia tidak bisa melakukan apapun, menenangkan pun percuma karena Keil tidak akan diam begitu saja.


"Daniel, aku harus membawanya pergi dari sana!" Kesalahan terbesar Keil adalah masih membiarkan Emely berada di kediaman Jonas, ia tidak menduga jika Jonas berani menyiksa Emely seperti itu.


"Pergilah, aku akan mengawasi Emely dari layar monitor, aku juga akan mengirim rekamannya padamu."


Keil mengangguk. "Baiklah, tolong kau awasi Eme. Hubungi aku lima menit sekali."


"Hem...." Daniel menjawab disertai anggukan.


Keil tidak ingin membuang waktu, ia segera berlari keluar dari Markas. Perjalanan dari Markas menuju Knightsbridge cukup jauh. Setidaknya ia harus bisa menempuh selama 30 menit atau bahkan sebelum 30 menit.


Jonas, karena kau sudah berani melukai Eme, aku akan menghabisimu!


.


.


To be continue


.


.


Babang Keil



Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih


Always be happy 🌷

__ADS_1


__ADS_2