
Derap langkah kaki bergemuruh di dalam lorong rumah sakit Universitas Royal Liverpool di Kota Liverpool. Sebelumnya Keil harus menempuh jarak selama 1 jam 30 menit hanya untuk mencari rumah sakit terdekat. Dan disinilah Keil berada, menunggu di depan ruangan UGD.
"Keil, bagaimana keadaannya?" Nico bertanya setelah dirinya juga Daniel menghentikan langkah tepat di hadapan Keil yang sedang duduk di deretan kursi besi.
Keil mendongak, tersirat semburat kesedihan di wajahnya. "Buruk....." lirihnya.
Nico dan Daniel saling pandang. "Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya wanita tua itu baik-baik saja?" sambar Daniel penasaran. Terlebih lagi melihat raut wajah Keil yang terlihat putus asa.
Belum sempat Keil menjawab, dokter berseragam jas putih serta dua perawat keluar dari ruangan itu. Keil sontak berdiri, menghampiri dokter paruh baya itu.
"Seperti yang sudah kami duga, pasien pernah mengalami benturan keras di kepala. Terlebih lagi selama ini tubuhnya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja." Keterangan dokter tersebut tidak memberikan jawaban yang cukup puas untuk ketiganya.
"Katakan intinya saja Dokter, ibuku baik-baik saja, bukan?" Keil mendesak dengan penuh ketidaksabaran. Apakah dugaan dirinya benar adanya atau sejak tadi hanya rasa gelisah yang tidak beralasan.
Dokter paruh baya tersebut menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan, ia memang harus menjelaskannya secara detail. "Pasien mengalami cidera kepala, dan luka yang diterimanya semakin menambah cidera kepalanya. Dari hasil pemeriksaan, sepertinya pasien sudah mengalami kondisi seperti ini sejak beberapa tahun yang lalu. Sehingga kondisi yang semakin menurun dan emosional yang berlebihan membuat ingatannya terganggu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi usia pasien yang sudah semakin menua membuat tubuhnya semakin melemah. Karena itu kami mohon maaf untuk menyampaikan kabar ini." Menjeda sesaat, Dokter tersebut memandang lekat wajah Keil. "Saat ini pasien dalam keadaan koma," sambungnya kembali. Nampak raut wajah menyesal. Sebagai seorang dokter yang berjuang menyembuhkan para pasien ia sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi justru takdir berkata lain.
Grep
Keil tidak menerima penjelasan dokter paruh baya tersebut. Ia menarik jas dokter hingga tubuh dokter itu sedikit terhuyung ke depan. "Apa kau ingin mengatakan jika ibuku tidak bisa diselamatkan, heh?!"
Nico dan Daniel berusaha menarik Keil yang kehilangan kendali. Mereka sungguh tidak enak dengan dokter itu juga dua perawat yang lain. "Keil hentikan, dokter sudah menjalankan tugasnya dengan baik." Nico mencoba melepaskan cengkraman tangan Keil dari jas dokter tersebut, lantas Keil segera melepaskan tangannya.
"Sekali lagi saya minta maaf." Sembari membenarkan jas yang sempat berantakan karena ulah Keil. Dokter itu sama sekali tidak tersinggung, terkadang memang banyak keluarga pasien yang tidak terima akan kondisi pasien.
"Lalu kapan dia akan sadar, Dokter?" Karena Kiel masih terguncang akan berita tersebut, sehingga Daniel yang melontarkan pertanyaan itu.
"Kami belum bisa memastikannya. Jika kondisi pasien dalam keadaan seperti ini kemungkinan tersadar hanya 10% saja."
"Jadi maksudmu, ibuku tidak bisa diselamatkan, begitu?!" tanya Keil getir.
Dokter paruh baya itu tertunduk menyesal. "Kami mohon maaf." Tentu saja Keil tidak bisa mengalahkan dokter itu.
"Baiklah, terima kasih dokter," tutur Nico.
Dokter itu mengangguk. "Kalau begitu kami permisi dulu." Dengan langkah panjang, dokter serta dua perawat berlalu dari sana.
Keil menjatuhkan tubuhnya kembali di atas kursi besi. "Aku harus bagaimana menyampaikannya kepada Eme?" Meraup wajahnya dengan frustasi. Keil sudah membayangkan wajah Emely yang bahagia karena ia telah berhasil membawa kembali sang ibu. Akan tetapi justru takdir berkata lain.
Nico serta Daniel turut mendudukkan tubuh mereka di antara Keil. "Katakan saja yang sebenarnya, meskipun sangat berat untuknya," kata Nico berusaha menenangkan sang sahabat yang gelisah tidak menentu.
"Emely tidak sendiri, dia masih memilikimu Keil." Daniel juga memberi semangat.
Keil membuang napasnya berat. "Aku akan mencoba menghubungi Joy." Kemudian merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celana, Keil mulai mencoba menghubungi Joy. Terdengar nada tunggu di sambungan telepon sebelum Joy menjawab panggilannya.
__ADS_1
"Ada apa Bos Keil?"
"Kau dan juga Tom bawa Emely ke rumah sakit Universitas Royal Liverpool saat ini juga!"
"Tapi apa yang terjadi?" Joy terdengar bingung di seberang sana karena Keil memberitahu secara tiba-tiba.
Keil tidak ingin menjawabnya. Yang perlu Joy lakukan adalah menjalankan tugasnya dengan baik. "Lakukan saja. Gunakan helikopter untuk mempersingkat waktu!"
"Baiklah...." Joy tidak bertanya lagi, meskipun ia curiga jika ada sesuatu yang terjadi. Kemudian keduanya mengakhiri panggilan telepon.
"Emely harus siap dengan kemungkinan yang terjadi Keil."
"Ya, aku berharap Eme bisa menerima." Keil mengangguki perkataan Nico.
"Ada kau, juga ada kami berdua, bahkan ada Ashley juga Nona Jennie. Jadi tidak perlu khawatir dengan Emely, kekasihmu tidak akan merasa sendirian," imbuh Daniel.
Benar, Emely tidak akan pernah sendirian karena Keil pun tidak mungkin membiarkan Emely sendirian tanpa dirinya. Haaahh... Keil hanya mampu mendesahkan napasnya ke udara.
***
Selama mengudara kurang lebih 2 jam. Emely tiba di Kota Liverpool. Wanita itu memasuki salah satu rumah sakit terbesar di Kota Liverpool dalam keadaan gelisah tidak menentu. Bagaimana tidak, baik Joy juga Tom tidak menjelaskan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi. Karena mereka juga tidak tahu dan hanya menjalankan perintah.
Kenapa dirinya harus datang ke Kota Liverpool? Apa yang terjadi dengan Keil? Apa Keil terluka? Apa Keil baik-baik saja? Beragam pertanyaan di benaknya cukup membuatnya gusar. Emely tidak ingin terjadi sesuatu dengan kekasihnya.
"Keil...." Seketika rasa gelisahnya menguap tidak tersisa saat mendapati Keil baik-baik saja.
"Apa yang terjadi Keil? Kenapa kau dirumah sakit?" Emely bertanya di dalam dekapan Keil.
Namun Keil masih tetap bungkam. Rasanya ia tidak sanggup memberitahukan keadaan ibu dari kekasihnya itu.
"Tapi bisakah kau berjanji padaku untuk tetap tenang?" ujarnya sesaat selepas mengurai pelukan.
Emely mengangguk pelan meskipun wanita itu bingung dengan apa yang terjadi.
"Aku sudah menemukan Mom....." Kedua tangan Keil menangkup bahu Emely.
Wajah Emely seketika membetuk sebuah senyuman. "Benarkah? Lalu dimana Mommy?" Raut wajahnya menggambarkan jika wanita itu tidak sabar ingin bertemu dengan sang mommy.
"Tapi kau harus berjanji terlebih dahulu."
"Iya aku berjanji. Karena itu dimana Mommy? Aku ingin segera bertemu dengannya."
Keil benar-benar tidak tega melihat senyum Emely yang terukir dan sebentar lagi sudah dapat dipastikan akan menghilang di wajah kekasihnya itu. "Di dalam..." jawabnya.
__ADS_1
Emely bingung dengan jawaban Keil. "Di dalam mana? Apa Mommy ada di dalam mobil? Kalau begitu aku ingin melihatnya." Namun Keil segera mencegah Emely yang hendak melangkah.
"Dengarkan aku dulu, Love. Bukan di dalam mobil tapi di dalam sana." Keil menoleh ke arah ruangan yang tertutup rapat itu. Ruangan itu khusus untuk pasien yang sedang dalam keadaan koma.
Deg
Emely terkejut, jantungnya seolah berhenti berdetak. Apa yang terjadi dengan Mommy-nya.
"Ke-Keil sebenarnya apa yang terjadi?" Bahkan kini kedua matanya sudah berkaca-kaca, buliran bening itu hendak tumpah dari penampungannya.
"Keadaanya tidak baik. Karena pernah mengalami benturan keras dan luka yang dia dapatkan beberapa hari yang lalu membuat keadaannya semakin memburuk, sehingga saat ini Mom dalam keadaan koma." Suara Keil perlahan melemah, apalagi ketika memberitahukan jika ibu dari kekasihnya itu dalam keadaan koma.
Wajah Emely mendadak memucat. Sungguh ia bahagia bisa bertemu kembali dengan Mommy-nya tetapi bukan dalam keadaan seperti ini. "Keil, aku ingin melihat Mommy."
Keil menelisik perubahan raut wajah Emely. Benar saja, senyum kekasihnya itu menyurut sempurna. Akan tetapi di luar dugaannya, Emely tidak menangis histeris bahkan tetap tenang walaupun setetes air mata meluruh di wajah cantiknya.
"Kau bisa melihatnya." Kemudian Keil merangkul pinggul Emely, menuntun kekasihnya memasuki ruangan. Emely masuk seorang diri, ia mengenakan pakaian yang sudah disterilkan dan sudah mencuci tangan terlebih dahulu.
Suara mesin ventilator di dalam sana memenuhi pendengarannya. Rasanya hampir berdengung di telinganya. Tubuh Emely melemas bersamaan dengan pandangannya yang berpusat pada wajah pucat sang mommy yang terdapat alat bantu pernapasan. Ia melirik sekilas kepada layar monitor yang menunjukkan detak jantung Mommy-nya.
"Bagaimana kabar Mommy?" Sekuat tenaga Emely menahan air matanya agar tetap di tempatnya. "Sudah berbulan-bulan kita tidak bertemu dan saat ini aku sudah menemukan Mommy dalam keadaan seperti ini." Dan kemudian wanita itu mendekati ranjang, menggenggam erat tangan Sang Mommy. "Aku baik-baik saja Mom. Aku sudah bertemu dengan kekasihku yang pernah aku ceritakan. Mommy tidak perlu khawatir lagi padaku, saat ini aku sudah bahagia bisa bersama lagi dengannya. Aku juga senang bisa melihat Mommy lagi." Tidak sanggup, itulah yang dirasakan Emely, ia memejamkan mata sejenak. "Mom, aku tau hari ini akan terjadi, hari dimana Mommy akan meninggalkanku untuk selama-lamanya, karena itu jika Mommy ingin pergi, pergilah dengan tenang."
Emely tidak bisa lagi berpura-pura kuat, sehingga membiarkan air matanya itu tumpah membanjiri wajahnya. Emely menumpahkan tangisnya di samping Mommy-nya. Menceritakan pertemuannya dengan Keil kembali dengan terisak, perlakuan dan kebaikan Keil tidak luput ia ceritakan. Tetapi ada satu hal yang tidak di ceritakan, yaitu tentang Jonas. Ia yakin bahwa saat ini Mommy-nya dapat mendengar setiap perkataannya, karena itu ia hanya ingin menceritakan sesuatu yang bahagia saja.
Emely sudah tidak terkejut lagi, karena kondisi mommy-nya saat ini berawal dari kecelakaan beberapa tahun silam, serta diagnosa yang pernah disampaikan oleh dokter terdahulu. Emely akan menerima jika Mommy tercintanya harus pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Hanya satu yang ia pinta, semoga Mommy bahagia disana.
.
.
To be continue
.
.
Emely
Follow akun Instagram kedua Yoona ya man-teman @_rantyyoona_
akun yang lama gak bisa dipake, mungkin ke hack atau keblokir. Jadi kalau mau DM ke akun yg baru aja ya ❤️ smoga akun yg lama bisa pulih, kalau gak ya terpaksa pake akun kedua yang baru 😁
__ADS_1
Tetap like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗
Always be happy 🌷