Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Benar-benar sudah gila


__ADS_3

Jennifer menghela napas berat, kini dirinya dan juga Billy sudah menjadi pusat perhatian disana. Apa yang akan dilakukan Billy? pikirnya. Jennifer mendadak gelisah namun sebisa mungkin ia tetap tenang, ia juga penasaran apa yang membuat kekasihnya itu bersikap dingin dan seperti marah dengannya.


"Baiklah, tapi tidak disini. Lihatlah ke sekeliling, saat ini kita menjadi pusat perhatian." Jennifer mencoba berbicara baik-baik dengan Billy. Jika tidak, bisa saja Billy melakukan hal yang tidak terduga mengingat kekasihnya itu seperti tengah emosi.


"Aku tidak peduli lagi. Jika cara seperti ini bisa membuatmu mengakui hubungan kita, aku akan melakukannya, bahkan seharusnya sejak awal aku melakukan hal ini." Sungguh, Jennifer benar-benar gagal mencerna perkataan Billy, sebenarnya apa yang membuat Billy menjadi semarah ini?


"Billy...." Jennifer menekankan suaranya, sembari berupaya meloloskan pergelangan tangannya yang masih digenggam erat oleh Billy.


"Aku tidak akan melepaskan tanganmu sayang."


Kedua mata Jennifer membeliak, apa Billy sengaja ingin semua orang mengetahui hubungan mereka? Tidak. Jika itu terjadi, bukan hanya Billy yang akan terluka oleh kakaknya, tetapi dirinya juga akan terkena imbasnya, mungkin kakaknya akan mengirimnya sejauh mungkin.


Nico yang sejak tadi menyaksikan, sebenarnya tidak ingin ikut campur tetapi jika sudah mengganggu kenyamanan Nona Jennie, tentu saja dirinya tidak bisa tinggal diam. Dengan langkahnya yang tegas, Nico mendekati Jennifer juga Billy.


"Lepaskan tanganmu dari Nona Jennie!" Nico menyambar tangan Billy dengan kasar.


"Kau tidak perlu ikut campur. Jennie adalah kekasihku! Kau hanya pria asing disini!" Billy menekankan kata pria asing, untuk menegaskan status Nico yang hanya sebagai bodyguard. Dan Billy tetap pada pendiriannya, ia tidak akan melepaskan tangan Jennifer meskipun ia menyadari jika semakin banyak karyawan yang menyaksikan mereka dengan raut wajah penasaran dan penuh tanda tanya tentang hubungannya dengan direktur mereka.


Kedua mata Nico menajam. Pria asing katanya? Sepertinya ia harus menunjukkan pria asing yang sebenarnya, dirinya atau pria itu. Meskipun Billy memang kekasih Nona Jennie, tetapi lihatlah wanita itu justru terlihat nyaman jika berada di dekat dirinya.


Nico menahan rasa geramnya, ia sedikit mendekatkan tubuhnya dan berbisik kepada Billy. "Sebaiknya kau lepaskan tangan Nona Jennie jika memang kau masih ingin karirmu bertahan di perusahaan ini. Aku adalah anak buah kepercayaan sekaligus teman dari Tuan Xavier Alexander Romanov, menurutmu dia akan mempercayaiku atau dirimu?!"


Billy dibuat tidak bisa berkutik akan ancaman Nico, ia baru mengetahui jika bodyguard kekasihnya adalah orang kepercayaan Tuan Xavier. Tidak, ia tidak akan sebanding jika harus melawan Tuan Xavier. Bukan hanya karirnya saja yang akan hancur, bisa saja hubungannya dengan Jennifer juga akan berakhir.


Perlahan Billy melepaskan cengkraman tangannya, membuat kelegaan untuk Jennifer. Entah apa yang dibisikkan oleh Nico kepada Billy sehingga kekasihnya itu menurut begitu saja. Jane yang sejak tadi berada di kerumunan para karyawan, mulai membubarkan mereka semua, tanpa menjawab berbagai pertanyaan yang bertubi-tubi menyerang dirinya untuk menanyakan perihal hubungan Direktur mereka dengan Billy.


"Kita bicara di ruanganku saja." Setelah mengatakan hal itu kepada Billy dengan tatapan kesal, Jennifer melenggang pergi diikuti oleh Nico dan juga Jane. Billy menghela napas kasar, seharusnya ia bisa menahan diri. Lihatlah, karena kebodohan dirinya, kekasihnya itu marah dengannya.


***


Kini mereka semua berada di dalam ruangan. Tatapan Billy mengarah tajam ke arah Nico yang masih tidak bergeming dan tidak keluar dari ruangan seperti yang dilakukan Jane. Sungguh, ia tidak menyukai sosok pria itu.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Suara Jennifer terkesan dingin. Wanita itu duduk bersandar pada sandaran sofa.


"Bisakah kita bicara berdua saja?" Sembari melirik ke arah Nico yang berdiri tidak jauh dari mereka, menyandarkan punggungnya pada daun pintu.


"Nico tidak akan mengganggu pembicaraan kita." Jennifer sudah sedikit mengetahui sifat Nico, pria itu tetap akan berada di ruangan, sekalipun dirinya menyuruh pria itu untuk keluar, jadi untuk apa membuang tenaga untuk bodyguardnya yang keras kepala itu.

__ADS_1


"Baiklah...." Terdengar helaan napas panjang yang dihembuskan oleh Billy. Ia tidak ingin berdebat, sehingga membiarkan bodyguard itu mendengarkan percakapan mereka. Billy mengambil ponselnya di dalam saku celana dan kemudian menunjukkan sesuatu di dalam ponselnya tersebut. "Apa benar kalian tidak memiliki hubungan apapun?"


Kening Jennifer berkerut. "Apa maksudmu?" Meskipun bingung, Jennifer meraih ponsel Billy. Seketika kedua manik matanya membeliak. Dari mana Billy mendapatkan foto dirinya bersama dengan Nico. "Jadi kau marah karena ini?" tanyanya kemudian.


"Benar, tapi bukan hanya foto ini saja." Dan kemudian Billy mengeluarkan beberapa lembar foto yang sudah dicetak dan melemparkannya ke atas meja. "Apa kau bisa menjelaskan kepadaku tentang hubungan kalian?"


Sejak tadi Nico terkesiap karena ternyata kemarahan Billy ada hubungannya dengan dirinya. Meskipun ia membuang pandangannya ke arah lain, namun memasang telinga untuk mendengarkan percakapan mereka.


"Aku bisa jelaskan."


"Ya, kau memang harus menjelaskannya sayang. Kau tidak mungkin menyukai bodyguard sepertinya. Apa dia telah menggodamu?" Billy sengaja mengeraskan volume suaranya agar Nico dapat mendengarnya dengan jelas.


"Apa aku terlihat seperti wanita yang mudah digoda?" Sorot mata Jennifer penuh kekecewaan.


"Bukan seperti itu sayang." Sungguh Billy tidak pernah berpikiran rendah kepada kekasihnya. Tetapi entah kenapa melihat kedekatan mereka, menambah asumsi yang tidak-tidak, terlebih lagi ditambah akan foto-foto tersebut.


"Lalu apa namanya jika bukan seperti itu? Kau hampir membongkar hubungan kita di depan semua orang di lobby!" bentaknya. "Kau bisa membicarakan hal ini baik-baik. Apa kau tidak bisa bersabar menemuiku di ruangan atau aku yang menemuimu. Kenapa kau bersikap seperti itu di lobby?" Setelah meledak-ledak, Jennifer mengatur napasnya yang naik turun karena amarahnya tersebut, hingga membuat Billy terkejut karena untuk pertama kalinya setelah bersama dan mengenal wanita itu, Jennifer menunjukkan sisi mengerikannya.


Melihat Billy yang menatap dirinya tidak percaya membuat emosi Jennifer semakin memuncak. "Apa? Kenapa melihatku seperti itu? Apa kau terkejut karena pertama kalinya melihatku seperti ini? Aku memang seperti ini!" Jennifer tidak pernah menutupi-nutupi dirinya yang sesungguhnya kepada siapapun.


"Aku.... maafkan aku," lirihnya. Sungguh Billy memang menyesali sikap bodohnya itu. "Memang tidak seharusnya aku mempermalukanmu."


"Jika memang kakakmu mendengar berita tentang kita, aku sendiri yang akan menjelaskannya. Aku tidak peduli jika harus diperlakukan tidak baik setelahnya, jika itu bisa membuatku mendapatkan izin darinya untuk bersamamu."


Jennifer menggeleng diiringi decakan lidah, bukan dirinya meremehkan Billy tetapi ia mengenal siapa kakaknya itu. Sudah pasti kakaknya tidak akan menyukai Billy karena selama ini Billy memiliki skandal dengan wanita-wanita sesama model meskipun pada akhirnya memang mereka tidak memiliki hubungan apapun.


"Apa yang membuatmu percaya diri seperti itu? Kau tidak mengenal kakakku Billy, dia bukan hanya akan melarang hubungan kita tetapi dia juga bisa membuatmu berhenti dari dunia hiburan dan mengirimmu jauh dari sini. Sama seperti yang pernah dilakukan kepada mantan tunangan kakak dulu, dengan wanita yang dulu pernah dicintainya saja dia tega membuatnya menjadi gelandangan, apalagi dirimu!"


Mendengar penuturan Jennifer, Billy membisu selama beberapa saat. Apa dirinya benar-benar tidak pantas untuk Jennifer sehingga saat ini ia begitu tidak berdaya. Ia yang hidup sebagai pria biasa harus mati-matian berjuang di dunia hiburan untuk mencapai kesuksesan.


Billy tertunduk, rasanya ia tidak memiliki tenaga lagi untuk mengangkat wajahnya. "Aku hanya ingin mempertahankan hubungan kita sayang, tapi sepertinya selama ini hanya aku yang mencintaimu."


"Kau salah paham. Jika aku tidak mencintaimu, untuk apa bertahan selama ini, apa kau pernah berpikir jika selama ini aku kecewa melihat skandalmu dengan teman-teman wanitamu itu." Ya, jika tidak mencintai Billy untuk apa selama ini dirinya bertahan.


"Tapi kau tau mereka semua hanya teman-temanku," bantah Billy. "Lagi pula kenapa selama ini kau tidak mengatakannya padaku?"


"Seharusnya tanpa aku mengatakannya kau sudah harus tau bagaimana caramu bersikap kepada teman-teman wanitamu! Lihatlah, karena sikapmu yang seperti itu, teman wanitamu salah mengartikan, termasuk Clarisa." Selama ini Jennifer tidak tinggal diam, ia selalu saja membayar seseorang untuk mengikuti kemanapun kekasihnya itu pergi.

__ADS_1


Tidak ada bantahan lagi yang keluar dari bibir Billy. Ia memang merasa salah dalam hal itu. Tidak seharusnya ada skandal buruk mengenai dirinya yang mungkin saja sampai ke telinga calon kakak iparnya tersebut.


Jennifer mengambil salah satu foto dirinya bersama dengan Nico yang berserakan di atas meja. "Sekarang katakan kepadaku darimana kau mendapatkan foto-foto ini?" Karena atas perintahnya, lokasi pemotretan pada beberapa hari yang lalu di Kota Birmingham adalah bersifat privasi, sehingga tidak mungkin ada paparazi yang mengambil gambar mereka. Terlebih lagi gambar yang diambil adalah pada saat dirinya berada di dalam kamar bersama dengan Nico yang tengah memeluknya saat dirinya nyaris terjatuh dan foto saat dirinya berada di taman duduk bersisian dengan Nico.


"Hem itu...." Billy terlihat bingung, karena sejujurnya ia sudah berjanji untuk tidak memberitahu asal mula ia mendapatkan foto-foto tersebut.


Melihat Billy yang tidak ingin menjawabnya membuat Jennifer mendecakan lidah. "Apa kau ingin melindunginya?"


"Tidak sayang. Tentu saja tidak." Sontak saja membuat Billy membantahnya dengan cepat. "Foto-foto itu aku dapatkan dari Clarisa." Billy berpindah tempat duduk, mendaratkan tubuhnya di samping Jennifer dan merengkuh tangan wanita itu. "Aku minta maaf, seharusnya aku percaya denganmu."


Jennifer tersenyum masam, sudah ia duga jika Clarisa yang sengaja ingin mencari cara untuk memisahkan mereka. Jennifer menepis tangan Billy. "Sebaiknya kita bicara lain kali saja. Aku sedang banyak pekerjaan pagi ini."


"Tapi...."


"Billy, keluarlah dari ruanganku!" Perkataan Jennifer tidak terbantahkan sehingga dengan terpaksa Billy beranjak berdiri dan menyeret langkahnya menuju pintu. Langkahnya terhenti sejenak dan melayangkan tatapan nyalang kepada Nico. Ia harus berhati-hari kepada pria di depannya ini, karena tanpa disadari bodyguard dari kekasihnya itu memiliki aura yang berbeda dan membuatnya tidak bisa berkutik secara bersamaan.


Nico menyunggingkan senyum ketika melihat kepergian Billy dari ruangan Nona Jennie. Ternyata ia tidak perlu bersusah payah untuk menjauhkan mereka, dengan sendirinya pria bodoh itu yang membuat jarak mereka semakin menjadi jauh.


Memang terkesan jahat jika harus senang di saat Nona Jennie merasa sedih. Tetapi hatinya tidak bisa berbohong jika ia benar-benar senang, hubungan yang setipis benang itu akan berakhir, hanya tinggal menunggu waktu saja.


Nico berjalan mendekati sofa. "Nona, apa kau membutuhkan pelukanku?"


Rekasi Jennifer justru terlihat kesal hingga memelototi Nico namun Nico memasang senyum penuh damba.


Lihatlah, di saat sedih seperti ini, dia tetap terlihat cantik. Poor Nico, kau benar-benar sudah gila.



.


.


To be continue


.


.

__ADS_1


Gak cuma babang Nico aja yang udah gila Yoona juga ikutan gila wkwk😂😂


__ADS_2