
Sebenarnya Elleana tidak setuju dengan drama yang dimainkan sang suami. Akibat perbuatan suaminya, ia harus menyaksikan Jennifer menangis tersedu-sedu. Ia sangat menyayangi adik iparnya itu sehingga jika Jennifer merasakan sakit, maka ia juga akan merasakan hal yang sama.
"Hubby, sudah cukup kau menyiksa mereka." Elleana bersedekap disertai bibir yang mengerucut kesal. Rasanya ia tidak sanggup melihat keadaan Jennifer yang nampak kacau belakangan ini.
Xavier terkekeh, ia mencubit gemas hidung mancung sang istri. "Aku belum puas, Sweety. Dia harus diberikan pelajaran karena sudah berani berbohong dan mengencani adikku." Lalu telapak tangannya menangkup wajah sang istri. "Kau lihat tadi wajahnya seperti apa? Wajahnya yang menyedihkan itu membuatku ingin tertawa. Dia benar-benar bodoh jika terjebak dengan permainanku. Kenapa Jennie bisa jatuh cinta dengannya?"
Elleana menatap jengah, ia memegang telapak tangan sang suami lalu menyingkirkannya. "Cinta bisa datang kapan saja Hubby, siapa yang bisa memilih dia harus jatuh cinta dengan siapa." Elleana hendak melangkah tapi lengannya lebih dulu di tangkap oleh Xavier.
"Apa kau marah, hm?"
"Tidak, aku hanya tidak ingin kau berlebihan mengerjai mereka."
"Aku tidak mengerjai mereka, Sweety." Xavier membantah. Apa yang ia lakukan bukan semata-mata mengerjai pasangan itu. "Kau sudah tau Nico seperti apa sebelumnya, aku harus memastikan jika anak buahku itu tidak akan menyakiti adikku seperti dia menyakiti wanita-wanitanya."
Elleana paham dan karena itu ia menyetujui drama yang dibuat sang suami. Ia beserta suaminya hanya ingin melihat kesungguhan pria itu. Sudah cukup sering ia mendengar tentang Nico dari suaminya, Nico memang pria yang baik dan tidak pernah berkhianat pada organisasinya, tapi lain halnya jika sudah menyangkut tentang seorang wanita. Sebagai seorang kakak ipar, ia ingin adik iparnya mendapatkan pria yang bisa memperlakukan Jennifer sebagai ratu, seperti dirinya yang diperlukan dengan begitu istimewa oleh suaminya.
"Setiap orang bisa berubah Hubby, Nico termasuk salah satunya. Dan kau lihat bagaimana Zayn berubah, dia-"
"Sshhttt...." Belum sempat Elleana menyelesaikan kalimatnya, jari telunjuk Xavier lebih dulu mendarat di bibir istrinya "Jangan membahas pria menyebalkan dan tidak waras itu, Sweety. Dia memang sudah berubah, tapi otaknya masih sedikit bermasalah."
"Ck, kau ini. Zayn memang seperti itu."
Tidak terima jika sang istri menyebut nama pria lain, terlebih pria itu adalah pria pertama yang mencintai istrinya, Xavier membungkam bibir Elleana dengan bibirnya, menyesap lama hingga dan istri menepuk dada suaminya itu sebagai tanda suaminya harus menyudahi ciuman mereka.
Xavier terkekeh gemas mengusap sudut bibir istrinya yang basah. "Jangan sebut nama pria bajingan itu. Dia bisa besar kepala nanti!"
"Iya.... iya...." Elleana mengiyakan saja agar urusannya tidak melebar karena sifat suaminya yang begitu posesif.
Hah. Xavier mendesahkan napasnya ke udara. "Lagi pula tidak mudah untuk menjadi bagian dari keluarga Romanov, Sweety. Dia tidak hanya harus pintar mengandalkan otot saja tapi juga harus menggunakan otaknya. Diluar sana banyak musuh yang mengincar keluarga kita, karena itu Nico harus bisa melindungi Jennie."
"Kau benar. Tapi ada baiknya Hubby minta maaf pada Jenn karena sudah mengerjainya, katakan kau setuju dengan hubungan mereka." Elleana mendorong punggung Xavier, sedikit sulit mengingat suaminya memiliki tubuh yang tinggi besar.
__ADS_1
"Sudah kukatakan aku tidak mengerjai mereka, Sweety." Xavier memprotes disaat ia menyeret langkahnya.
"Iya Hubby. Sudah jangan banyak bicara lagi, kau harus bicara pada Jenn." Sekuat tenaga Elleana mendorong tubuh Xavier yang masih enggan untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Jennifer.
Dengan malas, Xavier menuruni tangga bersama dengan Elleana yang mengekori suaminya itu untuk menjadi saksi, apakah suaminya benar-benar akan menyudahi permainannya atau tetap ingin melanjutkan permainan konyol itu.
Xavier kemudian memutar knop pintu, lalu membuka pintu itu dengan lebar dan mendapati sang adik masih berada disana. "Jenn, kemarilah. Kak Vie ingin bicara denganmu di ruang tamu." Lalu Xavier segera meninggalkan ruangan televisi. Ia juga Elleana akan menunggu Jennifer dan memberitahu semuanya.
Jennifer hanya menatap bingung kepergian kakaknya dari sana. Apa ia harus menemui kakaknya, sedangkan ia sedang merajuk.
"Jenn, jangan coba-coba mengabaikan perkataan Kak Vie!" Suara Xavier yang berteriak itu menggelegar hingga suaranya membuat Jennifer terjingkat, lalu beranjak dari tempat duduknya dan melangkah panjang menuju ruang tamu.
Jennifer mendudukkan dirinya di sofa, ia menatap kakak ipar yang sudah lebih dulu duduk dan kemudian bergantian menatap sang kakak yang hanya berdiri menyandarkan tubuhnya pada tangan sofa.
"Ada apa Kak?" tanyanya lemas. Bagaimana tidak lemas jika Jennifer tidak dapat tidur dengan baik selama dua hari penuh. Pikirannya masih melayang akan sosok pria yang ia cintai itu.
"Sekarang apa keputusanmu Jenn? Kau sudah mengetahui siapa kekasihmu yang sebenarnya. Apa kau masih tetap ingin bersamanya, hm"? Xavier menyilangkan tangan di depan dada, ia menanti jawaban apa yang akan diputuskan sang adik setelah mengetahui jika anak buahnya adalah pria yang mengerikan sama seperti dirinya.
"Pantas saja setelah makan malam kemarin, Kak Vie mengizinkanku pulang membawa mobil sendiri. Jadi sebenarnya Kak Vie sudah merencanakannya?" Mata Jennifer memicing tajam, ia mencari celah untuk mengkritik kakaknya itu. "Dan karena kakak, aku harus menyaksikan kejadian mengerikan itu." Jennifer bergidik negri jika mengingat malam mengerikan itu, dimana kekasihnya dengan kejam melakukan penikaman kepada dua pria sekaligus.
Tersemat senyum tipis di sudut bibir Xavier mendengarkan penuturan . "Aku memang merencanakan sesuatu agar Nico bisa menunjukkan sisi lainnya kepadamu Jenn, tapi siapa yang mengira jika Nico benar-benar bertemu dengan perampok sungguhan. Orang-orang suruhanku tidak bisa di andalkan, mereka terlambat datang, tapi setidaknya mereka selamat malam itu. Jika tidak, maka nasibnya akan sama dengan dua pria itu." Ya, Xavier sudah merencanakan dengan matang untuk memberikan jebakan terhadap Nico, ia tau pasti jika Nico tidak akan mungkin menunjukkan sisi lainnya di hadapan Jennifer. Bisa saja adiknya itu tidak bisa menerima Nico setelah mengetahui sosok kekasihnya yang sebenarnya
"Entahlah Kak, aku masih tidak percaya apa yang aku lihat malam itu. Dia benar-benar mengerikan," cicitnya pelan yang masih dapat dijangkau oleh Xavier.
"Sudah pernah ku katakan, kau akan menyesal jika sudah mengetahui siapa Nico yang sebenarnya." Xavier tersenyum mengejek, ia sudah menduga jika Jennifer akan sulit menerimanya. Karena itu ia membantu Jennifer membuka matanya dengan lebar, sebelum akhirnya menyesal nanti. Biar bagaimanapun Nico adalah anak buah kepercayaannya. Meskipun Jennifer adalah adiknya, ia tidak ingin sang adik hanya melihat dari sudut pandangnya saja.
Jennifer tertunduk. Ia tidak menyesal, hanya saja masih sulit untuk percaya. Pantas saja ia berulang kali merasakan hawa yang berbeda jika melihat Nico sedang dalam mood dipenuhi amarah. Sedangkan Xavier tersenyum masam melihat adiknya yang hanya menundukkan pandangan dan tidak menjawab ucapannya. Itu sudah membuktikan jika Jennifer tidak bisa menerima sisi lain dari anak buahnya itu.
"Kak...." Jennifer kemudian mendongak. "Bukankah aku pernah bilang, seperti Kak Elle yang menerima Kak Vie apa adanya, aku juga akan menerima Nico apa adanya. Selama ini yang kulihat Nico selalu bersikap baik dan tidak pernah melukaiku, dia memperlakukanku seperti Kak Vie memperlakukan Kak Elle. Jadi aku akan tetap bersamanya meskipun Nico memiliki sisi gelap yang lainnya lagi." Dan itulah keputusannya, menerima Nico dengan segala sisi lainnya. Ia percaya jika Nico tidak akan pernah melukainya. "Lagi pula jika Nico melukaiku atau menyiksaku, kakak akan lebih dulu membunuhnya," lanjutnya terkekeh penuh percaya diri. Dua hari cukup untuk dirinya berpikir, ia nyaman bersama pria itu, merasa bahagia ketika tertawa bersamanya dan yang pasti ia sangat mencintai pria itu.
Xavier dan Elleana saling pandang lalu melemparkan senyum satu sama lain. "Rupanya Jennie kita sudah menjadi sangat dewasa, Hubby. Aku kira dia akan berteriak histeris dan memohon untuk menjauhkan Nico."
__ADS_1
"Benar Sweety, aku sempat mengira seperti itu. Tapi baguslah jika Jennie bisa menerima Nico." Mengecup bibir Elleana dengan lembut.
"Hei... Hei... aku masih disini, kalian justru berciuman di depanku." Jennifer mencebikkan bibirnya sembari bersedekap kesal.
Mendengar perkataan Jennifer, Elleana melepaskan tautan bibir mereka. Ia merasa malu karena dilihat oleh adik iparnya.
"Kau bisa melakukannya dengan Nico. Tapi ingat, tidak boleh lebih dari itu. Jika tidak, aku akan memotong batang miliknya!" Ancaman Xavier membuat Jennifer menelan susah payah, bagaimana jika sang kakak mengetahui jika kekasihnya itu pernah menyentuh buah dadanya.
"Iya Kak, kami akan melakukannya setelah menikah," cicitnya pelan. Lebih baik ia mencari aman. Jika tidak, Nico yang akan terkena dampaknya.
Untuk sesaat keheningan melingkup mereka, hingga derap langkah kaki seseorang terdengar nyata di pendengaran, ketiganya secara reflek menolehkan kepala mereka ke arah pintu.
"Kak Adam?"
To be continue
Jennie syok wkwk
Daddy Xavier hott banget 😍
Mommy Elle, pawangnya Daddy Vier 🤭
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...