Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Klien anonim?


__ADS_3

Setelah sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Nico bergegas kembali ke Markas. Sementara Jennifer di antarkan pulang ke Mansion utama oleh sang kakak. Xavier membujuk adiknya itu untuk ikut dengannya lagi ke Swiss selama beberapa hari, tetapi Jennifer bersikeras menolak, beralasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


"Apa kau yakin tidak ingin ikut denganku?" Xavier bertanya sekali lagi setelah mobil mereka sudah tiba di pelataran Mansion dan keduanya turun dari mobil.


"Tidak Kak, besok pagi aku ada rapat penting dengan klien besar."


"Baiklah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik." Xavier tidak ingin memaksa. Baginya kini adiknya sudah lebih dewasa dan bertanggung jawab, tentu ia merasa sangat bangga.


"Iya kak...." Jennifer mengangguk patuh.


"Hubungi Nico jika kau ingin pergi kemanapun."


"Iya Kak...." jawabnya kembali. "Tapi bukankah ada Elma?"


"Tidak perlu. Nico lebih bisa melindungimu." Dari kejadian yang baru saja terjadi, Xavier lebih memilih Nico untuk menjaga sang adik. Selama ini Nico memang selalu waspada dan cekatan.


"Ck, Kak Vie percaya sekali dengannya." Dengan nada menyindir. Bahkan sepertinya kakaknya itu akan lebih mempercayai anak buahnya ketimbang dengan dirinya, adiknya sendiri.


"Karena dia anak buahku, sudah pasti aku percaya dengannya dibandingkan dengan dirimu. Kau suka membohongiku, Mom dan juga Dad!" Xavier ingat benar, bagaimana sang adik sejak remaja sudah sering membohongi dirinya, dengan pergi ke pesta bahkan ke Club malam secara diam-diam.


Jennifer memutar bola matanya malas, itu adalah kebohongan kecil saat masa remaja. Ternyata karena itu, kakaknya lebih percaya kepada orang lain. "Aku sudah tidak pernah berbohong lagi, kak!" bantahnya. "Hanya tidak jujur saja..." cicitnya kemudian dengan memalingkan wajah dan suara yang diperkecil namun Xavier dapat mendengarnya.


"Itu sama saja." Xavier menyentil kening adiknya tersebut, hingga membuat Jennifer mencebikkan bibirnya, sementara jemari tangannya mengusap kening akibat ulah sang kakak. "Ah ya, pria yang-"


"Kak Vie maaf, perutku sakit. Aku harus ke kamar mandi." Jennifer menyela, sebelum Xavier menyelesaikan kalimatnya. "Aku masuk dulu kak, Kak Vie dan Kak Jack hati-hati saja, sampaikan salamku untuk si kembar dan juga Austin." Kemudian tergesa-gesa masuk ke dalam Mansion. Baik Xavier dan Jack yang berdiri di sisi mobil tercengang. Ada apa dengan Jennifer?


"Ada apa dengannya? Aneh sekali." Xavier menggelengkan kepala, memperhatikan punggung sang adik yang lenyap dari pandangannya di balik bangunan mewah tersebut.


"Adikmu memang selalu aneh bos," seloroh Jack.


"Tidak boleh ada yang menghinanya selain diriku!" Sikap posesif sebagai kakak kembali muncul.


"Sorry bos." Lantas Jack langsung membungkam mulutnya.


"Aku hanya ingin mengatakan padanya, jika dia tidak perlu khawatir mengenai pria tadi yang berusaha mencelakainya," tutur Xavier.


"Mungkin Jennie masih sangat syok, bos."


Xavier mengangguk membenarkan. "Mungkin saja."

__ADS_1


"By the way bos, kita akan terlambat jika berdiri terus disini." Jack mengingatkan. Waktu yang berjalan semakin cepat, itu tandanya mereka harus cepat-cepat kembali ke Swiss.


"Ah, kau benar. Semakin tua kau semakin pintar, Jack." Pujian yang sebenarnya adalah sebuah ejekan.


"Ck, aku selalu pintar bos, hanya saja jika bersamamu aku selalu terlihat bodoh!"


Xavier terkekeh, kemudian masuk ke dalam mobil mengabaikan tatapan Jack. Ah, biarlah merendah di depan bos, pikirnya. Sebelum kemudian mengikuti bos masuk ke dalam mobil dan menancapkan gas meninggalkan Mansion utama.


Sementara Jennifer mengintip di balik jendela setelah mobil sang kakak sudah tidak terlihat lagi, kemudian ia menghembuskan napas penuh kelegaan. Jennifer menduga jika kakaknya akan bertanya perihal pria yang bersamanya di Kota Newcastle, yang tidak lain ialah Billy, mengingat ia sempat melihat seseorang yang memperhatikannya. Dan ia menduga jika seseorang itu adalah salah satu anak buah sang kakak yang tengah memantau dirinya.


***


Nico menjadi risih ketika kedua sahabatnya menatap dirinya tanpa berkedip. Sungguh menjijikan. Entah kenapa setiba dirinya di Markas, tatapan serta senyuman Keil dan Daniel terlihat berbeda.


"Hentikan tatapan kalian! Membuatku merinding saja!" gerutunya bergidik ngeri.


"Ternyata kau benar-benar jatuh cinta dengan Nona Jennie, haha," ujar Daniel.


"Dan lihatlah, kau terluka karena melindungi Nona Jennie," sambung Keil setelahnya.


"Huh, jadi karena itu kalian melihatku seperti melihat seseorang yang jatuh cinta." Mendengkus kesal. "Lagi pula kalian ini berlebihan sekali. Jika kalian berada di posisiku, kalian juga akan melindungi Nona Jennie, tidak mungkin kalian diam saja disaat Nona Jennie dalam bahaya."


"Aku setuju....." seru Keil.


Bantal sofa yang melayang hinggap di wajah Daniel membuat tawanya itu berhenti dan pelakunya adalah Nico, ia kesal setengah mati setiap kali Daniel mengejek dirinya. "Pasti kalian meretas CCTV disana?" Tidak heran Keil juga Daniel mengetahuinya dan menatap dirinya dengan penuh ejekan.


"Haha benar. Begitu salah satu anak buah melaporkannya padaku, aku dan Keil segera melihat rekamannya dan wow adegan yang sangat romantis, seperti pria yang sedang melindungi kekasihnya," seru Daniel menggebu-gebu.


"Memang aku sedang melindungi kekasihku. Apa kau iri, hm?" Nico menjawab dengan percaya diri sekaligus membalas ejekan Daniel. "Jika kau iri, katakan saja sayang," sembari menyunggingkan senyum.


"Ck, menjijikan!" Kata 'sayang' yang disematkan oleh Nico sungguh membuat Daniel menjadi mual. "Aku tidak iri, jadi hentikan sikap konyolmu itu!"


"Hahahahaha......" Nico dan Keil tertawa puas. Akhirnya Nico bisa membalas Daniel yang menyebalkan itu. Daniel memasang wajah masam dan kesal bersamaan. Benar-benar menggelikan.


"Lalu dimana dia?" tanya Nico sesaat setelah tawanya itu menyurut.


"Berada di ruangan penyiksaan. Dia baru saja mendapatkan syok terapinya," sahut Keil. Syok terapi yang dimaksud adalah Baba serta Lala. Kedua singa peliharaan mereka selalu ditugaskan untuk menakuti-nakuti tahanan di Markas.


Nico tersenyum puas. "Bagus. Itu pelajaran pertama untuknya karena telah berani ingin melukai Nona Jennie."

__ADS_1


"Hem, rasanya aku juga tidak sabar ingin menyiksanya secara perlahan," ujar Daniel kemudian.


"Kita harus memastikan jasad kekasih Johannes tetap utuh, supaya dia menyadari kesalahan yang dia lakukan!" seru Nico. Keil serta Daniel mengangguk serentak. "Lalu bagaimana dengan klien anonim yang meminta bantuan kita?" tanyanya kemudian.


"Aku akan menemuinya nanti malam," jawab Keil.


Nico mengernyitkan heran. "Kenapa harus malam?"


"Entahlah, dia berkata jika dia hanya memiliki waktu luang di malam hari, itu saja pesan yang dia kirimkan."


"Mungkin dia tidak ingin kau melihat wajah dan mengetahui identitasnya." Daniel menduga-duga. Memang tidak banyak klien mereka yang menutupi indentitas.


"Ck, percuma saja. Dia menggunakan akun palsu," cibir Keil. Karena ia penasaran maka berusaha mencari tahu perihal klien anonimnya itu. Entah seorang wanita atau pria, Keil tidak peduli.


***


Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Mobil Keil melesat di kegelapan malam menuju lokasi dimana pertemuannya dengan seorang klien anonim tersebut. Keil tidak pernah merasa takut jika itu sebuah jebakan atau musuh yang sedang menyamar, siapapun akan ia hadapi. Lagi pula beberapa anak buah selalu mengekori dirinya.


Kini Keil sudah berada di lokasi pertemuan, lantas segera memarkirkan mobilnya. Posisi dirinya berada di bawah jembatan tua, cahaya yang berasal dari lampu-lampu jalan cukup menerangi tempat tersebut. Sembari menunggu, Keil turun dari mobil, menyandarkan tubuhnya pada bemper mobil miliknya.



Pandangannya mengedar pada sosok yang baru saja datang dengan berjalan kaki, lengkap dengan penutup kepala dan penutup mulut, yang sepertinya menggunakan syal hitam. Dari kejauhan Keil sudah memperhatikan sosok yang sepertinya adalah seorang wanita.


Semakin lama semakin dekat, ada sesuatu yang aneh yang dirasakan oleh Keil, sosok itu benar-benar tidak asing. Kemudian Keil membalikkan tubuhnya hingga memunggungi wanita itu.


"Maaf, apa kau yang bernama K?" K adalah inisial masing-masing nama anggota Black Lion. Jika salah satu dari mereka membalas pesan dari klien, maka mereka harus melampirkan inisial.


Dan benar saja, suara wanita itu benar-benar familiar di telinganya, hingga akhirnya Keil memutar tubuhnya dan wajahnya yang tampan itu kini dapat dilihat oleh seseorang di hadapannya.


"Ke-Keil.....????"


.


.


To be continue


.

__ADS_1


.


Like, vote, follow dan komentar kalian 💕


__ADS_2