
Matahari menyembul dan memaparkan sinarnya, membias masuk melalui celah jendela yang terbuka. Matahari sudah terbit sangat tinggi tetapi nampaknya Nico tidak ingin terbangun, pria itu masih menyelam alam mimpi indahnya. Jennifer yang terbangun terlebih dulu memandangi wajah tampan suaminya dengan tubuh polos hanya terbungkus selembar selimut. Berbeda dengan dirinya yang sudah mandi dan mengenakan pakaian tipis yang mencetak jelas bagian tubuhnya, sehingga nampak seksi.
Jennifer yang semula duduk di tepi ranjang, merangkak naik ke atas ranjang. Dengan posisi telungkup ia dapat leluasa memandangi wajah tampan suaminya. Tangannya kemudian terulur memberikan usapan lembut pada rahang tegas Nico, membelainya dengan tatapan memuja. Wanita itu tidak pernah menduga bahwa akan memiliki suami yang merupakan anak buah dari kakaknya yang posesif itu dan sepertinya suami serta kedua anak buah yang lainnya juga memiliki sifat yang diwarisi oleh sang kakak.
Manik mata yang tertutupi kelopak mata nampak bergerak, sudah pasti sentuhan lembut itu membangunkan Nico yang betah menyelami alam mimpi dan tidak menyadari jika sang istri sudah 30 menit lamanya memandangi dirinya.
Masih dengan mata yang terpejam, Nico tersenyum tipis, lalu menangkap tangan Jennifer yang bergerak nakal di wajahnya. Dikecupnya punggung tangan istrinya itu, hingga perlahan kelopak matanya terpisah dan nampaklah wajah sang istri yang selalu cantik menatap ke arahnya dengan menyematkan senyum manis.
"Pagi istriku...." Pagi yang indah untuk Nico karena bisa melihat dan menyapa wanita yang sangat ia cintai ketika terbangun dari tidurnya.
"Pagi suamiku." Tidak ada kecanggungan, Jennifer kini lebih berani menimpali setiap perkataan Nico yang selalu manis kepadanya.
"Kenapa kau mandi lebih dulu, hm?" Kini tangan Nico yang terangkat untuk membelai sulur rambut yang membingkai wajah sang istri.
"Tubuhku sangat lengket, jadi aku mandi lebih dulu," jawabnya masih tidak menyurutkan senyuman.
Nico mengangguk saja, lalu merentangkan kedua tangan agar istrinya itu masuk ke dalam dekapannya. Jennifer mengikuti keinginan suaminya itu, lalu membenamkan tubuhnya pada dua lengan kokoh yang kini sudah mendekapnya dengan begitu erat.
Jennifer menahan geli ketika Nico justru menciumi seluruh wajahnya.
"I love you, My Queen." Nico mengecup puncak kepala kepala istrinya cukup lama, entah pengakuan cinta yang keberapa, Nico selalu mengutarakannya. Baginya itu sesuatu yang mendebarkan ketika berulang kali ia mengakui perasaannya dengan jujur.
"Me too," sahutnya pelan namun terjangkau oleh pendengaran Nico.
Pelukan Nico perlahan mengendur membuat Jennifer mendongakkan kepalanya. Dilihatnya kedua mata suaminya yang kembali terpejam. Jennifer mengulas senyum, entah kenapa Nico mudah terlelap hanya dengan memeluknya.
Jennifer kemudian menyingkap lengan kekar yang melingkar di perutnya lalu mulai meringsut mundur agar ia tidak membangunkan suaminya. Namun baru saja beranjak duduk, kedua mata Nico terbuka sempurna, sepertinya ia tahu jika Jennifer tidak berada di sisinya.
"Mau kemana sayang?" Masih dengan suara seraknya, Nico bertanya kepada Jennifer yang menatap ke arahnya.
"Sebentar saja, aku ingin melihat keluar jendela." Sejak pagi tadi Jennifer sudah penasaran akan pemandangan di luar sana dengan hamparan laut dan juga bukit-bukit dengan bangunan di atasnya.
Nico diam sejenak. Entahlah, ia hanya ingin Jennifer selalu berada di sisinya. Hanya dengan memeluk tubuh mungil istrinya sudah memberikan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Jauh sebelum mengenal Nona Jennie-nya, Nico selalu sulit tidur, lebih tepatnya ia sudah terbiasa terjaga.
"Temani aku mandi." Nico mengulurkan satu tangannya. Untuk pertama kalinya ia bersikap manja, berharap Jennifer akan menuntunnya.
"Astaga, kenapa suami raksasaku menjadi manja seperti ini," cebik Jennifer terkekeh hingga Nico turut terkekeh.
"Tubuhmu benar-benar menggoda sayang." Saat bangun tadi Nico sudah disuguhkan dengan tubuh sang istri yang hanya dibalut dengan dress rajut dengan pola berlubang. Tentu saja tubuh putih istrinya tercetak disana, terlebih bagian-bagian tertentu seperti puncuk dada yang menonjol.
Jennifer menyadari sorot mata Nico yang berkabut gairah, lantas wanita itu segera beranjak berdiri sebelum Nico kembali menyerangnya. Nico menatap kepergian sang istri yang dengan sengaja berjalan melenggak-lenggok menggoda dirinya.
__ADS_1
Nico menatapnya tanpa berkedip, menyeka air liur yang nyaris menetes karena teramat tergoda akan tubuh milik sang istri.
"Kau menggodaku, hm?" Lantas Nico segera beranjak dari tempat tidur, menyingkap selimut dengan asal hingga terpampang nyata tubuh polos dengan kejantanannya yang perlahan menegang.
Nico berlari mengejar Jennifer yang ingin melarikan diri, akan tetapi tangan Nico lebih dulu merengkuh tubuh sang istri.
"Kyaaaaa........" Jennifer berteriak ketika Nico menggendongnya tanpa malu dengan penampilannya yang polos tanpa sehelai benang. "Kau mau membawaku kemana?" Melihat Nico yang berjalan ke arah kamar mandi.
"Mandi bersama...." jawabnya santai menapaki kakinya yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi.
"Tapi aku sudah mandi," seru Jennifer. Ia sudah bisa menebak jika tidak hanya mandi, tetapi juga bertukar keringat di dalam sana.
"Tidak masalah, biar aku yang memandikanmu lagi." Nico menurunkan Jennifer di bawah guyuran shower yang sudah di atur dengan suhu hangat terlebih dahulu.
"Tapi Nic aku..... huummpphh....." Kalimat Jennifer terputus karena Nico sudah membungkam bibir istrinya itu dengan bibirnya. Tangannya menekan leher istrinya, sedangkan tangan lainnya bergerak liar di salah satu gundukan yang menyembul itu. Lalu menurunkan tali dress hingga tergelincir dengan mudahnya ke lantai.
"Aahhh Nic...." Jennifer hanya mampu mendesahh ketika Nico kembali memberikan kenikmatan. Dan selanjutnya mereka kembali menyentuh satu sama lain. Di bawah guyuran shower, tidak lupa mereka saling membantu membalurkan sabun ke tubuh mereka dengan desahaan dan pada saat dorongan pelepasan itu terjadi, Nico kembali menyemburkan benihnya di dalam rahim istrinya.
***
Jennifer nampak bersiap-siap dengan balutan dress selutut. Wanita itu terlihat cantik dan semakin bersinar karena aura kebahagiannya. Sorot matanya sibuk memperhatikan Nico yang masih berada di depan cermin dengan handuk yang melingkar di pinggangnya, lalu melangkah menuju lemari untuk menggapai pakaiannya.
Sepertinya mereka melupakan Keil, Emely dan Daniel serta Ashley sehingga pada saat mereka keluar dari kamar menuju restoran kecil, keempat yang juga merupakan pasangan pengantin baru menatap ke arah Nico dan Jennifer dengan menggelengkan kepala.
"Berisik! Kau perlu asupan nutrisi yang lain agar tidak cerewet lagi!" cetus Nico kesal lalu membenamkan tubuhnya di kursi setelah ia membantu Jennifer untuk duduk terlebih dahulu.
Berbeda dengan Nico yang kesal, Jennifer justru tertunduk malu karena Daniel secara terang-terangan menggoda dirinya juga Nico. Sedangkan Keil nampak acuh, tidak tertarik bergabung dalam perdebatan tidak penting kedua sahabatnya. Keil terlalu sibuk menyuapi Emely. Sejak beberapa hari yang lalu istrinya itu tidak akan mual jika ia yang menyuapinya.
"Asupan nutrisi seperti apa? Setiap hari aku sudah minum susu dari sumbernya." Lagi-lagi Daniel berbicara seenaknya saja tanpa tau malu, sehingga ditepuk lengannya oleh Ashley.
"Mesum...." bisiknya pada Daniel. Ashley tidak habis pikir dengan mulut suaminya yang terkadang tidak di saring terlebih dahulu.
"Memangnya kau saja, aku juga minum susu dari sumbernya haha." Akhirnya Nico bisa membalas setiap perkataan Daniel yang sebelumnya menyudutkan dirinya. Pria itu tergelak puas melihat wajah Daniel yang kesal.
"Kau senang sekarang bisa membalas ucapanku, huh!" Daniel mendengkus kesal.
"Tentu saja!" Tawa Nico memudar lalu menatap sang istri, menaik turunkan kedua alisnya akan aksinya yang kini bisa membalas ejekan Daniel. Jennifer hanya menggelengkan kepala, kenapa suaminya justru juga berbangga diri dengan berkata seperti itu.
"Sial!!" umpat Daniel. "Kau lihat Keil, Nico bisa membalas ejekanku." Seperti anak kecil, Daniel justru mengadu kepada Keil yang nampak menarik kedua sudut bibirnya.
"Diamlah, bayiku bisa terkejut dengan suaramu." Dan tangan Keil kembali terulur menyuapi Emely.
Daniel terperangah akan ucapan Keil. "Bayimu saja belum lahir Keil. Astaga Emely, kau memberikan apa padanya?" tanyanya kemudian kepada Emely.
"Susu dari sumbernya," sela Keil lebih dulu sebelum Emely menjawabnya.
__ADS_1
"Keil!!!" Emely melebarkan matanya kepada Keil. Kenapa suaminya juga tidak berbeda dengan Nico dan Daniel, ketiganya sama-sama mesum dan selalu bicara seenaknya.
***
Usai sarapan bersama, mereka lebih memilih untuk berjalan-jalan dengan tujuan masing-masing. Nico dengan Jennifer memisahkan diri dengan Keil, Emely dan Daniel serta Ashley. Nico menautkan jemarinya dengan jemari Jennifer, menyusuri tebing-tebing yang menyuguhkan pemandangan laut di bawah sana. Terbesit keinginan untuk menjahili Nico, Jennifer terkekeh kecil, ia melepaskan tautan jemari mereka, hingga kemudian bergerak mundur dan menuruni tangga. Lama Nico menyadari jika Jennifer tidak berada disisinya, wajahnya sedikit panik lalu menapaki beberapa anak tangga.
Nico terkejut karena Jennifer mengejutkan dirinya dengan bersembunyi di balik dinding.
"Astaga My Queen...." Nico gemas dengan istrinya. "Jangan melakukan hal ini lagi. Kau tau jika kau hilang, aku benar-benar akan membunuh siapa saja." Lalu Nico membawa Jennifer ke dalam kedepannya, memeluk begitu erat.
"Iyaa maaf..." cicitnya pelan. Nico benar-benar mencintainya Jennifer, pria itu benar-benar takut jika kehilangan istrinya.
"Hem, tapi aku akan menghukummu...." Nico berbisik sensual.
Jennifer mengangguk pasrah, ia tau hukuman seperti apa, sudah pasti hukumannya di atas ranjang.
"Waaw, menakjubkan. Pantas saja kau membawa Nona Jennie kemari." Entah sejak kapan Daniel dan Ashley juga berada disana disusul oleh Keil yang menggandeng tangan Emely. Mereka bisa melihat pemandangan lebih jelas di atas sana. Keenam pasangan pengantin itu menatap takjub pada sekitar, merangkul istri-istri mereka dengan posesif.
Hingga beberapa pasang mata menyoroti mereka dengan teropong jarak jauh, dan kemudian terdengar nada dering yang berasal dari ponsel milik Nico. Nico merogoh saku celananya, melihat nama bos tertera di layar ponsel. Nico segera menjawab panggilan video dari bos sekaligus kakak iparnya itu.
"Ada apa bos?" tanyanya mengarahkan kamera ponselnya hingga Jennifer bisa melihat wajah kakak serta kakak iparnya.
"Jangan terlalu lama disana, bergabunglah kemari!" ujar Xavier yang penuh dengan perintah itu.
Kening Nico berkerut, bahkan Keil serta Daniel juga mengarahkan ponsel Nico ke arah mereka.
"Bos sekeluarga juga berada di Santorini?" Daniel terperangah tidak percaya.
"Benar," sahut Xavier singkat.
"Hahaha kemarilah, kalian akan menyesal jika tidak bergabung dengan kami!"
Suara yang tidak asing menyambar percakapan mereka, sontak saja Xavier mengarahkan kameranya kepada pria yang baru saja bersuara.
Hah?
Ketiga bastard nyaris tidak percaya karena tidak hanya bos dan sekeluarga saja, tetapi juga terdapat Zayn disana. Sudah pasti Roy serta Jeff juga berada di Santorini, mengekori Master mereka. Sungguh kejutan yang luar biasa.
See you next bonus chapter
...Yang masih berkenan bisa like, vote dan jangan lupa komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
__ADS_1