
Seseorang yang berada di dalam mobil memperhatikan Nico dari sejak pertama Nico meninggalkan lokasi gudang yang terbakar, hingga pria itu mengikuti kemana mobil Nico melaju. Pada awalnya pria itu tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Nico di depan sebuah Cafe. Namun beberapa menit memantau dan memperhatikan, kini ia menjadi tau alasan Nico berada di sana. Untuk apa lagi jika bukan untuk seorang wanita cantik yang ia duga sebagai kekasih pria itu, karena pandangan Nico hanya tertuju pada sosok wanita cantik tersebut sejak turun dari mobil.
"Mereka telah membunuh kekasihmu, apa kau tidak ingin membalas mereka?"
"Habisi dia.... habisi dia yang sudah membuatmu tidak bisa bertemu lagi dengan kekasihmu selamanya."
"Kami akan membantumu untuk membalaskan kematian kekasihmu!"
Perkataan dua pria yang sempat membawa pergi dirinya terus berputar di ingatannya. Sepertinya bukan hanya dirinya saja yang menaruh dendam dan kebencian, seseorang diluar sana ternyata merasakan hal yang sama. Namun sepertinya Johannes berubah pikiran, ia tidak akan melenyapkan Nico, melainkan melenyapkan kekasih dari pria itu.
Johannes menyunggingkan senyuman jahat, setelah beberapa saat mengamati dan menyakinkan, ia menjadi paham jika wanita itu seperti berharga untuk Nico. Pria tersebut tertawa sumbang sebelum kemudian berubah menangis seperti seseorang yang sudah kehilangan akal sehat. Ia tidak hentinya menangisi kekasihnya yang telah tiada akibat terbakar di sebuah gudang tua. Ya, pria itu adalah Johannes. Ia menutut balas akan kematian kekasihnya yang telah mereka bunuh.
Pria kecil seperti dirinya memang tidak mungkin bisa mengalahkan ketiga pemimpin di perusahaan tempatnya bekerja. Akan tetapi ia bisa membuat salah satu dari mereka merasakan apa yang ia rasakan, yaitu kehilangan seseorang yang berharga. Dan kemudian Johannes menghapus air matanya yang tersisa di sudut matanya.
"Hahahaha....." Tawanya kembali menggema di dalam mobil. Ia sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Nico ketika wanitanya itu terluka. Dan kemudian menutup kepalanya dengan topi hitam dan di lapisi dengan penutup hoodie yang ia kenakan, sebelum kemudian turun dari mobil.
Sepertinya keberuntungan seperti berpihak padanya, disana tidak begitu banyak orang yang berlalu lalang, sehingga akan memudahkan aksinya. Terlebih lagi kedua wanita yang entah siapa itu terlihat tidak sadar akan kehadiran dirinya. Kedua tangan Johannes dimasukkan ke dalam saku hoodie, terdapat sebuah pisau di dalamnya.
Matanya kini sudah menggelap, Johannes tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, hingga kemudian ia mempercepat langkahnya dan mendorong dua wanita yang menghalangi dirinya.
Jleb
Johannes mengayunkan pisaunya ke punggung wanita yang diduga sebagai kekasih Nico itu namun sayangnya seseorang lebih dulu menarik wanita tersebut dan menahan pisaunya. Seseorang itu tidak lain ialah Nico, entah sejak kapan Nico sudah berada di hadapannya.
Sialan.... gagal!
***
Nico mencoba menahan pisau itu, meskipun pria yang mengenakan hoodie tersebut terus mengerahkan tenaganya untuk mencoba menarik pisau itu. Alhasil pisau itu merobek kulit telapak tangan Nico hingga darah bercucuran. Jennifer panik bukan main, kedua bola matanya yang semula bening bagaikan bayi yang baru dilahirkan kini dipenuhi genangan air mata.
Nico merebut pisau itu, tidak peduli darah segar yang terus mengucur dari telapak tangannya itu. Dan beberapa detik kemudian pisau itu berhasil berpindah tangan padanya.
Buggg
Nico menendang perut Johannes, sehingga pria itu jatuh tersungkur dan topi serta penutup hoodie tersebut tersingkap. Johannes memekik kesakitan akan tendangan Nico dan berupaya untuk bangkit. Namun Elma menahan kedua tangan Johannes dan menguncinya sebelum pria itu kembali melancarkan aksinya kembali. Meskipun seorang wanita, tenaga Elma setara dengan tenaga seorang pria, mengingat anak buahnya itu sudah terlatih.
Sementara Jennifer yang masih dalam setengah syok, berusaha membantu luka Nico menggunakan sapu tangan miliknya yang ia ambil dari dalam tasnya. Wanita itu sudah berusaha menekan darah yang terus saja mengucur tanpa henti. Sungguh Jennifer menjadi bersalah, karena dirinya Nico menjadi terluka.
"Lepaskan aku, wanita sialan!" umpatnya dan berusaha melepaskan diri dari Elma. Namun Elma tidak mempedulikan teriakan Johannes.
Beberapa orang di sekitar tidak ada yang berani mendekat, bahkan Jane mematung di tempat dengan tubuh yang sedikit gemetar.
Dua pria bertubuh besar tergopoh-gopoh berjalan menghampiri dalam setengah panik dan tertakut-takut, karena mereka telah datang terlambat.
"Bos Nico...."
"Kalian kemana saja, hah?!!" Nico berteriak kepada dua anak buahnya yang tidak becus itu, hingga membuat Jennifer tersentak kaget.
"Maafkan kami bos-"
"Jangan banyak bicara!!" Nico menyela kalimat salah satu anak buahnya itu. "Cepat urus dan habisi dia!" Kemudian matanya menajam begitu memperlihatkan wajah Johannes. Nico memang nampak asing dengan Johannes karena selama ini tidak pernah bertatap muka secara langsung.
Dua anak buah Black Lion menggantikan peran Elma yang sejak tadi berusaha menahan tubuh Johannes. Sekeras apapun Johannes mengerahkan tenaga, ia tetap saja akan kalah dengan tenaga anak buah Nico.
__ADS_1
"Dengar, akan ku buat kau kehilangan wanita yang berharga, seperti aku yang telah kehilangan kekasihku karena kau telah membunuhnya!" Masih meronta dan berusaha mendorong tubuh dua pria yang menahan dirinya. "Aku tidak akan biarkan kau hidup dengan tenang dengan wanita itu. Aku pastikan kalian akan mati di tanganku! Hah sialan berengsek, lepaskan aku!" Johannes meracau dengan penuh amarah. Usahanya itu sia-sia saja, sehingga ia hanya bisa memaki Nico untuk meluapkan amarahnya.
Paham dengan tatapan Nico, dua anak buahnya itu menyeret paksa Johannes pergi dari sana. Sementara Elma berusaha membubarkan sebagian orang yang masih memperhatikan dan mengingatkan mereka agar tidak menghubungi pihak kepolisian, karena Elma mengatakan jika pria itu adalah rekannya yang kabur dari rumah sakit jiwa. Dan kemudian mengambil alih pisau tersebut dari tangan bos Nico.
Sadar apa yang baru saja dilakukan olehnya, Nico segera menolehkan kepala ke arah Jennifer, dimana Nona Jennie-nya itu benar-benar terkaget-kaget akan sikap dirinya. "Nona maaf, pasti Nona sangat terkejut." Nico berusaha menenangkan Jennifer.
Jennifer tersadar dan kemudian menggeleng. "Aku tidak apa-apa.... aku baik-baik saja, justru kau yang terluka." Sembari memegang tangan Nico, meskipun pendarahannya itu sudah berangsur menyurut.
"Tidak apa-apa Nona, aku baik-baik saja. Luka seperti ini tidak ada artinya dengan keselamatan Nona." Nico menyakinkan Jennifer agar tidak merasa bersalah. Terlebih lagi, sepertinya target awal pria itu adalah dirinya, dan justru Nico yang merasa bersalah terhadap Nona Jennie-nya itu.
"Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit....." Jennifer tetap cemas, karena bisa saja luka itu menjadi infeksi jika tidak segera diobati.
***
St. Heaven Hospital
Nico menuruti perkataan Jennifer yang bersikeras agar dirinya pergi ke rumah sakit untuk ditangani oleh seorang dokter. Bahkan Jennifer meminta seorang dokter terbaik di rumah sakit tersebut, yang tidak lain ialah pamannya sendiri.
"Paman, bagaimana lukanya?" tanya Jennifer begitu Dokter Ronald selesai membalut luka di telapak kiri Nico.
"Lukanya cukup dalam. Mungkin akan perlu waktu lama untuk pulih," jawabnya. Dokter Ronald adalah teman baik dari Daddy Jhony dan Daddy Garry, ayah dari kakak iparnya yang telah tiada. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Ronald menjadi penasaran apa yang membuat pria itu terlihat terluka dalam seperti itu.
"Dia menyelamatkanku dari seseorang yang ingin melukaiku, Paman."
Mendengar jawaban Jennifer, Ronald mendadak cemas. "Apa kau baik-baik saja, nak? Apa kau terluka?" Memeriksa tangan dan wajah Jennifer.
"Aku baik-baik saja, Paman. Karena yang terluka hanya Nico." Jennifer melirik ke arah Nico yang terduduk di atas ranjang itu, hingga membuat Ronald mengikuti arah pandang Jennifer.
Ronald kembali menatap Jennie. "Apa pria ini kekasihmu?" tanyanya menelisik.
"Bodyguard yang sebentar lagi akan menjadi kekasihnya, Paman," ucapnya dalam hati. Entah kenapa Nico juga ikut memanggil Dokter paruh baya itu dengan sebutan 'Paman'.
Dokter Ronald meneliti dalam wajah Jennifer. "Mana ada seorang wanita yang mengkhawatirkan bodyguardnya sampai seperti ini.... sampai menangis." Ronald ingat, bagaimana Jennifer meneteskan air matanya saat ia berusaha mengobati luka pria itu. Ronald hanya menelan bulat-bulat ucapannya itu, tidak mungkin ia berkata demikian. Karena bisa saja ia yang sudah salah mengartikan tatapan kedua anak muda tersebut.
"Baiklah kalau begitu, Paman akan kembali ke ruangan Paman. Jika perlu sesuatu panggil suster saja," ujar Ronald memecahkan keheningan yang terjadi selama beberapa saat.
"Dan kau anak muda...." Ronald menepuk salah satu bahu Nico. "semoga lekas sembuh supaya bisa menjaga Jennie lagi." Sembari mengerlingkan salah satu mata kepada Nico hingga membuat Nico mengernyitkan keningnya.
Apa yang dipikirkan pria tua itu?
Dan kemudian sudut bibir Nico membentuk sebuah senyuman setelah Dokter Ronald meninggalkan ruangan. Mungkin hanya Dokter itu yang paham dan peka terhadap sekitarnya.
Suasana menjadi menghening kembali, baik Nico maupun Jennifer membisu hingga yang terdengar hanya deru napas mereka saja.
"Terima kasih karena kau sudah menyelamatkanku," tutur Jennifer membuka suaranya terlebih dulu.
Nico mengangkat wajahnya. "Tidak perlu berterima kasih Nona, karena itu adalah tugasku."
Jennifer mengangguk, memang itu adalah tugas Nico, tetapi tetap saja nyawanya masih baik-baik saja hingga detik ini. "Kau suka atau tidak, aku tetap berterima kasih!" Jennifer tidak ingin mengalah. Dirinya bukan wanita yang tidak tahu caranya berterima kasih.
"Iya, Nona." Nico mengulum senyumnya, ia benar-benar gemas akan sikap Nona Jennie-nya itu.
"Apa kau ingin minum?" tanya Jennifer kemudian, menerka jika Nico mungkin saja kehausan.
__ADS_1
"Hem...."
Dan kemudian Jennifer mengambil gelas berisi air putih yang berada di atas nakas bersamaan dengan Nico yang ternyata juga mengambil gelas tersebut, hingga kini tangan keduanya saling bersentuhan. Nico dan Jennifer saling pandang selama beberapa saat, sebelum kemudian Jennifer menarik tangannya.
Nico terkekeh. "Nona tidak perlu melayaniku, tangan kananku masih utuh dan baik-baik saja." Sembari menunjukkan tangan kanannya yang bebas tanpa cacat dan tanpa luka.
Mendengar penuturan Nico, Jennifer mencebikkan bibirnya. "Siapa yang ingin melayanimu, aku hanya ingin membantu mengambilkan air untukmu, itu saja!" Memalingkan wajahnya agar Nico tidak bisa melihat wajahnya yang mendadak memerah.
Ada apa dengan diriku? Astaga, sepertinya aku demam.
Jennifer mengecek keningnya, namun suhu tubuhnya normal dan tidak merasakan sakit pada bagian tubuhnya yang lain. Benar-benar aneh, pikirnya.
Semakin kesal, maka akan semakin menggemaskan di mata Nico. Ah, luka yang berbuah manis, yang membawa dirinya lebih dekat dengan Nona Jennie.
Hahahaha, aku harus berterima kasih kepada pria itu, tetapi siapa dia? Apa pria itu adalah Johannes Loman?
Nico berperang dengan batinnya sendiri. Sungguh meskipun luka yang berbuah manis tetapi tetap saja pria itu sangat berbahaya jika sudah menargetkan Nona Jennie.
"Ehm, tapi apa maksud ucapan pria itu?" tanya Jennifer tiba-tiba.
"Apa maksud Nona?" Nico mengambil gelas tersebut dan meneguk hingga tersisa setengah dan bermaksud menghabiskan air putih itu.
"Pria tadi berkata jika kau telah membunuh kekasihnya. Apa itu benar?" Bertanya dengan polos.
Uhuk.... uhhuk....
Nico menyemburkan air minum yang baru saja akan masuk ke dalam tenggorokannya hingga terbatuk-batuk. Karena pertanyaan Nona Jennie tersebut membuat dirinya gagal menelan kembali air putih itu.
"Cepat katakan apa maksud ucapan pria yang tadi?" Jennifer mendesakkan pertanyaannya.
Glek
Nico menelan salivanya, ia berusaha mencari alasan yang sekiranya masuk akal. "Ehm....."
"Sebenarnya apa yang terjadi??!!"
Seseorang masuk begitu saja dan melayangkan pertanyaan. Baik Nico dan Jennifer terkejut ketika mendengar suara yang tidak asing dan kemudian keduanya menoleh serentak.
"Kak Vie...?"
"Bos...."
.
.
To be continue
.
.
Nah loh Nico, bos dateng.... alamat dipecat jadi calon adik ipar wkwk 🤣🤣
__ADS_1
Like, vote, follow dan komentar kalian 💕