
Hosh
Hosh
Hosh
Napas memburu tidak beraturan saat Nico, Keil dan Daniel saling berlomba-lomba berlari menuju ruangan dimana kini bos mereka berada. Akhirnya langkah mereka terhentikan ketika sudah berada di dalam ruangan kerja.
"Bos...." seru ketiganya secara bersamaan. Sungguh terlihat sangat kompak, hingga membuat Xavier mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel miliknya dan meletakkan ponsel itu di atas sofa dengan asal.
Xavier melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, dan kemudian sudut bibirnya terangkat. "Sekarang sudah jam 9 lebih 15 menit 30 detik. Artinya kalian terlambat 15 menit 30 detik," ujarnya dengan mengintimidasi. Ia menatap datar ketiga anak buahnya tersebut, hingga membuat mereka saling menghela napas dalam.
"Bos, kau yang benar saja, jarak dari pusat kota menuju markas sangat jauh," seru Daniel setelah beberapa saat mengatur napasnya yang naik turun.
"Benar bos, bahkan kami nyaris mati karena harus berlari-lari," sambar Nico ikuti memprotes seperti yang dilakukan Daniel.
"Lalu apa saat ini kalian sudah mati?" sahut Xavier dengan nada mengejek, menelisik dalam mereka bergantian. Tidak terlihat ada yang aneh dengan kondisi tubuh ketiga anak buahnya tersebut, tubuh ketiganya tetap tegap dan hanya mengeluarkan sedikit keringat.
"Tentu saja tidak bos," sahut Daniel kemudian.
"Lalu kenapa kalian berdua protes?!" Sungguh para anak buahnya itu sangat berlebihan.
Menyesal sudah Nico dan Daniel memprotes sikap bos mereka yang gila itu. Berbeda dengan Keil yang memilih diam, memprotes bos yang keras kepala itu hanya akan membuang-buang tenaga saja.
Xavier memperhatikan ketiga anak buahnya yang nampak saling diam, tetap pada posisi mereka. Berdiri tegak seperti menunggu sebuah perintah. "Kenapa kalian masih berdiri? Duduklah...." perintahnya. Xavier benar-benar heran dengan ketiga anak buahnya yang tidak bersikap seperti biasanya, mereka layaknya seorang anak kecil yang seperti akan mendapatkan hukuman berdiri di sudut ruangan.
"Kami boleh duduk bos? Bukankah bos mengatakan akan menghukum kami jika terlambat."
Baik Nico dan Keil menyenggolkan sikut mereka pada lengan Daniel yang berdiri di antara keduanya. Kenapa justru Daniel mengingatkan akan hukuman itu?
"Jadi kalian ingin berdiri sampai besok pagi, heh?" seru Xavier dengan nada dingin seperti biasa.
"Tidak bos...." jawab mereka serentak. Buru-buru mereka duduk di sofa saling bersisian sebelum bos gila itu berubah pikiran.
"Memangnya apa yang ada di dalam pikiran kalian? Apa kalian pikir aku memiliki waktu untuk menghukum kalian?!"
Kening Nico berkerut bingung. "Maksud bos?"
Xavier berdecak kesal. "Dimana otak kalian yang biasanya pintar itu? Kenapa melupakan hari penting untukku dan juga istriku."
Nico, Keil dan Daniel mencerna perkataan Xavier dengan seksama. Sebenarnya apa yang telah mereka lupakan.
"Aku ingat bos!" Lagi-lagi mereka berseru secara serentak. "Besok adalah hari ulang tahun bos kecil Arthur dan Nona Elie," sahut Nico meruntuki kebodohannya. Kenapa mereka bisa melupakan sesuatu yang penting secara bersamaan.
Xavier mengangguk. "Tepat sekali. Karena itu, nanti malam aku dan keluargaku akan terbang ke Swiss. Kalian selama dua minggu menetaplah di Los Angeles. Pastikan wilayah yang kita inginkan menjadi milik kita."
"Baik bos, seperti rencana sebelumnya, kami sudah bernegosiasi dengan mereka," sahut Keil kemudian. Sebelumnya anggota Black Lion memang telah datang ke wilayah perbatasan California. Penguasa wilayah disana menginginkan uang yang tidak sedikit. Beruntung saat itu mereka dapat dengan mudah mendapatkan wilayah Pegunungan Verdugo yang sebelumnya menjadi wilayah kekuasaan Red Dragon.
"Perbatasan Pegunungan San Gabriel juga sudah menjadi incaran kelompok lain bos, kita perlu bergerak cepat sebelum mereka merampasnya dari kita," seru Nico. Entah dari kelompok mana yang menginginkan wilayah tersebut. Tidak hanya gembong mafia seperti mereka saja yang mengincarnya, tetapi juga menjadi incaran beberapa pengusaha besar untuk menjadikan tempat itu sebagai lahan pertambangan.
__ADS_1
"Kalian atur saja, di awal kalian boleh menawar dengan harga tertinggi, dan setelah itu menawar dengan harga yang lebih rendah dari yang lainnya." Mendengar penuturan sang bos, mereka sudah paham betul trik yang dimaksud oleh bos mereka. "Kalian pasti tau apa yang harus kalian lakukan, bukan?" imbuhnya kemudian dengan seringai senyum penuh kelicikan.
"Tentu saja bos. Kami sudah mencari tahu kelemahan mereka. Tiga di antara mereka menjadi buronan selama bertahun-tahun. Itu akan menjadi senjata kita untuk menyerang mereka," ujar Daniel bangga, tentunya mereka sudah ada persiapan lebih dulu.
"Lalu bos, bagaimana dengan Nona Jennie? Apa Nona Jennie ikut denganmu, bos?" Bagaimana dengan dirinya jika mereka tidak akan bertemu sela hampir dua minggu.
"Tidak. Jennie akan tetap berada di London selama dua hari untuk menyelesaikan pekerjaannya. Setelah pekerjaannya selesai dia akan menyusul kami."
Nico mengangguk mengerti. "Lalu siapa yang akan menjaga Nona Jennie, bos?" Tentunya Nico mencemaskan Nona Jennie-nya itu. Entah kenapa terbiasa menjaga Nona Jennie ada ketidakrelaan jika Nona Jennie-nya akan dijaga oleh anak buah mereka yang lain.
"Kau tenang saja, aku sudah menugaskan anak buah kita untuk menggantikanmu menjaga Jennie. Selama ini kau pasti kesulitan menjaga adikku yang keras kepala itu. Mulai hari ini kau bisa berhenti menjaganya."
Telinga Nico seperti berdengung begitu mendengar penuturan Xavier. Apa ia tidak salah mendengar? Berhenti menjaga Nona Jennie? Ia menjadi tidak tenang jika Jennie-nya akan dijaga oleh pria lain selain dirinya, meskipun anak buah mereka sendiri.
"Serahkan padaku bos. Aku akan menyiapkan beberapa anak buah untuk menjaga Nona Jennie." Nico harus terjun langsung jika menyangkut Nona Jennie, ia benar-benar harus menugaskan anak buahnya yang benar-benar cekatan dan waspada.
"Hem...." Xavier berdehem disertai anggukan. "Aku serahkan hal itu kepadamu," ujarnya dan kemudian meletakkan beberapa lembar foto di atas meja.
"Apa ini bos?" Nico lebih dulu mengambil foto tersebut di susul oleh Keil dan juga Daniel.
Glek
Kedua mata Nico membelalak begitu melihat foto tersebut. Tentu ia mengetahui pria di foto itu yang tidak lain ialah Billy.
Dari mana bos mendapatkan foto itu? batinnya. Seingatnya, ia sudah menutup mulut semua anak buahnya mengenai pria bernama Billy itu. Dan sejauh ini Nona Jennie tidak memperlihatkan kedekatannya dengan Billy di depan publik. Lalu apa ini, kenapa ada foto Billy bersama dengan Nona Jennie, terlebih lagi terlihat begitu mesra.
"Siapa pria ini bos?" seru Keil sembari berpura-pura mengamati gambar seorang pria. Keil dan juga Daniel tidak menyadari jika salah satu foto itu diremas begitu kuat oleh Nico.
Daniel dan Keil saling melirik satu sama lain. Jangan sampai mereka ketahuan karena sudah menutupi sesuatu dari bos. "Apa kau yakin dengan foto ini bos? Sepertinya ini hanya editan saja," ujar Daniel kemudian, membolak-balikan foto itu berulang kali, mengamati dengan seksama foto tersebut.
"Seseorang tidak akan mengirimkan foto itu jika tidak memiliki maksud apa-apa. Selidiki saja pria yang ada di foto itu, apa dia benar-benar memiliki hubungan dengan adikku?" Hanya dengan sekali lihat saja Xavier sudah mengetahuinya jika foto yang dikirim oleh seseorang adalah foto yang sudah edit menggunakan wajah sang adik. "Dan cari tahu siapa yang ingin bermain-main dengan menggunakan adikku!"
"Baik bos...." jawab mereka serentak. "Itu bukanlah hal yang sulit," seru Nico. Padahal justru dirinya-lah yang paling cemas. Jika bos sudah sampai turun tangan seperti ini, sudah pasti Nona Jennie akan terkena masalah.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Xavier beranjak dari tempat duduknya.
"Iya bos, hati-hati selama di perjalanan." Keil ikut berdiri, diikuti oleh Nico dan Daniel setelahnya.
"Hem....." Xavier melangkah keluar dari ruangan tanpa menoleh kembali ke arah ketiga anak buahnya tersebut.
Selang beberapa saat kepergian bos. Nico menghembuskan napas lega. "Ku kira aku akan kehilangan kepalaku."
Keil dan Daniel terkekeh. "Jika kau kehilangan kepalamu, kita juga akan kehilangan salah satu kaki kita karena sudah membantumu merahasiakan tentang Nona Jennie dan kekasihnya," ucap Keil.
"Keil benar. Jika aku tidak memiliki kaki, tidak akan ada wanita yang mau denganku," timpal Daniel. Membayangkan saja membuatnya bergidik ngeri.
"Di pikiranmu hanya ada wanita saja!" gerutu Nico dengan mendecakan lidah.
Daniel terkekeh. "Tentu saja karena aku tidak bisa hidup tanpa wanita."
Pletak
__ADS_1
Keil memukul kepala Daniel dengan telapak tangannya. "Kau pria murahan!" ejeknya.
Mendengar ucapan Keil, Daniel tercengang. Murahan katanya?.... "Hei, aku bajingan, bukan murahan." Daniel lebih suka dikatakan bajingan ketimbang pria murahan.
"Sama saja, bodoh!" Keil malas menanggapinya, ia kembali mendudukkan tubuhnya di sofa.
Nico tidak berhenti mentertawakan sikap konyol Daniel. "Aku akan ke bawah dulu," ucapnya setelah tawanya itu menyurut.
"Mau kemana?" tanya Daniel namun di abaikan oleh. Sahabatnya itu berlalu dari ruangan kerja mengabaikan pertanyaannya. "Menurutmu dia mau kemana?" Karena tidak mendapatkan jawaban dari Nico, Daniel bertanya kepada Keil yang mungkin saja mengetahui kemana tujuan Nico.
Keil mengedikkan bahu sebagai jawaban bahwa dirinya juga tidak mengetahui apa yang membuat Nico tergesa-gesa seperti itu.
"Hei, kau juga mau kemana?" seru Daniel begitu melihat Keil juga keluar dari ruangan. Padahal baru saja dirinya mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Melihat Nico," sahut Keil yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan.
"Kalau begitu aku juga ikut denganmu." Beranjak berdiri, Daniel berlari mengikuti langkah Kiel.
***
"Kalian.... kalian dan kalian...." Sembari menunjuk ketiga anak buah yang seorang pria. "Aku menugaskan kalian untuk menjaga Nona Jennie," perintahnya. Inilah alasan Nico berlari tergesa-gesa, ternyata pria itu tidak ingin membuang-buang waktu untuk menugaskan anak buahnya. Padahal ia bisa melakukannya besok pagi sebelum mereka pergi ke Los Angeles.
Ketiganya mengangguk patuh. "Baik bos Nico."
Nico berjalan mendekati beberapa anak buah yang seorang wanita. "Dan kau....." tunjuknya pada salah satu wanita yang memiliki tubuh lebih besar dari anak buahnya yang lain. "Untuk beberapa hari kedepan kau mengawal dan menjaga Nona Jennie sampai aku kembali."
"Baik...."
Nico tersenyum puas. Tidak mungkin ia menugaskan anak buah pria di sisi Nona Jennie-nya, terlebih jika anak buahnya itu memiliki wajah yang tampan. Membayangkan saja ia benar-benar tidak rela, karena itu Nico sengaja menunjuk wanita agar bisa menjaga Nona Jennie dari jarak yang begitu dekat.
Keil dan Daniel berdiri di ambang pintu. Bahu mereka masing-masing bersandar pada tiang pintu, dengan tangan yang terlipat di depan dada, menyaksikan Nico yang begitu senang.
"Jadi kau sengaja menugaskan anak buah wanita?" tanya Keil. Tanpa bertanya sebenarnya ia sudah mengetahui alasan Nico menugaskan anak buah wanita untuk menjadi bodyguard sementara.
"Benar...." Nico terkekeh.
"Dasar pencemburu," seloroh Daniel mengejek.
"Aku tidak peduli!" Nico tidak terlalu mempedulikan ejekan Daniel. Pria itu melenggang pergi begitu saja setelah membubarkan para anak buah yang berkumpul.
.
.
To be continue
.
.
Like, vote, follow dan komentar kalian 💕💕
__ADS_1