
Begitu mobilnya tiba di depan gedung perusahaan Romanov Ent, Nico mendapatkan laporan dari anak buah melalui pesan singkat bahwa ada beberapa orang yang mencari keberadaan mereka di Club. Nico meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula, ia menoleh ke arah Jennifer.
"Aku tidak bisa mengantar sampai ruangan. Apa tidak masalah?" Kemudian tangannya terulur memberikan usapan lembut di puncak kepala wanitanya itu.
"Pergilah. Nanti aku akan menghubungimu jika waktunya pulang." Jennifer mengerti, selain sebagai bodyguard, tentunya kekasihnya itu memiliki pekerjaan lain.
"Hem...." Nico mengangguk disertai senyuman. Kemudian mencondongkan tubuhnya lebih mendekat pada Jennifer.
Cup
Nico mencuri satu kecupan singkat di bibir Jennifer sehingga membuat wanita itu menyembulkan rona merah di wajahnya. Untung saja Jane sudah turun dari mobil terlebih dahulu. Jika tidak, ia pasti akan malu sepanjang hari.
"Kenapa kau selalu mencari kesempatan untuk menciumku?"
Nico terkekeh. "Kekasihku ini terlalu menggemaskan."
"Ck....." Jennifer mencebikkan bibirnya. Lagi-lagi Nico berhasil membuatnya merona. "Baiklah, aku akan masuk. Kau berhati-hatilah."
"Iya, Nona kecilku." Hanya kalimat sederhana tetapi Nico menyukainya. Terlebih jika Nona Jennie-nya itu mencemaskan dirinya.
Setelah Jennifer turun dari mobil dan memastikan kekasihnya itu sudah masuk ke dalam gedung perusahaan, Nico melajukan mobil meninggalkan Romanov Ent. Meraih ponselnya kembali untuk menghubungi seseorang.
"Kau dimana?" tanya Nico pada Keil di seberang sana.
"Waltham florest, kemarilah. Aku sudah menunggumu dan Daniel sejak tadi. Bajingan, aku nyaris berdebu menunggu kalian!" Suara Keil terdengar kesal di seberang sana tetapi disambut kekehan oleh Nico.
"Take it easy bro." Masih dengan terkekeh kecil Nico menyahut. "Aku sudah dalam perjalanan. Kau hubungi lagi saja Daniel keparat itu, aku yakin dia sedang bercocok tanam."
"Hah, rasanya aku ingin menyuntik racun padanya agar miliknya itu tidak bisa bangun," seru Keil asal. Daniel memang tidak mengenal waktu jika sedang menanam benih.
"Haha ide yang bagus. Sekalian aku juga akan menyuntik racun kepada kalian berdua. Enak saja hanya aku yang masih bersegel." Nico menggurutu kesal, jika mengingat jika dirinya tidak bisa menyalurkan hasrat seperti kedua sahabat laknatnya itu.
"Hahahaha....." Semula kesal Keil tergelak di seberang sana. Ya, memang di antara mereka hanya Nico yang masih bersegel.
"Bajingan!" Karena kesal lantas Nico memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia menambah laju kecepatan mobil hingga tidak berselang lama, mobil miliknya berhenti tepat di depan mobil Keil. Tetapi sebelum turun dari mobil, Nico berganti pakaian terlebih dahulu. Mengenakan kemeja dan celana bahan sulit membuatnya bergerak bebas.
Keil mengetahui kebiasaan Nico yang selalu mengganti pakaian di dalam mobil. Ia menunggu hingga sahabatnya itu selesai berganti pakaian. Akhirnya selama menunggu beberapa saat, Nico terlihat turun dari mobil dan menghampiri Keil yang berdiri di sisi mobil merahnya dengan kacamata yang bertengger.
"Kau terlalu lama membuatku menunggu!" ujar Keil dengan ketus. Bagaimana tidak kesal, ia dan anak buah lainnya sudah menunggu satu jam lamanya.
Nico terkekeh tanpa rasa bersalah. "Sorry, aku harus mengantar Nona Jennie lebih dulu." Ya, memang Keil tidak bisa protes jika menyangkut adik dari bos mereka, biar bagaimanapun keselamatan Nona Jennie yang utama. "Bagaimana dengan Daniel? Apa dia masih tidak menjawab ponselnya?" tanyanya kemudian.
"Coba kau hubungi saja dia," sahut Keil. Ia terlalu kesal dengan sahabatnya yang satu itu.
__ADS_1
"Baiklah." Jika Keil sudah berbicara seperti itu sudah di pastikan jika Daniel tidak menjawab panggilan. Nico mencoba menghubungi Daniel dengan ponselnya, terdengar nada tunggu di seberang sana. Hingga nada tunggu ketiga Daniel menjawab panggilannya.
"Bajingan kalian!" seru Daniel kesal. "Aku sedang kepalang tanggung, tunggu beberapa menit lagi aku akan keluar.... aarrgghhh...."
"Shittt, Daniel keparat! Cepat selesaikan. Menjijikan!" Nico menjadi merinding ketika mendengar suara Daniel yang mendesahh, sudah pasti sahabatnya itu masih bercocok tanam.
"Ya......"
Tut
Tidak tahan, Nico segera memutuskan sambungan telepon mereka. "Ck, keparat. Aku jijik mendengarnya."
"Ada apa?" Kiel berkerut bingung. "Apa kau mendengarnya mendesahh?" Keil kemudian bisa menebaknya.
"Apa kau juga mendengarnya?"
Keil berdecak. "Ya, sialan bukan?"
"Haha keparat!" Nico tergelak geli.
Keduanya saling menertawakan diri sendiri lantaran mendengar desahann erotis itu secara tidak langsung.
****
Nico melihat Daniel dengan tatapan kesal, tangannya menyilang di depan dada. "Bajingan kau membuat kita menunggu!"
Daniel terkekeh kecil. "Sorry, aku benar-benar tidak tahan."
"Persetan. Kau sengaja bukan?!" sambar Keil memukul bahu Daniel.
"Aish, kalian ini." Daniel mengacak rambutnya dengan kasar. "Tidak bisakah kalian melihatku senang?" ujarnya.
"TIDAK!" sahut Nico dan Keil bersamaan.
Daniel menghela napas kasar. "Aku akan mengambil uangnya. Gunakan mobil salah satu di antara kita."
"Pakai mobilku saja," seru Keil. Ia kemudian melemparkan kunci kepada Daniel. Memang di antara mereka Keil yang paling malas mengemudi.
"Kalian bawa mobilku dan Daniel," perintah Nico pada dua anak buahnya. Mereka sudah tau kemana mobil kedua bos mereka di simpan.
Keil serta Nico masuk terlebih dulu di susul oleh Daniel setelah mengambil tas yang berisikan uang. Daniel meletakkan tas tersebut di kursi belakang dan ia segera masuk duduk di kursi kemudi. Dengan diikuti anak buah, mobil mereka melaju cepat meninggalkan Waltham florest.
Membutuhkan waktu sekiranya satu jam 10 menit untuk mencapai ke tempat tujuan. Dan disinilah mereka berada, di Kota Croydon. Jarak mobil mereka tidak jauh dari sebuah bengkel mobil. Di sana nampak para pekerja, namun setelah mengamati mereka merasa aneh, sudah pasti para pekerja itu bukan sembarangan pekerja. Lalu Nico menyuruh salah satu anak buah untuk melihat situasi terlebih dahulu. Anak buah itu mengangguk, lalu berjalan kaki untuk melihat lebih dekat bengkel tersebut.
__ADS_1
Sebelumnya Daniel sudah meretas ponsel anak buah Jerome yang tewas itu, sebab itu mereka bisa menemukan lokasi tersebut. Karena pada saat meletakkan alat pelacak pada anak buah David, mereka tidak menemukan apapun, sialnya David selalu berada di perusahaan. Dan tentunya ponsel milik anak buah Jerome memberikan jalan keluar untuk mereka yang selama ini memiliki jalan buntu.
"Bos Nico, disana hanya ada beberapa pekerja saja dan tidak ada pelanggan satu pun," ucap anak buah yang kembali ke sisi mobil, melaporkan hal demikian.
Nico mengangguk. "Kalau begitu, aku akan meletakkan uangnya."
"Tidak, biar aku saja," sambar Daniel. Nico dan Keil mengangguk setuju, dan kemudian Daniel mengambil tas berisikan uang di kursi belakang.
Daniel diikuti anak buah berjalan menuju bengkel yang tidak terlalu besar, ia menoleh kesana kemari mencari tempat yang sekiranya cocok untuk meletakkan tas uang itu. Tidak lupa sebelumnya mereka sudah menyelipkan sebuah memo, bertuliskan bahwa urusan mereka telah selesai, tidak ada pertukaran apapun. Tidak perlu membuat keributan di Club.
Daniel kemudian meletakkan tas tersebut. Ia memancing seseorang agar datang ke tempat tas itu diletakkan. Setelahnya Daniel dan anak buahnya melarikan diri.
Tergopoh-gopoh dua pria yang datang dari arah bengkel tersebut menghampiri tas hitam. Mereka mengitar pandangan ke segala arah namun tidak menemukan siapapun karena Daniel dan anak buahnya sudah kembali ke dalam mobil.
"Lihatlah, mereka sudah mengambil uangnya," ucap Daniel.
"Kita tunggu siapa yang datang setelah ini," timpal Keil.
"Ya, aku harap Jerome akan datang." Dan disahuti oleh Nico.
Mereka menunggu selama beberapa saat. Mobil Mercedes Benz silver terlihat berhenti di depan bengkel tersebut. Baik Nico, Keil serta Daniel membeliak tidak percaya, dua pria baru saja turun dari mobil tersebut. Salah satunya adalah Jerome dan satu pria yang lain mereka mengenali sosok itu. Ya, Jonas Fortes, suami dari Emely.
"What the fuckk, ini gila!" seru Daniel tidak percaya.
"Berarti Jonas adalah...." Nico menggantungkan kalimatnya.
"Apa kalian berpikiran yang sama denganku?" Keil menimpali. Rasanya sulit dipercaya, tetapi mereka berseru senang, setidaknya mereka bisa mengetahui keberadaan Jerome, dan mendapatkan fakta yang lebih mengejutkan.
Mereka kemudian saling melirik satu sama lain. Kini teka-teki mulai terpecahkan, Keil baru mengingat simbol dari kalung tersebut ketika Jerome menggunakan kalung yang sama yang dimiliki oleh Jonas.
.
.
To be continue
.
.
Jangan lupa untuk Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih.
Always be happy 🌷
__ADS_1