
Santorini Island Greece adalah obyek wisata bangunan yang berkubah biru di Yunani. Terletak di Kepulauan Cyclades benua Eropa, tepatnya di negara Yunani. Santorini juga merupakan sebuah pulau di Laut Aegea Selatan. Dan setelah menempuh perjalanan mengudara selama 4 jam lamanya, mereka tiba di salah satu hotel bintang lima, Athina Luxury Suites. Hotel mewah dan berkelas di atas tebing yang menghadap ke laut Aegea.
Perjalanan yang cukup jauh itu membuat ketiga pasangan pengantin nampak dibuliri guratan lelah. Terlebih Emely karena wanita itu sedang mengandung.
"Sebaiknya kita segera beristirahat. Kau pasti sangat lelah, Love." Keil merangkul pundak sang istri memasuki hotel dan diikuti oleh petugas hotel yang membawakan koper mereka. Emely memang mudah lelah semenjak hamil sehingga ia mengikuti langkah sang suami ke dalam kamar hotel.
Sementara Nico dan Daniel, kedua pria itu justru betah berlama-lama memandangi sunset bersama istri mereka. Beruntung mereka tiba di Santorini Island sebelum langit berubah menjadi gelap.
"Cantik sekali." Jennifer berdecak kagum melihat pemandangan di hadapannya. Berbeda dengan Nico yang justru memandangi wajah Jennifer. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk selalu memandangi sang istri di setiap waktu.
"Istriku lebih cantik." Perkataan Nico membuat Jennifer menoleh dan tersenyum.
"Aku memang cantik, karena itu kau tergila-gila padaku," sahutnya percaya diri hingga sukses membuat Nico tergelak namun tidak mengelak. Karena yang dikatakan istri kecilnya adalah kebenaran.
Tawa Nico perlahan menyurut, lalu ia merapatkan tubuhnya pada Jennifer. "Karena itu kau harus bertanggung jawab karena sudah membuatku tergila-gila padamu My Queen." Memberikan usapan lembut di wajah cantik istrinya.
"Aku sudah bertanggung jawab, karena itu aku menikah denganmu." Bibir Jennifer mengerucut ke depan hingga Nico dibuat gemas olehnya.
Cup
Satu kecup mendarat di bibir Jennifer, Nico menangkupkan kedua pipi sang istri. "Ya, karena itu aku tidak akan membuang kesempatan saat sedang bersamamu. Kau harus bertanggung jawab karena hati dan tubuhmu hanya milikku."
Jennifer tersenyum mendengar perkataan yang diucapkan oleh suaminya. "Aku sudah berikan hati dan tubuhku, jadi kau bebas melakukan apa saja."
Seperti angin segar yang menerpa tubuhnya, sudut bibir Nico tertarik, sungguh ia benar-benar bisa melakukan apapun pada tubuh istrinya, bahkan ia bisa bebas bercinta sepanjang hari. "Kalau begitu bersiap-siaplah sayang, karena malam ini aku tidak akan membuatmu tertidur," bisiknya dengan sensual.
Glek
Jennifer menelan salivanya dengan berat. Rasanya ia telah salah berbicara dan justru memberikan kesempatan suaminya itu berfantasi liar dan akan mempraktekan padanya. "Ta-tapi...."
"Kau tidak bisa mundur lagi sayang." Nico tersenyum nakal, ia menarik pinggul sang istri agar menempel padanya, sebelum kemudian menyambar bibir yang sudah membuatnya kecanduan.
Nico menyatukan bibir mereka, menyesap dalam penuh dengan cinta. Tangannya menekan leher sang istri, sementara tangan yang lain menahan pinggul istrinya. Mereka benar-benar berciuman, saling membelitkan lidah hingga melupakan Daniel dan juga Ashley yang berdiri tidak jauh dari keduanya.
"Jangan dilihat Baby, nanti kau ingin. Aku baru saja menggempurmu di pesawat. Aku takut kau kelelahan jika aku memasukan milikku lagi," bisik Daniel sembari menyentuh wajah Ashley untuk menghindari tatapan istrinya ke arah pasangan yang sedang bercumbu mesra itu.
__ADS_1
"Ak-aku tidak ingin." Tentu saja Ashley menunduk malu karena Daniel selalu berbicara secara terang-terangan.
"Jika kau tidak ingin, berarti aku yang ingin dan aku akan membuatmu menginginkanku, Baby." Daniel menangkup wajah istrinya lalu membenamkan wajahnya di leher sang istri. Bibirnya menyesap leher jenjang Ashley hingga meninggalkan bekas kemerahan disana. Daniel hanya terkekeh ketika melihat tanda merah lainnya yang baru saja ia buat tercetak disana.
"Dasar mesum...." cicit Ashley memukul dada Daniel. Dan Daniel membawa Ashley ke dalam pelukannya, lalu berjalan melewati Nico dan Jennifer yang masih saja menyatukan bibir.
"Kalian perlu bernapas, jangan terlalu lama berciuman. Tidak lucu bukan jika aku menemukan sepasang mayat karena kehabisan oksigen." Lalu dengan santainya Daniel melenggang pergi, merangkul pundak Ashley setelah mengatakan hal yang konyol.
Sungguh Nico dibuat geram oleh sahabat yang satu itu. Hingga mengharuskan Nico mengakhiri ciumannya. "Daniel!!!!" teriaknya dengan kesal. Namun sialnya sahabatnya itu sudah lebih dulu melarikan diri dengan Ashley.
"Sudahlah sayang, biarkan saja." Jennifer menggapai lengan Nico. Ia tau jika Daniel hanya bercanda saja dan tidak ingin suaminya terlalu larut diliputi kekesalan.
"Aku ingin sekali menyumpal mulutnya sayang." Wajah Nico kembali melunak ketika melihat wajah istrinya.
"Dengan apa?" tanya Jennifer yang justru memancing.
"Tentu saja dengan bom. Biar bajingan itu tau rasa!" seru Nico masih menyelipkan kekesalan di hatinya kepada sahabatnya itu.
Jennifer terkekeh. "Jangan. Kasihan Ashley jika suaminya sampai terluka."
"Iya, baiklah terserah kau saja." Jennifer yang malas hanya mengiyakan saja. Ia tidak ingin menanggapi sifat posesif sang suami. Lagi pula ia hanya mencemaskan Ashley.
Nico menyadari jika istrinya sedang merajuk, lalu menggendong tubuh Jennifer.
"Ah Nic, apa yang kau lakukan?!" Jennifer memekik karena tiba-tiba saja suami raksasanya itu menggendong dirinya. Ia menyapukan pandangan ke sekitar karena malu jika dilihat orang lain disana.
"Kau pasti lelah. Aku akan menggendongmu sampai ke dalam kamar," sahutnya dengan berjalan masuk ke dalam hotel. "Jangan membantah sayang." Nico langsung membungkam bibir Jennifer yang hendak melayangkan protesnya dengan ucapan yang penuh penekanan itu. Sehingga membuat Jennifer pasrah dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nico pada saat berpapasan dengan petugas hotel.
Setibanya di dalam kamar hotel, Nico mendudukkan Jennifer di atas tempat tidur, sedikit membungkuk lalu menatap lekat wajah sang istri. Memainkan punggung jarinya untuk memberikan sentuhan kecil agar istrinya akan selalu terbiasa dengan segala macam sentuhannya. Jennifer membiarkan jemari suaminya bergerak nakal di wajahnya hingga merambat di lehernya. Nico kemudian mendekatkan wajah mereka dan membenamkan ciuman kembali yang dibalas oleh Jennifer. Mereka saling menyesap dan membelit, suara decapan bibir mereka yang menggebu-gebu sedikit menggema di dalam kamar. Nico membaringkan tubuh sang istri tanpa melepaskan tautan bibir mereka, hingga ia ikut merangkak ke atas tempat tidur dan menindih tubuh mungil istrinya.
Tangan Nico dengan lihai menarik dress yang menampilkan bahu putih mulus sang istri, hingga dua dada menyembul karena dress itu turun ke bawah bersama dengan penyangga dada yang menjadi satu dengan dress ketat tersebut. Nico meremmas satu buah dada Jennifer dan terdengar desahann tertahan di bibir istrinya itu. Perlahan bibir Nico turun ke leher Jennifer, menyesap dan memberikan tandanya di sana. Lalu bibirnya menjalar ke dada istrinya dengan puncuk pink yang menggiurkan.
Tanpa menunggu lama lagi, Nico mengulum satu dada sedangkan dada yang lain diremas begitu kuat hingga Jennifer berhasil meloloskan desahann yang tertahan. Wanita itu tidak peduli lagi, ia tidak bisa menahan kenikmatan yang diberikan oleh suami raksasanya itu.
Entah sejak kapan Nico sudah menanggalkan pakaiannya hingga kini tubuhnya polos sempurna. Nico masih menikmati pemandangan indah di hadapannya itu, sebelum kemudian ia menanggalkan pakaian yang melekat di tubuhnya lalu membuang asal. Kini keduanya tidak terhalangi sehelai benang apapun, hingga tubuh atletis Nico terpampang nyata dengan perut kotak-kotaknya. Meskipun terdapat luka di beberapa bagian tubuh Nico tidak mengurangi keindahan otot-otot suaminya yang kekar.
Lamunan Jennifer seketika membuyar ketika Nico kembali menindihnya dan langsung melahap dua dadanya secara bergilir. Senjatanya yang sudah berdiri dengan tegak itu ia gesekan berulang kali pada milik istrinya yang sudah basah. Nico menyudahi kegiatan menjadi bayi besar yang kehausan, ia mengarahkan senjatanya pada milik sang istri dan meskipun masih sulit memasukinya, Nico berhasil membenamkan miliknya di sana. Dengan perlahan ia memompa pinggulnya.
__ADS_1
Jennifer melenguh pasrah, tubuhnya kini sudah menjadi milik Nico, sehingga ia membiarkan suaminya itu menikmati tubuh dan ia pun turut menikmati tubuh sang suami yang sangat menggoda.
"Aahhh Nic...." Desahann itu lolos, Jennifer memejamkan mata, menjabarkan kenikmatan yang luar biasa.
Nico tersenyum, ia semakin cepat memompa tubuh hingga berhasil membuat tubuh Jennifer menggelinjang serta dua buah dada yang bergerak mengikuti irama hentakannya. Lantas satu tangan Nico meremmas dada Jennifer dengan gemas.
Keduanya melenguh panjang ketika gelombang pelepasan itu datang. Nico menekan bokong Jennifer dan meledakan seluruh cairannya di dalam rahim sang istri. Permainan panas belum selesai, Nico yang memiliki hasrat yang tinggi, kembali menggempur istrinya dengan gaya yang berbeda. Kini memasuki istrinya dari belakang.
"Owwwhhh shitttt. Ini enak sekali sayanggg...." Tidak bisa berkata-kata akan kenikmatan milik istrinya, Nico hanya bisa mengumpat berulang kali.
"Aahhh Nic...." Posisinya yang menukik ke belakang membuat milik Nico semakin masuk ke dalam. Jennifer mencengkram sprei ketika hentakan Nico yang sedikit kasar itu memberikan sensasi yang berbeda lagi.
"Aaarrghhhh....." Dan Nico berhasil menyemburkan cairan kentalnya kembali, bersamaan dengan Jennifer yang kembali mendapatkan pelepasannya.
Napas Jennifer terengah-engah, ia sungguh dibuat kelelahan oleh suaminya yang tiada henti menerjangnya.
"Tunggu My Queen, aku belum membiarkanmu tertidur," ucapnya tersenyum manis saat Jennifer meringsut dan membaringkan tubuhnya.
"Sayang, kau tidak pernah lelah." Jennifer heran dengan tenaga kuda suaminya. Bukankah sejak kemarin malam mereka sudah melakukannya hingga berkali-kali.
"Tidak sayang. Selama ini aku sudah menahannya." Gairah Nico bangkit kembali ketika ia membalikan tubuh sang istri dan terlihat dua dada yang penuh dengan bercak merah akibat ulahnya.
Jennifer tidak bisa berkata apa-apa, memang tugasnya adalah melayani suaminya dengan baik. "Baiklah, kau bisa melakukannya sepuasmu."
Nico tersenyum penuh kemenangan, lantas ia kembali melahap dada Jennifer, mengulum dan bahkan menyesapnya. Jennifer melenguh nikmat hingga Nico kembali memasuki kejantanannya ke sarang sempit sang istri.
Keduanya saling menyatukan bibir diiringi desahann nikmat yang panjang. Nico benar-benar membuat Jennifer kelelahan akan aksinya yang terus menggempur dan memberikan kenikmatan duniawi.
See you next bonus chapter
...Yang masih berkenan bisa like, vote dan jangan lupa komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
__ADS_1