Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Tidak ingin kehilangan


__ADS_3


Nico menggendong Jennifer ala baby koala menuju sofa yang menghadap jendela dengan menyuguhkan pemandangan diluar sana. Terasa menenangkan dan nyaman jika saling meluapkan perasaan sembari menikmati lautan lepas dengan ombak yang tenang. Dan Nico tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mendudukkan Jeniffer di sofa, kemudian disusul olehnya.


Jennifer berdecak kagum pada pandangan laut di hadapannya. Ia bisa menjernihkan pikiran dengan memandangi hamparan laut. Pekerjaan yang menumpuk beberapa hari ini cukup menyita pikirannya sehingga membuatnya penat. Nico benar-benar pandai memilih tempat untuk mereka. Wait? Ia melupakan sesuatu, bagaimana jika sang kakak mengetahui jika dirinya batal pergi ke negara Asia bersama Adam?


Aku melupakan Kak Vie, saat ini pasti Kak Adam sudah memberitahukan kakak.


Jennifer menghela napas panjang, hingga membuat Nico menoleh ke arahnya. "Ada apa?" tanyanya mengusap lembut kepala Jennifer.


"Kak Adam pasti sudah memberitahu kakak karena aku tidak jadi pergi bersama Kak Adam. Dan saat ini sudah pasti Kak Vie sedang mencariku." Tersirat guratan kegelisahan yang dirasakan Jennifer, berbeda dengan Nico yang tampak santai. Itulah tujuannya mematikan ponsel dan mengabaikan ponsel itu di atas nakas. Karena jika tidak, sebelum lewat 24 jam bisa-bisa bos sudah menemukan keberadaan mereka terlebih dahulu.


"Nico, bagaimana ini. Aku takut sekali Kak Vie akan marah pada kita," katanya lagi mengguncang bahu Nico ketika pria itu tidak menyahuti perkataannya. "Apalagi kakak sudah pernah memperingati..." Ucapan Jennifer seketika menggantung, ia sadar jika baru saja mengatakan yang tidak seharusnya ia katakan.


Namun sayangnya, Nico mendengarnya lebih dulu, kedua netra matanya menangkap gelagat aneh pada kekasihnya itu. "Memperingati siapa? Memperingatimu?" tanyanya mendesak tetapi Jennifer hanya terdiam mengigit bibir bawahnya. "Katakan padaku apa yang kakak Nona katakan?!"


Jennifer menggeleng cepat. "Tidak ada. Aku hanya asal bicara saja." Untuk menghindari kontak mata dengan Nico, Jennifer memalingkan wajahnya, bahkan ia segera beranjak berdiri ketika sadar jika sorot mata Nico menghujam seolah tidak percaya apa yang baru saja ia katakan. "Ak-aku ingin ke kamar mandi. Dimana kamar mandinya?" Matanya mengitari beberapa ruangan di dalam sana, namun belum sempat melangkah, pergelangan tangannya lebih dulu dicekal oleh Nico, sehingga wanita itu terjatuh di atas pangkuan Nico.


Nico membelit kedua tangannya di pinggang Jennifer agar kekasih kecilnya itu tidak melarikan diri menghindari pertanyaannya. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum mengatakan apa yang sebenarnya. Apa bos bicara sesuatu kepadamu, hm?"


"Tidak ada." Dan Jennifer tetap pada jawabannya. Namun Nico tidak percaya begitu saja, sehingga ia menyusupkan wajahnya di ceruk leher Jennifer dan memberikan gigitan kecil di sana.


"Astaga Nico, jangan membuatku geli." Tubuh Jennifer menggeliat tidak beraturan. Terlebih kini tangan Nico yang nakal sudah menjalar kemana-mana. "Hentikan Nico!" pekiknya ketika tangan Nico yang besar itu meremass salah satu buah dadanya.


"Kenapa hm? Aku hanya menyentuhnya." Kepala Nico mendongak, kemudian memutar posisi Jennifer menghadap dirinya. Nico menenggelamkan wajahnya di antara dua buah dada kekasih kecilnya yang nampak menggiurkan, akan tetapi ia sadar jika ia tidak boleh melakukan lebih jika Nona Jennie-nya tidak menginginkan dirinya untuk menyentuhnya.


"Ak-aku hanya belum terbiasa," cicitnya dengan rona merah. Memang hanya Nico-lah yang menyentuhnya secara intim. Selama ini ia tidak dekat dengan siapapun selain Billy dan berciuman dengan Billy hanya satu kali selama mereka bersama. Berbeda dengan Nico, pria itu begitu lihat berciuman sehingga dirinya selalu terbuai dan juga larut dalam permainan bibir mereka. Setiap kali berciuman ada desiran aneh yang Jennifer rasakan, terlebih jika Nico menyentuh buah dadanya, Jennifer tidak bisa mengerti apa yang ia rasakan.


Nico mengulas senyum, memang tidak mudah menaklukan wanita baik dan polos seperti Nona Jennie-nya. Dan Nico beruntung memiliki kekasih yang teramat polos yang belum terjamah oleh siapapun. Dan dengan fantasi liarnya Nico membayangkan Jennifer meliuk-liukkan tubuh di atas tubuhnya.


"Dan mulai sekarang kau harus terbiasa My Queen." Dan sekali lagi Nico meremass salah satu benda bulat kenyal itu, sebagai sengatan awal perkenalan intim mereka.


"Aahhh Nico..." Pria itu hanya terkekeh geli ketika Jennifer justru mendesahh.


"Kau sengaja, hm?" Nico menangkup wajah Jennifer lalu memberikan serangan kecupan bertubi-bertubi. Jennifer hanya tersenyum pasrah dan menghindari serangan kecupan Nico pada seluruh wajahnya. Terlebih bulu-bulu di rahang Nico yang bersentuhan pada kulitnya cukup membuatnya merinding geli.


Lama Nico mengecup seluruh wajah Jennifer hingga tubuh mungil wanita itu limbung di atas sofa sehingga kini ia berada di bawah tubuh Nico. Tatapan Nico menghujam penuh damba pada sosok wanita yang berada di bawahnya. Ia tidak akan menyesal jika mengorbankan nyawanya demi mendapatkan restu dari bos. Lamunannya tersentak ketika Jennifer mengusap rahang Nico yang tegas, betapa tampan bodyguardnya itu. Nico tersenyum dan menikmati sentuhan jemari mungil kekasih kecilnya, cukup lama hingga tatapan mereka bertemu dan saling mengunci. Nico mengikis jarak wajahnya dengan Jennifer, sebelum kemudian membenamkan ciuman di bibir wanita itu, bibir yang selalu membuatnya candu. Perlahan tapi pasti, Jennifer membalas ciuman Nico, ia akui jika sudah terbiasa dan kadangkala merindukan ciuman kekasihnya itu. Mesum bukan? Ternyata dirinya sudah terkontaminasi oleh sifat mesum Nico.


Keduanya memperdalam ciuman, menyesap dan melummat tanpa jeda, ciuman panas yang mengandung cinta tanpa napsu. Ciuman cukup lama diakhiri lebih dulu oleh Nico karena menyadari jika kekasih kecilnya nyaris kehabisan napas. Ibu jari Nico kemudian menghapus sudut bibir yang basah akan saliva mereka, membuat Jennifer menyembulkan rona merah di wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa dengan wajahmu, hm?" Nico menggoda Jennifer. Padahal tanpa bertanya pun ia mengetahui penyebab wajah kekasihnya itu merona merah.


"Ck, kau ini." Jennifer mengerucutkan bibirnya, sungguh menggemaskan di mata Nico.


"Kenapa Nona-ku ini menggemaskan sekali. Apa sengaja ingin menggodaku?" Jennifer tergelak ketika jemari Nico menggelitik perutnya.


"Hentikan Nico, kau membuatku geli." Dengan tawanya itu berusaha menyingkirkan tangan Nico, akan tetapi pria itu semakin lihai menggelitik perutnya sehingga tawa Jennifer mengundang setetes air mata di sudut matanya.


Nico menghentikan kejahilannya menggelitik perut Jennifer dan kemudian menghapus lelehan air mata tersebut. Sungguh ia tidak bisa melihat kekasih kecilnya meneteskan air mata meskipun itu adalah air mata kebahagiaan sekalipun. Dikecupnya sudut mata Jennifer dengan lembut lalu menatap lekat wajah sang kekasih yang tanpa berjarak itu.


"Ingin jalan-jalan?" tanyanya kemudian dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Jennifer. "Kalau begitu bersiap-siaplah, aku akan menemanimu berkeliling Kota Sheffield." Nico mengulurkan tangan membantu Jennifer untuk berdiri.


"Aku ingin mandi terlebih dulu."


Nico mengangguk lalu nampak berpikir sejenak. "Mandi bersama?"


Mata Jennifer melebar penuh. "Big no!" Sebelum pria itu menerkamnya, Jennifer berlari menuju kamar mandi dan segera mengunci pintunya. Namun beberapa detik kemudian, pintu kamar mandi kembali terbuka dan wanita itu menyembulkan kepalanya di balik pintu. "Nico, aku tidak membawa pakaian ganti," cicitnya malu-malu. Ia sudah begitu bersemangat, tetapi lupa jika tidak membawa pakaian ganti, mengingat Nico menculiknya tiba-tiba.


"Aku sudah menyiapkannya." Nico menunjukan sebuah paper bag cokelat di atas meja.


Jennifer mengangguk lalu kembali menutup pintu dan menguncinya.


Keduanya nampak serasi dengan pakaian warna senada serba hitam disertai kacamata yang bertengger, Nico menautkan jemarinya dengan jemari Jennifer. Di depan resort tersebut sudah nampak sebuah motor yang akan mereka gunakan untuk berjalan-jalan, tentunya atas permintaan Jennifer.


Nico membantu kekasih kecilnya mengenakan helm setelah itu dirinya yang menutupi kepala dengan helm. Menaiki tranportasi roda dua itu lebih dulu disusul oleh Jennifer setelahnya dan melaju meninggalkan Resort. Nico tidak memiliki tujuan karena keinginan Jennifer hanya berkeliling Kota Sheffield dan mencoba berbagai makanan ringan khas kota tersebut. Hingga beberapa lamanya berkeliling dan menemukan berbagai tempat, tidak hentinya Nico mengagumi kecantikan Nona kecilnya. Puas berjalan-jalan, Nico melabuhkan tujuan terakhir di Sheffield Botanica Gardens, pria itu kemudian menepikan motornya, mereka membuka helm bersamaan hanya sekedar untuk menikmati udara di sore hari.



Di kecupnya pipi kiri Jennifer dengan penuh kasih sayang. Jennifer meresapi ciuman Nico, bibir Nico yang lembut itu kemudian berpindah pada leher jenjang Jennifer yang tidak tertutupi oleh rambutnya yang diikat ekor kuda. Lama Nico menyesap leher Jennifer hingga meninggalkan jejak kemerahan disana.


"I love you, My Queen." Hanya kalimat sederhana, tetapi mampu membuat tubuh Jennifer bergetar dengan perasaan bahagia yang membuncah.


"Love you too, My Hot Bodyguard." Dengan mengulas senyumnya. Nico terkekeh mendengar sahutan Jennifer yang menyebut dirinya Hot Bodyguard.


Kini keduanya menikmati keindahan alami di hadapan mereka. Hingga keduanya memutuskan mencari makanan untuk mereka makan bersama di resort.


Menggunakan motor memang lebih cepat, hanya 30 menit berkendara, mereka sudah kembali ke resort dan masing-masing sudah membersihkan diri di dalam kamar mandi yang berbeda, meskipun awalnya Nico selalu menggoda kekasih kecilnya itu untuk mandi bersama, tetapi Jennifer dengan lihai sudah melesat lebih dulu ke dalam kamar mandi.


Usai membersihkan diri, Nico berdiam diri di dalam kamar karena ia sedang berkomunikasi dengan Daniel melalui alat pendengaran berbentuk giwang yang terpasang pada cuping telinganya. Mendengar perkataan Daniel di seberang sana sempat membuat Nico terkejut tidak percaya, berita baik dan buruk secara bersamaan disampaikan oleh Daniel mengenai seseorang yang menyuruh Emma dan dalang di balik layar hilangnya Emely. Cukup lama mereka bertukar pikiran, hingga akhirnya Nico menyudahi percakapan mereka dan melepaskan giwang tersebut.

__ADS_1


Keluar dari kamar, Nico menyematkan senyum melihat Jennifer duduk di depan jendela, menikmati secangkir kopi hangat sembari memandangi semburat jingga yang memecah di langit, cahayanya yang memantul di permukaan air laut membuat wanita mungil itu tidak hentinya berdecak kagum. Hingga Nico datang mendekat dan memeluk wanita itu dari belakang.



Sungguh ada ketakutan luar biasa yang kini menyergap dan menganggu pikirannya. Ia memang tidak salah dalam keputusannya untuk mempertahankan hubungan mereka.


"Sampai kapanpun aku akan berjuang untukmu, My Queen," gumamnya dan itu berhasil di dengar oleh oleh Jennifer yang sedang mengusap wajah Nico.


"Apa yang kau katakan Nic?"


"Tidak ada sayang," sahutnya menenggelamkan wajah di tengkuk leher kekasih hatinya. "Boleh aku minta sesuatu?"


"Hem, apa?" Masih mengusap wajah Nico. Entah kenapa ia sudah terbiasa dengan sikap Nico yang mulai manja kepadanya.


"Apapun yang kau dengar dan kau ketahui tentang diriku yang sebenarnya, maukah Nona-ku ini percaya sedikit saja padaku dan tidak akan meninggalkanku?" Ada nada berat yang terhembus ketika Nico mengatakan hal demikian.


Jennifer meletakkan cangkir gelas kopinya, ia menarik lengan Nico yang masih membelit di pinggangnya lalu menuntunnya ke hadapannya. "Ada apa?"


"Tidak ada." Nico tersenyum, tidak membiarkan kekasih kecilnya mengetahui kegundahannya. "Jawab saja pertanyaanku."


"Iya, baiklah. Aku akan selalu percaya padamu, tidak sedikit tapi banyak." Dan jawaban Jennifer sukses membuat Nico terkekeh gemas. Ia menarik kekasihnya itu ke dalam dekapannya.


Aku tidak ingin kehilanganmu, My Queen.


Mungkin bos bukanlah lawan yang berat baginya. Tetapi Jennifer sendiri yang bagaikan lawan terberat, karena jika suatu saat nanti wanitanya itu mengetahui sosok dirinya yang sebenarnya, bisa saja kekasihnya itu meninggalkan dirinya.


To be continue


.


.


Senyum Babang Nico bikin meleleh



...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2