
Pintu terbuka dengan lebar, dilihatnya dengan mata membelalak ketika melihat pemandangan yang tidak biasa. Kedua pasangan itu belum menyadari keberadaan dirinya.
"Maaf, aku tidak melihat apapun." Hingga suaranya mengejutkan Nico serta Jennifer. Dengan cepat Nico berangsur menjauh.
Keduanya saling bernapas lega karena yang memergoki mereka tidak lain ialah Jane.
"Jane, kau benar-benar mengejutkanku." Jennifer mengusap dadanya, penuh kelegaan.
Jane tersenyum canggung. "Maaf Nona, tapi Nyonya Elleana-"
"Jane, kau lama sekali." Belum sempat menyelesaikan perkataannya, seorang wanita lainnya memasuki ruangan "Mana ponsel.... ku," Kalimatnya terjeda sejenak lantaran suasana di dalam ruangan mendadak membeku. "Astaga, ada apa dengan wajah kalian?" Dilihatnya wajah Nico juga Jennifer yang pucat.
"Kak Elle, ada apa?" Jennifer mulai mencairkan suasana, ia beranjak dari tempat duduknya.
Elleana tersenyum, entah sebenarnya apa yang terjadi sebelum kedatangan dirinya. Kenapa keduanya terlihat tegang. "Ponselku tertinggal," Dagunya menunjukkan dimana letak ponselnya.
Jennifer mengikuti arah pandang Elleana. "Astaga, kenapa Kak Elle menjadi pelupa seperti ini? Lalu dimana tasku. Apa Kak Elle membawa tasku yang tertinggal di ruangan kakak?" Jennifer memperhatikan kakak iparnya yang tidak membawa tas miliknya.
Elleana menepuk kening Jennifer. "Kau ini bagaimana, tasmu sudah berada disana," ujarnya sembari menjukkan letak tas Jennifer yang berada di atas kursi.
"Oh astaga, aku lupa." Padahal Jennifer sama sekali tahu menahu kapan tas miliknya berada disana. Apa Nico yang membawakan untuknya? pikirnya.
"Ck, kau ini." Elleana menggeleng heran akan sifat pelupa adik iparnya tersebut. Ia meraih ponselnya dari tangan Jennifer. "Baiklah, aku pergi dulu. Austin berada di mobil dengan dua bodyguard."
"Baik kak hati-hati. Nanti aku tidak akan pulang terlambat." Memang saat ini Jennifer masih menginap di Mansion kakak dan kakak iparnya, mengingat kedua orang tuanya belum kembali dari Los Angeles.
"Iya, baiklah." Kemudian Elleana berlalu dari sana.
"Maaf Nona, sebenarnya tadi aku melihat Nyonya Elleana ingin menuju kemari, sehingga aku menawarkan diri untuk mengambilkan ponselnya. Karena sebelumnya aku melihat Tuan Nico masuk ke dalam private room." Jane membuka suaranya setelah keheningan melingkup di dalam sana.
"Astaga Jane, kau benar-benar asisten terbaikku. Bulan ini aku akan memberikanmu bonus."
Jane mengangguk, wajahnya tersipu merah karena dipuji oleh Nona Direkturnya. "Terima kasih Nona. Wajahnya semakin cerah ketika mendengar kata bonus.
Nico menarik napas lega. Sepertinya ia harus selalu menyiapkan jantungnya saat suatu hari nanti tiba-tiba saja bos memergoki dirinya.
***
Kini Jennifer dan Nico berada di dalam mobil menuju perusahaan. Jane sudah berlalu dari 15 menit yang lalu menaiki taksi, karena asistennya itu menolak ketika ditawarkan untuk kembali bersama.
"Nico, kenapa kau tidak mengabariku kalau kau akan menjemputku di cafe? Kau tau aku terkejut setengah mati saat melihatmu disana." Sungguh bibir Jennifer yang mungil itu menggerutu sejak tadi dan sukses membuat Nico gemas dan terkekeh.
"Kepada kau tertawa Nic?" Jennifer bertambah kesal karena Nico justru masih saja bersikap santai, tidak seperti dirinya yang panik setengah mati jika kakak ipar melihat kedekatannya dengan Nico, maka tidak menutup kemungkinan akan memberitahukan kepada kakaknya.
"Karena Nona terlihat sangat menggemaskan."
__ADS_1
"Ck, kau ini." Jennifer kesal, melipat tangannya di depan dada. Pandangannya lurus ke depan, tidak ingin melihat wajah menyebalkan kekasihnya itu. Namun hal itu justru menjadi hiburan tersendiri bagi Nico, tidak hentinya pria itu menyelinap memperhatikan kekasih kecilnya yang sepertinya tengah merajuk.
Nico kemudian menepikan mobilnya, menyentuh bahu Jennifer dan menuntun menghadapnya. "Apa Nona-ku marah, hm?"
"Menurutmu?" Jennifer menyahut sinis.
Nico menyambutnya dengan tersenyum. Ia kemudian memeluk kekasih kecilnya. "Maaf, aku benar-benar tidak bisa memikirkan apapun. Seseorang menyerang perusahaanku dan perusahaan bos, kau tau bos marah besar dengan kami. Jadi aku hanya ingin meredam amarahku dengan melihatmu." Ya, hanya dengan memeluk kekasihnya saja sudah membuat Nico benar-benar merasa tenang. Meskipun saat ini kegundahan lain lebih mendominasi ketimbang masalah perusahaan.
Wajah Jennifer sedikit melunak, bibir yang sempat mengerucut kesal itu perlahan memudar. "Apa masalah perusahaan benar-benar serius sampai Kak Vie memarahi kalian?" Telapak tangannya mengusap lembut punggung Nico berupaya memberikan ketenangan.
Nico menggeleng. "Kami selalu bisa menyelesaikannya dengan baik, jadi Nona tidak perlu cemas."
Jennifer mengangguk kecil. Keduanya saling mengurai pelukan. Tatapan mereka bertemu dan saling melemparkan senyuman. "Melihatmu tersenyum saja membuatku merasa lebih baik." Nico mengusap pipi Jennifer dengan sayang.
Jennifer terkekeh. "Kau ini selalu saja merayu. Katakan sudah berapa banyak wanita yang berhasil kau rayu, km?" Kini matanya memicing tajam, tidak membiarkan Nico meloloskan diri dari pertanyannya.
"Hm...." Nico berpura-pura berpikir dan hal itu sukses membuat Jennifer berdecak kesal hingga memukuli bahu Nico.
"Kau menyebalkan sekali." Tidak hentinya memukuli bahu Nico, bahkan semakin keras meskipun pukulan itu terasa hanya menggelitik di bahu Nico yang kekar.
Melihat kekasihnya yang tidak menghentikan pukulannya, Nico meraih kedua tangan Jennifer. Sebelum kemudian salah satu tangannya menarik tengkuk leher Jennifer, membenamkan ciuman di bibir kekasih kecilnya sehingga membuat wanita itu membeliak karena terkesiap.
Nico semakin menyesap dalam meskipun tidak mendapatkan balasan, hingga akhirnya Jennifer membuka mulutnya dan mulai mengikuti permainan bibir Nico. Rasa manis dari bibir Jennifer membuat Nico nyaris gila, tidak ingin mengakhiri ciuman mereka. Namun menyadari jika kekasihnya kesulitan bernapas, dengan berat hati Nico mengakhiri ciuman mereka terlebih dahulu.
"Maaf...." Ibu jari Nico mengusap sudut bibir Jennifer yang basah. Memang dirinya selalu tidak bisa mengendalikan diri jika bersama dengan Nona kecilnya.
"Aku harus segera mengantarkan Nona ke perusahaan. Jika tidak, aku tidak yakin bisa menahan diriku lagi."
Jennifer tidak sepolos itu, ia mengerti arah perkataan Nico, sehingga wanita itu melebarkan mata sebagai tanda peringatan.
Nico hanya terkekeh, kemudian menghadap kembali pada stir kemudi. Tidak lama, mobil yang dikendarainya kembali melaju dengan kecepatan sedang.
Namun baru setengah perjalanan, perhatian Nico tersita pada mobil yang berada di belakang mobilnya. Sejak tadi ia memang melirik kaca spion, mengamati curiga pada mobil tersebut yang terus mengikuti mobilnya. Kecurigaannya semakin bertambah ketika ia menambah kecepatan dan lagi-lagi mobil di belakangnya mengikuti mobil dirinya dengan kecepatan yang sama, bahkan menyalip mobil lain yang sempat menghalangi.
"Sayang, Nona...."
"Hmm...."Jennifer terlalu menikmati pemandangan kota diluar sana sehingga tidak menyadari jika terdapat mobil yang mengikuti mereka sedari tadi.
"Apa Nona percaya padaku?" Tentu saja pertanyaan tiba-tiba itu membuat kening Jennifer berkerut dalam.
"Apa aku selama ini terlihat tidak percaya padamu, hm?" Jennifer justru memberikan jawaban yang membalikkan kata.
"Ah, benar juga." Nico mengangguk lalu tersenyum. Nona muda sekaligus kekasihnya itu semakin pintar membalikan kalimatnya. "Kalau begitu Nona harus bersikap tenang dan tetap diam. Percaya padaku, apapun yang terjadi aku akan selalu melindungimu."
Jennifer semakin dibuat bingung, terlihat dari guratan wajahnya yang semakin dalam. "Sebenarnya ada apa, Nico? Apa yang ingin kau katakan?"
__ADS_1
Ckiitt
Sebelum menjawab, Nico terlebih dulu berbelok tajam ke arah kanan sehingga membuat tubuh Jennifer terguncang cukup keras.
"Ni-Nico....." Siapapun pasti akan merasakan jantungnya tiba-tiba saja mencelos keluar ketika nyaris saja mobil yang ditumpangi mereka terpelanting. Untung saja Nico sangat mahir mengemudi.
"Maaf.... sejak tadi mobil di belakang mengikuti kita," ujarnya sebelum Jennifer kembali mengajukan pertanyaan.
"A-apa yang kau katakan?" Karena penasaran Jennifer menoleh ke belakang. Ternyata memang ada mobil yang mengikuti mereka, entah sejak kapan.
"Jangan melihat ke belakang sayang." Nico terus melaju tanpa mengurangi kecepatan. Ia menutupi pandangan Jennifer dengan telapak tangannya agar tidak perlu menoleh ke belakang.
Jennifer menurut, berharap-harap cemas bahwa mereka akan baik-baik saja. Berulang kali Jennifer memejamkan matanya ketika berada di dalam dalam mobil yang semakin melesat cepat. Bahkan ia baru menyadari jika sudah tidak berada di jalan raya.
Brakk
"Shiitt!!" umpat Nico.
Nyaris saja mobil mereka kehilangan keseimbangan ketika mobil di belakang menabrak bagian belakang. Jika Nico tidak segera menginjak pedal rem, mungkin mobil mereka sedikit terpelanting. Diliriknya kembali mobil tersebut yang masih tidak membiarkan mobilnya meloloskan diri.
"Jangan cemas sayang. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu." Nico dapat melihat kecemasan di wajah sang kekasih.
Jennifer mengangguk pelan. Tentu ia tidak akan meragukan kemampuan Nico tetapi hal yang wajar ketika berada di situasi sepertinya. Terlebih lagi, mobil itu semakin menjangkau mereka.
Saat ini mobil mereka semakin jauh dari jalan raya, di sekitar mereka hanya ada semak-semak dan hamparan rumput hijau.
Shittt! Mobil itu tidak menyerah juga.
Nico tidak perlu secemas ini jika di dalam mobil hanya ada ia seorang diri, saat ini Nona Jennie ada bersamanya. Ia tidak ingin kekasih kecilnya terluka barang seujung kuku pun. Lama berpikir, hingga tidak ada jalan lain, sepertinya Nico harus memutar arah dan membanting stir. Namun belum sempat berbelok, mobil dari arah lain melaju sangat cepat, menghantam mobil di depannya.
Brrakk
.
.
To be continue
.
.
...Jangan lupa follow akun Instagram baru Yoona ya man-teman @_rantyyoona_...
...Tetap like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
__ADS_1
...Always be happy 🌷...