Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Tidak akan membiarkanmu pergi


__ADS_3

Dua hari kemudian


Nico terlihat berdiri di depan cermin setelah selesai mengenakan pakaian. Pagi ini ia akan menjemput Jennifer seperti perintah wanita itu karena untuk beberapa hari ke depan supir yang biasa mengantar Jennifer tidak bisa bekerja lantaran putranya yang masih kecil jatuh sakit.


"Mau sampai kapan kau berdiri disana? Sudah hampir lima belas menit kau hanya berdiri di depan cermin," celetuk Daniel. Pagi-pagi sekali pria itu dan Keil sudah membuat rusuh di dalam kamar Nico.


"Aku tidak ingin terlihat tua di depan Nona Jennie." Pandangan Nico tetap tertuju pada pantulan wajahnya di depan cermin.


Mendengar ucapan Nico, Keil dan Daniel saling pandang dan kemudian terkekeh. "Kau memang sudah tua," cetus Keil santai hingga tawa Daniel semakin menggelegar di dalam sana.


Nico yang tengah menyisir rambutnya sontak saja menghentikan kegiatannya itu. "Sialan kau! Aku belum tua, usia kami hanya berbeda lima tahun saja."


"Tetap saja kau terlihat tua." Keil tetap tidak berhenti mengejek Nico hingga membuat Nico mendengkus kesal. Ia melempar benda apapun yang berada di atas meja hingga mengenai tubuh Keil.


"Apa karena kau gagal mendapatkan Emely, mulutmu jadi bermasalah?" seru Nico penuh dengan sindiran.


"Kenapa kau mengaitkannya dengan Emely?" Keil beranjak dari tempat duduknya, ia tidak terima jika selalu dikaitkan dengan Emely. "Tidak ada hubungannya dengan dia!" Dengan suaranya yang meninggi lantaran kesal.


"Kalau begitu tutup mulutmu! Jangan pernah mengatakan jika aku tidak cocok dengan Nona Jennie!" seru Nico yang juga meninggikan suaranya.


"Telingamu sebelah mana yang mendengar jika aku mengatakan kau tidak cocok dengan Nona Jennie?!" Keil menyahut kesal seolah menantang sahabatnya itu.


"Kau mengatakan jika aku tua, itu sama saja kau mengatakan jika aku tidak cocok dengan Nona Jennie!"


Keil dan Nico sudah berdiri saling berhadapan dengan dada mereka yang sudah membusung, bersiap untuk saling menerkam.


"Aku tidak bermaksud seperti itu!" teriak Keil tidak terima. Karena sejujurnya ia tidak pernah mengatakan seperti yang dituduhkan oleh Nico.


"Kau bermaksud seperti itu, masih saja tidak mengakuinya!" Nico masih saja bersikeras akan maksud dari ejekan sahabatnya tersebut.


"Tidak!" seru Keil mendorong tubuh Nico.


"Iya!" Nico melakukan hal yang sama, mendorong tubuh Keil.


"Hahahaha....." Ditempat duduknya Daniel justru tergelak disertai tepukan tangan. Ia sangat senang setiap kali menyaksikan perdebatan Nico dengan Keil, hingga membuat kedua sahabatnya itu menoleh serentak. "Sepertinya aku harus mengambil popcorn dan juga minuman bersoda!" Dan kemudian beranjak berdiri namun bahu kanan dan kirinya di tahan oleh Keil dan Nico.


"Bajingan! Kenapa kau terlihat senang melihat kita berdua bertengkar!" seru Nico.


"Kau teman macam apa, heh?" sambar Keil.


Namun justru membuat Daniel kian tergelak. "Kalian bersekutu menyerangku ya!" Kini tawanya sudah menyurut. Dan keduanya tetap menyerang Daniel dengan memukul menggunakan bantal sofa.


"Sial! Kalian benar-benar bersekutu! Baiklah, sorry... sorry..." Namun perkataan maaf Daniel tidak di gubris oleh Nico juga Keil. "Hei Nico, sebaiknya kau pergi saja. Kau sudah hampir terlambat menjemput Nona Jennie." Mendengar nama Jennifer disebut, tentu saja Nico menghentikan pergerakan tangannya yang menyiksa Daniel dengan bantal sofa.


"Kau benar," jawabnya lalu melemparkan bantal sofa tersebut tepat ke kepala Daniel hingga Daniel mendengkus kesal. "Sebaiknya aku segera pergi!" Lantas Nico tergesa-gesa mengambil ponsel dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja tanpa berpamitan dengan Keil serta Daniel.

__ADS_1


Keil berdecak, melemparkan bantal sofa dengan asal, sebelum kemudian kembali mendudukkan tubuhnya di sofa bersisian dengan Daniel.


"Kau lihatlah, dia benar-benar serius ingin mengejar Nona Jennie," tutur Daniel menggelengkan kepalanya heran karena sikap Nico yang kini menggilai sosok Nona Jennie.


"Biarkan saja. Kita lihat terlebih dulu usaha Nico mendapatkan hati Nona Jennie dan setelah itu mendapatkan hati bos," seru Keil. Memang kemungkinan terbesarnya adalah Nico harus lebih berjuang menaklukan hati bos mereka jika benar-benar serius ingin bersama dengan Nona Jennie. "Karena mendapatkan restu dari bos akan lebih sulit. Bos pasti akan mencarikan pria yang baik untuk Nona Jennie," imbuhnya kemudian.


Daniel mengangguk membenarkan, namun detik kemudian menautkan kedua alisnya. "Jadi teman kita itu tidak baik?"


"Menurutmu?"


"Tentu saja dia bajingan haha." Sungguh jika Nico masih berada disana, mungkin sudah melayangkan tinjunya di wajah Keil dan Daniel.


Keil ikut terkekeh. "Kita juga bajingan."


Daniel kembali mengangguk, tidak bisa dipungkiri jika mereka semua adalah pria bajingan yang menginginkan sosok wanita baik-baik.


"Dan kau sendiri bagaimana? Apa kau masih tidak bertemu dengan Emely di Cafenya?" tanya Daniel kemudian.


Ya, sudah dua hari ini Keil datang ke Cafe Emely sebagai pengunjung, tetapi wanita itu tidak berada disana.


"Entahlah, aku sudah menugaskan anak buah kita berjaga disana dan melaporkan padaku jika Emely berada di Cafenya."


"Apa mungkin terjadi sesuatu dengannya?"


"Beberapa anak buah sudah aku sebarkan di Knightsbridge, belum ada laporan apapun dari mereka." Dua hari ini Keil memerintahkan beberapa anak buah Black Lion untuk memantau Penthouse Emely dan tidak ada tanda-tanda jika Emely keluar dari sana."


Keil mendesis kesal. "Sialan kau!"


Daniel terkekeh, sepertinya sangat menyenangkan jika dirinya juga menginginkan istri dari pria lain. Apa ia harus mencobanya juga? pikirnya.


***


Mobil yang dikendarai Nico sudah tiba di depan pelataran Mansion utama keluarga Romanov. Mansion sebesar itu hanya menampakkan puluhan anak buah dan belasan maid karena kedua orang tua dari bos masih berada di Los Angeles.


Nico turun dari mobil, sembari menunggu Jennifer, ia menyandarkan pinggangnya pada sisi mobil. Sesaat kemudian senyumnya terbit begitu melihat Jennifer yang baru saja menampakkan diri dari pintu, berjalan menuju pelataran.



Kedua manik mata Nico seperti terhipnotis pada sosok wanita kecil yang berjalan ke arahnya, sehingga ia tidak melepaskan pandangan dari Nona majikananya tersebut.


"Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" Jennifer berusaha meneliti sesuatu yang aneh pada penampilannya karena Nico menatapnya seolah penuh kritik.


Nico tersadar dan berdiri dengan benar. "Tidak ada, hanya saja Nona terlihat semakin cantik."


Mendengar pujian dari Nico, Jennifer menggelengkan kepala. "Simpan saja pujianmu itu untuk menggoda wanita lain."

__ADS_1


"Haha iya baiklah." Memang hanya Jennifer yang tidak pernah berbuai akan pujian darinya. Nico membantu membukakan pintu mobil untuk Jennifer. "Silahkan permaisuri."


Jennifer mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil. "Kenapa permaisuri?"


"Karena Nona memang seperti permaisuri," sahut Nico menyematkan senyuman di sudut bibirnya. "Lebih tepatnya permaisuri di hatiku," sambungnya kemudian di dalam hati.


"Ck, menggelikan. Jangan memanggilku seperti itu," perintah Jennifer. Tubuhnya merasa merinding jika mendengar panggilan seperti itu.


"Baiklah permaisuri," sahut Nico mengabaikan perintah Jennifer.


"Nico!" Kedua mata Jennifer membola penuh dengan peringatan.


"Haha iya Nona." Nico tidak tahan untuk tidak tertawa. Jennifer terlihat mencebikkan bibirnya dan kemudian masuk ke dalam mobil di susul oleh Nico.


Menggemaskan.


Rasanya sehari saja tidak menggoda Jennifer seperti ada sesuatu yang hilang. Nico mengulum senyumnya, wajah menggemaskan Jennifer masih terbayang di otaknya. Sebelum kemudian melajukan mobil meninggalkan Mansion Utama Romanov.


Begitu tiba di depan perusahaan, Nico turun terlebih dahulu dan membantu membukakan pintu mobil. Meskipun berulang kali Jennifer menolak perlakuan Nico yang berlebihan, pria itu tetap bersikeras melakukan apapun yang ia inginkan.


Keduanya melangkah memasuki lobby, namun pandangannya dibuat terkesiap saat di depannya Billy tengah berjalan menuju dirinya. Jennifer bersikap tenang, karena biasanya jika berpapasan seperti ini mereka akan saling melewati. Namun ternyata perkiraan Jennifer salah, Billy menghentikan langkahnya tepat di hadapan dirinya.


Jennifer mengulas senyum tipis, sebelum menjadi pusat perhatian karyawannya, buru-buru Jennifer melesatkan tubuhnya melewati Billy.


"Jennie....." Billy menarik tangan Jennifer, sehingga langkah Jennifer terpaksa terhentikan.


"Billy, apa yang kau lakukan?" Jennifer berbisik kepada Billy dan berusaha menepis tangan Billy. Ia tidak ingin Billy bertindak gegabah.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau menjelaskan sesuatu kepadaku." Itu adalah kali pertama Billy berbicara begitu dingin kepada Jennifer. Kini ia tidak peduli akan tatapan karyawan dan beberapa model yang berlalu lalang di lobby.


Jennifer menghela napas berat, kini dirinya juga Billy sudah menjadi pusat perhatian disana. Apa yang akan dilakukan Billy? pikirnya.



.


.


To be continue


.


.


Kalian kan pasti pilih babang Nico, bang Billy buat author Yoona aja ya 🤭😍😍

__ADS_1


Like, vote dan komentar kalian 💕


__ADS_2