
Sudah lebih dari 10 menit Kiel berada di balkon. Ingatannya membawa dirinya pada kejadian beberapa jam yang lalu di Club ketika tiga wanita menerobos masuk ke dalam ruangan mereka.
"Shiitt!!" umpat Daniel.
Tentu saja itu adalah godaan untuknya. Apa malam ini ia akan bersenang-senang dengan wanita kesayangannya ataukah menahan hasratnya? Nico dan Keil menatap tajam meskipun mereka mengakui jika ketiga wanita itu benar-benar membangkitkan sesuatu di balik celana mereka yang kian sesak.
"Untuk apa kalian kemari?!" Nico sedikit meninggikan suaranya dengan sinis.
"Nico, aku...." Chole berjalan mendekat. Ya, Chole dan teman-temannya menerobos masuk. "Aku merindukanmu, Nico. Kau sudah melupakanku, apa karena kau memiliki wanita lain?" Nampak wajah Chole yang kacau dan sendu, ia merindukan pria itu setengah mati.
"Aku tidak merindukanmu Chole, jadi kau dan teman-temanmu bisa pergi dari sini!" Setidaknya Nico masih berbaik hati mengusir mereka dengan cara halus.
Chole kembali menelan kekecewaan mendengar perkataan Nico. Ia melirik ke arah Emma dan juga Mia yang sedang berusaha mendekati pria mereka.
"Apa kau pikir dengan berpakaian seksi seperti ini bisa merubah pikiran dan keputusanku, Mia?!" Keil dengan wajah garangnya menatap tajam wanita itu.
"Keil.... aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku sangat mencintaimu Keil, karena itulah aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkanmu. Dan benar saja sejak kejadian malam itu aku menjadi salah satu wanitamu." Mia memberanikan diri, ia menebalkan wajahnya. Biarlah Keil menganggapnya apapun asalkan ia bisa kembali menjadi wanita kesayangan Keil.
"Ya, itu di masa lalu. Saat ini aku tidak tertarik lagi denganmu. Jadi kau bisa pergi dari sini!"
"Keil... aku...." Mia mencoba merengkuh Keil, memeluk tubuh pria itu.
"Jangan menyentuhku!!" Namun Keil menepis, mendorong wanita itu dengan kasar. Tenaga Keil yang besar itu mampu menggoyahkan keseimbangan tubuh Mia hingga wanita itu jatuh tersungkur.
Berbeda dengan Daniel, Emma berhasil meraup bibir Daniel meskipun pria itu diam tidak membalasnya. Akhirnya selama beberapa saat Emma menghentikan ciuman sepihaknya.
"Sudah?" tanya Daniel dengan dingin sesaat setelah penyatuan bibir dengan paksa. Ia akui bagian bawahnya sudah terasa sesak, tetapi entah kenapa menerima ciuman Emma merasa berbeda dengan sensasi ketika ia mencium Ashley, bahkan miliknya sedikit melemas. Itu tandanya kini miliknya hanya bereaksi jika bersama Ashley.
"Daniel, kenapa kau seperti ini. Apa salahku?" Pias sudah wajah Emma. Ternyata tubuhnya sudah tidak bisa lagi memikat salah satu pria Cassanova di hadapannya itu.
"Kau tidak salah. Hanya saja aku tidak tertarik lagi denganmu." Satu kalimat itu mampu menghancurkan hati Emma.
"Daniel......" Emma tidak bisa berkata lagi. Ia benar-benar tidak bisa pikir, Daniel membuangnya begitu saja.
"Pergi Emma!" perintahnya dengan dingin. "Apa perlu aku menyeretmu dan teman-temanmu dari sini?!"
Emma menggeleng. Tidak. Ia tidak ingin pergi dari sana sebelum mendapat Daniel-nya kembali. "Tapi...."
"Pergi kalian semua! Kau dan teman-temanmu itu mengacau kesenanganku malam ini!" Akhirnya Daniel kehilangan kesabarannya, hingga ia berteriak seperti itu.
__ADS_1
"Kami tidak akan pergi." Ketiganya tetap bersikeras tidak ingin pergi. "Apa kalian sudah menemukan wanita yang lebih cantik dan seksi dari kami bertiga, hem?" Chole memberanikan diri mengatakan hal demikian. Ia sungguh penasaran kenapa Nico berubah.
"Bukan urusanmu, Chole! Kalian tidak perlu mengetahui apa yang tidak perlu kalian ketahui!" sahut Nico. Menurut mereka tidak ada alasan untuk memberitahu ketiga wanita itu.
Berbeda dengan Mia, wanita itu sangat takut dengan tatapan Keil karena Keil benar-benar menjadi pria yang berbeda jika sedang marah. Terlebih lagi perlakuan Keil terakhir kali padanya kala itu, beruntung tadi ia hanya di dorong saja.
Mia mendekati temannya, memegang tangan Chole. "Sebaiknya kita pergi dari sini, Chole," bisiknya.
"Kau bodoh atau apa. Rencana kita belum berhasil." Chole menjawab dengan berbisik.
"Tapi...."
"Ck, jika ingin berdiskusi sebaiknya kalian mencari tempat lain!" Daniel menyela dengan tatapan tajamnya.
"Pergi atau kami akan menghabisi kalian malam ini juga!" sambar Nico dengan sarkas. Menghabisi yang dimaksud adalah mengeksekusi ketiga wanita jalaang itu.
Namun sepertinya ketiga wanita itu hanya diam, terlalu berani sehingga tidak mengindahkan ancaman tersebut.
"Aku hitung sampai tiga. Pergi atau ku tembak kepala kalian dari sini!" Keil yang diam ternyata menjelma menjadi sosok yang menyeramkan seperti itu. Ia mengeluarkan senjata miliknya, senjata yang terdapat enam peluru di dalamnya. Kemudian menodongkan senjata ke arah ketiga wanita itu.
Chole, Mia dan juga Emma terpaku. Senjata? ternyata ketiga pria itu sungguh-sungguh dengan ancaman mereka.
"One....." Keil mulai menghitung.
"Ck, kenapa semudah itu? Kenapa tidak kau keluarkan lebih awal senjata milikmu," seru Daniel. "Membuang-buang tenagaku saja!" gerutunya kemudian. Karena sangat sulit menjinakkan junior miliknya yang sudah terlanjur menegang.
"Berisik, yang penting mereka sudah pergi," sahut Keil kesal. Ia memasukkan kembali senjata miliknya ke dalam pakaiannya.
"Ya, beruntung aku bisa menahannya. Jika tidak, aku bisa kehilangan Nona Jennie. Hubungan kami baru saja di mulai," tutur Nico. Jika dulu ia begitu tergoda dengan wanita-wanita seksi, entah kenapa saat ini melihat wanita seksi seperti itu menjadi begitu mengerikan. Seperti Nona Jennie-nya tengah mengawasi dirinya.
"Kita bertiga berhasil menahannya, kawan," sahut Daniel terselip ejekan di nada suaranya. "Kau mau kemana?" Perhatian Daniel tertuju pada Keil yang hendak pergi dari sana.
"Aku merindukan Eme. Hanya dia yang bisa menjinakkannya." Arah pandangan Keil tertunduk ke bawah, Nico serta Daniel memahami hal itu. "Tapi aku ingin mandi terlebih dulu." Ya, karena Mia tadi sempat menyentuhnya dan ia tidak suka wanita lain menyentuhnya.
"Keparat! Kau ingin meninggalkan kami, hah?" seru Daniel. Bukankah mereka akan minum hingga puas malam ini?
"Sorry, kalian jangan menggangguku!" Lantas Keil keluar dari ruangan itu begitu saja.
"Aarrghh siall. Sepertinya aku juga butuh pelampiasan." Daniel menggurutu kesal dan tertangkap jelas di telinga Nico.
__ADS_1
"Bajingan! Temani aku minum disini!" Oh tidak, Nico tidak akan membiarkan Daniel pergi.
"Aahh, aku tersiksa Nico. Tolong mengertilah." Daniel gusar, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku tidak peduli," sahut Nico acuh. "Kau pikir kau saja yang tersiksa? aku juga, bodoh!" Nico kemudian menarik paksa bahu kokoh Daniel dan mendudukkan sahabatnya itu di salah satu sofa di dalam sana.
"Temui Nona Jennie. Kenapa membuatku harus tersiksa sepertimu?!" Kesal. benar-benar kesal, padahal ia ingin bercinta dengan Ashley.
"Kau ingin melihatku kehilangan kepala, hah?!" hardik Nico tidak kalah kesal.
"Aku tidak peduli. Aku ingin pulang dan bercinta dengan wanitaku," seru Daniel. Ia sudah membayangkan kemolekan tubuh Ashley menari-nari di atas tubuhnya.
"Jangan merengek, dasar bayi koala." Nico menyodorkan minuman pada Daniel.
"Keparat! Tidak ada bayi koala sebesar diriku!" Kemudian Daniel meneguk minumannya, tenggorokannya terasa kering karena sejak tadi ia berteriak.
"Ya, kau.... kau... intinya kau bayi raksasa koala!" Nico berseru dengan asal.
"Ceh, kau sudah menjadi gila Nic karena tidak bisa bercinta dengan Nona Jennie." Daniel meledek. "Hajar saja, aku yakin bos akan menyetujui hubungan kalian kalau kau menghamilinya lebih dulu," selorohnya menahan tawa.
"Kau benar. Dan aku sudah pasti berbeda alam saat itu juga. Puas kau hah, sialan!" Sungguh Nico ingin menembak kepala Daniel saat ini juga. Kalau ia bisa, sudah ia lakukan sejak lama mengingat Daniel sangat menyebalkan.
"Hahahahaha....." Daniel tergelak. Sungguh puas ia bisa melihat kekesalan di wajah Nico. Siapa suruh sahabatnya itu menahan dirinya yang ingin bercinta malam ini dengan Ashley. Meskipun sejujurnya ia merasa kasihan karena diantara mereka, hanya Nico-lah yang masih harus bermain solo di kamar mandi.
.
.
To be continue
.
.
Chole, Mia, Emma
Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih.
__ADS_1
Biar lebih akrab follow me on Instagram @rantyyoona
Always be happy 🌷