Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Apa kau ingin mati?!


__ADS_3

Tidak hanya Daniel yang dibuat terkejut, Nico yang juga menyaksikan peluru menembus punggung sahabatnya, merasakan jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat.


"Keil!!!"


Keduanya berteriak, bersama-sama mendekati Keil yang sudah limbung dengan kedua lututnya yang menyentuh tanah. Keil masih mampu menahan beban tubuhnya yang nyaris mati rasa.


"Bertahanlah Keil." Dengan sigap Nico merangkul Keil. Sementara Daniel memeriksa keadaan Keil yang kesadarannya masih terjaga. Namun yang membuat keduanya begitu terhenyak karena tatapan mata Keil nampak begitu kosong. Nico memahami kondisi Keil, berbeda dengan Daniel yang belum mendengar apapun mengenai Emely.


"Shiitt!!" Tentu Daniel mendadak murka, ia mencari sumber peluru yang menghantam punggung sahabat mereka. Sorot matanya semakin dipertajam, mendapati pria keparat yang berani-beraninya menembak sahabat mereka. Pandangan yang semula mengedar berhenti tepat di satu titik. Dapat!


Lantas Daniel segera mengejar pria itu, pria keparat yang sudah berani menghantam timah panas kepada Keil. Namun karena pria itu semakin memperlebar jarak, sehingga Daniel mengarahkan senjata pada kaki pria itu.


Dor!


Tepat sasaran! Mendapatkan hantaman peluru, tentu saja langkahnya melambat hingga Daniel bisa dengan mudah menjangkau lalu menarik bahu pria itu dan kemudian memberikan bogeman mentah tepat di wajahnya. Pria tersebut tidak mampu menangkis tangan Daniel karena kalah cepat.


"BAJINGAN KAU JEROME! Seharusnya sudah sejak awal kami membunuhmu!" Daniel mengeram penuh amarah. Peluru yang baru saja menembus punggung Keil berasal dari senjata Jerome. Pria itu rupanya bisa melarikan diri dengan mudah setelah ledakan bom rakitan yang Nico lemparkan.


Jerome terkekeh-kekeh, tidak nampak wajah bersalah karena berhasil melukai Keil. Apa yang ia lakukan tidaklah seberapa, bahkan Jonas juga harus terluka karena perbuatan Keil.


Melihat respons Jerome yang hanya tertawa kecil, Daniel kembali melayangkan tinjunya bertubi-bertubi. Sementara Nico berusaha mengguncang tubuh Keil untuk tetap bertahan pada kesadarannya, hingga Nico tidak menyadari jika sebuah mobil datang ke arahnya. Anak buah Black Lion sempat mengejar mobil itu, namun langkah panjang mereka kalah cepat dari kecepatan mobil tersebut.


Brak


Nico terkejut mendapati seseorang baru saja memasuki mobil yang datang ke arahnya. Ia tidak menduga jika Jonas masih mampu berdiri bahkan melarikan diri dengan kepala yang sudah bersimbah darah.


"Tunggu apalagi, cepat kalian kejar Jonas!!" perintah Nico berteriak kepada beberapa anak buah yang berusaha menghentikan Jonas menggunakan mobil. "Cih, dia memiliki banyak nyawa rupanya," gumamnya setelah melihat mobil anak buah Black Lion berusaha mengejar mobil itu. Nico yakin jika Jonas tidak akan mungkin bertahan lama, mengingat luka pria itu yang cukup parah di bagian kepala serta kakinya.


Daniel yang juga melihat Jonas berhasil meloloskan diri, melampiaskan amarahnya kepada Jerome. Ia tidak peduli meskipun Jerome sudah tidak sadarkan diri. Ia kemudian memerintahkan beberapa anak buah untuk membawa Jerome ke Markas.


***


Keil yang mengeluarkan banyak darah membuat Daniel serta Nico semakin panik, padahal mereka sudah sering terluka seperti ini, tetapi entah kenapa kali ini luka Keil begitu dalam hingga banyaknya darah yang keluar. Terlebih wajah Keil semakin memucat bagaikan tidak terdapat aliran darah disana. Untuk pertolongan pertama Nico yang menekan luka Keil hingga mereka mencapai rumah sakit terdekat. Karena tidak mungkin langsung membawa Keil kembali ke Markas dengan kondisi Keil yang terluka parah seperti ini.


Selama 20 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah sakit Royal Infirmary Of Edinburgh. Beberapa perawat dengan sigap membantu mendorong brangkar yang mengangkut tubuh Keil.


"Keil bangun, bodoh!" Daniel mengguncang Keil berulang kali sebelum sahabatnya itu memasuki ruangan operasi.


"Maaf Tuan, sebaiknya kalian tunggu diluar." Salah satu perawat wanita menghalangi dan mendorong tubuh Nico serta Daniel saat keduanya ingin ikut masuk ke dalam sana.


Huh

__ADS_1


Mereka mengusap wajahnya dengan kasar, karena terlalu panik sehingga mereka tidak sadar jika sudah berada di depan ruangan operasi. Keduanya menunggu dengan gelisah, berdiri saling berseberangan dan bersandar pada dinding.


Menunggu selama hampir satu setengah jam, akhirnya Nico serta Daniel mendapatkan berita yang baik, operasi berhasil dan Keil akan sadar setelah dua jam. Keil akan dipindahkan ke ruangan perawatan namun Nico dan Daniel menolak, mereka akan langsung membawa Keil kembali ke London. Pihak rumah sakit tidak memiliki pilihan selain mengizinkannya.


Menjelang malam, helikopter Black Lion sudah berada di wilayah perbatasan Kota London. Memasuki mobil dan langsung melaju menuju Markas. Belum ada tanda-tanda Keil akan tersadar, padahal sudah lewat dari tiga jam. Dan begitu tiba di Markas Nico, Daniel membaringkan Keil di atas tempat tidur.


"Kenapa Keil belum sadar juga Nic?" Daniel kian gusar, pasalnya Keil akan cepat sadar jika terluka seperti ini. Nico hanya menggelengkan kepala, ia juga gelisah sama seperti Daniel. "Arrgghh.... apa yang sebenarnya terjadi! Dimana Emely?!" Daniel yang begitu marah meninju dinding untuk meluapkan amarah. Nico sudah menceritakan apa yang ia dengar bahwa Emely berusaha melompat dari mobil dan terguling ke semak-semak. "Apa kau yakin jika Emely sudah mati Nic?" tanyanya parau kepada Nico.


"Entahlah, aku tidak yakin. Keil pasti akan menggila jika Emely benar-benar pergi untuk selamanya." Nico juga menyesali apa yang terjadi dengan wanita yang sudah menjadi istri dari sahabatnya itu. Jika saja mereka bisa memperkuat penjagaan, mungkin Golden Dawn tidak akan bisa membawa Emely dengan mudah.


"Tidak hanya Emely, bahkan calon bayi mereka juga meninggalkannya," timpal Daniel menarik rambutnya frustasi. Mereka tidak bisa membayangkan berada di posisi Keil saat kehilangan dua yang yang berarti sekaligus. Bahkan apa yang mengganggu pikirannya dua hari ini tidak sebanding jika dibandingkan dengan permasalahan Keil.


"Aku harus memberinya pelajaran!" Nico mengeraskan rahangnya, lalu berjalan keluar dari ruangan.


"Kau mau kemana Nic?" Daniel bertanya dan melirik kilas ke arah Keil yang masih tidak ingin membuka matanya. Melihat Nico yang tidak merespons pertanyaannya, Daniel hanya mengekori sahabatnya yang satu itu.


Langkah mereka menggema memasuki ruangan penyiksaan. Terdengar suara teriakan seseorang karena disiksa oleh anak buah mereka. Nico mengibaskan tangannya tanda anak buahnya harus menyingkir. Nico serta Daniel menatap pria itu dengan penuh kemarahan dan kebencian.


"Bagaimana Jerome? Apa kau menikmati hukuman yang kami berikan padamu, heh?!" Ya, Jerome dalam keadaan tidak berdaya, kedua tangannya diikat oleh rantai dan menggantung ke atas, membiarkan tubuhnya menerima penyiksaan bertubi-bertubi.


Black Lion sungguh kesal karena Jonas berhasil melarikan diri dengan dibantu anak buah. Entah bagaimana kondisi pria keparat itu, karena sampai saat ini belum ada laporan mengenai keberadaan Jonas.


"Cih....." Jerome meludah sehingga darah yang memenuhi mulutnya itu sedikit menyembur. "Aku tidak peduli lagi kalian ingin membunuhku atau tidak." Dalam keadaan tidak berdaya, Jerome masih saja tersenyum menyombongkan diri.


Srett


"Arrgghh!!" Jerome berteriak diiringi pisau yang menyayat kulit wajah pria itu. Darah nampak keluar dari lukanya tersebut. Melihat Jerome yang merintih kesakitan, Daniel tersenyum sembari mengusap darah yang tertinggal di pisau kesayangannya.


Dan kini giliran Nico, ia maju selangkah sehingga Daniel menyingkir dari posisi sebelumnya. "Tenanglah, aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti Daniel." Mengerti akan tatapan tajam Jerome padanya membuatnya paham. Ia kemudian mengambil tongkat penjepit batu bara panas lalu mengarahkan tepat di hadapan Jerome. "Aku hanya ingin memanaskan tubuhmu dengan ini."


Jerome menggeleng, ia bisa membayangkan batu bara panas itu jika mengenai kulitnya, sudah pasti akan melepuh. "Bajingan kalian!" serunya.


Mendengar umpatan Jerome, Nico tersenyum miring, ia menarik pakaian pria itu dan melepaskan kancingnya secara paksa.


"Aarrgghhh!!!" Teriakan yang lebih menggila lagi menggelegar disana ketika tangan Nico sudah menempelkan besi panas itu pada dada Jerome.


"Kau sudah berani melukai Keil dan inilah hukumannya!"


"Aarrgghhh!!!" Jerome kembali berteriak karena Nico semakin menekan batu bara tersebut sehingga ia dapat merasakan jika batu bara itu menembus ke jantungnya. Berulang kali Jerome meronta untuk menjauhkan benda itu, tetap saja tenaganya tidak berarti saat ini. Ia benar-benar terluka parah, bahkan ketika Nico menarik batu bara tersebut meninggalkan bekas yang menganga di dadanya.


Belum puas bermain-main dengan Jerome, Nico dan Daniel ingin mengulanginya kembali namun sayangnya kegiatan mereka harus terhentikan karena satu anak buah mendekati mereka.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyanya Daniel.


"Bos Keil sudah sadar dan saat ini mengamuk karena ingin pergi dari Markas untuk mencari Nona Emely."


Keterangan anak buah mereka tentu saja membuat Nico serta Daniel lega sekaligus merasa cemas karena Keil belum bisa mengendalikan dirinya akan kenyataan mengenai Emely. Lantas keduanya membuang benda yang mereka pegang dengan asal lalu berlari keluar dari ruangan.


Penampakan Keil yang mengamuk pada anak buah yang menghalanginya hanya bis menghela napas. Mereka berdua memaklumi keadaan Keil yang sedang merasa terpukul.


"Keil hentikan!" Daniel menahan tubuh Keil yang kembali ingin menghajar anak buah yang beberapa dari mereka sudah terkapar.


"Kalian pergilah! Obati luka kalian!" ujar Nico kepada beberapa anak buah mereka. Dengan patuh, mereka segera meninggalkan ketiga bos.


"Lepas!" Keil mendorong tubuh Daniel, ia merasa marah karena Daniel dan Nico juga ingin menghalangi dirinya. "Apa kalian juga ingin menghalangiku mencari Eme, heh?!"


"Lukamu terbuka Keil, kau harus diobati lagi." Nico melihat bercak darah yang menembus pada pakaian Keil.


"Tidak perlu! Aku baik-baik saja!" Keil hendak melangkah tetapi Daniel menariknya.


"Jangan bodoh! Apa kau ingin mati sebelum berhasil menemukan Emely, heh?!" hardik Daniel kesal.


"Aku tidak peduli!" Keil menepis tangan Daniel dengan kasar.


Bugh


Karena Keil sulit di ajak berbicara baik-baik, Daniel tanpa sadar melayangkan tinjunya pada wajah Keil.


"Bajingan!" Keil tidak terima dan membalas serangan Daniel.


To be continue


.


.


Babang Keil



Btw sabar dulu ya, ada masanya giliran babang Nico sama Jennie. Yoona kupas dulu satu-satu 🤗


...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2