Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Memiliki teman baru


__ADS_3

Hembusan angin yang bertiup di pagi hari bagaikan menusuk tulang, sinar mentari tidak mampu menghangatkan suasana disana yang nampak membeku. Beberapa pasang mata memandang sendu pusara di hadapan mereka. Sesekali merangkul untuk menguatkan. Pagi ini ibu Emely dinyatakan meninggal, tanpa sempat melihat wajah putrinya untuk yang terakhir kali. Emely sempat menyesalkan hal itu, tetapi tidak dipungkiri jika dirinya bisa bernapas lega kembali karena di saat Mommy-nya menghembuskan napas terakhir, ia bisa melihatnya setidaknya untuk yang terakhir kalinya. Semua itu tidak lepas atas bantuan Keil juga teman-temannya. Wanita itu merasa beruntung berada di tengah-tengah mereka.


Kepala Emely menengadah menatap wajah Keil. Pria di sampingnya itu begitu mencintainya. Bolehkah ia meminta kepada Tuhan agar selalu bersama dengan pria itu untuk selamanya?


"Kenapa, hm?" Emely tidak menyadari jika Keil memergoki dirinya yang sejak tadi memperhatikannya.


Emely menggeleng. "Tidak. Hanya saja aku sangat berterima kasih padamu, untuk semua yang kau lakukan. Tidak hanya untukku tapi juga untuk Mommy." Emely tertunduk, ditatapnya kembali pusara sang mommy dengan penuh rasa cinta.


Keil mengusap puncak kepala Emely. "Semua akan aku lakukan untukmu Love." Ya, itulah Keil kekasihnya. Tidak perlu membuktikan bagaimana besarnya rasa cinta pria itu. Karena dengan sekali melihat saja siapapun dapat mengetahui dari manik mata Keil yang dipenuhi banyak cinta untuk wanitanya.


"Sebaiknya kita segera kembali, udara diluar semakin dingin." Daniel mengusap bahunya, bahkan sedari tadi salah satu tangannya menggenggam tangan Ashley agar wanitanya itu tetap hangat. Memang saat ini di London sedang memasuki musim dingin.


Nico bahkan tidak melepaskan rangkulan tangannya pada Nona Jennie-nya untuk memberikan kehangatan. "Daniel benar. Sebaiknya kita kembali, kita semua perlu sarapan."


Semua yang berada disana mengangguk, termasuk Keil juga Emely. Prosesi pemakaman berlangsung sederhana dan beberapa anak buah Black Lion datang untuk memberikan penghormatan terakhir.


Kini mereka semua berada di penthouse Daniel, berkumpul disana untuk memberikan semangat kepada Emely, menemani wanita itu agar tidak merasa sendirian. Usai sarapan, ketiga pria tampan itu berbicara di balkon. Sementara para wanita berada di halaman, duduk membentuk lingkaran disuguhkan dengan berbagai jenis makanan di atas meja.


"Aku berterima kasih karena kalian sudah mau menemaniku." Emely membuka suara terlebih dahulu, menatap tulus kepada sosok dua wanita yang duduk di hadapannya.


"Tidak perlu sungkan padaku kak. Aku senang bertemu kakak lagi setelah sekian lama." Jennifer mengusap bahu Emely dengan lembut. Kabar akan akan kepergian ibu dari Emely membuatnya cukup terkejut. Terlebih lagi selama ini ia tidak pernah mendengar kabar mengenai ibu Emely.


Emely tersenyum, Jennifer salah satu wanita yang sangat berjasa untuknya. Karena saat ibunya kecelakaan, ia bingung mencari pinjaman uang kesana kemari dan satu-satunya teman yang bisa dimintai tolong hanya Jennifer. Terlebih saat itu Keil tidak berada di sampingnya karena kesalahpahamannya selama ini.


Ashley memperhatikan kedekatan kedua wanita di depannya, ada rasa canggung yang mengusik. Karena sejujurnya ia baru mengenal kedua wanita cantik itu. Di pagi buta, Daniel kembali ke penthouse dalam keadaan cukup panik, lalu membangunkan dirinya untuk ikut bersamanya. Tanpa menjelaskan sesuatu, Daniel membawa Ashley ke suatu tempat hingga wanita itu dikejutkan karena tujuan mereka menuju makam highgate, salah satu pemakaman terbaik di Kota London. Keil memang menyiapkan segala sesuatu yang terbaik untuk wanita yang juga sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri, meski hanya pertemuan singkat.


"Ashley, aku juga berterima kasih padamu. Kau pasti bingung." Ashley sedikit tersentak kala Emely menggenggam tangannya. "Maaf, aku mengganggumu dan juga Daniel untuk sementara disini. Keil sama sekali tidak bisa dibantah, dia terus saja memaksa untuk tinggal disini."


Ya, Karena Keil cemas jika Jonas akan menyerang, Keil tau saat ini Jonas berserta Golden Dawn tengah murka dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Karena itu ia memutuskan untuk membawa Emely ke penthouse milik Daniel.


Tanpa disangka ternyata kedua wanita cantik di depannya sangat baik bahkan sangat sopan terhadapnya. "Sama seperti Nona Jennie, kau tidak perlu sungkan padaku." Dengan menyematkan senyuman. Setidaknya Ashley kini memiliki teman baru yang ramah.


"Hei...." Jennifer menepuk pelan lengan Ashley tanpa bermaksud menyakiti teman barunya itu. "Kenapa kau memanggilku Nona? panggil Jennie saja." Jennifer mengerucut kesal. Bagaimana tidak, hanya dirinya yang di panggil Nona. Bahkan ia saja saat ini suka memprotes Nico yang selalu memanggil dirinya dengan panggilan Nona sepanjang hari, dan hal itu membuatnya kesal sepanjang hari.


"Tapi...." Tidak mungkin Ashley memanggil nama saja. Siapa yang tidak mengetahui keluarga Romanov yang namanya dikenal hingga ke penjuru dunia. Bahkan ia tidak pernah bermimpi jika akan memiliki teman baru dari keluarga terpandang.


"Turuti saja dia, adik kecilku ini memang keras kepala." Emely menyela sembari terkekeh. Jennifer membenarkan, ia memang sedikit keras kepala. Keramahan mereka membuat Ashley merasa nyaman, terlebih lagi selama di penthouse ia tidak memiliki teman selain Lina atau asisten bersih-bersih yang selalu datang di pagi hari dan akan kembali di waktu siang hari.


"Iya, baiklah Je-Jennie." Ashley mencoba memanggil tanpa menggunakan Nona, meskipun masih sedikit canggung.


"Benar, seperti itu lebih baik," seru Jennifer.


Dering ponsel Jennifer mengalihkan perhatian mereka. Jennifer melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Mommy...." gumamnya. "Sebentar, aku ingin menjawab telepon dari Mommy." Setelah Ashley serta Emely mengiyakan, Jennifer lantas beranjak dari tempat duduknya, ia sedikit menjauh untuk menjawab panggilan dari Mommy Marry.


"Ada apa Mom?" tanyanya begitu menempelkan ponsel pada daun telinga.

__ADS_1


"Kau masih dengan teman-temanmu sayang?" tanya Mommy Marry di seberang sana, karena Jennifer berpamitan untuk mengantarkan ibu dari temannya ke tempat peristirahatan yang terkahir.


"Masih Mom. Ada apa? Apa Kak Vie mencariku?" Setiap Sang Mommy menghubungi dirinya, ia selalu waspada jika saja kakaknya itu yang menyuruh Mommy mereka menghubungi dirinya.


Marry terkekeh. "Tidak sayang, kenapa kau selalu curiga dengan kakakmu?" Walaupun memang pada kenyataannya putra sulungnya itu selalu menanyakan Jennifer jika adiknya tidak berada di Mansion.


"Kak Vie memang seperti itu Mom. Walau sedikit berubah karena Kak Elle."


"Kau benar sayang. Jika kakakmu tidak pernah bertemu dengan Elle, mungkin akan semakin keras padamu." Tanpa sadar Marry membenarkan.


"Mommy juga berpikiran yang sama sepertiku, bukan?"


"Astaga, jangan membicarakan kakakmu sayang. Nanti jika ada yang mendengar dia akan menghukum kita." Sadar apa yang dibicarakan, Marry tidak ingin melanjutkan pembicaraan tersebut karena mata sang putra berada dimana-mana.


"Hahaha baiklah Mom." Jennifer tergelak. Tidak hanya dirinya, bahkan Mommy-nya juga sedikit takut dengan sikap keras dan tegas sang kakak.


"Mommy dan Daddy akan pergi selama beberapa hari ke Los Angeles, kakakmu masih berada di Swiss. Jadi jika putri Mommy kesepian bisa menginap di Mansion kakakmu."


"Baiklah Mom." Setidaknya selama beberapa hari ini Jennifer merasa aman karena kakaknya Xavier berada di Swiss. "Bye Mom..." Jennifer memutuskan sambungan telepon. Ia kemudian kembali mendekati Emely juga Ashley.


Meskipun usianya terpaut beberapa tahun, Jennifer merasa nyaman bercengkrama dengan Emely juga Ashley. Terlebih Ashley, wanita cantik itu begitu pemalu.


Sementara di atas balkon, percakapan itu terhenti lantaran ponsel Nico berdering. Tanpa lama, Nico segera menjawab panggilan dari anak buahnya dan tertegun sejenak ketika mendengarkan penuturan di seberang sana.


"Untuk apa dia mencari Keil?" Mendengar namanya disebutkan, Keil menyudahi minumnya. Ia memasang telinga sekiranya apa yang sedang terjadi.


Nico menatap Keil yang mengangkat kedua bahunya. Ia kemudian menghidupkan loud speaker agar Keil juga Daniel dapat mendengar penjelasan anak buah mereka.


"Dia juga mengatakan tidak bisa menunggu lebih lama lagi, karena yang akan disampaikan berkaitan dengan Nona Emely," imbuhnya.


Kening Keil seketika bertaut bingung. Ia kemudian menyambar ponsel Nico. "Bawa dia ke markas, pastikan keselamatannya!" perintahnya.


Anak buah tersebut mengetahui jika itu suara Bos Keil. "Baik Bos Keil." Kemudian mematuhi perintah.


Keil mengembalikan ponsel Nico usai sambungan telepon terputus.


"Aku harus ke markas. Apapun yang menyangkut Eme, sudah pasti berhubungan dengan Jonas."


"Kalau begitu aku akan ikut denganmu." Nico tidak bisa tinggal diam. Bisa saja Keil akan bertindak gegabah.


"Aku juga ikut dengan kalian," sambar Daniel. Ia juga penasaran apa yang akan di sampaikan pria itu kepada Keil.


"Baiklah, kita perlu penjagaan ketat di penthouse." Keil tidak ingin meninggalkan ketiga wanita di penthouse tanpa para anak buah.


"Tenang saja, beberapa anak buah kita sudah berjaga mengelilingi penthouse," sahut Daniel.


Ketiganya kemudian menuruni tangga, menghampiri ketiga wanita mereka di halaman. Langkah ketiganya yang tegas itu membuat wanita-wanita yang tengah bercengkrama menghentikan percakapan mereka.

__ADS_1


"Keil, ada apa?" tanya Emely tersenyum.


Keil sedikit lega, setidaknya Emely tidak kembali menangis. Mengenalkan Nona Jennie dan Ashley sedikit mengurangi kesedihan kekasihnya.


"Kami bertiga harus pergi sebentar." Keil mengecup puncak kepala Emely.


"Hem pergilah," jawabnya.


"Aku akan pergi sebentar." Kini Nico berpamitan kepada Jennifer. Ia mendekap kekasih kecilnya itu dari belakang.


"Iya, pergilah. Kami akan baik-baik saja disini." Jennifer mengusap lengan kekar Nico.


Sementara Daniel tengah dilanda kebingungan, apa ia harus berpamitan juga dengan Ashley? Masalahnya selama ini jika ia memiliki urusan, selalu pergi begitu saja tanpa berpamitan.


"Ehm...." Daniel menggaruk tengkuk lehernya. "Aku juga pergi. Jangan menungguku."


"Heh ah iya..." Bingung? Tentu saja Ashley bingung.


Cup


Dan Daniel mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala Ashley. Sebelum kemudian melenggang pergi begitu saja menahan malu. Daniel berpamitan kepadanya saja sudah membuatnya bingung dan ditambah pria itu mencium kepalanya dengan lembut di depan teman-temannya. Bisa dibayangkan wajah Ashley merah bagaikan buah tomat akibat ulah Daniel.


.


.


To be continue


.


.


Keil dan Emely



Nico dan Jennifer



Daniel dan Ashley



Jangan lupa follow akun Instagram kedua Yoona ya man-teman @_rantyyoona_


...Tetap like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


__ADS_2