Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Kejadian tiga tahun lalu


__ADS_3

Begitu sosok pria yang tidak lain ialah Keil, buru-buru wanita itu melangkah mundur, memutar tubuhnya dan hendak berlari namun usaha melarikan dirinya gagal karena tangan besar Keil lebih dulu menjangkau dan mendekap wanita itu dari belakang agar tidak melarikan diri lagi darinya. Syal hitam yang menutupi kepala hingga mulutnya tersingkap dan menampakkan wajah cantik wanita yang berharga untuk Keil.


"Lepaskan aku!" Wanita tersebut meronta-ronta, berusaha melepaskan diri.


"Aku akan melepaskanmu jika kau mau menjawab semua pertanyaanku." Keil semakin mempererat dekapannya.


"Tidak. Aku tidak memiliki urusan lagi denganmu, Keil. Lepaskan aku!" bentaknya masih berusaha melepaskan dekapan tangan Keil.


"EME, DIAM!!" Karena kesal lantaran Emely masih tetap kerasa kepala, Keil meninggikan suaranya hingga perlahan membuat tubuh Emely bergerak lambat. Tentu saja hal itu selalu membuat Emely ketakutan dan merasa terancam jika seseorang berteriak padanya.


Merasakan tidak ada penolakan lagi, perlahan Keil mengendurkan dekapannya, dan kemudian membalikkan tubuh wanitanya itu menghadap dirinya. Kedua tangan Keil memegang pundak Emely, menatap penuh kelembutan wanita di hadapannya yang tertunduk itu.


"Tatap aku, Eme," pinta Keil karena Emely tidak ingin menatap dirinya. "Eme....." Suaranya semakin mendesak, hingga akhirnya Emely mengangkat wajahnya.


"Kenapa kau selalu muncul disaat aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, Keil. Kenapa? Apa kau sengaja mengikutiku kemana pun aku pergi, hm?" Emely bertanya dengan suara yang parau, rasanya ia tidak memiliki tenaga lagi untuk sekedar berteriak ataupun mengusir Keil seperti biasanya.


Keil sesaat terdiam. "Aku tidak mengikutimu. Kita bertemu adalah suatu kebetulan. Bukankah kau yang memintaku bertemu di tempat ini?"


Emely baru ingat akan hal itu, memang dirinya akan bertemu dengan seseorang, salah satu anggota organisasi Black Lion yang dikenal dapat membantu masalah apapun, melacak keberadaan seseorang, menjadi pengawal, mencari tahu indentitas seseorang, meretas dan bahkan melenyapkan nyawa seseorang. Bukan tanpa alasan dirinya ingin bertemu salah satu dari pria-pria hebat itu, berharap jika mereka dapat membantu permasalahan dirinya


"Ja-jadi kau adalah K?" tanya Emely terkejut dan gugup bersamaan. Kenapa bisa sesuatu kebetulan seperti ini. Apa selama ini dirinya berhubungan dengan pria yang berbahaya?


Keil mengangguk. "K adalah Keil. Jadi selama ini yang bertukar pesan denganmu adalah aku. Dan kau adalah klien anonim, tanpa nama dan identitas," ujarnya menyindir.


"Ak-aku..... bukan aku yang mengirim pesan, melainkan dia temanku yang ingin minta bantuan kepada kalian." Emely tidak memiliki bakat berakting, sehingga tentu saja Keil tidak percaya begitu saja.


"Kenapa kau masih saja menutupinya dariku, Eme. Apa aku perlu membuktikannya dengan menghubungi email palsu yang kau gunakan itu?" Keil tidaklah bodoh, jika Emely tidak ingin mengakuinya, maka dirinya-lah yang harus mendesak dan menekan Emely.


"Tidak perlu....." Emely menjadi panik, dan semua itu dapat terbaca oleh Keil.


Keil tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. "Email itu benar-benar milikmu, bukan?" Kini Emely tidak bisa lagi mengelak, raut wajahnya sudah membuktikan jika itu benar akun miliknya. Emely pun mengangguk sebagai jawabannya.


Akhirnya setelah mendesak, wanita itu ingin mengakuinya. "Sekarang katakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Aku ingin kau menjawab dan tidak menutupinya dariku."


Mendengar ucapan Keil, Emely menjadi terkesiap. Mangatakan yang sebenarnya kepadanya? Apa kini ia bisa bergantung lagi dengan seseorang? Haruskah ia berbicara mengenai pernikahan yang tidak diinginkannya?


"Aku.... aku..." Dengan sabar, Keil menunggu Emely membuka suaranya. Emely mencoba menarik napas dalam dan membuangnya secara perlahan, kemudian memberanikan diri menatap Keil. "Keil.... aku...." Namun tetap saja ia ragu dan gugup untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.


Habislah sudah kesabaran Keil, ia bukan merupakan pria yang penyabar. "Jika kau belum siap alasanmu meminta bantuan kepada kami, setidaknya kau ceritakan kejadian tiga tahun lalu. Apa aku benar-benar memaksamu melakukannya?" Keil kembali mendesak, bahkan ia mengguncang kedua bahu Emely.


Emely menepis kedua tangan Keil. "Keil, itu sudah lama sekali terjadi. Sebaiknya kau lupakan saja."


"Lupakan katamu?" Emosi Keil meluap. Rasanya ia benar-benar kehilangan kesabaran menghadapi Emely yang sangat keras kepala. "Kau benar-benar membuatku gila, Eme.... Arrgghh..." Keil mengusap rambutnya frustasi hingga membuat Emely terkesiap dan reflek melangkah mundur. "Kalau begitu tidak ada cara lain lagi." Jika dengan cara halus tidak bisa membuat Emely menceritakan semuanya, Keil terpaksa menggunakan cara kedua, Keil mendeksri Emely dan kemudian membopong tubuh Emely di pundaknya hingga membuat wanita itu tersentak.


"Keil apa yang kau lakukan? Turunkan aku...." Namun Keil menulikan pendengaran dan berjalan menuju mobil. Tangan yang bebas itu membuka handle pintu mobil dan membawa Emely dengan paksa masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Jangan coba-coba untuk melarikan diri. Jika tidak, aku akan mendatangi suamimu." Peringatan Keil mampu membuat Emely mengunci rapat bibirnya yang hendak melayangkan protes kembali. Keil mencoba memasangkan seat belt pada Emely, sebelum kemudian ia juga masuk ke dalam mobil.


Di sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam, Emely juga tidak menanyakan kemana Keil membawa dirinya. Tempat itu begitu asing dan hanya gemerlap lampu serta cahaya bulan yang menerangi perjalanan mereka di sepanjang perjalanan. Hingga beberapa menit kemudian mobil Keil berhenti di sebuah penthouse mewah.


Emely terpaku di tempat menatap di tempat begitu Keil sudah membukakan pintu untuknya dan ia segera turun dari mobil. "Untuk apa kau membawaku kesini?"


"Supaya tidak ada yang mengganggu!" Keil berjalan mendekat dan kemudian pria itu kembali membopong Emely, bertepatan dengan dua anak buah yang baru saja turun dari mobil dan menghampiri Keil.


"Bos Keil....."


"Pastikan tidak ada yang menggangu! Katakan pada Daniel untuk mematikan CCTV yang baru saja mobilku lewati!" perintahnya kemudian.


"Baik bos Keil." Setelah anak buahnya mengiyakan, Keil segera berjalan ke dalam penthouse.


"Lepaskan aku Keil. Dasar bodoh!" Berulang kali Emely memukul punggung Keil. "Apa kau memiliki hobby membopong wanita dengan cara seperti ini." Emely tidak habis pikir dengan Keil yang sudah banyak berubah.


Keil tidak pedulikan Emely yang terus meracau dan memukuli punggungnya. Hingga ia akhirnya menurunkan Emely tepat saat kakinya baru saja memasuki penthouse.


"Kau benar-benar menguji kesabaranku, Eme....." Keil mendorong tubuh Emely hingga berbenturan dengan dinding.


"Keil, aku tidak..... hmmpphh!" Tidak memberikan kesempatan Emely untuk berbicara, Keil lebih dulu menyambar bibir wanitanya itu, hingga membuat Emely terkesiap dan tersentak. Bahkan Keil tidak membiarkan dirinya untuk bernapas, lidah Keil mendesak Emely untuk membalas ciumannya, namun sepertinya Emely menjadi serba salah, karena meskipun bibirnya menolak tetapi tidak dengan tubuhnya yang berkata sebaliknya.


Emely tidak peduli, ia ingin melepaskan kerinduannya kepada Keil melalui ciuman itu. Keil tersenyum penuh kemenangan, ia tahu bahwa masih terdapat cinta untuknya di hati Emely tetapi entah apa yang membuat wanita itu lebih memilih pergi dan menikah dengan pria lain, ia harus lebih mendesak wanita itu lagi.


Ciuman mereka semakin dalam dengan napas yang saling memburu. Baik Keil dan Emely menikmati ciuman penuh perasaan itu dan tidak ingin mengakhirinya hingga keduanya kehabisan napas dan melepaskan pagutan mereka. Keduanya saling merebut oksigen untuk melingkupi rongga paru-paru mereka yang nyaris saja kering.


"Aku...." Emely masih saja ragu untuk mengatakannya hingga lagi-lagi Keil membenamkan ciuman di bibir Emely. Emely berusaha mendorong tubuh Keil. "Keil, sudah, hentikan!" ujarnya saat bibir mereka saling terpisah.


"Karena itu kau harus mengatakannya...." desak Keil.


Emely mengangguk sebagai tanda setuju dan tidak lagi mengelak. Ia hanya dapat pasrah, tidak ingin dirinya diserang kembali.


***


Tiga tahun yang lalu


Gemerlap lampu menerangi sebuah Club bersama dengan suara musik yang melengking di telinga. Emely tengah duduk bersama dengan seorang pria, sebenarnya ia terpaksa datang ke tempat terkutuk itu untuk menemui pria di hadapannya tersebut.


"Bagaimana? Apa kau sudah bisa membayar semua hutangmu?" Pria itu mengambil satu batang rokok dan menyalakan dengan pemantik. Dengan angkuhnya, pria itu menghembuskan asap rokok tepat ke wajah Emely hingga ia terbatuk-batuk.


Emely ingin cepat-cepat pergi dari sana, lantas ia segera merogoh tas dan memberikan amplop putih kepada pria di hadapannya. "Ini uangnya. Setelah ini kau tidak perlu mencariku lagi, aku sudah tidak memiliki hutang denganmu!" Emely beranjak dari tempat duduknya, ia ingin segera pergi dari tempat terkutuk itu, ia benar-benar merasa tidak nyaman berada di sana. Terlebih lagi ia pergi diam-diam, tidak memberitahukan Keil jika dirinya pergi ke Club malam.


"Kau mau kemana? Kenapa terburu-buru?" Pria itu menahan lengan Emely, tidak membiarkan Emely pergi dari sana.


"Jangan menyentuhku!" Emely menghempaskan tangan pria tersebut dengan kasar. Ia merasa jijik jika ada seseorang yang menyentuh dirinya, karena tubuhnya sudah terbiasa menerima sentuhan dari Keil. Tidak ingin membuang waktu lagi, Emely sesegera mungkin pergi meninggalkan pria menjijikan itu, tidak ingin berurusan lagi. Sudah cukup ia meminjam uang kepada seorang pria rentenir mata keranjang.

__ADS_1


Sebelum keluar dari tempat itu, Emely pergi ke toilet terlebih dahulu, namun saat baru saja keluar dari pintu toilet, tiba-tiba seseorang menarik dirinya dan mengunci tubuhnya pada dinding.


"Ke-Keil....?" Emely terkejut saat melihat wajah pria yang menariknya adalah Keil, kekasihnya sendiri.


"Kenapa kau berada disini, Eme? Kau juga tidak memberitahuku? Dan siapa pria yang duduk bersamamu?" Keil mencerca berbagai pertanyaan.


"Keil, kau mabuk." Dari bicara Keil saja, Emely sudah dapat menebaknya jika kekasihnya itu sedang mabuk.


Keil terkekeh. "Aku tidak mabuk sayang, aku hanya minum sedikit." Seingat dirinya ia hanya minum satu gelas saja. "Katakan padaku siapa pria tadi? Apa kau ingin mengalihkan pembicaraan, hm?" Keil semakin merapatkan tubuhnya pada Emely.


"Itu tidak seperti yang kau lihat Keil. Aku hanya....." Keil menarik tangan Emely dengan kasar sebelum wanitanya itu menjelaskan semuanya. Emely memekik kesakitan akan cengkraman tangan Keil, ia tidak tahu kemana Keil akan membawa dirinya.


Langkahnya terhenti begitu Keil membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan yang entah ruangan apa. Seperti sebuah kamar, karena terdapat tempat tidur di dalamnya.


"Kau pergi ke tempat seperti ini tanpa memberitahuku. Bagaimana jika tadi pria itu menyentuh tubuhmu yang lain?" Ya, Keil memperhatikan Emely sejak kedatangan nya, ia sekuat tenaga mengeram amarah ketika Emely bersama dengan seorang pria. Terlebih lagi pria itu sempat memegang tangan wanitanya. "Kau harus selalu ingat, kalau kau milikku, Eme."


Emely mendadak gelisah begitu mendapati sosok Keil yang terlihat berbeda. "Keil sebaiknya kau istirahat saja...."


"Aku tidak lelah, aku ingin bersamamu." Keil memeluk Emely tiba-tiba, pelukan itu semakin di eratkan ketika Emely berusaha melepaskannya. Ia hanya ingin membantu Keil untuk berbaring di ranjang karena sepertinya Keil sudah mabuk berat. Namun sepertinya Keil enggan melepaskan dirinya.


"Keil, aku sesak napas jika kau memelukku sangat erat seperti ini." Perkataan Emely sontak saja membuat Keil melepaskan pelukannya.


"Eme, aku mencintaimu. Jangan pernah berpaling dariku....." Emely adalah wanita pertama yang mampu menggetarkan hatinya sejak pertama kali mereka bertemu.


Emely mengangguk. "Aku juga mencintaimu."


Karena efek minuman itu menguasai dirinya, semakin membuat Keil menggila. Ia segera merengkuh pinggang Emely dan meraup bibir Emely dengan rakus. Emely meronta menepuk dada bidang Keil.


Emely melepaskan ciuman mereka. "Hentikan Keil, jangan seperti ini." Dan berusaha menenangkan Keil tetapi tenaganya kalah besar dari Keil. Kekasihnya itu sudah menggiringnya ke tempat tidur dan mengukung tubuhnya.


"Aku tidak akan melepaskanmu, Eme." Seperti ada sesuatu yang berbeda di dalam tubuhnya, Keil sangat bergairah menatap wajah dan lekukan tubuh Emely. Ia kembali meraup bibir Emely penuh gairah. Sekuat apapun menolak, meski dalam keadaan tidak sadar, tenaga Keil tetap kuat dan tidak terbantahkan, hingga akhirnya Emely hanya pasrah kala setiap inci tubuhnya tidak ada yang terlewat di sentuh dan di remas oleh Keil.


Emely menggeliat, tubuhnya mengejang saat Keil berhasil melucuti seluruh pakaiannya, hingga membuat Keil hasrat Keil membuncah. Begitu sudah melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, Keil menyesap salah buah dada Emely tangan satu meremmas buah dada yang lain. Emely melenguh merasakan kenikmatan akan sentuhan Keil dan beberapa menit kemudian, Emely terpekik saat sesuatu di bawah sana memaksa menerobos masuk, hingga tanpa sadar air mata Emely lolos dari kelopak matanya. Rasanya sangat sakit dan perih, meskipun Keil sudah melakukan dengan perlahan. Untuk saat ini dan kedepannya Emely tidak akan menyesali karena sudah memberikan keperawanannya kepada Keil, pria yang ia cintai.


.


.


To be continue


.


.


Penampilan Emely

__ADS_1



Like, vote, follow dan komentar kalian 💕


__ADS_2