Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Berhenti mengganggu wanitaku!


__ADS_3

Merasa bosan berada di penthouse sepanjang waktu, Ashely memutuskan pergi ke berbagai tempat di temani oleh Lina. Tentu saja atas persetujuan Daniel, wanita itu senang bisa menghirup udara segar dan mencuci mata dengan melihat-melihat gedung yang menjulang tinggi. Dulu sekali ia sering mengunjungi perusahaan Daddy-nya tetapi dalam sekejap mata saja perusahaan itu sudah berpindah tangan.


Daddy.... Mommy.... Ash merindukan kalian.


Sudah beberapa bulan lamanya, Ashley tidak mengetahui kabar Sang Daddy, apakah sehat atau daddy-nya juga merindukan dirinya? Untuk mengunjungi Los Angeles dimana Daddy-nya dipenjara sana, Ashley tidak memiliki uang sepeser pun. Dirinya juga belum mengunjungi pusara Sang Mommy, terakhir kali ketika dirinya di bawa paksa ke tempat pelelangan selepas mengunjungi pusara Mommy-nya.


Apakah ia harus meminjam uang kepada Daniel? No. Ashley menggeleng, menepis pikiran tersebut. Ia sudah terlalu banyak merepotkan pria itu, meskipun terkadang menyebalkan dan hanya menganggap dirinya sebagai penghangat di ranjang, Ashley mengakui jika dibalik sikapnya, Daniel adalah sosok pria yang baik, terbukti pria itu tidak pernah melakukan kekerasan fisik padanya. Bahkan pria itu juga tidak melarangnya pergi kemana pun, dengan catatan harus dijaga oleh Lina. Ashley berulang kali berpikir siapakah Daniel sebenarnya? Selama ini ia menyadari jika bukan Lina saja yang menjaga dirinya, terdapat dua pria lainnya selalu mengikuti kemana pun langkahnya dari kejauhan.


Ashley tidak ingin terlalu banyak berpikir, saat ini ia hanya ingin menikmati waktunya. Ia bebas membeli apa saja, bahkan dengan mudahnya Daniel memberikan black card padanya.


"Huuh.... Aku seperti wanita simpanan saja," gumamnya mendesahkan napasnya. Memang tidak jarang Ashley menyamakan dirinya dengan wanita jalaang diluar sana yang menjajakan tubuhnya hanya demi bertahan hidup. Yang berbeda hanya ia membiarkan tubuhnya dijamah oleh satu pria saja. Hal itu masih lebih baik dibandingkan dirinya dijamah oleh pria yang berbeda setiap harinya. Mengingat hal itu, tatapan Ashley menjadi sendu, bagaimana jika saat itu Daniel tidak mempertaruhkan uang untuk menebusnya. Mungkin saat ini ia sudah menjadi pemuas nafsu pria tua yang tergiur akan tubuhnya saja.


"Nona, sebaiknya kita beristirahat di cafe sana saja. Sudah seharian kita berkeliling, Nona pasti lelah." Suara Lina menyadarkan Ashley dari lamunannya. Wanita itu mengikuti arah pandang Lina, Salt & Pepper Cafe menjadi pusat perhatian Ashley.


"Baiklah, kita kesana saja, aku juga sudah sangat lapar." Ashely terkekeh dan ditanggapi senyuman oleh Lina. Wanita itu memang tidak banyak bertingkah seperti wanita kebanyakan yang mengaku-ngaku sebagai wanita bos mereka. Terkesan polos dan baik, dan Lina tentu saja menyukainya.


Keduanya kini sudah berada di Cafe. Ashley memilih duduk indoor, tepatnya di dekat jendela agar dirinya bisa melihat pemandangan pinggir jalan diluar sana. Memesan menu terfavorit disana, dan menikmati beberapa makanan yang sudah di pesan. Lina duduk di hadapannya, meskipun sempat menolak berada satu meja dengan Nona-nya. Karena paksaan dari Ashely sehingga Lina mau tidak mau menyetujuinya.


Selepas menyelesaikan kegiatan makan, Lina pamit untuk pergi ke toilet. Tetapi bukan berjalan ke arah toilet yang ia tuju, melainkan keluar dari Cafe tersebut dan menghampiri dua pria rekan kerjanya.


"Apa kalian yakin?" tanyanya memastikan ketika mendapatkan laporan jika sejak tadi ada yang mengikuti mereka. Dua pria itu mengangguk sebagai jawabannya.


Lina paham dan kemudian masuk kembali ke dalam Cafe, namun tiba-tiba langkahnya di hadang oleh dua pria yang entah siapa itu. Kemudian sorot matanya tertuju pada Ashley, entah sejak kapan seorang pria duduk menempati kursinya, bahkan di dalam sana tidak nampak pengunjung lain selain mereka. Apa ini sebuah jebakan?


Tidak hanya Lina yang terkejut sekaligus gusar, bahkan Ashley sendiri terkejut, tatapannya tidak ramah terhadap pria yang tanpa permisi duduk di hadapannya.


"Untuk apa kau muncul lagi di hadapanku?" Memandang sinis pria di hadapannya itu.


Pria tersebut tersenyum gemas. "Ck, ayolah Ash, kita sudah lama tidak bertemu. Seharusnya kau senang bisa bertemu denganku lagi." Sungguh, pria itu benar-benar tidak tahu malu.


Ashely berdecak kesal. "Kenapa kau percaya diri sekali Tuan David yang terhormat? Apa aku harus senang ketika bertemu dengan pria yang sudah menghancurkan keluargaku dan juga menjualku?!" Ashley menekankan ucapannya yang cukup menohok, akan tetapi justru David tidak merasa tersinggung, meskipun jauh di dasar hatinya ia sempat merasa bersalah sudah melakukan hal tersebut. Ia memang tidak memiliki pilihan lain, karena ia masih berada di bawah kendali Jerome.


Sejenak diam, keduanya hanya saling pandang. "Benar, aku memang melakukan hal kejam itu padamu, tapi setelah menyakitimu dan keluargamu aku menyesalinya. Aku sangat menyesal Ashley." Raut wajah David berubah sendu, jauh di lubuk hatinya ia memiliki perasaan untuk wanita di hadapan itu, meskipun terkadang sisi arogannya tidak ingin mengakuinya.


Ashley tersenyum getir, alih-alih tersentuh wanita itu merasa jijik dengan David. "Aku bukan Ashley yang bodoh seperti dulu. Mungkin aku yang dulu akan luluh dengan semua ucapanmu, tapi tidak saat ini. Aku bahkan sudah muak melihat wajahmu!"


Tangan David terkepal kuat di bawah meja, sejak kapan Ashley memiliki keberanian seperti ini? Bukankah wanita itu sosok yang penurut dan lugu?

__ADS_1


***


Sementara di tempat lain, kedua mobil saling beradu kecepatan membelah jalan pusat kota menuju lokasi wanita mereka yang sedang membutuhkan bantuan. Sebelum kemudian mobil yang dikendarai Keil juga Daniel terpisah dengan tujuan mereka yang berbeda, Kiel berbelok ke arah kanan, sementara Daniel tetap lurus hingga mencapai tujuan.


Dengan tergesa-gesa, Daniel menepikan mobilnya dengan asal. Turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya pada sekitar cafe itu. Sorot matanya menjadi tajam kala melihat pemandangan di dalam cafe. Sialnya tidak ada siapapun di dalam sana, bahkan Lina sudah di tahan oleh dua pria. Beruntung anak buahnya cekatan melaporkan padanya.


"Bajingan! Rupanya mereka mencari mati!" Namun alih-alih masuk ke dalam sana, Daniel justru mendudukkan tubuhnya di kursi besi, memperhatikan dan mengamati apa yang akan dilakukan oleh David. Daniel penasaran bagaimana perasaan Ashley terhadap mantan kekasihnya itu. Apa wanita itu bisa menghadapi David seorang diri?



Ashley harus bisa menghadapi pria bajingan seperti David. Menolak tegas pria tidak tahu malu itu. Benar saja, Daniel menyunggingkan senyum ketika melihat perlakuan Ashley kepada David, meskipun ia kesal setengah mati ketika melihat David yang memegang tangan wanitanya, namun perlahan kekesalannya sedikit memudar karena Ashley menepisnya dengan kasar. Bahkan wanita itu beranjak berdiri dan ingin melayangkan tangannya pada wajah David.


"Wanitaku sudah sedikit lebih berani." Tidak hentinya Daniel menyematkan senyuman, ia memang ingin membentuk Ashley menjadi wanita yang lebih berani. Entahlah, ia hanya tidak menyukai pria lain menyentuh miliknya. Apa itu tandanya ia sudah benar-benar jatuh cinta kepada Ashley sejak pada pandangan di tempat pelelangan?


Daniel kemudian bangkit, berjalan dengan santai menuju Salt & Pepper Cafe. Dua anak buah yang mengamati sejak tadi ingin menghampirinya, akan tetapi tangan Daniel lebih dulu menginterupsi sehingga mereka mengurungkan langkahnya.


Salah satu pria dari dua anak buah David melihat kedatangan Daniel. Buru-buru ia menghadang Daniel.


"Pergi kau dari sini!" ujarnya.


Namun Daniel tidak peduli, ia justru mendorong kuat dada pria itu dengan tangan kanannya hingga berangsur menjauh.


"Biarkan saja dia!" Suara David menyahut, sejak tadi ekor matanya melirik ke arah Daniel.


Daniel kembali melangkahkan ketika mereka sudah membukakan jalan. "Aku pikir siapa yang menahan wanitaku, ternyata mantan kekasih yang belum bisa melepaskan wanitaku!" sindirnya pada David. Daniel mendekati Ashley, membawa wanita itu ke sisinya.


David terkekeh-kekeh. "Rupanya kau menyukai wanita bekas diriku, Tuan!"


"Setidaknya dia masih bersegel ketika aku menyentuhnya," sahutnya acuh. Ashley mendongak, menatap Daniel yang terang-terangan berkata demikian. Daniel hanya melirik tidak merespon apapun. Kemudian sorot matanya kembali mengarah pada David. "Karena kebodohanmu, aku bisa memilikinya dan kau berpikir ingin mengambilnya dariku?!" Daniel tersenyum penuh dengan ejekan. "Jangan pernah bermimpi!"


Daniel melihat kemarahan di wajah David akan perkataannya yang berhasil menyulutkan emosi pria itu. Sebelum kemudian merangkul Ashley dan menariknya untuk mengikuti langkahnya pergi dari sana.


"Kalian tidak akan bisa pergi dari sini!"


Langkah Daniel terhenti mendengar perkataan David. Ia memang menyadari jika tidak ada siapapun di dalam cafe, bahkan para pekerja disana tidak menampakkan diri.


Daniel melepaskan rangkulan tangannya, memutar tubuhnya menghadap David. "Lalu kau ingin melakukan apa? Membunuhku?!" Sepertinya David belum mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

__ADS_1


"Ya, aku akan menghabisimu disini!" Tanpa aba-aba, David langsung melayangkan tinjunya. Ashley reflek menjauh, sementara Daniel berhasil menghindari serangan David yang bertubi-tubi.


Keduanya terlibat baku hantam. Kedua anak buah menyaksikan baku hantam tersebut hingga kesempatan itu dimanfaatkan oleh Lina. Wanita itu melepaskan cengkraman tangannya dan membanting tubuh salah satu dari mereka, kemudian melakukan hal yang sama dengan anak buah David yang lainnya.


Brak


Tubuh David menimpa meja, Daniel berhasil menumbangkan David dalam sekali serangan. David bangkit dan hendak kembali menyerang akan tetapi tangannya yang sudah melayang di udara itu diam di tempat ketika Daniel menodongkan senjata padanya.


"Berhenti mengganggu wanitaku! Jika tidak, peluru dari senjataku ini akan menembus kepalamu!" ujarnya penuh peringatan kepada David. Jika berkata baik-baik tidak disambut baik oleh pria itu, jangan salahkan dirinya jika ia menarik pelatuk senjatanya.


Daniel kemudian meminta Ashley mendekat padanya. Dengan masih menodongkan senjata pada beberapa anak buah David, Daniel serta Ashley keluar dari cafe tersebut diikuti oleh Lina.


Salah satu anak buah kepercayaan David hendak mengejar mereka. "Biarkan mereka pergi, Gil!" Perkataan David menghentikan langkah Gil.


"Tapi bos?"


"Biarkan saja, kita cari jalan lain untuk menyerangnya!" David tersenyum licik, otaknya telah merencanakan sesuatu.


Saat ini ia harus membereskan kekacauan yang telah ia buat. Beberapa meja hancur akibat perkelahiannya dengan Daniel, tentu ia harus mengganti rugi karena sebelumnya cafe tersebut telah disewa olehnya.


.


.


To be continue


.


.


Penampilan Ashley



...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2