Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Tidak akan berharap lebih


__ADS_3

Mobil mewah melintas membelah keramaian di pusat kota, nampak seorang pria tampan yang baru saja turun dari mobil begitu menepi sempurna. Kacamata yang bertengger menambah ketampanan pria itu, mengabaikan beberapa pasang mata yang menatapnya penuh kekaguman.


Siang ini Daniel menjemput Ashley di pusat perbelanjaan. Wanita itu nampaknya sudah menunggu dirinya dengan pakaian yang berbeda, berdiri di depan sebuah ruko yang tidak banyak pengunjung.


Daniel melepaskan kacamata yang melekat, ia mendekati Ashley dengan seulas senyum tipis, merangkul dan mencium pipi wanitanya itu. Ashley hanya tersenyum tipis menanggapi.


"Sudah selesai, hem?" tanya Daniel dan dijawab anggukan kepala oleh wanitanya. "Kalau begitu kita kembali ke penthouse," sambungnya dan kemudian Daniel merengkuh dan menarik pinggul Ashley untuk mengikuti langkahnya menuju mobil.


Sementara Lina serta yang lainnya sudah siap mengikuti di belakang mobil Daniel. Tidak ada percakapan selama di perjalanan, Ashley terdiam dengan pandangannya yang diarahkan keluar jendela. Daniel nampak berkerut kening, memang Ashley tidak banyak bicara, tetapi kali ini wanitanya itu lebih pendiam dari biasanya, bahkan terkesan dingin dan hanya menyahuti perkataannya seadaanya saja.


"Ada apa?" Daniel sejenak mengalihkan pandangan dari kemudi, ia memperhatikan Ashley yang sorot matanya tidak bergulir ke arahnya.


"Tidak ada apa-apa." Lagi-lagi menjawab singkat.


"Lalu kenapa diam saja?" tanyanya kembali.


"Bukankah biasanya aku juga selalu diam. Kenapa sekarang aku diam kau justru protes?"


Kedua alis Daniel saling bertaut, tidak lupa ia juga sedikit tertegun akan sikap Ashley. Selama mengenal wanita itu, tidak pernah berkata begitu ketus padanya. Kecuali pada saat pertama kali mereka melakukan hubungan badan.


Daniel menghela napasnya sedikit kasar. Ia tidak ingin membentak wanita itu. Mungkin memang hanya perasaanya saja. Hingga mobil mereka tiba di penthouse, lagi-lagi Daniel dibuat heran karena Ashley langsung masuk begitu saja, tanpa menghiraukan dirinya.


Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya?


Sejak tadi Daniel merasa ada yang aneh dengan Ashley, sudah pasti sesuatu telah terjadi, sehingga wanitanya itu tidak bersikap seperti biasanya.


"Lina...." Kemudian Daniel memanggil bodyguard wanita yang selalu menjaga Ashley kemana pun. Lina yang merasa di panggil, mengurungkan niatnya untuk masuk kembali ke dalam mobil.


"Ada apa Bos Daniel?"


"Apa tadi ada seseorang yang mendekati Ashley?"


Mendengar pertanyaan Daniel, Lina diam nampak berpikir. Seingat dirinya tidak ada yang mendekati Nona-nya, karena sepanjang waktu di pusat perbelanjaan, ia selalu menjaga Nona Ashley.


"Tidak ada yang mendekati Nona," jawabnya setelah menggali ingatannya.


"Apa kau yakin?" Daniel memastikan. Ia hanya tidak ingin ada seseorang yang mencuci otak Ashley di saat tidak ada seorangpun yang berada di samping wanitanya itu.


"Sangat yakin Bos Daniel, karena aku selalu di dekat Nona Ashley."


Daniel mengangguk seolah paham. "Baiklah, kau boleh pergi."


Lina berpamitan dan segera berlalu dari sana. Daniel melangkah memasuki penthouse. Kemudian menapaki anak tangga, dan kamar Ashley yang menjadi tujuannya saat ini.


Daniel membuka pintu kamar sebagian, pandangannya ia edarkan dan tidak mendapati wanita itu. Suara gemericik air membuat Daniel yakin jika wanita itu berada di dalam kamar mandi.


Setelah membersihkan diri, Ashley keluar dari kamar mandi, langkahnya tersentak kala mendapati Daniel yang sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan datar.


"Kenapa kau ada disini?" Ashley memandang sinis.


Daniel tersenyum masam. Kenapa aku ada disini? tanyanya pada diri sendiri. Apa wanita itu lupa jika aku bebas berkeliaran di penthouse milikku, batinnya

__ADS_1


"Kembalilah ke kamarmu." Masih berucap dengan sinis, ia memunggungi Daniel dan hanya melihat pria itu melalui pantulan cermin.


"Aku tidak mau. Ini juga kamarku, jadi aku bebas berkeliaran dimana saja." Daniel menyilangkan tangan di depan dada. Sorot matanya meneliti dalam dan mencoba untuk memancing wanita itu.


Ashley memejamkan singkat matanya disertai hembusan napas kasar. "Kalau begitu biar aku yang keluar dari kamar ini." Tanpa menghiraukan Daniel, wanita itu melewati Daniel.


Grep


Daniel mencekal pergelangan tangan Ashley dan kemudian menariknya hingga posisi wanita itu kini berada di hadapannya.


"Lihat mataku!" Suara Daniel terdengar begitu berat dan tegas di telinga Ashley, namun sepertinya wanita itu tidak ingin mendongakkan wajah dan tetap membuang pandangannya ke arah lain. "Ashley, lihat mataku!" Kini suara Daniel begitu kentara menahan rasa geram. Mau tidak mau Ashley mendongak, hingga tatapan mereka bertemu.


"Ada apa?" tanyanya dengan penuh desakan.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya lelah."


Daniel menghela napasnya dengan berat. "Aku bisa mencari tau meskipun kau menutupinya."


Ashley menatap Daniel dengan seribu arti. "Ya, kau memang hebat. Apapun yang kau inginkan bisa kau dapatkan dengan mudah, termasuk membeli diriku!"


Perkataan Ashley tentu saja menyentak pendengaran Daniel. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi dengan wanitanya itu?


"Jangan pernah membahasnya lagi," serunya.


"Apa? Kenapa?" Ashley menantang. Bukankah yang ia katakan adalah kebenaran. "Apa kau lupa jika aku hanya seorang wanita yang kau beli dan tidak ada bedanya dengan seorang jalaang. Lalu untuk apa kau peduli padaku?!"


"Ashley, apa yang sebenarnya ingin kau katakan?!" Daniel mencengkram kedua bahu Ashley.


Bersusah payah mengeram amarah akhirnya pertahanan Daniel runtuh, pria itu justru tersulut emosi. "Apa selama ini kau menganggapku pria yang seperti itu?! Kalau kau seorang jalaang tidak mungkin aku membawamu ke tempat pribadiku dan memberikan semua yang kau butuhkan!"


"Ya, karena kau juga mengharapkan sesuatu dariku setelah aku memuaskan hasratmu!" Suara Ashley tidak kalah meninggi.


"Apa maksudmu?" Daniel mulai naik pitam, tetapi sekuat tenaga masih menahan amarahnya. Jika saja ia berhadapan dengan wanita lain, mungkin saat ini sudah di cekik olehnya.


"Katakan untuk apa kau menemui Daddy-ku di penjara?" Mata Daniel melebar ketika Ashley bertanya akan hal itu. Dari mana wanita itu mengetahuinya?


"Dari mana kau mengetahuinya?" Daniel justru balik bertanya.


Ashley berdecak, ia membuang pandangannya ke sembarang arah. "Jadi benar kau menemui Daddy-ku dan memaksanya untuk menandatangani sesuatu?!"


Daniel bungkam, ia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan itu dan justru disalahartikan oleh Ashley. "Selamat Tuan Daniel, saat ini kau sudah mendapatkan yang kau inginkan." Kemudian wanita itu menangkupkan kedua tangannya. "Jadi kau bisa lepaskan aku. Kau sudah mendapatkan yang kau inginkan, bukan?"


Deg


Jantung Daniel seolah berhenti berdetak bersamaan dengan aliran darahnya yang berhenti seketika. Sepertinya wanita itu semakin berani karena telah dipenuhi amarah. Tidak, ia tidak akan pernah melepaskan wanitanya itu.


"Dengar, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Daniel berusaha mengatur napasnya agar ia tidak lepas kendali.


Suasana di dalam kamar menjadi sangat tegang karena keduanya menatap dengan sorot mata yang tajam disertai napas yang memburu karena emosi yang memuncak.


"Kenapa? Apa kau merasa rugi karena kau sudah menebusku dengan sangat mahal?" Bibir Ashley bergetar saat mengatakannya. Sungguh ia miris dengan nasibnya yang tidak ubahnya seperti seorang jalaang yang menjajakan tubuhnya.

__ADS_1


Tangan Daniel mengepal. Apa wanita itu tidak bisa membaca perasaanya saat ini?


"Terserah kau ingin menilaiku seperti apa. Yang jelas dan pasti aku tidak akan pernah melepasmu. Kau milikku, hanya milikku Ashley!" Daniel menegaskan perkataannya bahwa kepemilikan Ashley hanya miliknya, termasuk tubuh serta hati wanita itu.


"Ck...." Ashley menatap jengah. "Apa kau belum puas dengan tubuhku? Apa aku harus melayanimu seumur hidupku?!" teriak Ashley kian emosi. Jika ia memiliki keberanian mungkin saat ini sudah melarikan diri dari sana.


"Cukup Ashley!" Daniel membentak hingga membuat Ashley tersentak. Daniel kemudian berjalan mendekati wanitanya, lalu menggendong wanitanya itu.


"Turunkan aku!" Ashley meronta-ronta, namun Daniel tidak mengindahkan teriakan Ashley dan membaringkan wanitanya di atas tempat tidur dan mengukung di bawahnya


"Apa kau sudah selesai?" Suara Daniel sedikit melunak, namun sorot matanya tetap menajam.


"Tidak, aku belum selesai sebelum kau membiarkan aku pergi darimu!"


"No and never!" jawabnya. "Apa kau lupa jika kau adalah milikku, wanita milik Daniel."


"Kau bisa mencari wanita lain," lirih Ashley, bahkan ia harus memalingkan wajahnya ketika mengatakan hal itu. Sebenarnya Ashley sangat mencintai Daniel, akan tetapi kenyataan tentang fakta yang disembunyikan Daniel membuatnya sangat kecewa.


"Dengar, aku tidak menginginkan wanita lain. Jadi singkirkan pikiranmu untuk pergi dariku. Tempatmu disini bersamaku!" Kembali Daniel menegaskan perkataannya. Daniel tahu jika ada kesalahpahaman di antara mereka. Ia mencurigai seseorang yang dengan sengaja ingin mencuci otak wanitanya. "Apapun yang kau dengar dari orang lain, kau hanya perlu percaya padaku."


Aku bahkan tidak ingin mempercayai orang itu, tapi dia menunjukkan bukti itu padaku, sahutnya dalam hati.


Lama mereka saling diam, hingga kemudian Daniel membenamkan kecupan di kening Ashley. "Istirahatlah. Setelah itu aku akan meluruskan kesalahpahaman di antara kita. Meskipun kau tidak mengatakannya, aku tau siapa yang berusaha mempengaruhimu!" Daniel kemudian menyingkir dari atas tubuh Ashley, dan kemudian berlalu dari dalam sana.


Ashley memandangi pintu yang sudah tertutup rapat. Ada rasa bersalah karena ia berteriak kepada Daniel, padahal selama ini pria itu selalu memperlakukannya dengan baik. Tetapi kini perasaan kecewanya lebih mendominasi.


Kau baik padaku hanya ingin melancarkan tujuanmu.


Buliran bening menitik berat di sudut matanya. Jika saja Daniel tidak bersikap baik padanya, mungkin ia tidak akan berharap lebih kepada pria itu.


.


.


To be continue


.


.


Penampilan Babang Daniel saat turun dari mobil



Ashley lagi menunggu hihi



...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2