Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
King Adam


__ADS_3

Keesokan harinya, Black Lion memutuskan kembali ke London. Karena tidak lagi yang harus mereka lakukan di Los Angeles, sementara Zayn dan sekeluarga pergi ke Turki dimana negara itu menjadi tempat kelahiran ayahnya. Zayn berusaha berdamai dengan masa lalunya. Tentu saja Black Lion mendukung penuh, karena pada dasarnya dendam yang bersemayam puluhan tahun hanya akan menggerogoti hati jika tidak segera diselesaikan. Sebelum berpisah, mereka saling memeluk dan memberi semangat satu sama lain, sebelum akhirnya Black Lion bersama-sama memasuki jet pribadi mereka meninggalkan landasan Red Dragon di Kota Westchester. Dan akhirnya selama mengudara selama 8 jam lamanya jet pribadi mereka tiba di landasan wilayah Black Lion.


Dilihatnya bos dengan Jack sudah memasuki mobil, namun sesaat jendela kaca mobil terbuka, hingga menampakkan wajah Xavier. "Sebelum kalian ke Markas ikut denganku," ucapnya kepada tiga anak buahnya itu.


Ketiganya bingung namun tetap mengangguki perkataan sang bos. Hingga mereka bertiga segera memasuki mobil dan mengekori mobil yang ditumpangi bos serta Jack. Hingga 30 menit mobil mewah mereka tiba di depan sebuah restauran mewah. Xavier keluar terlebih dahulu setelah Jack membukakan pintu mobil untuknya, di susul oleh Nico, Keil serta Daniel.


"Bos, akan bertemu dengan siapa di restauran mewah seperti ini?" bisik Daniel kepada Keil.


Keil terlihat mengedikkan bahu, ia juga tidak mengetahuinya. Kemudian ketiganya hanya saling pandang penuh beragam pertanyaan. Tidak mungkin mereka dilibatkan dalam urusan Perusahaan Romanov bukan? pikir mereka.


Langkah seorang Xavier tak terbantahkan, bahkan siapapun yang berada di sekitar mampu melihat aura ketegasan di dalam diri pria itu. Ketiga anggotanya menyadari benar karakter bos, bahkan mereka saja tidak bisa mengelak jika mereka tidak akan pernah bisa membatah perkataan bos.


Jack masih setia mengekori bos di belakangnya yang memasuki salah satu ruangan, hingga langkahnya tiba-tiba terhenti dan memutar tubuhnya menghadap ketiga sahabatnya itu. "Kalian tunggu saja disini, bos akan bertemu dengan teman lamanya," ucapannya dan lagi-lagi mereka hanya mengangguk.


"Tapi tidak seperti biasanya bos mengajak kita, Jack?" tanya Keil. Sungguh ia penasaran penuh.


"Apa ada sesuatu yang penting?" timpal Nico yang juga tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


Jack mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, sepertinya teman lama bos hanya ingin meminta bantuan kepada kita." Ketiganya kembali menganggu mendengar jawaban Jack.


"Lalu apa yang terjadi dengan wajahmu? Sejak tadi malam kau tidak mengatakannya kepada kami. Apa setelah minum-minum ada seseorang yang memukulimu?" Daniel mencerca pertanyaan yang sama berulang kali. Bahkan sudah tidak terhitung pertanyaan itu dilayangkan Daniel kepada Jack. Tidak hanya Daniel, bahkan Nico serta Keil menanyakan hal yang serupa, mereka penasaran siapa yang berani membuat Jack menjadi babak belur. Jika mereka mengetahui pelakunya, sudah pasti mereka akan menghabisimu orang itu.


Mendengar pertanyaan yang sama berulang kali serta mendapati tatapan yang menunggu jawaban dirinya, Jack tergelak geli, sungguh kenapa ketiga temannya itu sungguh menyebalkan sekali.


"Sudah aku katakan seseorang menyerangku kemarin malam, dia melakukannya atas dasar perintah. Tapi kalian tidak perlu khawatir, aku sudah membereskannya, meskipun aku hampir saja mati di tangannya!"


"Apa dia sangat kuat sampai kau tidak bisa membalas serangannya?" Keil kembali bertanya, sungguh mereka penasaran siapa yang dengan mudah mengalahkan Jack.


"Bahkan aku tidak berani melihat matanya. Jika saja seseorang tidak membantuku mungkin nyawaku sudah melayang malam itu," jawab Jack lalu tersenyum. "Sudahlah, ini hanya luka memar, dalam beberapa hari saja akan hilang."


Mereka mengangguk hingga percakapan mereka terpaksa terhenti karena tiba-tiba saja bos meminta mereka masuk ke dalam ruangan. Dengan langkah tegas, Nico, Keil serta Daniel mengikuti langkah Jack yang lebih dulu memasuki ruangan. Mereka bertiga tertegun karena ternyata memang bos tidak hanya seorang diri di dalam ruangan. Nampak pria tampan yang sepertinya beberapa tahun lebih muda dari bos.


"Kalian duduklah." Xavier membuka suaranya ketika kecanggungan sesaat sempat melingkupi.


Ketiganya segera membenamkan tubuh mereka, termasuk Jack yang juga tepat di kursi bersisian dengan bos.


"Kalian pasti bertanya-tanya siapa pria ini?" ujar Xavier menatap ketiga anak buahnya itu.


"Benar bos." Dan ketiganya menyahut bersamaan.

__ADS_1


"Dia Adam, teman lamaku saat di Universitas. Saat ini dia butuh bantuan kita untuk mencari dalang dari kasus pembunuhan saudara seperguruannya. Meskipun kekuatan kita kalah jauh tapi kita bisa membantunya dengan melacak keberadaan seseorang melalui sinyal dari satelit. Aku yakin Daniel bisa melakukannya."


"Maksud bos?" Ketiganya masih nampak mencerna perkataan bos.


Pria itu nampak tersenyum ramah. "Namaku King Adam, bos kalian biasa memanggilku Adam. Keluargaku mewarisi tenaga dalam secara turun temurun sehingga banyak musuh yang mengincar nyawa kami, karena itu saudara seperguruanku tewas terbunuh. Aku ingin meminta kalian melacak seseorang dan sedikit memberikan pelajaran. Karena aku tidak mungkin bisa memasuki wilayah itu. Aku keturunan dari Asia dan sudah bertahun-tahun kami sekeluarga menetap di Jerman. Tetapi belakangan ini ada satu masalah, jadi aku meminta bantuan kepada temanku yang juga merupakan bos kalian."


Semuanya sempat terkesima ketika mendengar Adam berbicara, tutur kata dan sikapnya sangat sopan, tidak seperti pria Jerman pada umumnya. Hingga kemudian ketiganya mengangguk paham, meskipun tidak menceritakan secara detail tetapi mereka sudah dapat menyimpulkan duduk permasalahannya.


"Kami akan membantumu seperti yang kau inginkan," kata Daniel mantap.


"Terima kasih." Adam nampak mengulas senyumnya. Jika terdapat beberapa wanita disana, mungkin akan terpana akan senyum Adam yang menenangkan itu.


"Kami belum melakukan apapun karena kami belum memulai, jadi simpan saja rasa terima kasihmu jika kami sudah berhasil menemukan orang yang kau cari," sahut Nico dan Adam hanya mengangguki saja. Entahlah, tidak seperti biasanya Nico sedikit tidak bersahabat. Ia sedikit terusik akan pria tampan yang duduk di hadapannya itu. Bahkan lihatlah, pria itu nampak sangat dekat dengan bos dan dengan mudahnya bercengkrama dengan bos tanpa rasa canggung.


"Apa sudah selesai bos?" tanya Jack ketika percakapan Xavier dengan Adam terjeda sejenak.


"Ya, kalian sudah boleh pergi." Xavier menjawab dengan lirikan singkatnya. Setelah itu mereka bersama-sama keluar dari ruangan tersebut, tidak terkecuali Jack.


"Sebaiknya kalian makan siang terlebih dulu saja, kebetulan sekali aku sangat lapar," ujar Jack memegang perutnya yang sedikit menguarkan bunyi.


"Kau tidak makan siang bersama bos?" tanya Keil.


"Baiklah, kita makan siang disini saja. Aku juga sudah sangat lapar," seru Daniel sambil berlalu melewati ketiga sahabatnya itu terlebih dahulu. Langkahnya menyusuri lorong hingga pandangannya tertuju pada sebuah meja kosong.


Nico, Keil serta Jack mengikuti dari belakang. Mereka memang nampak kelaparan dan tidak ada salahnya makan bersama di restauran mewah. Sudah lama sekali mereka tidak berkumpul mengingat kesibukan mereka masing-masing.


Keempatnya duduk di kursi, tidak lama pelayan datang hingga mereka segera memesan makanan sesuai selera mereka. Pelayan wanita itu pergi setelah mencatat semua pesanan dan sembari menunggu mereka bercengkrama bersama dan saling melemparkan candaan.


Hingga tidak sengaja mata Nico berpaling ke arah lain dan menangkap sosok wanita cantik berjalan ke lorong dan menuju suatu ruangan. Nico tidak mungkin tidak mengenali punggung wanita yang sudah lenyap dari penglihatannya.


"My Queen?" gumamnya. Keil yang bersisian dengan Nico mendengar gumaman yang tidak begitu jelas.


"Ada apa?" Keil kemudian mengikuti arah pandang Nico.


Nico terkesiap dan menggeleng cepat. "Tidak. habiskan saja makananmu, kenapa kau hanya makan sedikit?" Nico memperhatikan Keil yang tidak lagi menyentuh makanannya.


"Aku tidak begitu berselera," sahut Keil lalu meneguk segelas air mineral.


"Mungkin Keil mencoba menurunkan berat badannya," ejek Daniel hingga membuat Nico juga Jack terkekeh, berbeda dengan Keil yang nampak datar tidak menanggapi.

__ADS_1


***


Benar adanya jika wanita cantik yang baru beberapa menit yang lalu dilihat oleh Nico nampak jalan tergesa-gesa, ia membuka pintu ruangan secara perlahan. Dilihatnya sosok sang kaka bersama seorang pria sedang bercengkrama, sebelum langkah dirinya yang menyelinap di indera pendengaran mereka membuat keduanya menoleh.


"Kak, maaf aku sedikit terlambat." Wanita cantik yang tidak lain ialah Jennifer segera mendekat dan mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang berhadapan dengan Adam.


"Tidak apa-apa. Aku dan Adam baru saja memesan makan siang," jawab Xavier yang langsung mendekat anggukan kepala oleh Jennifer. "Dan ini Adam, teman Kak Vie saat di Universitas, kami bertemu kembali saat di Swiss."


Adam menyematkan senyumannya, ia kemudian mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Jennifer.


Jennifer menyambut uluran tangan Adam disertai senyuman. "Jennie," ucapnya memperkenalkan diri hingga jabatan tangan mereka terlepas.


Adam kembali memusatkan perhatian kepada Xavier, ia hanya melirik singkat kepada Jennifer yang menyelinap memperhatikan dirinya. Pandangan Jennifer memang tidak bergulir, wanita itu menelisik dalam sosok pria tampan di hadapannya, ia seperti pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.


"Kak Adam?"


.


.


To be continue


.


.


Babang Nico



Babang King Adam



Kaabooorrr.... entar babang Nico ngaamuuks😂


...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2