
Nico menatap layar ponselnya yang baru saja selesai membalas pesan dari Nona Jennie. Kedua sudut bibirnya melengkung tipis, ia tidak terkejut lagi akan keterangan yang disampaikan oleh Jennifer. Sebelumnya ia sudah mengetahui jadwal setiap weekend sang bos, karena itu ia sudah merancangnya dengan baik. Jika ia hanya asal berbicara begitu saja mengajak kencan tanpa persiapan apapun, mungkin hasilnya tidak akan sesuai dengan harapannya.
Sebab itu semuanya sudah ia pikirkan dengan baik. Beberapa anak buah ia kerahkan untuk berjaga di depan Mansion utama, membaca gerak-gerik bos. Tentunya tidak mudah membuat kesepakatan dengan beberapa anak buah karena sebagian dari mereka tentu merasa takut kepada big bos jika harus berpihak kepada Nico. Namun dengan alasan yang masuk akal serta diiming-imingi uang yang cukup menggiurkan sehingga mereka mau bekerja sama membantu dirinya.
Salah satu anak buahnya menghentikan langkah tepat di belakang Nico. "Bos Nico, tidak ada anak buah kita yang mengikuti Nona Jennie." Dan salah satu anak buahnya memberikan laporan kepada Nico, begitu menerima dari salah satu rekannya yang ditugaskan oleh Nico untuk mengawasi dan menjaga Nona Jennie.
Nico memutar arah tubuhnya, reaksi wajahnya serupa dengan perasaannya saat ini, yaitu senang dan penuh ketidaksabaran untuk segera bertemu dengan Nona Jennie-nya.
"Bagus," sahutnya. "Kalau begitu kalian harus selalu memantau dan sampaikan kepadaku jika bos mengirimkan anak buah."
Anak buah tersebut mengangguk tetapi sungguh ada keraguan dan kegelisahan yang dirasakannya. "Tapi Bos Nico...."
"Tenang saja, aku akan bertanggung jawab jika ketahuan oleh bos." Nico merasakan kegelisahan yang mereka rasakan. Tentunya ia tidak akan lepas tangan jika mereka mendapatkan hukuman karena ia telah melibatkan mereka hanya demi kegilaannya yang begitu menginginkan sosok wanita cantik yang telah membuat hatinya terpikat.
Anak buah tersebut hanya mengangguk saja, mengenal lama Bos Nico, membuatnya cukup paham pria seperti apa bos di hadapannya itu. Baik Bos Nico, Bos Keil juga Bos Daniel bukan pria yang selalu melemparkan kesalahan kepada orang lain. Ketiga bos nya itu akan saling melindungi jika salah salah satu di antara mereka tidak berdaya. Tentunya ketiga bos itu bisa dijadikan panutan meskipun terkadang cara mereka terbilang konyol dan membahayakan diri.
Nico dan diikuti dua anak buah bergegas menuju ke lokasi pertemuan dengan Nona Jennie. Kemarin malam Nona Jennie-nya mengirimkan pesan, wanita cantik dan galak itu yang menentukan lokasi kencan mereka. Nico hanya mengiyakan saja ketimbang harus gagal berkencan.
Dan di sinilah mobil Nico berhenti di depan sebuah taman hiburan. Untung saja sebelumnya ia sudah memesan tempat itu untuk tidak menerima pengunjung terlalu banyak, sehingga saat ini taman hiburan tersebut tidak begitu dipadati pengunjung, hanya ada beberapa saja, sehingga di tempat yang luas itu mereka bisa bergerak bebas kesana kemari. Nico kemudian turun dari mobil dan kemudian mengedarkan pandangannya, ia belum menemukan sosok wanita yang menjadi teman kencannya hari ini. Dan kemudian mencoba untuk menghubungi Nona Jennie, menempelkan ponsel pada daun telinga.
"Nico...."
Nico mengurungkan niatnya menghubungi Nona Jennie. Panggilan yang sempat tersambung langsung dimatikan olehnya dan menoleh ke arah sumber suara yang tentunya ia tahu pemilik suara tersebut.
"Nona Jennie." Senyum Nico mengembang, benar saja Nona Jennie sudah berdiri tepat di depannya saat ini.
"Sejak kapan kau datang? Apa aku terlambat? Ck, pasti kau begitu semangat karena ingin berkencan denganku, bukan?" Jennifer berceloteh panjang lebar, namun lawan bicaranya itu tidak menanggapi dan justru terpaku selama beberapa saat akan penampilan wanita itu.
Ya, Nico menelan salivanya ketika melihat penampilan Nona Jennie yang sempurna tanpa celah yang bisa ia kritik. Padahal wanita itu berdandan seperti biasanya, tetapi entah kenapa terlihat berbeda di matanya saat ini.
"Hei, kenapa diam saja?" Jennifer menepuk lengan Nico untuk menyadarkan bodyguard-nya itu.
"Ah maaf, aku hanya terkejut saja Nona benar-benar datang." Nico tentunya tetap memasang wajah cool meskipun sejujurnya ia ingin mengeluarkan sejurus pujian untuk wanita di hadapannya itu.
__ADS_1
Jennifer terkekeh. "Aku sudah berjanji jadi harus di tepati."
Nico mengangguk saja. Kemudian pandangan Jennifer beralih pada taman hiburan tersebut. Kedua matanya berbinar, seperti anak perempuan kecil yang begitu antuasias melihat segelintir permainan disana.
"Kalau begitu kita masuk ke dalam sana, aku sudah tidak sabar," sambungnya. Tanpa sadar, Jennifer merangkul lengan Nico untuk mengikuti langkahnya.
Nico tersenyum, tentunya itu adalah hal yang menguntungkan untuknya. Karena itu ia membiarkannya saja dan tidak mengingatkan Nona Jennie-nya. Nico kemudian membeli tiket, ia kembali mendekati Jennifer yang menunggu dirinya tidak jauh dari loket.
"Apa Nona senang?" Nico bertanya setelah berdiri di samping Jennifer.
"Hem, aku senang bisa datang ke tempat ini lagi." Senyum Jennifer mengembang, dan hal itu yang selalu membuat Nico terpesona dan tidak ingin mengalihkan perhatiannya dari sosok wanita cantik itu.
"Awalnya aku penasaran kenapa Nona ingin berkencan di tempat seperti ini, tapi sekarang aku menjadi paham." Yang ada di pikirannya, mungkin Nona-nya itu tidak diizinkan datang ke tempat seperti ini.
Mendengar ucapan Nico, Jennifer sontak mendongak. "Kau benar. Kakak tidak memperbolehkan aku sering-sering datang ke tempat hiburan seperti ini. Dia selalu mengatakan seperti ini, bisa saja permainan disana pengaitnya tidak dipasang dengan benar dan jika kau terjatuh dari permainan itu bagaimana? Aku sudah pasti akan membunuh mereka." Jennifer memperagakan gaya bicara Xavier yang tegas itu sehingga membuat Nico tidak mampu menahan gelak tawanya.
Nico tahu benar bagaimana bos menjaga keluarganya tetapi ia tidak tahu jika bos seperti anak kecil yang cerewet jika menyangkut keluarganya itu.
"Menyebalkan bukan?" Jennifer mengerucutkan bibirnya. Masih membekas diingatannya setiap perkataan sang kakak setiap kali ia ingin ke tempat hiburan. "Tapi syukurlah, semenjak bertemu dan menikah dengan Kak Elle, kakak sedikit melunak dan membebaskan aku pergi keman pun." Lebih tepatnya kakaknya itu selalu mengekori kakak iparnya sehingga melonggarkan pantauan terhadapnya.
Jennifer sesaat mengerutkan keningnya, ternyata mereka satu pemikiran. "Hahaha, kau benar." Jennifer tergelak geli. Bukan hanya dirinya saja yang berpikiran demikian, ternyata anak buahnya sang kakak pun memiliki pikiran yang serupa. "Sudah ayo, aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi," serunya setelah tawanya itu menyurut. Jennifer kembali menyambar lengan Nico, entah kenapa wanita itu seperti terbiasa dengan bodyguardnya itu.
Nico mengikuti menaiki wahana permainan apapun. Mulanya ia biasa saja tetapi entah kenapa menaiki wahana yang membolak-balikan tubuhnya mendadak mual dan pusing.
Lebih baik di hadapkan puluhan musuh dibandingkan tubuhku tersiksa seperti ini.
Nico hanya mampu membantin. Memang ada yang perlu dikorbankan untuk mendapatkan pujaan hati. Yang terpenting wanitanya itu terlihat senang.
Kini keduanya duduk di salah satu kursi besi yang tersedia disana. "Nona, sebaiknya kita beristirahat saja." Nico menyarankan, ia heran kenapa wanita mungil itu tidak nampak guratan lelah sedikitpun.
"Hem...." Entah kemana fokusnya Jennifer itu tertuju, Nico memperhatikan Nona Jennie yang beranjak dari tempat duduk, kemudian berjalan menuju pohon yang tidak terlalu tinggi tertanam disana.
Jennifer hendak menangkap kupu-kupu yang bergelayut di sela-sela dedaunan, tangannya terulur pada hewan terbang lucu itu tetapi belum sempat menjangkaunya, kupu-kupu tersebut melarikan diri. Jennifer tertawa, hal itu di abadikan di kamera ponsel Nico tanpa sepengetahuan wanita itu.
__ADS_1
"Cantik," gumamnya sembari memperhatikan hasil fotonya.
"Nico, aku lapar, sebaiknya kita makan lebih dulu." Nico buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku celana begitu Jennifer sudah berdiri di depannya.
"Baik. Kita mencari cafe di sekitar sini." Nico beranjak berdiri. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk mereka tiba di sebuah cafe yang letaknya berada di dekat taman dan danau. Menyajikan pemandangan yang indah. Mereka memesan makanan yang mereka inginkan, melahapnya dengan nikmat. Sungguh jika orang lain melihat kedekatan mereka, maka akan menyimpulkan mereka adalah pasangan kekasih yang bahagia. Memang yang terlihat tidak ada kecanggungan di antara mereka, keduanya larut akan kedekatan dan percakapan mereka.
***
Petang menyambut, langit perlahan berubah warna, nampak warna jingga keunguan memecah di atas langit sana. Waktu berjalan begitu cepat sehingga baik Nico dan Jennifer tidak menyadari jika mereka telah menghabiskan waktu bersama selama hampir 8 jam.
Keduanya berjalan menuju mobil Nico yang terparkir cukup jauh, karena mobil tidak dapat masuk ke dalam area sana yang dikhususkan untuk pejalan kaki.
Karena begitu menikmati pemandangan di sekitar sana, Jennifer sampai tidak menyadari jika ada salah satu mobil yang akan keluar dari tempatnya terparkir terlihat akan menghantam Jennifer dari belakang, dengan sigap Nico mengamankan Nona Jennie ke dalam dekapannya. Namun karena tidak siap, tubuh Jennifer terdorong ke depan hingga wajah mereka saling berdekatan. Jennifer memang terhindar dari bahaya tetapi inside tersebut membuat bibir mereka saling bertemu. Baik Jennifer dan Nico saling terkesiap, dengan dada mereka yang bergemuruh hebat. Jennifer tersadar lebih dulu, wanita itu ingin menjauhkan tubuhnya, akan tetapi Nico lebih dulu menahan tengkuk leher wanita itu. Seketika kedua manik mata Jennifer yang bening itu membola penuh tidak berkedip bagaikan tersengat aliran listrik. Nico ternyata menyesap bibir ranum Jennifer cukup lama, tidak menuntut balasan akan ciumannya tersebut karena Nona Jennie-nya masih terpaku akan apa yang dilakukan pria itu padanya. Nico melepaskan pagutan bibirnya, ia mendesah berat lalu menjatuhkan kepalanya di pundak Jennifer yang lagi-lagi membuat wanita itu tercengang.
"Maaf Nona, aku benar-benar tidak bisa menahan perasaanku lagi. Aku benar-benar hampir gila setiap hari karena sudah lancang jatuh cinta kepada Nona." Suara Nico terdengar seperti gumaman semata, tetapi terdengar jelas di pendengaran Jennifer hingga kian membuat tubuh wanita itu semakin membeku mendapatkan sebuah pengakuan dari bodyguard-nya tersebut.
.
.
To be continue
.
.
Kesempatan dalam kesempitan ya babang Nico ðŸ¤ðŸ˜‚
__ADS_1
Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih
Always be happy 🌷