
Telapak tangan Jonas mencoba mendorong jendela yang sedikit terbuka untuk mengetahui siapa yang berani-beraninya telah mengintai dirinya. Instingnya mengatakan jika ada seseorang disana, tetapi ia tidak menemukan siapapun. Untuk memastikannya kembali Jonas menyembulkan kepalanya, kedua telapak tangannya bertumpu pada kusen jendela, pandangannya di edarkan kesana kemari.
Brak
Terkejut? Tentu saja karena tiba-tiba seekor kucing berwarna silver terlempar ke arahnya.
"Shiitt!! Kucing sialan!"
"Meoong....." Tanpa rasa bersalah telah mengejutkan Jonas, hewan yang biasa disebut kucing brittish shorthair itu melenggang pergi setelah sukses membuat Jonas mengeram kesal.
"Sialan! Kau pikir kau bisa pergi begitu saja, hah!!" Jonas tidak lagi melihat penampakan kucing yang telah membuatnya kesal. Jika saat ini kucing menyebalkan itu berada di hadapannya, sudah pasti ia menusuk kucing brittish tersebut.
"Jo... Jonas, dia hanya seekor kucing." Selalu saja, setiap kali datang Jonas selalu kesal dengan hewan lucu peliharaannya itu.
"Ya, hewan peliharaan dengan pemiliknya sama-sama bodoh!" hardiknya. Jonas sudah tidak memiliki ketertarikan untuk kembali mencekik Lana, dan hal itu tentu saja membuat Lana bernapas lega.
"Kau mengataiku bodoh?" seru Lana tidak terima.
"Ya, kau bodoh. Sudah tau kucing itu tidak menyukaimu dan sering menyerang orang lain di sekitarnya. Kenapa tidak kau bunuh saja?!" Jonas mengambil sebatang rokok, menyalakannya dengan pemantik yang langsung di letakkan dengan asal pemantik itu. Menghisap dalam-dalam tembakau yang berada di bibirnya.
"Aku membelinya sangat mahal. Jika aku membunuhnya sama saja aku membuang uangku." Lana tersenyum masam, bagaimana mungkin ia membunuh hewan itu, lebih baik ia menjualnya agar uangnya kembali.
Jonas mengacuhkan perkataan Lana, ia justru ingin memperingati wanita itu agar tidak membuatnya kecewa. "Lakukan pekerjaanmu dengan benar. Awasi wanita tua itu, jangan membuatku berpikir dua kali untuk menghabisimu!" Baru saja menghisap setengah, Jonas membuang batang rokok tersebut keluar jendela, sebelum kemudian menyambar pakaiannya dan keluar dari ruangan Lana. Mengabaikan wanita itu setiap kali mereka selesai bercinta. Tertarik? Tentu saja tidak, Reese lebih unggul. Hanya saja ia memanfaatkan tenaga wanita itu untuk mengawasi ibu dari Emely yang sudah berbulan-bulan lamanya berada di klinik tempat Lana bekerja sebagai perawat disana.
Jonas mempercepat langkahnya, ia tidak sabar ingin melihat keadaan ibu mertuanya, apakah wanita tua menyebalkan itu masih hidup atau tidak. Karena tergesa-gesa, Jonas tidak menyadari tiga sosok yang berada di dekat halaman, berjongkok membentuk lingkaran, seperti tengah mengepung sesuatu.
"Hei kucing, kau sangat pintar membantu kami agar tidak ketahuan!" Daniel menusuk-nusuk tubuh kucing itu dengan jari telunjuknya.
Ya, sebenarnya yang membuat kegaduhan adalah dirinya karena tidak sengaja menyenggol pot bunga tepat di dekat jendela itu. Beruntung mereka memiliki kemampuan melesat bagaikan seorang ninja, menemukan kucing yang tengah berbaring ria di kandangnya. Dengan santainya Keil mengangkat kucing itu lalu melemparkan kucing tersebut ke arah Jonas. Nico serta Daniel hanya terperangah saja akan kelakuan Keil yang tiba-tiba. Akan tetapi berkat Keil, keberadaan mereka tidak ketahuan.
Kucing yang diyakini sebagai ras kucing tertua di dunia juga berasal dari negara Inggris itu hanya memandang ketiga pria di hadapannya dengan mata bulat yang besar. Nampak malas dengan celotehan Daniel dan hanya memelototi ketiga manusia asing di depannya.
"Kau menyebalkan sekali. Bagaimana jika kami membawamu, lalu menjadi santapan Baba juga Lala. Iya, hewan peliharaan kami itu sangat menakutkan, tidak sepertimu, terinjak saja sudah pasti mati." Punggung jemari Daniel mengetuk-ngetuk kening kucing lucu tersebut.
"Meoong.... Meoong...." Seolah setuju dengan usulan Daniel, kucing itu memberikan respon.
"Wah, kau memang kucing pintar bisa merespon ucapanku." Daniel berseru sendiri, ia memang menyukai hewan apapun, termasuk hewan kecil di hadapannya itu.
"Dia tidak mungkin mengerti perkataanmu, sebaiknya tinggalkan saja dia disini," tutur Nico kemudian beranjak berdiri.
"Aku harus memastikan jika wanita tua itu selamat. Jika tidak, Eme pasti akan sedih." Disusul Keil yang juga bangkit berdiri, pandangannya ia edarkan ke setiap sudut ruangan, dimana ia sempat melihat Jonas terus melangkah ke arah sudut bangunan.
"Tapi...." Daniel mengikuti kedua sahabatnya beranjak. "Kasihan sekali dia tidak terawat disini." Memang tempat yang mereka pijak saat ini tidak terdapat apapun, bahkan sepertinya kucing yang seharusnya terawat dan penyayang terhadap manusia justru memiliki perangai yang galak, menatap orang lain di sekitar sebagai ancaman. Sudah pasti hewan lucu itu tidak diperlakukan baik oleh pemiliknya.
Nico serta Keil saling mengembuskan napas ke udara. "Baiklah, kau boleh membawanya setelah kita berhasil membawa ibu dari kekasihku," kata Keil mengiyakan perkataan Daniel.
"Oke, no problem." Daniel menyahut senang.
__ADS_1
Nico tersenyum, pun dengan Keil. Mereka menggeleng heran hanya karena sekor kucing Daniel segembira itu.
"Baiklah, let's go." Kemudian Daniel merangkul kedua bahu sahabatnya. "Sebaiknya kita berpesta setelah ini, wanita telanjang tidak buruk juga!"
"Shut up! Pikirkan Ashley, pikirkan Nona Jennie-ku!" Nico memukul kepala Daniel, antara gemas dan kesal.
"Ah, iya aku sudah memiliki Ashley. Dan kau memiliki Nona Jennie."
"Kau harus bisa mengambil hatinya," timpal Keil menyarankan.
"For what?!" Daniel menyahut bingung.
"Tentu saja untuk menjadikannya ibu dari anak-anakmu," desis Nico sedikit kesal.
"Ah kau benar, hahaha." Padahal dirinya belum terpikirkan ke arah sana. Tetapi tidak ada salahnya ia mulai membuka hatinya untuk Ashley. Wanita itu sangat baik, yang terpenting masih suci saat ia menggaulinya pertama kali.
Sungguh ketiganya tidak memiliki rasa waspada dan rasa takut telah masuk ke sarang musuh, masih bersikap santai dan bersenda gurau, hingga langkah mereka terpaksa terhenti kala mendengar suara seseorang menjerit kesakitan di dalam sana disusul suara lainnya, seperti benda-benda yang dilemparkan.
"Dengar wanita tua, putrimu benar-benar mempermainkanku. Jika saja ia menurut padaku, mungkin aku masih memperlakukanmu dengan baik!"
"Aargghh...."
Entah apa yang dilakukan Jonas kepada wanita tua itu hingga menjerit-jerit penuh dengan rasa sakit. Mereka hanya dapat mendengar percakapan di dalam sana, tetapi tidak dapat melihat apa yang dilakukan oleh Jonas, karena ruangan itu tidak memiliki celah seperti jendela.
"Aku tidak bisa diam saja seperti ini." Hati Keil mencelos, tentu ia tidak terima ibu dari kekasihnya di perlakukan seperti itu. Keil hendak melangkah menuju pintu ruangan itu, tetapi Nico dan Daniel dengan cepat mencegahnya.
Daniel mengangguk, berpikiran hal yang sama dengan Nico. "Aku dan Nico berjanji, kita akan berhasil membawanya pergi dari sini, tapi kita harus menyusun strategi lebih dulu." Sembari menepuk bahu Keil. Memang mereka tidak memiliki persiapan, karena pada awalnya mereka hanya ingin mengintai tetapi siapa yang menduga mereka mendapatkan sebuah jejak keberadaan ibu dari Emely.
Keil mengangguk lemah. Nico serta Daniel saling pandang, keduanya menarik Keil agar menjauhi ruangan itu. Mereka berjalan menuju halaman yang sebelumnya mereka masuki. Ketiganya memutuskan masuk ke dalam mobil, menyusun strategi di sana.
"Kita akan menyerang di saat Jonas tidak berada disana," ujar Keil membuka suara.
"Ya, mengambil kesempatan saat lawan sedang lengah," sambung Nico dan diangguki setuju oleh Keil juga Daniel.
"Sebaiknya kita mencari tempat untuk memarkirkan mobil ini terlebih dulu!" Daniel menepuk-nepuk stir kemudi. Karena tidak mungkin membiarkan mobil terparkir di sekitar wilayah bangunan itu.
"Daniel benar. Kita harus mencari tempat bersembunyi yang aman," kata Nico membenarkan ucapan Daniel. Karena jika melihat mobil asing di sekitar bangunan milik Jonas atau siapapun itu akan membuat kecurigaan yang tidak diinginkan.
Daniel mengangguk dan ia bergegas melajukan mobilnya meninggalkan bangunan tinggi tersebut. Selama berputar-berputar mencari tempat yang aman, mobilnya berhenti di antara semak-semak yang tidak terlalu rimbun tetapi cukup aman, karena mobil mereka terhalangi oleh sebagian semak.
Selang menunggu selama hampir satu jam, sebuah mobil yang di tumpangi oleh Jonas meninggalkan bangunan itu. Tentu saja itu menjadi angin segar bagi Black Lion. Tanpa membuang waktu, mereka turun dari mobil, berjalan menuju bangunan tinggi tersebut melalui jalan pintas lebih cepat. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah berada di depan bangunan bergaya Italia tersebut. Kembali masuk melalui celah dinding yang hampir di penuhi rumput liar.
Kini ketiganya sudah berada di pelataran. Mereka melangkah tidak menimbulkan suara sedikitpun, mengendap-ngendap melewati beberapa ruangan. Hingga akhirnya mereka sudah berdiri di depan pintu dimana ibu dari Emely di sekap di dalam sana.
Keil memegang knop pintu dan menariknya, keningnya berkerut karena pintu itu ternyata terkunci. "Siall, pintu ini dikunci."
"Sebaiknya kita dobrak saja," ujar Nico.
"Tapi pasti akan membuat mereka berdatangan," sambar Daniel. Mengingat mereka masuk secara mengendap-ngendap.
__ADS_1
Nico dan Keil saling pandang. "Tidak peduli!" seru mereka bersamaan. Ya, jika memang harus ketahuan, tentu mereka harus menyerang.
"Baiklah....." Tentu Daniel bersemangat. Bahkan ia merenggangkan otot-otot tubuhnya, bersiap untuk bertempur.
Brak
Brak
Keil berusaha mendobrak pintu dengan bahunya. Benar saja kegaduhan itu membuat beberapa anak buah Jonas berdatangan.
"Hei, siapa kalian?!"
"Aiish sial!" Daniel menghela napas malas.
"Biar kami yang mengurus mereka. Kau hanya perlu mengeluarkan ibu dari kekasihmu." Keil mengangguki ucapan Nico padanya.
"Jika sudah begini aku tembak saja pintunya." Keil mengambil pistol di balik pakaiannya, mengarahkan senjata pada handle pintu.
Dor
Dor
Dua peluru berhasil merusak handle pintu itu, Keil langsung menendang pintu hingga terbuka dengan lebar. Sementara Daniel juga Nico terlibat baku hantam dengan beberapa anak buah Jonas.
Keil memasuki ruangan yang menguarkan aroma darah bercampur dengan obat-obatan. Ia menyapu seluruh ruangan itu mencari keberadaan ibu dari kekasihnya. Tubuh rapuh tertunduk dengan memeluk lutut sungguh miris hati Keil melihatnya. Ia mencoba mendekati wanita tua itu, hingga langkah Keil membuat wanita tersebut menengadah. Wajah tampan dengan postur tubuh yang tinggi tegap berdiri di hadapannya, sontak saja membuat wanita itu meringsut ketakutan.
"To..long.... jangan sakiti saya lagi...." Suara lirih itu terdengar sayup-sayup penuh permohonan.
Keil berjongkok, menatap iba wanita tua di hadapannya. Bagaimanakah reaksi Emely jika ibunya di perlakukan seperti ini?
"Jangan takut. Aku Keil, kekasih putrimu Emely." Keil mencoba memegang bahu wanita tua rapuh itu.
"Emely...?" Nama yang tidak asing, menelusup hingga ke dasar hati dan jantungnya. Nama yang selalu ia rindukan selama ini bisa ia dengar kembali. "Di-dimana dia? Dimana putriku?!" Wanita tua itu mulai berteriak histeris. Bahkan mendekati Keil, menatap Keil dengan kedua mata yang membengkak, jejak darah membekas di sudut bibir wanita tua itu.
Keil dapat melihat jelas wajah wanita tua di hadapannya, memiliki bentuk wajah persis seperti Emely. Tangannya terkepal begitu erat.
Biadab kau, Jonas. Aku akan menghabisimu!
.
.
To be continue
.
.
Lebih gencar lagi vote nya ya sayang-sayangku, kirim hadiahnya jangan lupa ya wkwk 🤗 Jejak komentar masih selalu di tunggu 💕 terima kasih 🤗
__ADS_1